Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Ah, Jihan,” sapa Tabib Sari, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya dan senyumnya tampak dipaksakan. “Kau hendak mengambil air, rupanya.”
Matanya melirik sekilas ke arah pikulan dan ember kayu di pundak Jihan, sebelum ia bangkit berdiri dengan gerakan yang agak kaku. Sambil menepuk-nepuk jubahnya yang kotor oleh lumpur basah, ia melanjutkan penjelasannya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aku sedang beruntung hari ini. Kemarau ini memang menyusahkan, tapi berkat air yang surut, aku jadi bisa mencari ‘Rumput Muara’. Tanaman langka yang hanya tumbuh di dasar sungai.”
Jihan hanya mengangguk pelan, tidak membalas sapaan itu. Penjelasan Tabib Sari terdengar masuk akal, tetapi terlalu cepat dan lancar, seolah sudah disiapkan. Ditambah dengan gerakannya yang aneh saat menyembunyikan sesuatu tadi, Jihan merasa ada yang tidak beres.
Namun, ia tahu ini bukan saatnya untuk bertanya lebih jauh.
Tabib Sari tampaknya menyadari kecurigaan yang terselip di mata Jihan, sehingga ia cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
“Bagaimana dengan kondisi ibumu, Wulandari?”
Jihan terdiam sesaat, ragu sebelum menjawab.
“Ibu… syukurlah, beliau sudah lebih baik berkat istirahat yang cukup.”
“Baguslah…”
Sambil menghela napas panjang, tatapan Tabib Sari menerawang ke kejauhan, hilang dalam kenangan. Gemercik pelan terdengar saat ia melangkah keluar dari air dangkal, sandal kayunya menjejak tepi sungai yang basah sebelum akhirnya berhenti tepat di sisi Jihan.
“Ibumu…”
“Dulu, dia adalah wanita tercantik di desa ini.”
Ia menggeleng perlahan, seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Haaah… sayang sekali, nasibnya tak seindah wajahnya.”
Jihan mengernyitkan dahi mendengar pernyataan pribadi itu. Ia mencoba mencerna makna tersembunyi di balik ucapan Tabib Sari.
Berbagai pertanyaan langsung berkelebat di benaknya. Mungkinkah Tabib Sari mengenal ibunya lebih dari sekadar sebagai pasien? Seberapa dalam hubungan mereka?
Satu hal yang Jihan yakini sekarang, pria ini bukan sekadar tabib desa biasa. Kecurigaan itu mendorongnya untuk menuntut kejelasan.
“Maksud Paman?”
Tabib Sari membalas tatapan tajam Jihan, matanya yang tua seolah menimbang-nimbang sesuatu. Alih-alih langsung menjawab, ia berbalik dan berjalan perlahan menuju gugusan batu besar di tepi sungai. Dengan sebuah helaan napas pelan, ia duduk di atas salah satu batu yang permukaannya datar.
Keheningan yang berat turun di antara mereka. Untuk sesaat, satu-satunya suara di dunia adalah gemericik air Sungai Batu yang mengalir tanpa henti. Suara itu terasa mengisi kekosongan, menjadi lebih keras dan jelas di tengah penantian yang tegang.
Baru setelah keheningan itu terasa memuncak, Tabib Sari akhirnya angkat bicara,
“Arus yang deras hanya akan mengaburkan bayangan langit di permukaannya,”
“Jika kau ingin melihat bayangan itu dengan jelas, kau harus menenangkan arusnya terlebih dahulu…”
Selesai berbicara, Tabib Sari meraih dua joran pancing dari bambu kuning yang sejak tadi tersandar di gugusan batu di sebelahnya. Tanpa peringatan, ia melemparkan salah satunya dengan gerakan luwes ke arah Jihan.
Jihan, yang masih terpaku oleh kata-kata sang tabib, refleks menangkap joran itu.
“Aku selalu membawa dua,” ucap Tabib Sari, matanya menatap joran di tangan Jihan. “Untuk berjaga-jaga. Kadang, yang kau tangkap di sungai ini lebih kuat dari yang kau duga.”
Ia menepuk batu di sebelahnya.
“Kemarilah, duduk di sampingku. Air Sungai Batu memang sedang menyusut akhir-akhir ini, tapi ikannya masih banyak. Cukup untuk kita pancing berdua.”
Joran pancing dari bambu itu terasa solid di genggaman Jihan. Undangan Tabib Sari menggantung di udara, sarat akan makna yang tak terucap.
Sejenak, Jihan dilanda keraguan. Satu bagian dari dirinya teringat akan ucapannya pada sang ibu untuk segera kembali setelah mengambil air. Namun, bagian lain dirinya dipenuhi rasa penasaran yang membuncah terhadap pria ini dan jawaban yang mungkin ia miliki.
Ia menatap Tabib Sari, lalu pada aliran sungai yang tenang. Dan akhirnya ia mengerti. Ini bukan sekadar ajakan memancing biasa. Ini adalah sebuah ujian, sebuah undangan untuk menenangkan pikirannya yang berkecamuk sebelum menuntut jawaban.
Jihan menarik napas panjang. Alih-alih mendesak, ia memilih untuk patuh. Ia mengangguk pelan pada sang tabib, lalu berbalik menuju tepi sungai. Gerakannya kini lebih tenang, lebih terkendali. Ia mengisi kedua embernya dengan air jernih, suara gemericik air seolah membantunya menjernihkan pikiran.
Setelah kedua embernya terisi penuh, ia meletakkannya dengan hati-hati di tanah. Arus di dalam dirinya telah sedikit tenang. Ia lalu melangkah tanpa suara menuju gugusan batu tempat Tabib Sari duduk menunggunya. Ia duduk di batu di sisi sang tabib. Tanpa sepatah kata pun, Jihan memasang umpan yang tersisa pada kail di jorannya, lalu dengan gerakan yang cukup luwes, melemparkan kailnya ke tengah aliran sungai. Kemudian, ia diam, menatap permukaan air yang beriak di hadapan mereka.
Keheningan yang sabar dari Jihan tampaknya berhasil membuka sesuatu dalam diri Tabib Sari. Pria paruh baya itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang seolah melepaskan beban bertahun-tahun.
“Kau tahu, Nak… aku mengenal ibumu jauh sebelum ia menikah dengan ayahmu,”
Jihan tertegun, seluruh perhatiannya kini terkunci pada cerita itu.
“Dulu, saat aku masih pemuda pengembara yang mencari tumbuhan langka dari hutan ke hutan, Wulandari adalah bunga tercantik di desa ini. Banyak pemuda yang mencoba merebut hatinya, termasuk aku.”
Sebuah senyum pahit yang penuh kenangan terukir di wajah Tabib Sari.
“Tapi hatinya… hanya tertambat pada satu pria. Ayahmu. Ia bukan yang tertampan, bukan pula yang terkaya. Tapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki pemuda lain saat itu, termasuk diriku.”
Sang tabib tidak langsung melanjutkan, matanya menerawang, seolah melihat bayangan masa lalu di permukaan sungai yang beriak.
“Pesona,”
“Dan janji tentang dunia yang lebih luas. Aku saat itu hanya seorang peramu obat, yang bisa kutawarkan hanyalah kehidupan yang tenang di desa ini. Ayahmu… ia menawarkan petualangan. Angin kebebasan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menggelengkan kepala dengan pelan, sebuah gerakan yang penuh dengan penyesalan yang samar.
“Wulandari memilihnya. Dan untuk sesaat, aku pikir ia telah menemukan kebahagiaannya.”
Tatapan Tabib Sari kini kembali pada Jihan, dipenuhi oleh rasa iba yang mendalam.
“Tapi lihat sekarang. Pria itu pada akhirnya menunjukkan sifat aslinya. Ia pergi, meninggalkan Wulandari yang rapuh, meninggalkanmu yang masih begitu kecil.”
Suara sang tabib mengeras, diwarnai oleh amarah bertahun-tahun yang tertahan. Tangannya di atas lutut terkepal pelan.
“Sungguh pria yang tidak bertanggung jawab.”
Ia membuang muka, seolah tak sanggup menatap Jihan lebih lama karena rasa bersalah atau kenangan pahit.
“Aku hanya menyayangkan… bunga secantik ibumu harus layu di tangan yang salah.”
Pengakuan itu menghantam Jihan lebih keras dari pukulan Gading. Di hadapannya kini bukan lagi sekadar tabib desa, melainkan saksi hidup dari tragedi keluarganya; seseorang yang menyimpan kepingan masa lalu yang selama ini hilang darinya. Cerita ini mengonfirmasi luka terdalam di hatinya, kenyataan pahit bahwa ayahnya memang telah memilih untuk meninggalkan mereka.
‘Ayah… apakah kau benar-benar hanya seorang pecundang? Alasan apa yang membuat kau tega meninggalkan aku dan Ibu?’
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kini terasa berbeda, lebih berat oleh simpati sang tabib dan amarah Jihan yang tak terucap. Di tengah keheningan itu, sebuah sambungan liar terbentuk di benak Jihan, ibunya jatuh sakit… lalu ayahnya pergi…
Pengakuan sang tabib tadi seolah menjadi kunci yang membuka pintu ke sebuah pertanyaan yang lebih dalam, sebuah kecurigaan yang selama ini tak berani ia pikirkan.
“Tabib”
“Apakah penyakit spiritual… bisa disebabkan oleh sesuatu… selain takdir?”