Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Raden Ayu Susilowati
Soedarsono terkekeh, tawa pendek yang lelah tapi geli.
"Tidak. Ini untukmu. Jadi milikmu mulai sekarang, jaga baik-baik, jangan sampai hilang. Ini benda kesayangan Romo."
"Untuk ... saya, Ndoro?" Matanya membelalak semakin lebar.
Mata Arjo membulat. Di belakangnya, Tikno dan Dirno sama terkejutnya.
Soedarsono meletakkan jam itu di telapak tangan Arjo.
"Ya. Ini untukmu. Kata Romo, jam ini membawa keberuntungan. Beliau selalu memakainya saat menghadapi situasi berbahaya." Ia menutup jari-jari Arjo di atas jam, kedua tangannya hangat menggenggam. "Semoga kau selalu beruntung, Arjo. Nanti Ki Atmojo yang akan menjelaskan kelebihan jam ini."
Sebelum Arjo sempat bertanya lebih lanjut, Soedarsono merangkulnya. Telapak tangan menepuk punggungnya—dua kali, tiga kali—dengan cara yang hampir seperti keayahan.
"Pergilah. Semoga keselamatan selalu bersamamu."
Pelukannya terlepas. Soedarsono berbalik cepat, melangkah ke arah kuda yang sudah disiapkan.
"Dirno, Tikno." Ia memanggil tanpa menoleh. "Jaga Arjo baik-baik."
"Siap, Ndoro!"
Soedarsono naik ke kuda Tikno. Para pengawal yang tadi mengawal kereta berganti formasi, sebagian mengikuti Soedarsono, sebagian tetap tinggal.
Satu tatapan terakhir Soedarsono lemparkan ke arah Arjo, sorot penuh sesuatu yang tidak bisa Arjo pahami. Lalu dia memacu kuda, menghilang ke jalur hutan bersama pengawalnya, debu berterbangan di belakang mereka.
Arjo berdiri mematung, jam emas di genggaman.
"Jo." Tikno memecah keheningan. "Kau lihat itu tadi?"
"Gusti Bupati ... tidak seperti biasanya." Dirno mengangguk. "Lebih ... aneh?"
"Kata Nyi Seger, orang yang sedang jatuh cinta memang begitu." Arjo menatap ke jalanan yang mengepul debu. "Agak gila. Kehilangan istri kesayangannya, jadi emosinya tidak stabil. Tapi kalau gilanya memberi barang mahal seperti ini," Arjo mengangkat jam saku, memandangnya takjub, " aku tidak keberatan."
Tikno dan Dirno langsung mendekat, berebut melihat.
"Ini emas sungguhan."
"Ukirannya halus sekali!"
Di belakang mereka, seseorang berdeham keras.
Ketiganya menoleh. Ki Atmojo—Pengawal Kepala.
"Kalian ini, senang sekali mengobrol. Seperti perempuan saja, senang membicarakan emas. Cepat ke kereta. Kita harus berangkat."
Arjo menyimpan jam ke saku beskap, menegakkan tubuh.
Serentak ketiga pemuda bubar, Tikno mengawal dalam kereta. Dirno menaiki kudanya. Tedjo digiring salah satu pengawal berkuda.
Kereta mulai bergerak, meluncur ke jalan utama menuju kadipaten.
Di dalam kereta, Arjo mengeluarkan cerutu dari kotak yang tersedia di samping jok. Tembakau Deli. Cengkeh Zanzibar. Aroma yang sudah familiar.
“Cerutu, Tik.”
Ia membagi satu untuk temannya, menyalakan cerutu dengan korek api emas yang juga milik Soedarsono, menghisap dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
‘Ini berbeda dari tempo hari. Tempo hari aku hanya duduk di kereta, mengawasi pembangunan rel dari jauh. Tidak perlu bicara dengan siapa pun. Tidak perlu berinteraksi.’
‘Tapi sekarang….’
Ia menarik tirai, mengintip ke luar. Jalan utama ramai semakin mendekati komplek kadipaten. Pedagang-pedagang mendorong gerobak. Petani memikul hasil panen. Perempuan-perempuan membawa bakul di kepala. Anak-anak berlarian di tepi jalan.
Semua tanpa kecuali, menepi dan berjongkok dengan tangan membentuk sembah saat kereta bupati melintas.
Tempo hari, ia senang dihormati seperti ini, tapi hari ini … entah mengapa itu tak lagi membanggakan.
Dia mengamati wajah-wajah rakyat yang kulitnya gelap terbakar matahari, berjalan jauh di bawah terik matahari, terkena debu jalanan, kaki tanpa alas. Arjo pernah merasakan hal serupa, dalam hati kecilnya, ada rasa bersalah duduk di kereta mewah yang bisa memberi makan orang satu desa.
Di sepanjang perjalanan itu, Arjo banyak merenung.
Sampai akhirnya kereta memasuki gerbang kadipaten, gerbang besar berbentuk regol dari besi tempa yang dicat hitam mengkilap dengan aksen emas, lengkap dengan pos penjagaan.
Halaman luas dengan taman yang ditata apik membentang di hadapannya. Pohon-pohon palem berdiri tegak di kanan kiri jalan. Air mancur dari batu pualam mengucurkan air jernih di tengah taman. Bunga-bunga mawar bermekaran di sepanjang tepian. Semerbak harum bunga menyusup ke dalam kabin kereta.
Dan di ujung jalan, berdiri pendopo utama.
Bangunan megah dengan pilar-pilar tinggi dari kayu jati yang diplitur gelap. Lantai dari marmer putih mengkilap memantulkan cahaya matahari. Atap joglo menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran indah sulur tanaman yang dicat emas.
Kereta berhenti di depan undakan marmer yang lebar. Di kanan kiri tangga, barisan abdi dalem sudah menunggu—laki-laki dan perempuan berpakaian seragam kadipaten, berjongkok serempak dengan dua tangan membentuk sembah.
"Sugeng rawuh, Ndoro!"
Suara mereka menyatu menjadi paduan yang teratur, seperti sudah dilatih berkali-kali.
Arjo menarik napas dalam-dalam. Pintu kereta dibuka dari luar oleh salah satu pengawal.
Arjo melangkah turun dengan gaya yang telah ia latih bertahun-tahun, langkah perlahan tapi tegas, dagu terangkat sedikit, mata memandang lurus ke depan tanpa benar-benar melihat siapa pun.
Dan di sanalah ia melihatnya. Di puncak tangga, berdiri seorang perempuan.
Bukan Gusti Ayu Kusumawati, perempuan itu tidak ada di mana pun yang bisa Arjo lihat. Mungkin sedang sibuk dengan urusannya sendiri, seperti yang dikatakan Kang Guru Harjo.
Yang berdiri di sana adalah perempuan lain. Sangat muda. Mungkin baru empat belas atau lima belas tahun, wajahnya masih seperti anak-anak, tubuh masih sangat kurus seperti belum berkembang sempurna.
Kebaya merah mencolok dengan dandanan yang tampak terlalu dewasa untuk usianya. Rambut disanggul tinggi dihiasi tusuk konde yang berkilauan. Bibir dipoles gincu merah. Pipi dibedaki putih.
Tapi semua itu tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang... salah.
Kepala perempuan itu menunduk terlalu dalam. Bahu membungkuk seperti menanggung beban berat. Tangan terlipat di depan perut dengan jari-jari yang tampak gemetar.
Dan pergelangan tangannya, yang terlihat di antara lipatan lengan kebaya, kurus seperti ranting kering yang bisa patah kapan saja.
‘Ini pasti Raden Ayu Susilowati. Istri resmi—garwo padmi bupati, tapi bukan istriku. Aku kan cuma bayangan bupati, jadi istriku … bayangan di belakang perempuan itu.’
Arjo hampir tersenyum pada bayangan di belakang sang Raden Ayu.
Arjo sudah membaca tentang perempuan ini dalam catatan yang diberikan Kang Guru Harjo. Anak dari keluarga ningrat yang dijodohkan dengan Soedarsono atas desakan Gusti Ayu Kusumawati. Pernikahan politik yang tidak didasari cinta.
Tapi melihat langsung seperti ini...
‘Dia tampak... sangat tertekan.
Perempuan muda itu membungkuk lebih dalam saat Arjo mendekat.
"Sugeng rawuh, Kangmas." Suaranya nyaris tak terdengar, bisikan pelan yang lebih mirip desahan ketakutan daripada sambutan istri pada suami.
Arjo berhenti sejenak di hadapannya. Lebih dari sejenak sebenarnya. Kepalanya sedikit miring, penasaran dengan wajah yang terlalu menunduk.
‘Aneh sekali perempuan ini. Badannya gemetaran. Dia sakit atau bagaimana? Bedaknya tebal sekali. Dadanya rata seperti papan. Tulang belikatnya sampai menonjol. Sama sekali tidak menarik. Bagaimana Soedarsono biasanya merespons? Apa yang harus kukatakan?’
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo