NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Hujan Meteor dan Sumpah di Bawah Bulan Merah

Bab 23: Hujan Meteor dan Sumpah di Bawah Bulan Merah

Langit di atas Lembah Kabut tidak lagi gelap. Ia berwarna merah darah, seolah-olah mata raksasa sedang menatap dunia dengan penuh kebencian.

Gerhana Bulan Merah telah mencapai puncaknya.

Di perbatasan Hutan Maya, pilar batu kuno yang memancarkan Barrier (pelindung) berkedip-kedip lemah. Di dasarnya, tertempel sebuah jimat peledak kecil buatan Wangsa Agnimara.

CETIK.

Mekanisme pemicu aktif.

BOOM!

Pilar batu itu meledak hancur.

Suara pecahan kaca raksasa terdengar di seluruh lembah saat kubah pelindung transparan itu runtuh. Seketika, aura penekan siluman hilang.

Dari dalam hutan yang gelap, ribuan pasang mata merah menyala serentak.

"GROAAARRR!"

Auman masif mengguncang tanah. Seperti bendungan yang jebol, gelombang hitam makhluk buas—serigala api, babi hutan besi, macan angin—membanjiri area asrama.

Target utama mereka: Asrama Kelas Awan yang terletak paling dekat dengan hutan.

[POV: Jaka - Asrama Kelas Awan]

"BANGUN! SEMUANYA BANGUN!"

Teriakan Jaka memecah keheningan malam. Dia menendang pintu-pintu kamar, membangunkan teman-temannya yang masih terlelap.

"Ambil senjata! Formasi Kura-kura!"

Murid-murid Kelas Awan yang sudah dilatih mentalnya selama sebulan terakhir tidak panik seperti dulu. Meski wajah mereka pucat pasi melihat ombak monster di kejauhan, tangan mereka bergerak otomatis mengambil perisai kayu, tombak, dan 'mainan' pemberian Bara.

"Kirana! Bawa yang terluka dan yang tidak bisa bertarung ke gudang bawah tanah!" perintah Jaka.

"Tapi Mas Jaka..."

"PERGI! KAMI AKAN MENAHAN MEREKA!"

Kirana menggigit bibir, mengangguk, lalu memimpin beberapa murid lari ke belakang.

Jaka berdiri di garis depan halaman asrama. Di sampingnya, Sutejo dan tujuh murid laki-laki lain membentuk dinding betis.

"Ingat kata Mas Bara!" teriak Jaka, memasang Knuckle besinya. "Jangan mati! Pukul hidungnya! Colok matanya!"

Gerombolan pertama—sekitar dua puluh ekor Anjing Hutan Siluman—menerjang pagar kayu. Pagar itu hancur seketika.

"SERANG!"

Jaka meninju moncong anjing pertama yang melompat. KRAK! Rahang anjing itu patah. Tapi dua anjing lain menggigit lengan dan kakinya.

"Argh!" Jaka tidak peduli. Dia membanting anjing-anjing itu.

Sutejo bergerak lincah, pisau di sepatunya menari-nari memotong urat kaki siluman.

Mereka bertarung gagah berani. Tapi jumlah musuh terlalu banyak. Satu mati, tiga datang lagi.

[POV: Rara Anjani - Di Atas Atap Asrama Surya]

Di kejauhan, Anjani melihat kekacauan itu.

"Sialan! Ki Rangga benar-benar melakukannya!"

Anjani hendak melompat pergi membantu, tapi jalannya dihadang.

Arya Agnimara (yang sudah sembuh sebagian berkat tabib mahal) berdiri di sana dengan lima pengawalnya.

"Mau kemana, Nimas?" tanya Arya sinis. "Pertunjukan baru saja dimulai. Sayang kalau dilewatkan."

"Minggir, Arya! Mereka akan mati!"

"Biarkan sampah kembali ke tanah," Arya mengangkat bahu. "Lagipula, itu 'kecelakaan alam'. Siapa suruh asrama mereka dekat hutan?"

"Kau..." Anjani mencabut pedangnya. Aura es-nya meledak. "Aku akan membekukan mulutmu sekarang juga!"

"Tahan dia!" perintah Arya.

Lima pengawal Arya menyerang Anjani. Anjani kuat, tapi dia tertahan. Dia hanya bisa melihat dengan putus asa saat asrama Kelas Awan mulai terbakar dan murid-muridnya terdesak.

"Bara... di mana kau?!" jerit batin Anjani.

[POV: Kirana - Gudang Bawah Tanah]

Pintu gudang digedor keras dari luar. Bukan ketukan manusia, tapi cakaran.

BRAK!

Pintu kayu tebal itu hancur. Seekor Beruang Cakar Sabit (Grimclaw Bear) setinggi tiga meter mendesak masuk. Matanya buta sebelah (hasil ketapel Kirana tadi), tapi dia mengamuk membabi buta.

Kirana berdiri di depan anak-anak yang menangis. Dia satu-satunya yang memegang senjata—belati kecil pemberian Bara.

Tangannya gemetar hebat.

"Jangan... jangan mendekat..."

Beruang itu meraung, mengangkat cakar raksasanya untuk membelah Kirana menjadi dua.

Kirana memejamkan mata. Mas Bara... maaf aku tidak bisa menepati janji...

Waktu seolah melambat.

Di langit malam yang merah, sebuah titik cahaya emas muncul.

Awalnya kecil seperti bintang jatuh. Tapi dalam hitungan detik, titik itu membesar, membelah awan dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

WUUUUUUNNNGGG....

Suara itu bukan suara mesin. Itu suara udara yang bergesekan dengan objek berkecepatan hipersonik.

Para siluman berhenti menyerang sesaat, insting mereka merasakan ancaman dari langit.

Beruang di depan Kirana mendongak bingung.

Cahaya emas itu jatuh. Bukan ke arah asrama, tapi tepat ke tengah-tengah kerumunan siluman di halaman.

"Jatuhlah... Komet Surya!"

KABOOOOM!!!

Ledakan dahsyat terjadi. Gelombang kejut (Shockwave) menyapu area radius 500 meter.

Siluman-siluman yang berada di titik jatuhnya hancur menjadi debu seketika. Mereka yang di pinggir terlempar seperti boneka kain. Api emas menjalar liar, membakar tanah tapi ajaibnya tidak membakar bangunan asrama—api itu seolah punya kesadaran untuk menghindari kayu.

Kirana membuka mata. Beruang di depannya terlempar keluar pintu karena getaran tanah.

Di tengah halaman yang kini menjadi kawah membara, debu perlahan menipis.

Sesosok manusia berdiri di sana.

Dia bertelanjang dada. Punggungnya... punggungnya mengerikan. Kulitnya hangus, dan ada serpihan logam hitam (Meteorit) yang tertanam di sepanjang tulang belakangnya, bersinar merah panas. Uap panas mengepul dari tubuhnya.

Dia bangkit perlahan. Topeng peraknya retak separuh, memperlihatkan mata kanan yang menyala emas vertikal.

Bara Wirasena telah kembali.

Dan dia marah.

[POV: Raden Bara Wirasena]

Bara merasakan setiap inci tubuhnya menjerit kesakitan. Teknik Manunggal Raga hampir membunuhnya. Dia terbang dari Trowulan ke Lembah Kabut dalam waktu 15 menit. Gesekan udara nyaris menguliti punggungnya.

Tapi rasa sakit itu hilang saat dia melihat Jaka yang tergeletak berdarah di dekat pagar, dan Kirana yang gemetar di pintu gudang.

"Mereka masih hidup," bisik Bara lega. "Terima kasih, Tuhan."

Lalu, matanya beralih ke sisa-sisa siluman yang mulai bangkit dari syok.

Rasa leganya berubah menjadi amarah dingin.

Dia mencabut Kujang Si Sulung dan Si Bungsu.

"Garuda," panggil Bara pelan.

"Ya, Raja Muda?"

"Makan malam prasmanan. Kau boleh makan sepuasnya."

"Akhirnya!"

Bara mengangkat kedua Kujangnya.

"Sembilan Langkah Surya: Langkah Kedua Variasi - Pesta Kembang Api!"

Bara berputar. Dia melepaskan puluhan sabit api dari Kujangnya ke segala arah.

Sret! Sret! Sret!

Sabit-sabit api itu memotong leher siluman dengan presisi bedah. Darah muncrat di mana-mana. Bara bergerak seperti hantu api, berpindah dari satu musuh ke musuh lain.

Setiap tebasan adalah kematian. Tidak ada gerakan sia-sia.

Dia menyelamatkan Jaka dengan menendang kepala anjing yang menggigitnya. Dia menyelamatkan Sutejo dengan melempar Kujang yang menancap tepat di jidat macan angin.

Dalam satu menit, lima puluh siluman tewas.

Sisa siluman—sekitar ratusan—mulai mundur ketakutan. Insting binatang mereka mengatakan: Manusia ini adalah Predator Apex. Lari.

Bara berdiri di tengah tumpukan bangkai, bermandikan darah siluman yang menguap karena panas tubuhnya.

Dia mendongak ke arah bukit tempat Ki Rangga dan Arya menonton (dia bisa merasakan hawa keberadaan mereka yang busuk).

Bara mengangkat Kujangnya, menunjuk lurus ke arah Ki Rangga.

"GILIRANMU," gema suaranya diperkuat Prana, terdengar sampai ke seluruh lembah.

[POV: Ki Rangga Agnimara - Di Atas Bukit]

Ki Rangga menjatuhkan teropongnya. Wajahnya pucat pasi, lebih putih dari mayat.

"Tidak mungkin..." gumamnya. "Dia... dia terbang? Bagaimana mungkin manusia bisa terbang tanpa sayap?!"

Arya di sebelahnya gemetar, lututnya lemas. "Paman... itu... monster apa itu?"

Ki Rangga merasakan ketakutan purba yang dia rasakan dua puluh tahun lalu. Ketakutan saat melihat Raden Wijaya mengamuk.

Tapi kali ini lebih parah. Karena anak ini... anak ini memiliki kebencian yang murni.

"Mundur!" teriak Ki Rangga panik. "Panggil semua pengawal! Aktifkan Meriam Pertahanan! Tembak dia!"

"Tapi Paman, asrama murid masih ada di sana!"

"AKU TIDAK PEDULI! RATAKAN AREA ITU DENGAN TANAH SEBELUM IBLIS ITU NAIK KE SINI!"

[POV: Rara Anjani]

Anjani, yang baru saja berhasil memukul mundur pengawal Arya, melihat Bara menunjuk ke bukit.

Dia tersenyum. Air mata haru menetes di pipinya.

"Dasar bodoh," bisiknya. "Kau benar-benar kembali."

Dia melihat Ki Rangga memerintahkan pengaktifan meriam Prana di tembok benteng utama.

"Tidak akan kubiarkan," mata Anjani berkilat dingin.

Dia melompat ke arah menara meriam terdekat. Jika Bara bertarung di bawah, dia akan membersihkan langit untuknya.

"Malam ini..." Anjani membekukan engsel meriam itu dengan sentuhan tangannya. "Adalah malam kejatuhan Wangsa Agnimara."

[Epilog Bab 23]

Bara berjalan mendekati Jaka yang terluka parah.

"Mas..." Jaka tersenyum lemah, giginya berdarah. "Kami... kami tidak mati."

Bara berlutut, menyalurkan sedikit Prana Surya (cahaya penyembuh) ke dada Jaka.

"Kalian hebat," kata Bara lembut. "Kalian bertahan lebih baik daripada pasukan elit manapun."

Bara berdiri lagi. Dia menatap Kirana yang berlari memeluk kakinya sambil menangis.

"Jaga Jaka," perintah Bara pada Kirana. "Aku harus membersihkan sampah di atas bukit."

Bara menekuk lututnya. Tanah di bawahnya retak.

BOOM!

Dia melompat. Bukan lari, tapi melompat vertikal setinggi lima puluh meter, mendarat di atap bangunan, lalu melompat lagi menuju bukit tempat para bangsawan bersembunyi.

Malam ini, pelayan itu tidak lagi melayani.

Malam ini, Dewa Kujang datang untuk menagih hutang.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 23

Komet Surya: Teknik improvisasi Bara menggunakan gaya gravitasi dan kecepatan jatuh bebas, dilapisi pelindung Prana panas, untuk menciptakan dampak kinetik seperti meteor.

Shockwave (Gelombang Kejut): Efek fisika dari ledakan energi yang mendorong udara dengan kuat. Bisa menghancurkan organ dalam jika terlalu dekat.

Predator Apex: Pemangsa puncak dalam rantai makanan. Posisi Bara saat ini di mata para siluman.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!