Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tidak ada satu pun orang yang berani menjawabnya, keputusan Danton adalah mutlak dan mereka hanya bisa mengangguk setuju sebagai bawahan meski tak di pungkiri mereka ragu dengan kinerja Aldric kedepannya.
"Bagus, kalo tidak ada keluhan lagi maka rapat kali ini di tutup!" Titah Danton.
Akhirnya para anggota Blade berangsur-angsur keluar dari ruangan tersebut, menyisakan Danton, Aldric dan juga Lucian. Tiga pilar utama organisasi tersebut.
"Ayah, aku dengar dulu ada satu anggota wanita yang sangat multitalent tapi di mana dia sekarang?" Tanya Aldric.
Dia belum mengetahui jika Clara sudah lama meninggal, karena kabar itu hanya berada di dalam struktur organisasi tanpa di perbolehkan bocor keluar.
Danton terdiam sejenak. Tatapannya yang tajam beralih ke arah Aldric, lalu bergeser pada Lucian yang sejak tadi berdiri dengan sikap tenang ciri khas pria itu sejak lama.
"Kau bicara tentang Clara," ujar Danton akhirnya, suaranya datar.
Aldric mengangguk. "Aku membaca sebagian arsip lama. Namanya sering muncul di sana. Ahli strategi, eksekutor lapangan, negosiator. Jarang ada anggota dengan profil seperti itu di dalam organisasi Ayah."
Lucian merasakan tengkuknya menegang. Jari-jarinya refleks mengepal di sisi tubuhnya. Tidak ada yang boleh tahu jika Clara meninggal di tangan Danton, bahkan Aldric pun tidak boleh mengetahuinya.
"Clara sudah meninggal," lanjut Danton singkat. "Beberapa tahun lalu. Insiden di jalan."
Alis Aldric berkerut. "Semudah itu?"
Nada suaranya tidak percaya, bahkan cenderung dingin. Aldric bukan tipe yang mudah menerima laporan tanpa logika yang jelas.
"Peluru nyasar," jawab Danton. "Kasus ditutup begitu saja."
"Hm." Aldric menyandarkan tubuhnya ke meja. "Aneh. Orang seperti itu seharusnya tidak mati dengan cara ceroboh, kenapa Ayah tidak mengusut kasus itu lebih lanjut?"
Lucian tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. "Kadang takdir memang suka bercanda, Tuan muda. Sehebat apa pun seseorang, tetap bisa lengah."
Tatapan Aldric menyapu Lucian perlahan. "Kau dekat dengannya, bukan? Aku dengar kau orang yang selalu bersama dengannya."
"Tidak terlalu," jawab Lucian cepat. "Kami hanya berada dalam satu tim, Clara tidak suka terikat dengan sebuah persahabatan."
Danton memotong sebelum Aldric bertanya lebih jauh. "Tidak ada gunanya membahas orang yang sudah mati. Fokus kita sekarang ke depan dan mengembangkan organisasi ini."
Aldric hendak membuka mulut lagi, namun pintu ruang rapat kembali terbuka. Menampilkan sosok pria berperawakan tinggi dan tegap.
"Siapa dia?" Tanya Aldric.
"Pengawalku," kata Danton dan beralih menatap ke arah pengawalnya. "Ada apa?"
"Berita terbaru, bank yang akan kita bobol ternyata sudah lebih dulu dibobol pihak lain, Tuan Danton."
Kalimat itu membuat Danton refleks berdiri. Wajahnya yang semula tenang berubah tegang, sorot matanya mengeras tajam. "Apa maksudmu… sudah dibobol?"
"Transaksi ilegalnya sudah dikuras bersih. Brankas utama kosong. Sistem keamanannya jebol sekitar dua jam lalu," lapor sang pengawal dengan nada serius.
"Apa?" Aldric ikut berdiri. "Itu mustahil. Jadwal dan aksesnya hanya kita yang tahu."
Danton mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras, jelas menahan amarah dan keterkejutannya. "Siapa pelakunya?"
"Belum teridentifikasi. Tapi caranya rapi. Terlalu rapi untuk perampok biasa."
Lucian menyipitkan mata. Ada kilatan waspada di wajahnya. "Berarti ada pihak lain yang bermain di wilayah kita."
Danton menghembuskan napas kasar. "Atau ada pengkhianat."
Ucapan itu membuat suasana ruang rapat membeku. Tatapan Danton menyapu satu per satu wajah di ruangan, berhenti lebih lama pada Lucian dan Aldric.
Aldric mengangkat dagu. "Jangan menuduh sembarangan. Jika ada orang luar yang bisa bergerak sebersih itu, berarti mereka sudah lama mengamati kita."
Lucian menambahkan datar, "Dan mereka tahu persis target kita."
Danton terdiam sesaat sebelum berkata dingin, "Cari tahu siapa pun yang bergerak sebelum kita. Aku ingin nama, wajah, dan kepalanya jika perlu."
"Siap," jawab sang pengawal tanpa ragu.
***
Sementara itu, di lain tempat Aurora tengah tersenyum puas setelah berhasil meraup uang jutaan dollar dari bank yang berhasil dia bobol. Jika bukan karena ingatan kehidupan lamanya mungkin dia tidak akan berani menerobos bank dengan sistem keamanan yang begitu tinggi.
"Blade, kalian pikir akan aman setelah kematianku?" Aurora terkekeh sinis. "Salah besar, aku akan mengacaukan sistem kalian satu persatu dan menjatuhkan organisasi licik itu."
Dendam menjadi jalan utama yang Aurora pilih, setelah dia hidup kembali kemarahan akan penghianatan yang di lakukan oleh Danton dan Lucian kian membekas dan menyulut api dalam dada Aurora.
Aurora menyandarkan punggungnya pada kursi, tatapannya menembus layar tablet di tangannya tanpa benar-benar fokus. Angka-angka saldo yang masih tertera jelas menjadi bukti keberhasilannya, namun pikirannya sudah melayang jauh ke depan.
Dia tidak bisa bekerja sendirian selamanya.
Penyerangan tempo hari dan perburuan terselubung dari Blade menjadi peringatan nyata. Jika dia ingin bertahan dan menghancurkan mereka dari dalam Aurora membutuhkan sebuah tim.
Bukan tim sembarangan, melainkan orang-orang yang bisa dia percaya sepenuhnya. Orang-orang dengan kualitas tinggi, bukan hanya dalam bertarung, tetapi juga dalam bertahan hidup, berpikir cepat, dan menjaga rahasia.
"Aku butuh prajurit, bukan pengkhianat," gumamnya pelan.
Blade telah menciptakan monster dengan membunuhnya. Dan sekarang, monster itu kembali lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih mematikan.
Aurora menggeser layar tablet hingga menunjukan deretan nama yang sudah masuk ke dalam daftar hitam miliknya.
"Mereka harus tahu akibatnya jika mengusik anak-anakku," gumam Aurora penuh ancaman.
Dia sudah mengantongi nama-nama orang yang menyerangnya malam itu, dan kini dia akan memburu mereka yang sudah berani mendekati zona aman miliknya.