NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Hari-hari Sepi

​Tiga hari berlalu sejak pertemuan rahasia di depan loker. Tiga hari yang rasanya seperti tiga abad.

​Di kamar mewahnya, Julian duduk bersila di lantai, dikelilingi koper-koper terbuka. Pakaiannya sudah dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam koper: seragam sekolah baru (SMA Taruna di Magelang), baju tidur, dan perlengkapan mandi.

​Tidak ada gitar. Tidak ada buku musik. Bahkan poster tabel periodik di dindingnya pun sudah dicopot, menyisakan tembok putih yang melompong.

​Kamar itu sudah bukan kamarnya lagi. Itu hanya ruang transit sebelum pengasingan.

​Julian mengambil satu benda yang diam-diam dia sembunyikan di saku celana dalamnya saat penggeledahan oleh ayahnya tempo hari: sebuah pick gitar warna merah marun.

​Pick milik Alea.

​Benda plastik kecil berbentuk segitiga itu terasa hangat di tangannya. Di permukaannya ada goresan-goresan kasar, tanda sering dipakai 'mencakar' senar dengan semangat berapi-api.

​"Apa kabar, Le?" bisik Julian pada pick itu.

​Keheningan rumah menjawabnya. Tidak ada notifikasi HP (karena HP-nya masih disita di brankas ayahnya). Tidak ada suara tawa Raka. Tidak ada omelan Alea.

​Julian merasa seperti astronot yang tali pengamannya putus, melayang sendirian di ruang hampa udara yang dingin dan gelap. Dia bertanya-tanya, apakah Alea sudah bergerak? Atau apakah Alea menyerah karena melihat betapa kuatnya musuh mereka?

​Pintu kamarnya diketuk.

​"Masuk," kata Julian datar, menyembunyikan pick itu ke dalam kaus kakinya.

​Pintu terbuka. Dokter Prasetyo berdiri di sana, memegang tiket pesawat.

​"Penerbangan ke Jogja hari Minggu jam 7 pagi," kata ayahnya tanpa basa-basi. "Supir dari asrama akan menjemput di bandara. Semua biaya administrasi sudah Papa lunasi."

​"Minggu?" Julian mendongak kaget. "Tapi Pensi hari Sabtu, Pa. Julian... Julian masih mau nonton."

​"Untuk apa?" tanya ayahnya tajam. "Untuk melihat teman-teman band kamu bikin malu lagi? Atau untuk melihat kegagalan kamu sebagai mantan ketua?"

​"Untuk pamit, Pa. Terakhir kali," mohon Julian. "Tolong, Pa. Izinkan Julian datang ke Pensi. Cuma sebentar. Setelah itu Julian janji akan langsung ke bandara, nggak bakal ngebantah lagi."

​Dokter Prasetyo menatap anaknya. Dia melihat mata Julian yang cekung dan lelah. Ada sedikit rasa iba, tapi egonya terlalu besar.

​"Kita lihat nanti. Kalau nilai try out mandiri kamu besok di atas 95, Papa pertimbangkan," putus ayahnya, lalu menutup pintu kembali.

​Julian menghembuskan napas panjang. 95. Angka keramat.

​Dia mengambil buku kumpul soal SBMPTN. Dia akan mendapatkan nilai 100 kalau perlu. Dia harus ada di sana hari Sabtu nanti. Dia harus melihat apakah "bom nuklir"-nya berhasil meledak.

​Sementara itu, di kantin SMA Pelita Bangsa.

​Suasananya jauh dari kata sepi, tapi bagi Alea, rasanya sunyi tanpa kehadiran "musuh"-nya.

​Alea duduk sendirian di meja pojok, mengaduk-aduk soto ayam yang sudah dingin. Raka, Dito, dan Beni duduk di meja sebelah, pura-pura tidak kenal (bagian dari strategi).

​"Eh, liat tuh. Mantan pacar Pak Ketos. Galau ya, Mbak?"

​Suara itu datang dari meja tengah. Rian.

​Ketua Pelaksana Pensi yang baru itu sedang dikelilingi dayang-dayangnya. Dia tertawa keras, sengaja memancing emosi Alea.

​Alea menarik napas dalam. Inget kata Julian. Bad girl jenius. Pake otak, bukan otot.

​Alea berdiri, membawa mangkuk sotonya. Dia berjalan mendekati meja Rian.

​Doni, yang duduk di sebelah Rian, langsung waspada. "Woi, mau ngapain lo? Mau nyiram kuah soto lagi?"

​Alea berhenti di depan meja mereka. Wajahnya lesu. Bahunya merosot. Matanya tidak memancarkan api perlawanan.

​"Nggak," jawab Alea pelan. "Gue cuma mau... nyerah."

​Rian mengangkat alis, terkejut. "Hah? Nyerah?"

​"Iya. Lo menang, Yan," kata Alea dengan suara bergetar yang dibuat-buat (bakat aktingnya ternyata lumayan). "Band gue didiskualifikasi. Julian dikurung bokapnya. Gue nggak punya backing-an lagi. Gue cuma mau lulus dengan tenang."

​Rian menatap Alea curiga sejenak, mencari tanda-tanda jebakan. Tapi Alea terlihat benar-benar hancur. Kantung matanya hitam (efek begadang nyusun strategi, tapi Rian mengiranya karena nangis).

​Senyum Rian melebar. Ego-nya terbelai.

​"Nah, gitu dong," kata Rian puas. "Sadar diri itu penting. Lo sama Julian itu emang nggak pantes ngelawan gue. Gue punya kuasa."

​"Iya, lo hebat," puji Alea datar. "Semoga Pensi lo sukses ya. Gue denger tiketnya sold out."

​"Pasti sukses lah. Gue bukan Julian yang kaku. Gue bakal bikin pesta paling gila."

​Alea mengangguk lemah, lalu berjalan pergi meninggalkan kantin dengan langkah gontai.

​Begitu sampai di belokan koridor yang sepi, tubuh Alea langsung tegak kembali. Ekspresi lesunya hilang seketika, digantikan seringai tajam.

​"Makan tuh umpan gue, Rian," desis Alea. "Orang sombong biasanya lupa liat jalan."

​Dia mengeluarkan HP-nya.

​Alea: Target lengah. Fase 1 berhasil. Kumpul di Studio Bising jam 4. Ajak Bang Jago.

​Studio Bising, pukul 16.30.

​Suasananya tegang seperti markas pemberontak bawah tanah. Peta layout panggung Pensi digelar di lantai. Laptop Beni menyala menampilkan run down acara yang berhasil dia curi dari sekretariat OSIS.

​"Jadi gini rencananya," Alea menunjuk peta panggung dengan spidol merah. "Kita nggak bisa nyerahin bukti korupsi ini ke Kepsek sekarang. Kalau kita kasih sekarang, Pak Burhan bakal nutupin kasusnya demi nama baik sekolah. Pensi tetep jalan, Rian cuma ditegur diem-diem, dan Julian tetep dibuang."

​"Bener," sahut Raka. "Sekolah nggak mau ada skandal korupsi meledak di media."

​"Makanya," lanjut Alea, matanya berkilat, "kita harus bikin skandalnya meledak di tempat yang nggak bisa ditutupin."

​"Di mana?" tanya Dito polos.

​"Di panggung utama. Pas acara puncak. Di depan semua tamu, alumni, dan orang tua murid," jawab Alea mantap.

​Semua orang di ruangan itu menahan napas.

​"Gila lo, Le," komentar Beni takjub. "Itu bunuh diri massal."

​"Itu satu-satunya cara bersihin nama Julian," Alea bersikeras. "Kita bakal bajak panggung. Kita bakal mainin lagu kita, dan di tengah lagu... kita tayangin semua bukti ini di layar LED raksasa backdrop panggung."

​"Tapi gimana caranya?" tanya Bang Jago yang ikut nongkrong di sana. "Kalian kan didiskualifikasi. Nggak boleh masuk backstage."

​Alea menoleh ke arah pintu studio.

​"Itu sebabnya kita butuh bantuan orang dalem."

​Pintu studio terbuka. Masuklah seorang gadis berkacamata dengan seragam rapi dan wajah cemas.

​Sarah. Sekretaris OSIS.

​Raka melongo. "Sarah?! Lo ngapain di sini? Lo mata-mata Rian ya?!"

​Sarah menggeleng cepat, meremas roknya gugup. "Bukan! Alea yang ngajak aku ke sini."

​"Sarah ada di pihak kita," jelas Alea, merangkul bahu Sarah. "Sarah juga muak sama Rian. Rian mecat dia dari posisi bendahara secara sepihak supaya Rian bisa leluasa ngatur duit, kan Sar?"

​Sarah mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku tau Julian itu baik. Dia nggak pernah curang. Aku nggak terima dia difitnah kayak gitu. Dan Rian... Rian bikin kacau administrasi OSIS. Aku takut aku yang disalahin kalau nanti diaudit."

​"Nah," Alea tersenyum. "Sarah punya akses ke ruang operator multimedia. Sarah yang bakal masukin file bukti korupsi ini ke playlist LED panggung."

​"Dan kalian?" tanya Sarah takut-takut.

​"Kita bakal nyusup," kata Alea. "Ingat, Julian pernah bilang: Phantom itu hantu. Ada tapi tak terlihat. Kita bakal jadi hantu di Pensi itu."

​Alea menatap teman-temannya satu per satu.

​"Ini bukan cuma soal musik lagi. Ini soal keadilan. Buat Julian. Buat kita. Siap perang?"

​"SIAP!" seru Raka, Dito, dan Beni kompak.

​Malam harinya.

​Alea duduk di atap rumahnya, menatap bulan sabit yang menggantung di langit Jakarta yang penuh polusi.

​Dia memegang HP-nya. Ingin sekali mengirim pesan ke Julian. 'Jul, rencananya udah mateng. Tunggu gue.'

​Tapi dia tahu HP Julian mati. Nomornya tidak aktif.

​Alea merasa sepi. Biasanya jam segini Julian akan mengirim pesan: "Jangan lupa kerjakan PR halaman 50. Rumus turunan fungsi aljabar." Alea biasanya akan membalas dengan stiker muntah pelangi.

​Sekarang, tidak ada lagi pesan itu.

​"Gue kangen rumus lo, Jul," bisik Alea pada angin malam. "Gue kangen omelan lo."

​Di tempat lain, di kamarnya yang sunyi, Julian juga sedang menatap bulan yang sama dari balik jendela kamarnya.

​Dia baru saja menyelesaikan simulasi try out dengan nilai sempurna 100. Ayahnya menepati janji: dia boleh datang ke Pensi besok lusa, tapi dengan pengawalan ketat supir, dan langsung berangkat ke bandara setelahnya.

​Julian menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela yang dingin.

​"Gue bakal dateng, Le," batin Julian. "Gue bakal liat lo berjuang. Apapun hasilnya... gue bangga sama lo."

​Dua remaja, terpisah jarak dan tembok tebal, namun terhubung oleh satu tekad yang sama.

​Hari Sabtu semakin dekat.

Hari Pensi.

Hari revolusi.

...****************...

Bersambung.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!