NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERNIKAHAN TERAKHIR

Spoiler Bab 10 S3ntuhan B!bir

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Xena menghampiri Hardin. Dirinya sudah lelah dengan pekerjaan freelance-nya, tak mau bertemu Hardin hanya untuk bertengkar.

“Jadi itu yang kamu lakukan? Pantas pandai bicara!” Hardin tersenyum mengejek. Setiap ucapan g4dis itu tegas, mengalir begitu saja tanpa jeda untuk berpikir.

“Bagaimana kamu tahu? Aku tak menggunakan nama asli saat siaran. Apa suaraku begitu melekat di telingamu, hingga kamu dengan mudah mengenalinya?”

“Hidup beberapa hari denganmu. Apa mungkin tak mengenal suara m3njengkelkan itu?”

“Menjengkelkan? Benarkah? M3njengkelkan hingga kamu jauh-jauh datang ke sini?” tanya Xena menyunggingkan senyum mengejek. “Mungkin mudah bagimu mencari alamat tempatku bekerja, tapi … semua itu butuh waktu yang dikorbankan bukan?”

“Dari awal aku tahu kamu pandai bicara, tapi tak menduga bahwa kamu seorang penyiar. Aku pikir, kamu pun pantas menjadi pengacara!”

Xena mengembuskan napas kasar. “Tidak usah banyak basa basi. Katakan saja apa tujuanmu ke sini? Tidak mungkin untuk melepas rindu padaku bukan?”

“He! Benar-benar terlalu percaya diri!” Hardin memutar mobil dan membuka pintu mobil kemudi. “Masuk!”

Xena hanya mematuhi perintah suaminya. Dia masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak, tak banyak obrolan di dalam mobil. Hingga mereka tiba di sebuah kedai makanan di pinggir jalan. Memesan dua porsi mie, tanpa ragu Xena memakan mie tersebut.

“Kamu tidak pernah memilih makanan?” tanya Hardin yang melihat Xena begitu menikmati mie-nya. Setiap kali Xena makan selalu menggugah selera yang melihatnya.

“Selama makanan itu tak ber4cun, aku akan memakannya.”

“Kamu pun tak mempermasalahkan tempat. Banyak g4dis yang menginginkan pergi ke tempat yang bagus.”

“Kamu sendiri? Bukankah kamu dari keluarga yang luar biasa? Bukankah seharusnya tak makan di tempat seperti ini? Di rumah-mu ada koki khusus bukan?”

Hardin tertawa kecil. “Aku ini anak laki-laki. Meskipun hidup lebih dari sangat cukup. Tapi aku dididik layaknya anak laki-laki yang harus bisa hidup dalam kondisi apa pun. Berbeda dengan anak perempuan yang selalu dimanja orang tuanya. Meskipun orang tuanya miskin, bukankah anak perempuan akan selalu menjadi prioritas untuk hidup enak?”

Xena diam sejenak. Ya, yang dikatakan Hardin benar. Orang tuanya pun seperti itu, tapi kenyataan tak seperti harapan. “Benar, aku memang dimanjakan. Tapi, bukan berarti menjadi anak yang tak bisa hidup di mana pun. Meskipun tidak dari keluarga kaya raya sepertimu. Bukan berarti tak pernah ke tempat mewah, bahkan bisa dikatakan cukup sering,” ucap Xena dingin.

H0tel? Akhir-akhir ini memang sering ke h0tel untuk melayani tamu. Restoran? Sejak kecil, dia sudah membantu ibunya mencuci piring.

Tatapan Xena dingin, Hardin menatap lekat g4dis itu. Raut wajah yang sulit diartikan. Mereka berbincang, Hardin cukup nyaman bicara dengan Xena. Tidak seperti para mantan istrinya yang menj3ngkelkan.

“Belajar dari mana bisa menjadi penyiar?”

“Hanya bicara. Apa aku anak dua tahun yang baru belajar bicara?”

“Benar-benar somb0ng! Baru kali ini aku melihat gadis yang begitu somb0ng!”

“Aku cukup tersanjung.”

“Aku tidak sedang memujimu.”

“Hanya itu yang ada di benakku.”

“Apa yang membuatmu begitu berambisi membuatku jatuh cinta padamu?”

“Karena kamu tidak akan pernah bertemu dengan wanita sepertiku lagi. Dan jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari!”

Mereka tertawa bersama, meskipun Xena terlalu gamblang menunjukkan maksudnya. Namun, Hardin cukup nyaman berbincang dengan g4dis itu. Malam kian larut, beberapa kali Xena menguap karena mengantuk.

Malam sudah jauh ketika mereka meninggalkan kedai kecil itu. Jalanan lengang, lampu-lampu kota memantulkan cahaya temaram di kaca jendela mobil. Angin malam berembus dingin saat Xena keluar dari kedai, membuat tubuhnya sedikit menggigil. Tanpa banyak kata, Hardin melepas jaket yang ia kenakan dan menyampirkan ke bahu Xena.

"Aku tidak akan mati kedinginan tanpa itu. Tapi kamu bisa masuk angin kalau terus begitu," ujarnya singkat.

Xena meliriknya sekilas, tidak menolak, tapi juga tidak mengucapkan terima kasih. Dia hanya menarik jaket itu lebih rapat ke tubuhnya, lalu masuk ke dalam mobil. Perjalanan kembali ke apartemen berlangsung sunyi, hanya diiringi suara mesin dan musik pelan dari radio.

Tak butuh waktu lama sebelum Xena bersandar di jendela, matanya terpejam. Napasnya tenang, wajahnya tampak damai di bawah cahaya lampu jalanan yang sesekali menerpa. Hardin melirik sekilas—sekilas saja, katanya dalam hati—namun matanya enggan beranjak terlalu cepat.

Saat mereka sampai, Hardin mematikan mesin. Xena masih tertidur. Sejenak ia ragu, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah kursi penumpang. Tangannya meraih sabuk pengaman Xena, bermaksud membukanya perlahan. Tapi saat ia membungkuk, wajah mereka hanya berjarak sejengkal. Bahkan lebih dekat. Napas Xena menyentuh pipinya.

Dan saat ia membuka kunci sabuk itu, tubuh Xena sedikit condong ke depan. Dalam gerakan refleks, Hardin menahan bahunya. Tapi jarak itu terlalu sempit. Ujung hidung mereka saling bersentuhan. Wajah Xena begitu dekat, terlalu dekat hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras di kepala Hardin.

Dia seharusnya menjauh.

Tapi entah dorongan dari mana, b!birnya malah mendarat di b!bir Xena. Lembut. Tidak tergesa. Seperti menc!um seseorang yang telah ia pikirkan terlalu lama, tapi tak pernah ia akui.

Beberapa detik kemudian, ia menarik diri perlahan, menyadari betapa tak seharusnya ia melakukan itu. Xena masih tertidur. Atau mungkin hanya pura-pura?

Hardin tak tahu.

Dengan hati-hati, ia menyampirkan kembali jaketnya yang sedikit mel0rot, lalu membuka pintu dan menggendong Xena ke atas. Malam itu, ada rasa khawatir ... ia merasa ... takut. Takut kalau perasaannya mulai mengarah ke sesuatu yang selama ini ia hindari. Perasaan yang terlalu dalam untuk seseorang seperti Xena.

Seseorang yang katanya m3njengkelkan. Tapi kini justru membuatnya ingin tinggal lebih lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!