NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Tatapan di Ambang Pintu

Udara di dalam ruang kerja Muhammad Akbar terasa jauh lebih hangat dibanding satu jam lalu, meski suhu AC masih di angka yang sama. Di atas meja kopi, kotak bekal berwarna biru dongker itu kini sudah kosong melompong. Tidak ada sebutir nasi pun yang tersisa.

Hannah menutup kotak bekalnya dengan hati riang. Misi sukses besar.

"Mas, Hannah pulang dulu ya," pamit Hannah sambil merapikan tas jinjingnya. "Nanti Mas Akbar pulang jam berapa?"

Akbar melirik jam tangan peraknya. "Insya Allah jam lima Mas sudah jalan. Kamu hati-hati di jalan. Benar nggak mau Mas panggilkan sopir kantor saja?"

Hannah menggeleng cepat sambil tersenyum. "Nggak usah, Mas. Ojeknya sudah di depan lobi kok. Mas lanjut kerja saja, tadi katanya deadline material, kan?"

Akbar tersenyum, menatap istrinya dengan rasa bangga. Hannah ternyata cukup pengertian untuk usianya yang masih belia.

"Ya sudah. Hati-hati. Assalamualaikum," ucap Akbar.

"Wa’alaikumsalam," jawab Hannah.

Hannah memutar tumit, melangkah ringan menuju pintu kayu jati yang besar itu. Hatinya berbunga-bunga. Bayangan mengerikan tentang kantor yang kaku dan suami yang galak sudah sirna. Ia merasa selangkah lebih dekat dengan Akbar.

Tangan Hannah meraih gagang pintu, menekannya ke bawah, dan menarik pintu itu terbuka.

Namun, di saat yang bersamaan, ada seseorang yang hendak masuk dari luar.

Langkah Hannah terhenti mendadak. Di hadapannya, berdiri seorang wanita muda.

Dunia Hannah seolah melambat selama beberapa detik.

Wanita itu cantik. Sangat cantik dengan cara yang meneduhkan. Ia mengenakan gamis kerja berwarna maroon gelap yang elegan, dipadu dengan khimar syar'i berwarna senada yang menjuntai menutupi dada hingga pinggang. Wajahnya bersih, tanpa riasan tebal, namun memancarkan kecerdasan dan kelembutan dewasa. Di tangannya, ia mendekap sebuah map tebal berwarna merah.

Postur tubuhnya tinggi semampai, terlihat sangat pas dan berwibawa berdiri di depan pintu direktur utama.

Hannah, dengan gamis mocca sederhananya dan wajah yang masih polos khas anak baru lulus pesantren, tiba-tiba merasa sangat kecil. Seperti butiran debu di samping berlian.

"Eh, maaf..." ucap Hannah refleks, memundurkan langkahnya sedikit untuk memberi jalan.

Wanita itu tidak langsung menjawab. Matanya yang bulat menatap Hannah. Awalnya ada kilatan kaget di sana, namun sedetik kemudian, tatapan itu berubah.

Cahaya di mata wanita itu meredup.

Ia menatap Hannah bukan dengan kebencian, bukan pula dengan sinis. Melainkan dengan tatapan sendu yang teramat dalam. Tatapan seorang wanita yang melihat mimpinya sedang berdiri di hadapan orang lain. Ada genangan air mata yang tertahan di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak jatuh.

Wanita itu melirik sekilas ke arah paper bag bekas bekal makanan yang ditenteng Hannah, lalu kembali menatap wajah Hannah.

"Kamu... Hannah?" tanya wanita itu pelan. Suaranya lembut, namun terdengar rapuh.

Hannah mengangguk ragu. "Iya, Mbak. Saya Hannah."

Wanita itu tersenyum tipis. Sangat tipis dan menyakitkan. "Saya Annisa. Staf keuangan di sini."

"Oh, salam kenal, Mbak Annisa," Hannah mencoba ramah, meski insting wanitanya menangkap sinyal kesedihan yang kuat dari lawan bicaranya.

"Istri Pak Akbar... masih sangat muda ya," gumam Annisa, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menghela napas samar, mencoba menata hatinya yang berantakan. "Silakan lewat, Dek. Maaf menghalangi jalan."

Annisa bergeser ke samping, memberikan jalan bagi Hannah dengan sopan santun yang sempurna.

"Terima kasih, Mbak," Hannah bergegas keluar, setengah berlari kecil menuju lift.

Di dalam lift yang kosong, Hannah menyandarkan punggungnya ke dinding besi dingin. Bayangan wajah Annisa tidak mau pergi dari kepalanya. Tatapan itu... kenapa tatapan itu terasa begitu menyayat? Dan kenapa saat melihat Annisa, Hannah merasa seolah-olah ia adalah "penyusup" di dunia Akbar?

Annisa terlihat begitu serasi dengan kantor ini. Serasi dengan wibawa Akbar. Mereka seperti berasal dari frekuensi yang sama dewasa, mapan, dan profesional. Sedangkan Hannah? Ia hanya gadis kecil yang mengantar bekal cumi asin.

Rasa percaya diri Hannah yang tadi melambung setinggi langit, kini perlahan turun, tergantikan oleh benih-benih insecurity.

Sementara itu, di ambang pintu ruangan direktur.

Annisa berdiri mematung sejenak, menatap punggung Hannah yang menghilang di belokan koridor. Ia meremas map merah di pelukannya semakin erat, hingga buku-buku jarinya memutih.

Tiga tahun.

Sudah tiga tahun Annisa bekerja di sini. Tiga tahun ia memendam rasa kagum pada sosok Muhammad Akbar. Ia mengagumi cara Akbar memimpin rapat, caranya menjaga pandangan, dan caranya memperlakukan karyawan dengan adil. Annisa selalu berusaha memantaskan diri. Ia menjaga kinerjanya, menjaga akhlaknya, berharap suatu hari nanti Akbar akan meliriknya.

Ia pikir, ia punya waktu. Akbar tipe pria yang gila kerja dan belum memikirkan pernikahan. Annisa pikir, jika ia bersabar sedikit lagi, mungkin takdir akan berpihak padanya.

Tapi takdir berkata lain. Berita pernikahan itu datang bagai petir di siang bolong minggu lalu. Akbar menikah. Bukan dengan rekan kerja, bukan dengan wanita karier, melainkan dengan gadis belia pilihan orang tuanya.

Hati Annisa hancur berkeping-keping. Dan hari ini, melihat langsung sosok Hannah gadis muda yang ceria dan masih terlihat kekanak-kanakan itu—luka di hati Annisa semakin perih.

Jadi itu pilihanmu, Pak? Gadis kecil yang manis itu? batin Annisa pilu.

Ia menarik napas panjang, memasang topeng profesionalisme terbaiknya. Ia mengetuk pintu yang masih terbuka itu.

"Permisi, Pak Akbar," suara Annisa kembali tegas, meski hatinya berdarah.

Akbar yang sudah kembali fokus ke laptopnya mendongak.

"Oh, Annisa. Masuk," ujar Akbar datar. Nada suaranya profesional, tidak ada kehangatan khusus, hanya keramahan standar atasan kepada bawahan. Hal yang selama ini Annisa salah artikan sebagai harapan.

Annisa melangkah masuk, meletakkan map merah di meja. Matanya sekilas menangkap sisa aroma masakan di ruangan itu. Aroma rumah tangga. Aroma kebahagiaan yang bukan miliknya.

"Ini berkas laporan keuangan proyek Surabaya yang Bapak minta. Butuh tanda tangan Bapak untuk pencairan dana material," jelas Annisa.

Akbar mengambil map itu, membukanya, dan menelitinya dengan cepat. "Oke, angkanya sudah sesuai dengan revisi kemarin?"

"Sudah, Pak."

Akbar mengambil pulpen, membubuhkan tanda tangannya yang tegas di atas kertas.

"Terima kasih, Annisa. Kerja bagus. Laporannya rapi seperti biasa," puji Akbar tulus, lalu menyerahkan map itu kembali.

Hanya itu. Tidak ada pertanyaan personal. Tidak ada basa-basi.

Annisa menerima map itu. Tangannya bersentuhan sekilas dengan ujung map yang dipegang Akbar, tapi pria itu sama sekali tidak bereaksi. Pikirannya sudah kembali ke layar laptop.

"Ada lagi?" tanya Akbar tanpa melihat Annisa.

"Ti... tidak ada, Pak. Permisi," jawab Annisa tercekat.

Ia berbalik badan, melangkah keluar ruangan dengan kaki yang terasa berat.

Sesampainya di kubikel kerjanya, Annisa duduk lemas. Ia menatap layar komputernya yang buram tertutup air mata. Ia sadar, ia kalah telak. Bukan kalah cantik, bukan kalah pintar. Tapi kalah oleh takdir.

Cinta dalam diamnya selama tiga tahun berakhir hari ini, tepat di ambang pintu, saat melihat senyum polos Hannah yang baru saja membawakan bekal cinta untuk pria yang tak pernah bisa ia miliki.

Di perjalanan pulang, di atas jok motor ojek online, Hannah melamun menatap jalanan kota yang macet.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!