Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan gerimis membasahi jendela mobil sedan mewah yang melaju pelan menembus kemacetan Jakarta sore itu. Di balik setir, Anindita Paramitha Kusuma menggenggam erat kemudi, jemarinya yang lentik gemetar—bukan karena dingin, melainkan karena gelombang emosi yang sulit dibendung. Di tangannya yang bebas, sebuah amplop putih berisi hasil tes kehamilan seperti membakar kulitnya dengan kehangatan harapan yang sudah lama mati.
Lima tahun. Lima tahun lamanya dia dan Hardana menunggu. Lima tahun penuh janji-janji kosong dari dokter, terapi hormon yang menyiksa, hingga tatapan penuh belas kasihan dari keluarga besar Kusuma setiap kali perayaan keluarga tiba. Setiap bulan, ketika menstruasinya datang, Anindita menangis dalam diam di kamar mandi—menangis untuk harapan yang gugur sebelum sempat tumbuh.
Tapi hari ini berbeda. Tiga minggu. Janin kecil itu sudah berusia tiga minggu, bertahan di rahimnya seperti keajaiban yang akhirnya datang menjemput. Anindita ingin berteriak, ingin menangis bahagia, ingin memeluk Hardana dan merasakan kehangatan pelukan suaminya yang selalu menenangkan.
Tangannya meraih ponsel di dashboard. Dengan jemari gemetar, dia menekan nama "Suamiku ❤️" dan menunggu nada sambung. Satu... dua... tiga kali. Tidak ada jawaban.
Sedetik kemudian, sebuah pesan masuk: "Maaf sayang, aku sedang rapat..."
Anindita tersenyum tipis. Tentu saja. Hardana selalu sibuk, apalagi akhir-akhir ini. Sebagai direktur operasional Kusuma Group, tanggung jawabnya memang berat. Dia mengerti itu. Tapi hari ini... hari ini dia ingin egois. Dia ingin suaminya ada untuknya, hanya untuk sejenak, hanya untuk berbagi kebahagiaan ini. "Baiklah," gumamnya pelan, sebuah ide nakal muncul di benaknya. "Kalau begitu, aku yang akan datang sendiri."
Anindita memutar balik mobilnya, mengubah arah menuju gedung megah Kusuma Group di kawasan Sudirman. Sepanjang perjalanan, dia terus membayangkan, bagaimana ekspresi Hardana saat mendengar kabar ini? Apakah dia akan terkejut? Menangis? Atau mengangkatnya tinggi-tinggi seperti di film-film romantis yang sering mereka tonton bersama?
Senyumnya merekah, kehangatan memenuhi dadanya. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Anindita merasa sempurna.
***
Gedung Kusuma Group menjulang tinggi, memantulkan cahaya senja yang keemasan. Anindita turun dari mobilnya, merapikan dress sutra biru langit yang membalut tubuh rampingnya. Di tangannya, amplop putih itu masih tergenggam erat. Dia melangkah dengan percaya diri melewati lobi megah, tersenyum pada resepsionis yang membungkuk hormat, siapa yang tidak kenal istri tuan muda kedua Kusuma?
Tapi langkahnya terhenti tiba-tiba di depan pintu putar lobby. Jantungnya berdegup kencang, tidak karena bahagia, tapi karena pemandangan yang membekukan darahnya.
Di sana, tepat di depan pintu masuk gedung, berdiri Hardana... suaminya, pria yang tidur di sampingnya setiap malam, memeluk seorang wanita. Bukan pelukan sopan rekan kerja. Bukan pelukan kebetulan. Tapi pelukan yang akrab, hangat, intim. Tangan Hardana melingkar di pinggang wanita itu dengan cara yang terlalu familiar, terlalu... nyaman.
Wanita itu cantik. Sangat cantik. Rambut panjangnya bergelombang lembut, kulitnya putih bersih, tubuhnya ramping dengan lekuk yang sempurna. Dia mengenakan blazer hitam yang elegan, rok pensil yang pas dan sepatu hak tinggi yang membuat kakinya terlihat jenjang. Senyumnya lembut saat menatap Hardana, mata sipitnya berbinar dengan kehangatan yang membuat perut Anindita mual.
Dan di antara mereka, seorang anak kecil. Gadis mungil berusia sekitar tiga tahun dengan dress pink dan pita di rambutnya yang dikuncir dua. Anak itu menggenggam kaki Hardana, wajahnya mendongak dengan senyum ceria yang polos.
"Papa! Angkat Indira, Papa!"
Kata itu. Papa. Meledak di telinga Anindita seperti petir di siang bolong.
Dunia berputar. Amplop di tangannya jatuh, berserakan di lantai marmer yang dingin. Kakinya gemetar, nafasnya tersumbat. Ini mimpi. Ini pasti mimpi buruk. Dia akan terbangun sebentar lagi di ranjangnya yang hangat, dengan Hardana di sampingnya yang akan mengelus rambutnya dan berkata, "Kamu mimpi buruk lagi, sayang?"
Tapi ini bukan mimpi.
"Suamiku."
Suaranya keluar, dingin dan tajam, membelah udara seperti pisau. Hardana tersentak, kepalanya menoleh cepat. Wajah tampannya, wajah yang Anindita cintai, wajah yang selama lima tahun menjadi sumber kekuatannya, memucat seketika. Matanya membulat, bibirnya terbuka tapi tidak ada suara keluar.