Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Makin Nyata
Malam beranjak semakin larut, mobil Aruna baru saja memasuki garasi.
Lampu teras rumah menyala seperti biasa, menerangi halaman yang rapi dan sunyi. Tidak ada perubahan, tetapi entah kenapa rumah itu terasa berbeda malam ini. Lebih dingin dan lebih kosong.
Ia membuka pintu perlahan. Sepasang sepatu Revan terletak rapi di rak. Seolah kehadiran pemiliknya tidak pernah benar-benar menyentuh rumah ini selain secara fisik.
“Bi Surti?” panggil Aruna pelan.
Tidak ada jawaban. Ia meletakkan tas di atas meja kecil dekat pintu, lalu melangkah masuk lebih jauh. Ruang tengah gelap, tapi lampu kamar di lantai atas menyala samar dari bawah tangga.
Itu artinya Revan ada di rumah, Aruna menarik napas pelan. Dulu, keberadaan itu masih mampu memunculkan sesuatu di dadanya. Harapan kecil yang terus ia rawat meski tahu dirinya sendirian. Kini, perasaan itu justru terasa melelahkan.
Ia naik ke lantai atas tanpa suara, berhenti sejenak di depan kamarnya.
Pintu kamar Revan terbuka, ia berdiri depan pintu. Menoleh saat Aruna masuk, seolah sudah terbiasa dengan kehadiran Aruna yang tidak pernah ia pedulikan
“Kamu sudah pulang,” ujar Revan singkat.
“Iya,” jawab Aruna. Nada suaranya datar.
Ia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, lalu duduk di depan meja rias. Cermin memperlihatkan wajahnya yang tampak lelah, tetapi tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang dulu berharap dicintai.
“Tuhan, aku lelah. Aku sudah tidak ingin berharap.” Gumam Aruna, tanpa sadar air matanya mengalir
Ia berdiri, membuka lemari, dan mengambil pakaian tidur. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Di balik deras air, Aruna bersandar pada dinding. Dadanya terasa berat, karena kelelahan yang sudah terlalu lama dipendam.
Ia pernah menunggu Revan berubah, menunggu satu saja tanda bahwa pernikahan ini lebih dari sekadar kewajiban. Namun setiap penantian hanya melahirkan jarak yang semakin nyata.
Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, wajahnya bersih tanpa riasan. Ia tampak apa adanya dan mungkin itulah versi dirinya yang paling jujur malam ini.
“Mulai saat ini dan seterusnya, aku menutup pintu hatiku untuk Revan. Semua perasaan aku kubur dalam-dalam.” Aruna berjanji pada dirinya sendiri.
Aruna naik ke ranjang, ia memejamkan mata. Bukan untuk tidur, melainkan untuk menguatkan diri. Ia tidak tahu bagaimana masa depan pernikahan ini. Tidak tahu apakah Revan akan berubah atau tetap seperti sekarang. Namun satu hal sudah ia putuskan, ia akan menjaga hatinya sendiri. Jika pernikahan ini harus dijalani tanpa cinta, maka ia akan menjalani dengan batasan.
Cahaya matahari menembus celah gorden, jatuh tipis di lantai kamar. Udara masih dingin ketika Aruna membuka mata. Untuk beberapa detik, ia hanya terbaring diam, menatap langit-langit, membiarkan kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia beranjak ke kamar mandi, bersiap dengan tenang. Ketika keluar, ia langsung turun ke dapur.
Bi Surti tampak sedang menyiapkan sarapan. “Selamat pagi, bu,” sapa Bi Surti ramah.
“Pagi, Bi,” jawab Aruna lembut.
Ia membantu sebentar, menata meja makan, lalu menyeduh teh hangat untuk dirinya sendiri. Aroma teh mengepul pelan, mengisi ruang makan yang masih sunyi.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Revan muncul dengan kemeja kerja yang baru selesai disetrika. Rambutnya sedikit berantakan.
“Pagi,” sapa Revan.
“Pagi,” jawab Aruna singkat.
Mereka duduk berhadap-hadapan, tetapi terasa seolah berada di ruang yang berbeda. Bunyi sendok menyentuh piring terdengar jelas di antara keheningan.
“Kamu berangkat jam berapa?” tanya Revan akhirnya.
“Jam tujuh,” jawab Aruna.
“Hari ini ke kantor?”
“Iya.”
Itu saja. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada basa-basi tambahan. Percakapan berhenti sebagaimana dimulainya.
Revan menatap Aruna sesaat, seolah menyadari ada sesuatu yang berubah. Namun Aruna tetap fokus pada sarapannya, tanpa menoleh, tanpa menunjukkan ekspresi.
“Semalam kamu kelihatan capek,” ujar Revan kemudian.
Aruna mengangkat wajahnya, tatapannya tenang. “Aku baik-baik saja.”
Jawaban itu menutup ruang apa pun yang tersisa. Setelah selesai, Aruna berdiri lebih dulu. Ia membereskan piringnya sendiri, mengambil tas kerja, lalu mengenakan sepatu.
“Aku berangkat dulu,” katanya pelan.
Revan mengangguk. “Iya.”
Tidak ada kecupan perpisahan. Tidak ada cium tangan dengan suami. Tidak ada pesan hati-hati di jalan.
Pintu tertutup pelan. Di dalam rumah yang kembali sunyi, Revan duduk sendirian di meja makan. Tangannya berhenti bergerak sesaat di atas piring. Untuk pertama kalinya, ada perasaan asing yang menyelinap ke dadanya, seperti kehilangan sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya.
Aruna benar-benar berubah. Bukan dalam sikap yang keras atau kata-kata tajam, melainkan dalam ketenangan yang dingin dan jarak yang terasa nyata.
“Kenapa Aruna tiba-tiba berubah? batin Revan. “Apa Mama sudah menceritakan tentang kedatangan Viona?”
Pikiran itu mengganggunya, meski ia berusaha menepisnya. Revan kembali menyantap sarapannya, menghabiskannya tanpa benar-benar menikmati rasa. Tidak lama kemudian, ia berangkat ke kantor.
Sepanjang perjalanan, bayangan wajah Aruna yang datar dan menjauh kembali memenuhi pikirannya. Nada suaranya yang singkat, tatapan matanya yang tidak lagi mencari, semuanya terasa ganjil.
Revan menggeleng pelan, seolah ingin menyingkirkan kegelisahan itu. “Tidak penting”, ujarnya dalam hati. “Aruna berubah atau tidak, itu bukan urusanku.”
Yang penting baginya hanya satu, warisan yang menantinya. Itulah alasan utama ia bersedia menikah.
Namun, meski ia terus meyakinkan diri sendiri, kegelisahan itu tidak sepenuhnya pergi.
Pukul 07.30 pagi, Aruna tiba di kantornya. Suasana sudah cukup ramai. Beberapa staf terlihat sibuk di meja masing-masing, suara langkah kaki dan sapaan ringan terdengar bersahutan. Aruna melangkah menuju ruang kerjanya, meletakkan tas kerja dan tas laptop di atas meja.
Ia duduk, mengeluarkan laptop, lalu menyalakannya. Dengan wajah tenang, Aruna mulai memeriksa email yang masuk, memilah mana yang perlu segera dibalas. Jemarinya bergerak cekatan di atas papan ketik.
Tiba-tiba, Maya, rekan kerjanya datang menghampiri. “Masih pagi, udah sibuk saja,” canda Maya.
Aruna mendongak, tersenyum kecil. “Eh, May. Gue cuma cek email masuk.”
“Loe udah sarapan?” tanya Maya sambil berdiri di samping mejanya.
“Udah. Tadi di rumah,” jawab Aruna singkat.
Maya kemudian meletakkan sebuah bungkusan di atas meja Aruna. Aruna mengernyitkan dahi. “Apa ini, May?”
“Tadi gue beli jajanan pasar di depan kompleks,” kata Maya ceria. “Ayo, kita makan bareng.”
Maya menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Aruna. Ia membuka bungkusan itu. Di dalamnya tersaji beragam kue tradisional. Klepon, timus, kue pukis, getuk lindri, dan wajik.
Maya mengambil sepotong wajik dan langsung memakannya. “Ayo, coba, Run,” ujarnya sambil menyodorkan bungkusan itu.
Aruna tersenyum, lalu mengambil satu buah klepon. “Terima kasih, ya, May.”
Namun senyum itu tidak luput dari perhatian Maya. Ia menatap Aruna lebih saksama. Mata Aruna tampak sedikit sembap. Wajahnya tidak terlihat secerah biasanya, seolah menyimpan sesuatu yang berat di dalam hatinya.
“Loe baik-baik aja, kan, Run?” tanya Maya hati-hati.
Aruna terdiam sejenak, tangannya berhenti menggenggam kue. Ia menghela napas pelan.
“Secara fisik gue baik-baik aja,” jawabnya akhirnya. “Tapi batin gue lelah, May.”
Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ada keletihan yang sulit disembunyikan.
Pelan-pelan, Aruna mulai bercerita. Tentang rumah tangganya. Tentang jarak yang terasa. Tentang pernikahan yang dijalani tanpa kehangatan. Tidak semuanya ia ceritakan, hanya bagian-bagian yang masih sanggup ia bagi.
Selebihnya, tetap ia simpan rapat-rapat. Karena tidak semua orang perlu tahu betapa sunyinya ia di dalam rumahnya sendiri.
Tiba-tiba, ponsel Aruna yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, Aruna menggeser layar dan membacanya.
“Sampai kapan kamu akan mempertahankan suami yang tidak pernah mencintaimu?”
Aruna menatap layar itu cukup lama. Wajahnya tetap tenang, tangannya tidak gemetar. Ia bahkan tidak menunjukkan reaksi apa pun di hadapan Maya.
Namun di dalam dadanya, sesuatu runtuh perlahan. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Aruna menyadari jarak yang ia ciptakan ternyata belum cukup untuk melindungi hatinya.