NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Berharap

Saat Aku Berhenti Berharap

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:71.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

Dua tahun menjadi istri dari pria cuek nan dingin yang tak pernah mencintaiku, aku masih bersabar dalam pernikahan ini dan berharap suatu hari nanti akan ada keajaiban untuk hubungan kami.
Tetapi, batas kesabaranku akhirnya habis, saat dia kembali dari luar kota dengan membawa seorang wanita yang ia kenalkan padaku sebagai istri barunya.
Hatiku sakit saat tahu dia menikah lagi tanpa izin dariku, haruskah dia melakukan hal seperti ini untuk menyakiti aku?
Jujur, aku tak mau di madu, meskipun awalnya aku meyakinkan diriku untuk menerima wanita itu di rumah kami. Aku memilih pergi, meminta perpisahan darinya karena itulah yang ia harapkan dariku selama ini.
Aku melangkah pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Kupikir semua sudah berakhir begitu aku pergi darinya, namun sesuatu yang tak terduga justru terjadi. Ia tak mau bercerai, dan memintaku untuk kembali padanya.
Ada apa dengannya?
Mengapa ia tiba-tiba memintaku mempertahankan rumah tangga kami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#23

Beberapa saat kemudian, Naysila mulai tenang dan sadar tak seharusnya memeluk Alden. Ia melepaskan pelukannya dari pria itu dan mendongak. Saat tatapan mereka kembali bertemu, Naysila buru-buru menjauh sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan.

"Maaf, aku hanya spontan memeluk kamu karena takut. Aku nggak ada maksud apa-apa kok," ujar Naysila, dengan perasaan malu luar biasa.

Alden tersenyum kecil tanpa Naysila tahu. Ia berjalan masuk ke kamar mandi untuk memeriksa apakah tikus itu benar-benar ada atau tidak.

Sementara itu, Naysila sedikit mengintip dari balik dinding kamar mandi, ingin tahu apakah tikus itu masih ada atau tidak.

Di dalam kamar mandi Alden justru merasa keheranan, sebab tikus itu benar-benar ada. Ia sempat berpikir berulang kali, tentang bagaimana bisa ada tikus di kamarnya sementara tadi tidak ada sama sekali?

Walaupun merasa aneh, tapi Alden tetap menangkap tikus itu. Ia mengambil sarung tangan, menangkap tikus dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.

Segera saja Alden membuangnya keluar, memastikan tikus itu tak akan kembali mengganggu Naysila.

Begitu ia kembali ke kamar, dia menghampiri Naysila lalu berkata, "Tikusnya sudah aku buang. Kamu bisa memakai kamar mandinya lagi dan meneruskan aktivitas yang sempat terganggu tadi."

Naysila mengangguk ragu. "Makasih banyak, Mas. Maaf, soal yang tadi."

"Sudahlah, gak apa-apa. Yang penting kamu tenang sekarang."

Alden hendak berbalik, tapi Naysila menghentikannya dengan berkata, "Mas..."

Alden menyahut. "Hm?"

"Boleh aku minta tolong sekali lagi?"

"Minta tolong apa, Nay?"

"Aku mau shalat isya, tapi mukenanya ada di kamar tamu. Kalau kamu nggak keberatan, bisakah kamu mengambilkan mukena itu untukku?"

"Baiklah, akan aku ambilkan."

"Makasih, Mas. Maaf karena merepotkan kamu."

Alden hanya mengangguk. Ia gegas keluar dari kamar untuk mengambilkan mukena yang dibutuhkan Naysila. Sedangkan Naysila, ia masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan wudhu nya.

_

Naysila sedang melaksanakan shalat isya di dalam kamar Alden, tepatnya di samping ranjang, tempat di mana Alden duduk sekarang.

Naysila tampak khusyuk dalam shalatnya, sehingga tak menyadari kalau Alden sedang memperhatikan dirinya.

Pria tampan itu sejak tadi tidak berpaling dari Naysila. Ia terlalu nyaman memperhatikan bagaimana istrinya begitu khusyuk ketika menunaikan kewajibannya.

Perlahan-lahan, rasa kagum muncul di hatinya untuk Naysila. Wanita yang dulu ia sia-siakan, ternyata memiliki begitu banyak hal yang pantas dikagumi.

Tak hanya konsisten menutup auratnya, Naysila juga sangat taat dalam beribadah.

"Kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa aku bisa membuang berlian hanya karena aku tidak menyukainya? Kenapa aku tak sadar, bahwa berlian harganya sangat mahal dan tak bisa dibandingkan dengan apa pun?" gumam Alden dalam hati, tatapannya tak lepas dari Naysila yang sedang sujud dengan penuh kekhusyukan.

Suara lirih doa Naysila setelah salam pun terdengar begitu menenangkan, seakan meredakan semua resah yang sejak lama bersarang di hati Alden.

Perlahan Naysila menutup doa dengan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Ia lalu meraih jilbabnya, memakainya kembali dan melepas mukenanya. Ia melipatnya dengan rapi, tanpa sadar bahwa Alden sedari tadi memperhatikannya.

Begitu menoleh, Naysila mendapati tatapan Alden yang begitu dalam. Spontan ia terdiam, jemarinya sempat berhenti melipat mukena. Tapi cepat-cepat Naysila menyelesaikan lipatannya lalu menyimpan mukena di atas meja. Naysila pergi ke arah sofa kemudian duduk di sana.

"Kenapa kamu harus tidur di situ?" tanya Alden. "Kamu bisa tidur di kasur, biar aku yang tidur di situ."

Nasyila merapikan jilbabnya. "Aku tidur di sini saja, Mas. Lagi pula, kamu pemilik kamar ini dan akan lebih baik kalau kamu yang tidur di kasur, bukan aku."

"Tapi aku nggak bisa tidur nyenyak kalau kamu tidur di sofa. Kamu adalah tamu di rumah ini, seharusnya kamu tidur dengan nyenyak di tempat yang paling nyaman."

Nasyila berusaha tersenyum tapi tak menatap wajah suaminya langsung. "Nggak apa-apa, aku tetap mau di sini."

"Baiklah, terserah kamu." Alden mengalah.

Alden berdiri, mengambil satu bantal dan selimut dari kasurnya. Kemudian, ia memberikannya pada Naysila.

"Tidurlah... Besok aku akan antar kamu pulang."

Naysila tidak merespon, hanya menerima bantal dan selimut yang Alden berikan.

Alden mengambil selimut cadangan, kemudian mulai berbaring di kasurnya. Begitu juga dengan Naysila, yang mulai berbaring di sofa.

Hening.

Alden berbaring telentang di kasur, menatap langit-langit kamar yang polos.

"Nay... apa kamu sudah tidur?" tanyanya pelan.

"Belum," jawab Nasyila yang kini menutupi tubuhnya dengan selimut. "Kenapa, Mas?"

"Aku hanya ingin bicara sebentar. Sejak tadi, aku menunggu momen yang tepat untuk kita bicara."

"Katakanlah."

Alden berpikir sejenak, menyusun kata-kata yang pantas diucapkan dalam pembahasan malam ini. Utamakan tidak membuat Naysila marah, pikirnya.

"Kenapa kamu kerja? Apa uang dariku tidak cukup?"

Akhirnya, pertanyaan pertama terucap juga dari mulut Alden.

Naysila menatap ke luar jendela sebelum akhirnya menjawab, "Sama sekali tidak kurang, bahkan tidak aku pakai sama sekali."

"Kenapa? Apa kamu tidak mau dinafkahi lagi?"

"Tidak juga. Aku hanya merasa tidak pantas mendapatkan nafkah darimu, sementara aku tidak berbakti padamu."

"Apa maksudnya?"

"Tanpa perlu aku jelaskan pun kamu pasti sudah mengerti apa maksudku. Hubungan kita berada di ujung tanduk, kita sudah tidak tinggal seatap lagi, hubungan kita gantung. Apa kamu berpikir aku merasa berhak mendapatkan nafkah dari kamu?"

"Apapun yang terjadi dalam hubungan kita, itu tidak akan menggugurkan kewajibanku sebagai seorang suami yang harus menafkahi istrinya. Walaupun hubungan kita buruk, kamu tetap istriku, Nay. Aku wajib menafkahi kamu."

"Ya, aku tahu. Tapi aku tetap tidak merasa pantas. Aku juga bekerja bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi aku ingin sedikit bisa membantu meringankan beban ekonomi orang tuaku."

"Kamu bisa meminta padaku berapapun yang kamu mau. Tidak hanya untuk kamu, tapi juga untuk kedua orang tuamu."

"Terima kasih banyak, Mas. Tapi itu tidak perlu. Aku ingin berusaha sendiri."

Alden merasa hatinya tertusuk duri yang tajam, mendengar setiap kalimat yang diucapkan dengan nada datar dari Naysila. Obrolan mereka sangat berarti, tapi situasi itu tak nyaman.

Bukan obrolan hangat antara pasangan suami istri, tapi obrolan kaku yang penuh jurang tak kasat mata.

Keduanya sama-sama sadar, ada sesuatu yang patah di antara mereka, namun entah siapa yang harus lebih dulu memperbaikinya.

Alden menghela napas panjang. "Aku nggak suka lihat kamu begini, Nay. Kita jadi seperti orang asing yang hanya sekadar berbagi ruangan."

Naysila terdiam. Jemarinya meremas ujung selimut, seolah mencari pegangan dari rasa gugup yang kembali datang.

"Sejak dulu kita seperti ini, kan? Kenapa kamu harus merasa asing? Selama aku tinggal bersamamu, di matamu aku bukan siapa-siapa. Hanya seorang wanita malang yang menumpang hidup di rumah seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada."

Glek!

Alden menelan ludah kasar. Perkataan Naysila berhasil menyayat hatinya, menunjukan kembali betapa jahatnya ia selama ini.

"Maaf, Mas. Kita memang harus seperti ini, bahkan lebih asing dari dulu. Aku... aku hanya takut salah bicara. Aku takut menyinggung kamu, yang akhirnya malah membuatku menyakiti perasaanmu tanpa sadar."

"Tidak perlu takut menyinggungku," potong Alden lirih. "Yang aku takutkan saat ini justru kalau kamu semakin menjauh. Padahal aku..."

Kalimat itu terhenti. Lidahnya kelu, hatinya penuh, tapi egonya masih setengah mengikatnya.

Naysila menoleh, untuk pertama kalinya ia berani menatap wajah suaminya malam itu. Sorot matanya sayu, namun jujur.

"Apa, Mas?" tanyanya pelan.

Alden menutup mata sebentar, lalu berbalik miring menghadap Naysila di sofa. "Padahal aku masih ingin memperbaiki semuanya. Meski aku tahu, mungkin sudah benar-benar terlambat."

"Aku sudah bilang, aku ingin memperbaiki semuanya dan memulai dari awal, Nay..." tambahnya.

Jantung Naysila berdegup lebih kencang. Kata-kata itu seperti sesuatu yang sudah lama ingin ia dengar lagi, tapi sekaligus menimbulkan rasa takut.

"Kenapa harus sekarang, Mas?" suaranya bergetar. "Setelah semua luka yang kamu berikan... Setelah banyaknya air mata yang aku tumpahkan untuk menangisi segala perlakuan burukmu terhadapku..."

"Dulu, aku selalu berharap kamu bisa mencintaiku. Aku bersabar, menunggu keajaiban tiba. Tapi apa yang aku dapatkan? Hanya luka dan air mata."

Keheningan kembali menyelimuti kamar. Hanya detik jam dinding yang terdengar, berjalan pelan namun menyayat suasana.

Alden menatap dalam ke arah istrinya. "Karena aku baru sadar, Nay. Dan aku tahu, penyesalan ini mungkin tidak cukup buat kamu percaya lagi padaku. Tapi setidaknya, aku ingin kamu tahu... aku menyesal. Sangat menyesal."

Naysila terdiam lama. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Hatinya hangat sekaligus sakit.

"Nay... apakah gak ada lagi kesempatan untukku?" tanya Alden lirih, seperti menahan tangisnya kuat-kuat.

"Mas..." ia menarik napas panjang. "Aku butuh waktu. Aku nggak tahu apakah hatiku masih bisa percaya lagi atau tidak. Tapi setidaknya... terima kasih karena kamu mau jujur malam ini."

Alden menunduk, menelan kenyataan pahit itu. Ia ingin menggenggam tangan Naysila, tapi ia tahu jarak di antara mereka belum siap dihapus.

"Baiklah," ucapnya akhirnya. "Aku akan menunggu lagi. Entah berapa lama lagi, aku akan tetap menunggu."

Naysila berbalik membelakangi Alden, menutup matanya rapat-rapat, berusaha meredam badai di dalam dadanya. Malam itu, mereka akhirnya saling bicara, meski singkat. Ada luka, ada jarak, tapi juga ada harapan kecil yang mulai tumbuh kembali di tengah retakan.

Alden tetap pada posisinya, menatap punggung Naysila yang dibalut selimut tebalnya.

"Naysila... sampai kapanpun aku tidak akan menyerah. Aku akan memperjuangkan hubungan kita, karena aku yakin Tuhan masih mengizinkan kita bersama."

*****

1
amilia amel
aamiin....
amilia amel
semoga saja harapan Alden terkabul hingga nggak ada lagi orang ketiga yang menganggu keutuhan rumah tangganya
Maya Lara Faderik
sudah ku pikirkan salah dari awal Alden menghadirkan nya justeru itu akan jadi Boomerang untuk mereka berdua ditambah lagi Naysila membawanya kembali menunjukkan bahawa Alden telah berubah dan menyintai nya ..bertambahlah si Sarena itu iri dan menyimpan dendam dengan ini yang aku takutkan dendam seorang wanita yang terobses terlalu besar tanpa memikirkan orang lain ...mereka sanggup melakukan apa sahaja yang penting matlamat mereka tercapai walau gagal ..tetapi menyakiti itu sudah cukup ..
amilia amel
kejutan buat Naysilla karena sang penganggu sudah diusir duluan sama Alden
amilia amel
haishhh....
yang salah siapa, yang merasa disalahkan siapa
Lisdaa Rustandy
pelakor biasanya kan playing victim kek Inara. ehhhh🤭
Happy Kids
playing victim anjay. hrsnya gausa ditlg dr germo
Happy Kids
ga sadar diri serena. uda ditolong kok yaa
Ai Umana sari
perempuan nya menye menye, Lemah🤭
Lisdaa Rustandy: Bu, kalo mau yg kuat ya carinya di dunia nyata, jangan di novel. kan sengaja dibikin lemah🤣
total 1 replies
Ambo Nai
wanita bodoh,sengaja memasukkan jindasim masuk kerumah sendiri🤭
Happy Kids
ga siap tanding aja sok sok an ngasih tumpangan ke serena.
Happy Kids
hrsnya hubungi aja itu renternir suruh jemput serena kesitu 🤣
amilia amel
sip... ketegasan Alden memang dibutuhkan apalagi menyangkut kenyamanan rumah tangganya
tapi awas... hati-hati kalo mengantarkan Serena pergi, kalo bisa ajak seorang saksi yang dipercaya Naysilla
amilia amel
resiko membiarkan ulat bulu masuk ke dalam rumah tanggamu
ya sakit hati kan jadinya
tapi kamu kuat ya Nay
Rahayu Ayu
Bodoh aja kalau Naysila percaya apa yg Serena katakan..
Makanya kl masih belum percaya sama suami, ga usah pake mau ngetes segala, sama orang yg pernah jadi saingan lagi, tinggal satu kamar, walaupun tidur di tempat berbeda,
gampang banget buat serena bikin kamu kebakar, tinggal siram bensin sedikit kamu langsung wuuss menyala.
apalagi serena yg notabene nya suka sama suami kamu.
Tini Uje
lah dia yg membiarkan ulat bulu tgl dirumahnya..dia pula yg kelimpungan dengar kompor siulatt 😄..bodohhh
Lisdaa Rustandy: mental dia tuh emang lemah🤣
total 1 replies
amilia amel
memang Nay dan Alden suami istrinya yang sah
mau ngapain juga ya gapap
kalea rizuky
maaf naysila ttep goblok
Lisdaa Rustandy: maaf juga, tapi aneh kamu terus membacanya🤭
total 2 replies
amilia amel
tetaplah istri sah yang menang....
semangat Naysilla 💪🏻💪🏻💪🏻
amilia amel
bowlehhhh bowlehhhh banget Nay demi menjaga keutuhan rumah tanggamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!