NovelToon NovelToon
Mentari Untuk Langit

Mentari Untuk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Menikah dengan Musuhku / Cinta Seiring Waktu / Balas dendam pengganti / Romansa / Balas Dendam
Popularitas:34.7k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.

Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Mentari membuka matanya setelah hampir dua belas jam tak sadarkan diri. Hal pertama yang ia lihat adalah Langit. Pria itu duduk di samping ranjangnya, menggenggam tangannya dengan erat seolah takut kehilangan.

"Kamu sudah bangun?" ucapnya dengan wajah yang sumringah, lega yang tak bisa ia sembunyikan.

Mentari berusaha menjawab, tetapi tubuhnya masih terlalu lemas. Bibirnya bergerak pelan, namun tak ada suara yang keluar.

"Istirahat lagi, ya. Kondisimu belum pulih benar," kata Langit lembut.

"Mina…" ucap Mentari lirih, nyaris seperti hembusan napas.

Langit menggenggam tangan wanita itu lebih kuat, memberi kekuatan.

"Dia juga masih istirahat. Operasinya berjalan lancar. Kamu bisa menemuinya saat sudah pulih, oke?"

Mentari mengangguk pelan, matanya kembali berkaca-kaca.

Pelangi menjauhkan sendok dari mulutnya ketika Langit kembali berusaha menyuapi wanita itu.

“Ayo, sedikit lagi, Tari. Biar cepat pulih,” ucap Langit dengan suara lembut, penuh kesabaran.

“Aku sudah kenyang. Nggak mau makan lagi,” balas Mentari pelan, menolak.

“Tapi ini baru beberapa suapan, lo,” Langit mencoba membujuk.

Namun Mentari tetap menggeleng pelan. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang ke tempat lain.

“Aku mau ketemu Mina,” ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan.

Langit terdiam sejenak, menatap wajah pucat itu dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

“Baiklah. Aku akan membawamu ke sana. Tapi sebelum itu, minum obatmu dulu, ya.”

Mentari mengangguk lemah.

Langit segera mengambil beberapa butir obat yang telah disiapkan suster sebelumnya. Ia menuangkannya ke telapak tangan, lalu meraih segelas air putih dan menyodorkannya pada Mentari dengan hati-hati. Wanita itu menelan obat-obatan tersebut satu per satu, meski wajahnya tampak menahan rasa tidak nyaman.

Beberapa jam kemudian.

“Seharusnya kamu istirahat saja di kamar. Lagipula, kita hanya bisa melihat dari luar,” ucap Langit dengan nada menahan cemas.

“Nggak apa-apa,” jawab Mentari lirih. “Aku cuma ingin melihat dia saja.”

Kini keduanya sudah berada di depan ruangan Mina. Langit dan Mentari hanya bisa melihat keadaan gadis kecil itu dari balik kaca besar. Tubuh kecil Mina terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang terpasang, membuat dada siapa pun yang melihatnya terasa terenyuh, perih.

Tanpa disadari, air mata Mentari menetes perlahan.

“Sebelum operasi kemarin, aku berdoa pada Tuhan,” ucap Mentari dengan suara bergetar, telapak tangannya menempel pada permukaan kaca.

“Tak apa jika Dia mengambil nyawaku, asal bisa menyelamatkan Mina. Setidaknya, dengan begitu aku bisa menebus kesalahanku pada Lili dan… bersatu dengannya.”

Langit langsung menoleh. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia jelaskan.

“Apa yang kamu rasakan pada Mina, Tari? Dia itu… putriku,” ucapnya pelan, nyaris tak bersuara.

Mentari tersenyum samar.

“Entah kenapa, sejak pertemuan pertama kami di pesta ulang tahunnya, matanya selalu menarik perhatianku. Hatiku terasa hangat setiap kali berada di dekatnya,” katanya jujur.

“Tak peduli jika dia adalah putrimu,orang yang paling membenciku, bahkan siap membunuhku.”

Langit terkekeh kecil, getir.

“Kamu takut padaku?”

Mentari mengembuskan napas perlahan.

“Dulu, aku takut padamu. Tapi sekarang…” Mentari menatap pria itu lembut.

“Kamu dan aku sama, Lang. Kita punya luka yang sama.”

Tanpa disadari Mentari, Langit mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga otot-ototnya memutih.

Perkataan Mentari menyentuh sanubarinya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa antara dirinya dan wanita di sampingnya, luka yang mereka bawa ternyata tak jauh berbeda.

Sementara di tempat lain…

Anggun mendatangi rumah Bu Desi dengan wajah yang jelas menahan amarah. Langkahnya tegas, rahangnya mengeras. Wanita paruh baya yang tengah membaca majalah di ruang tamu itu sontak terkejut saat melihat kedatangan calon menantunya.

“Lho, Nggun? Ada apa denganmu?” tanya Bu Desi dengan nada ragu, perlahan menurunkan majalah dari tangannya.

“Mana Abi?” tanya Anggun langsung, tanpa basa-basi.

“Abi? Bukannya dia bersama kamu?” Bu Desi balik bertanya, keningnya berkerut.

Anggun terkekeh sinis.

“Sudah tiga hari dia tidak bisa aku hubungi. Bahkan pihak gedung juga mencarinya,” ucapnya dengan nada penuh kemarahan.

“Apa dia mencoba menghindar dari pernikahan ini, Tante? Aku tidak akan membiarkannya.”

Bu Desi bangkit dari duduknya, wajahnya tampak gelisah meski berusaha tetap tenang.

“Sabar, Nggun. Mungkin dia sedang banyak pekerjaan. Tante akan coba menasihati dia, ya. Kamu tenang dulu.”

Namun sorot mata Anggun justru semakin mengeras, seolah amarah itu hanya menunggu waktu untuk meledak.

Keesokan harinya...

Bu Desi membuka pintu kamar Abi dengan kasar. Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Pria itu terbaring di lantai, tubuhnya lunglai dengan penampilan yang sangat berantakan. Di sisi kanan dan kirinya, botol-botol dan kaleng bekas minuman keras berserakan tanpa aturan. Aroma tak sedap menyengat udara, membuat Bu Desi refleks menutup hidungnya.

“Ya Tuhan, Bi…” desahnya tercekat.

“ Dari kemarin Anggun mencarimu, malah kamu tidur-tiduran begini!”

Bu Desi bergegas mendekat, lalu mengguncang tubuh putranya dengan panik.

“Bangun, Bi… bangun!” suaranya meninggi, bercampur antara marah dan cemas.

Tak ada respons.

“Apa sih yang kamu lakukan ini?” lanjutnya dengan suara bergetar.

“Bangun, Bi. Pekerjaan menantimu… hidupmu juga!”

Tangannya kembali mengguncang tubuh Abi, lebih keras kali ini.

Namun ketika wajah Abi terlihat jelas, Bu Desi refleks menutup mulutnya, terkejut.

“Abi… Bi…” Bu Desi menepuk pelan pipi putranya. Suaranya gemetar, ketakutannya kian memuncak saat ia melihat busa putih keluar dari mulut Abi.

“Ya Tuhan… tolong…” napasnya tersengal.

“Asep! Ogi! Kemari kalian, cepat!”

Tak berapa lama kemudian, ambulans melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah rumah sakit besar. Sirene meraung memecah malam.

Di dalam ambulans, beberapa tenaga medis berusaha memberikan pertolongan pertama pada Abi,memasang oksigen, memompa dadanya, dan memeriksa denyut nadinya yang semakin melemah.

Bu Desi duduk di samping brankar dengan wajah pucat, tangan gemetarnya menggenggam erat tangan sang putra.

“Tolong jangan seperti ini, Bi…,” isaknya pecah.

“Bangun, Nak. Mama mohon… jangan tinggalkan Mama.”

Air matanya jatuh tanpa henti, bercampur dengan rasa takut yang perlahan menggerogoti.

Hingga ambulans akhirnya tiba di rumah sakit. Tenaga medis segera menyambut Abi, mendorong brankar dengan cepat menuju ruang tindakan.

Kondisinya semakin lemah akibat overdosis obat-obatan yang bercampur dengan minuman keras,racun yang telah ia konsumsi secara berlebihan selama beberapa hari terakhir.

Bu Desi menangis tanpa henti, merutuki kebodohan putranya. Ia tak pernah menyangka Abi akan bertindak sejauh ini, seolah tak lagi peduli pada hidupnya sendiri.

Di tangannya, tergenggam erat sebuah foto lama—foto kebersamaan Abi dan Mentari. Yang ia temukan di tangan Abi saat pria itu terkapar. Bukti perasaan Abi yang ternyata tak pernah benar-benar pudar, meski sudah ia tentang mati-matian.

“Mama menyesal, Bi…” bisik Bu Desi lirih, suaranya nyaris tak terdengar di tengah hiruk-pikuk rumah sakit.

“Tolong, kamu harus selamat… biar Mama bisa menebus semua kesalahan ini.”

Tangisnya kembali pecah, seiring pintu ruang tindakan yang perlahan tertutup, memisahkan Bu Desi dari putranya dan dari harapan yang kini bergantung pada keajaiban.

Saatnya karma berlaku Bu Desi..siap-siap ya.Kira-kira Abi bakal selamat gak ni?

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
oalah.... riko kamu kalo gak sungkem sama brian tak kutuk kamu jadi suami bucin....🤣🤣🤣🤣
Kar Genjreng
ahirnya setelah beberapa purnama terungkap jati diri Rini dan alasannya tidak mau meneruskan pernikahan nya dengan
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
Kar Genjreng
aduhhh miris sekali itu orang tua kandung atau angkat ngko bisa jual anak gadisnya
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
Kar Genjreng
Ohh gituu bian benar kakanya Rini kah dan itu ayah kandung atau ayah' tiri... mengapa
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
Kar Genjreng
rin kenapa kamu punya pikiran yang sangkal jangan bilang ada seseorang yang tidak di ketahui Riko
sri angga
knp ga ditelusuri dulu sih.riko oh riko.
Kar Genjreng
kenapa tidak cerita donge kalau tau Rinie adeknya istri nya meninggal kali ya ya Pak bian🥺 Riko langsung kabur ga dengar dulu alasan nya
Tina Nurdiansyah
Kasihan amat Riko,diliputi salah paham
Kar Genjreng
berarti Rini pergi dari pernikahan karena ada hal lain selain ketemu Kakak nya atau mungkin ada yang berminat ga baik terhadap Rini entahlah ya terpenting update lagi
Kar Genjreng: idihhh tega sekali dirimu Kak Author di
gantung mirip jemuran tanpa tiang 😁
total 2 replies
Yeni Wahyu Widiasih
bagus
Kar Genjreng
biarlah waktu yang menjawab nya dan
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
Kar Genjreng
kayanya yang di.lihatbsama Riko setan' laki laki dan Anak Anak 🥺
Kar Genjreng
😁👍 penasaran banget apa sebenarnya yang terjadi pada Rini dan Riko,,,ehhh Doble R R,,,chucho. Ko Gresek diki ha biarlah bastt jauhhhh
shadirazahran23: coba tebak apa yang terjadi?
total 1 replies
Kar Genjreng
mungkinkah Riko sudah kenal ya sama Bu Riri ya kebetulan ga ngenalin tapi sudah kenal,,d
semoga belum janda wekkk
Kar Genjreng
kenapa ga bisa di buka ya
Kar Genjreng
dapat vote 👍👍 biar semangat
Kar Genjreng
Ok kalau Riri bukan pELaKoR bagus seorang guru harus bisa jadi contoh di
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
Yeni Wahyu Widiasih
apa abi yg nabrak kekasihx langit
Kar Genjreng
roll coaster. lagi siapa lagi ini Rini penting bukan pELaKoR kenapa oh langit suami mentari ko mencurigakan jangan jangan nanti ak suka sama langit wedang andai nya gitu,,,teman ketika di penjara kah ,,mumet ahh mikiri. hua hua 😁
sri hastuti
siapa lg ini rini thor ??
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏
shadirazahran23: 🤣🤣🤣🤣🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!