Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RIUH DALAM SUNYI
Mobil sedan tua yang dikendarai Reno melaju membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai lengang. Di dalam kabin, bau keringat, debu Tambora, dan sisa adrenalin bercampur menjadi satu. Baskara bersandar di jok depan, matanya tertutup, namun otaknya bekerja seperti mesin jam yang berputar cepat. Di kursi belakang, Alea memeluk amplop cokelat dari Handoko seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya yang tersisa.
“Kita tidak bisa kembali ke gudang pulau,” suara Reno memecah keheningan. Jemarinya mencengkeram kemudi dengan tegang. “Sarah pasti sudah memetakan semua aset lama yang pernah terhubung dengan akun auditmu, Bas. Dia akan menyisir pelabuhan dalam satu jam.”
“Cari apartemen sewa harian di kawasan padat di Jakarta Timur,” perintah Baskara tanpa membuka mata. “Cari yang pemiliknya hanya menerima tunai dan tidak meminta kartu identitas. Kita butuh tempat untuk menghilang selama empat puluh delapan jam ke depan.”
Alea menatap keluar jendela. Ia melihat baliho raksasa Mahardika Group yang menampilkan wajah Sarah yang tersenyum anggun dengan slogan: “Membangun Masa Depan Dengan Hati.” Rasa mual kembali menyerang Alea. Setiap kali ia melihat wajah itu, ia teringat suara tembakan di gubuk Handoko tadi.
“Baskara,” panggil Alea pelan. “Handoko… apa menurutmu dia punya keluarga yang harus kita beritahu?”
Baskara membuka matanya, menatap spion tengah untuk melihat wajah Alea. “Handoko sudah lama kehilangan keluarganya karena Sarah. Itulah kenapa dia bertahan hidup di tempat seperti itu. Satu-satunya keluarga yang dia miliki adalah rahasia yang dia simpan untukmu. Sekarang, rahasia itu ada di tanganmu. Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia dengan bersikap sentimental.”
Alea terdiam. Kata-kata Baskara dingin, namun ia tahu itu adalah kebenaran yang pahit. Di dunia yang baru ia masuki ini, emosi adalah beban yang bisa membunuhnya.
Dua jam kemudian, mereka sampai di sebuah unit apartemen kumuh di lantai dua belas sebuah bangunan tua di Pulogadung. Liftnya berbau apek dan dindingnya penuh dengan coretan. Reno segera membongkar tas ranselnya dan mengeluarkan tiga laptop serta beberapa perangkat enkripsi.
“Kita mulai dari mana?” tanya Reno, sambil mengunyah permen karet untuk meredakan sarafnya.
Baskara menarik sebuah kursi kayu yang reyot dan duduk di depan monitor. “Kita tidak bisa langsung menyerang dengan dokumen ini. Jika kita melempar wasiat asli ke publik sekarang, Sarah akan menyebutnya palsu dan menggunakan pengaruh hukumnya untuk menyita dokumen itu sebagai barang bukti. Kita akan kehilangan satu-satunya kartu as kita.”
“Lalu?” Alea mendekat, berdiri di samping Baskara.
“Kita goyang fondasinya dulu,” ujar Baskara. “Sarah sangat peduli pada citra. Mahardika Group baru saja menandatangani nota kesepahaman untuk pendanaan hijau dari bank internasional. Mereka sensitif terhadap isu etika. Reno, masuk ke server internal divisi humas Mahardika. Aku ingin kau mencari draf laporan tahunan yang belum dipublikasikan.”
Alea mengerutkan kening. “Kenapa bukan data keuangan?”
“Karena di dalam laporan humas, mereka sering mencantumkan foto-foto proyek lama sebagai testimoni keberhasilan,” jawab Baskara. “Cari foto-foto lahan Griya Mahardika sebelum digusur. Aku yakin mereka punya dokumentasi internal untuk arsip legalitas mereka sendiri.”
Reno mulai mengetik dengan kecepatan yang mengagumkan. Suasana di ruangan itu menjadi sunyi, hanya menyisakan bunyi detak keyboard dan embusan napas mereka yang berat. Alea duduk di tepi tempat tidur yang tipis, memperhatikan bagaimana kedua pria ini bekerja. Ia merasa asing, namun ada dorongan dalam dirinya untuk tidak sekadar menjadi penonton.
“Boleh aku membantu?” tanya Alea tiba-tiba.
Baskara menoleh, sedikit terkejut. “Kau tahu cara meretas?”
“Tidak. Tapi aku tahu cara Sarah berpikir,” jawab Alea dengan suara yang lebih mantap. “Selama lima tahun terakhir, akulah yang mengatur jadwalnya, membaca surat-surat pribadinya, dan menyiapkan pidatonya. Aku tahu kata kunci yang biasa dia gunakan untuk file-file sensitifnya. Dia tidak menggunakan tanggal lahir atau nama umum. Dia menggunakan nama-nama bunga yang ada di taman pribadinya.”
Baskara memberikan ruang bagi Alea. “Coba ini.”
Alea duduk di depan salah satu laptop. Jarinya yang lentik mulai mengetikkan beberapa kombinasi kata. “Cattleya1995”, “Marigold_Erase”, “BlackOrchid”.
Pada percobaan keempat, sebuah folder dengan enkripsi tingkat tinggi terbuka. Judul foldernya: “ASSET_STABILIZATION”.
Reno bersiul. “Nona, kau jenius. Ini adalah folder berisi daftar hitam orang-orang yang dibayar untuk diam selama tiga puluh tahun terakhir. Ada nama Yusuf, ada nama Handoko, dan… ada beberapa nama pejabat kepolisian yang masih aktif.”
Baskara menatap layar itu dengan mata yang berkilat. “Ini lebih dari yang kuharapkan. Reno, jangan unduh semuanya sekaligus. Sarah akan menyadari jika ada lonjakan trafik data yang besar. Ambil sedikit demi sedikit. Kita akan menyebarkan 'remah-remah' ini ke forum-forum investasi secara anonim pagi ini.”
“Remah-remah?” tanya Alea.
“Ya. Gosip kecil di pasar saham bahwa ada penyelidikan internal tentang pengalihan aset di Mahardika. Cukup untuk membuat harga saham mereka bergetar saat bursa dibuka jam sembilan nanti,” jelas Baskara.
Alea melihat profil Baskara dari samping. Pria ini sangat tenang dalam merencanakan kehancuran keluarganya sendiri. Ada bagian dari dirinya yang merasa ngeri, namun bagian lain merasa aman karena berada di pihak Baskara.
“Kau sangat membencinya, bukan?” tanya Alea spontan. “Ayahmu… dan Sarah.”
Baskara berhenti sejenak, jarinya tertahan di atas mouse. “Benci adalah kata yang terlalu sederhana, Alea. Aku hanya ingin mengembalikan keseimbangan. Ibuku kehilangan nyawanya karena keserakahan mereka. Kau kehilangan orang tuamu. Dunia berhutang pada kita, dan aku di sini untuk menagihnya.”
Baskara menoleh pada Alea. Untuk sesaat, jarak di antara mereka terasa sangat tipis. Alea bisa melihat luka yang sama di mata Baskara—luka yang disembunyikan di balik kemarahan.
“Tidurlah, Alea,” ujar Baskara pelan, suaranya melembut. “Besok pagi, saat matahari terbit, kau akan melihat bagaimana kerajaan yang kau puja selama ini mulai retak. Dan kau harus cukup kuat untuk melihatnya runtuh.”
Alea mengangguk. Ia berbaring di tempat tidur tanpa melepas jaketnya, mendengarkan bunyi ketikan Reno yang seperti musik pengantar tidur yang aneh. Sebelum ia terlelap, ia melihat Baskara masih terjaga, menatap monitor dengan waspada, menjaga kegelapan agar tidak masuk ke dalam ruangan itu.
Di tempat lain, di puncak gedung Mahardika, Sarah berdiri di depan jendela kaca besar. Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari kepala keamanannya: “Target menghilang di Tambora. Handoko sudah diamankan secara permanen. Namun, kami menemukan jejak akses ilegal ke server pusat sepuluh menit yang lalu.”
Sarah meremas ponselnya hingga layarnya retak. Ia tahu ini bukan sekadar penculikan lagi. Ini adalah infiltrasi. Dan ia tahu siapa yang sedang melakukannya.
“Baskara,” desisnya. “Kau benar-benar anak ayahmu. Terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri.”