Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Kamu suka sama Aru?” tanya Mami Amara tiba-tiba.
Kenan terkejut. Semua mata tertuju padanya, membuat wajahnya memerah. Ada perasaan malu dan terkejut yang bercampur aduk di hatinya.
“I- iya,” jawab Kenan dengan suara pelan, sambil menunduk.
Semua tersenyum mendengar jawaban Kenan, kecuali Joe, yang menatapnya dengan ekspresi setengah jijik, setengah geli. Bagaimana tidak? Di luar rumah, Kenan tampak seperti singa yang garang, tapi di rumah, ia berubah jadi manja seperti anak kucing.
“Nggak usah malu-malu kambing, Kenan,” celetuk Joe dengan santai.
“Lo cerewet banget sih, Joe,” sahut Kenan sambil tersenyum tipis.
“Kamu yakin sama perasaan kamu?” tanya Papi Bas, ingin memastikan Kenan tidak hanya penasaran sesaat.
“Seribu persen yakin, Pi,” jawab Kenan tegas. Ia sudah mantap ingin menjadikan Aru sebagai pendamping hidupnya.
“Ya sudah,” jawab Papi Bas santai. Dalam hati, sebenarnya ia senang mendengar jawaban itu.
Kenan melongo, sementara semua keluarga lainnya tertawa melihat ekspresinya.
“Cuma gitu aja, Pi? Nggak ada kata penyemangat atau nasihat gitu?” tanya Kenan.
“Nggak,” jawab mereka serempak.
Kenan terperangah lagi. “Kok kalian kompak banget jawabnya?”
“Suka-suka kita lah. Duda dilarang ikut campur,” celetuk Joe santai.
“Ck, dasar perjaka tua,” gumam Kenan, wajahnya masam. Tapi masamnya itu langsung berubah jadi senyum hangat begitu Kai berlari ke arahnya.
Namun wajah masam Kenan seketika berubah menjadi senyuman hangat saat mendengar suara langkah kecil berlari ke arahnya.
“Paaa"
Balita itu berlari ke arah Kenan sambil merentangkan tangannya. Tak lupa dibelakang ada dua bodyguard Kenan, Amar dan Malik.
“Hap!”
Kai langsung memeluk Kenan yang duduk di sofa. Kenan membalas pelukan itu erat sambil memejamkan mata. Di saat lelah dan pikirannya penuh, Kenan selalu memilih memeluk anaknya,di sanalah ia menemukan ketenangan.
“Udah selesai mainnya, hm?” tanya Kenan lembut.
“Udah, Pa,” jawab Kai cadel."Kai juga ikut olahraga sama om Mar, Pa. Lihat otot Kai, Pa, besarkan!" ucap Kai sambil memperlihatkan otot kecilnya.
"Iya, otot anak papa ini memang besar," sahut Kenan sambil tersenyum gemas.
Semua orang terkekeh melihat tingkah polos Kai. Namun Joe, dengan sifat jahilnya, kembali buka suara.
"Papa kamu itu bohong. Otot kamu cuma seuprit," ujar Joe sambil menunjukkan ujung jarinya. "Liat otot Uncle, besar kan?"
Kai mulai kesal melihat tingkah Joe yang sombong.
"Percuma otot Uncle besar kalau perutnya buncit. Liat nih perut Papa, ada kotak-kotak," kata Kai dengan bangga, mengangkat kemeja Kenan yang memperlihatkan perut sixpack miliknya.
Semua tertawa melihat tingkah Kai dan Joe seperti Tom and Jerry. Joe merasa kesal karena ulah Kai yang pandai membully-nya.
"Ck, itu perut orang kurus, cil. Papa kamu kurang gizi," ucap Joe, mencoba membela diri.
"Dan abang kebanyakan gizi?" celetuk Nathan sambil menatap Joe.
Joe hanya cengengesan.
"Hehehe," katanya.
"Ketawanya kayak kuda," komentar Kai polos.
"Iya," sahut Nathan, membenarkan.
Tawa Joe seketika luntur, hilang dari wajahnya.
"Cuma kalian yang ketawain wajah tampan Uncle ini. Setiap perempuan lihat senyumannya pasti terpesona," bangganya Joe.
"Masih tampan, Papa, Kai Uncle," jawab Kai.
"Makan tu bang. " ucap Nathan.
"Udah lah, capek Uncle ngomong sama bocil kayak kalian," Joe menyerah, tak sanggup lagi mendengar ulah Kai dan Nathan. Keduanya memang kombinasi yang kuat dalam menyudutkan Joe, walaupun Kai dan Nathan dari generasi yang berbeda tapi keduanya tetap koneks dalam membully Joe.
Kai tiba-tiba mendekatkan hidungnya ke dada Kenan, mengendus-endus kemeja ayahnya.
“Papa wangi,” katanya polos.
Kenan terkekeh. “Iya, wangi."
“Bun-da…” ucap Kai, lalu tersenyum kecil. Semua mata langsung menatap Kenan.
"Tadi papa habis meeting sama bunda, mungkin wangi parfum nya nempel. " Klarifikasi Kenan sebelum ada pertanyaan aneh yang muncul.
Kai terus mengedus-endus kemeja papanya. Kenan tersenyum dan mengecup lembut rambut serta pipi Kai yang bulat itu.
Joe mendengus. “Ih, romantis amat. Padahal di luar rumah galaknya kayak singa.”
“Nggak usah iri,” balas Nathan santai. “Nggak semua orang bisa selembut itu sama anaknya.”
Joe langsung cengengesan. “Uncle juga wangi kok,Kai. Ayo sini uncle cium...”
Kai menggeleng keras saat Joe mendekati nya.“Enggak...Uncle bau asem.”ucap nya.
Hening satu detik.
Lalu—
HAHAHAHA.
Ruang keluarga langsung pecah oleh tawa. Wajah Joe seketika kaku.
“Cil! Mulut kamu pedes banget!” protes Joe.
Kenan tertawa sambil mencium kepala Kai.
“Maaf, Uncle-nya memang sensitif.”
“Uncle mandi,” kata Kai polos sambil mengangguk yakin.
“Kurang ajar satu ini,” gumam Joe, tapi senyum tak bisa disembunyikan.
Kenan berdiri sambil menggendong Kai. “Udah, kita mandi dulu ya. Bentaran magrib.”
“Siap, Pa!” jawab Kai, lalu ikut memberi hormat kecil—asal-asalan dan miring—membuat semua orang kembali tertawa.
“Kenan ke atas dulu,” pamitnya.
“Iya,” jawab yang lain.
Kenan melangkah ke lantai atas bersama Kai.
Di ruang keluarga tersisa Papi Bas, Mami Amara, Nathan, dan Joe.
Joe langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Mami Amara dengan manja.
“Aunty, Joe nggak bau asem kan?”
“Bau,” jawab Papi Bas tanpa menoleh dari TV.
Joe mendengus. “Keluarga kejam.”ucapnya dramatis
Nathan hanya tersenyum, menikmati suasana hangat yang jarang terasa selengkap ini.
Kenan menutup pintu kamar mandi pelan, lalu menurunkan Kai ke lantai. Uap air hangat mulai memenuhi ruangan saat keran dibuka. Kai berdiri sambil memegangi kaki Kenan, menengadah dengan mata mengantuk.
“Pa… hangat,” gumamnya cadel.
“Iya,” jawab Kenan lembut. “Biar nggak masuk angin.”
Ia membantu Kai melepas baju satu per satu. Kaos kecil itu jatuh ke lantai, disusul celana pendek yang masih berdebu sisa bermain. Kenan mengangkat Kai ke dalam bak mandi kecil, lalu menyiramkan air perlahan.
Kai tertawa kecil. “Pa, cipat!”
Kenan terkekeh. “Pelan-pelan, nanti masuk mata.”
Ia menuang sabun cair ke telapak tangan, menggosokkannya sampai berbusa, lalu mengusap tubuh kecil Kai dengan gerakan hati-hati. Punggung mungil itu bergerak mengikuti sentuhannya.
“Dingin?” tanya Kenan.
“Enggak,” jawab Kai cepat. “Anget.”
Kenan mengangguk, lalu membersihkan lengan dan kaki Kai. Saat menyabuni rambutnya, Kai langsung memejamkan mata rapat-rapat.
“Jangan buka mata,” pesan Kenan.
“Iya, Pa,” jawab Kai patuh, bibirnya membentuk senyum kecil.
Air mengalir membilas busa dari rambut dan wajah Kai. Kenan menepuk-nepuk pipi anaknya pelan agar tidak takut.
“Udah bersih,” katanya.
Kai menguap lebar, lalu menyandarkan kepalanya ke dada Kenan. Tubuh kecil itu terasa semakin berat—tanda kantuk mulai datang.
“Pa… Kai ngantuk,” gumamnya.
Kenan menggendongnya keluar dari bak, membungkusnya dengan handuk tebal. Ia mengusap rambut Kai pelan, mengeringkannya satu per satu.
“Tidur sebentar nanti,” ucap Kenan.
Kai mengangguk kecil, matanya setengah terpejam. Tangannya meraih kerah kaus Kenan.
“Pa…”
“Hmm?”
“Papa jangan pergi.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Kenan menghangat sekaligus sesak. Ia mencium kening Kai lama.
“Papa di sini,” jawabnya pelan. “Selalu.”
Kai tersenyum kecil, lalu memeluk leher Kenan erat-erat.
Di kamar mandi yang hangat itu, Kenan berdiri lama—menyadari satu hal sederhana yang selama ini ia pegang erat:
selama Kai ada dalam pelukannya, ia akan selalu pulang.
Bersambung................