Perhatian–perhatian cerita ini beralur lambat. Harap bersabar menanti ceritanya ya .... 😁
Gea Agatha adalah seorang wanita berusia 21 tahun yang hidup mandiri. Gea berusaha hidup menjauh dari keluarganya yang membencinya. Wanita mandiri itu memiliki seorang kekasih bernama Davin Angkara.
Suatu hari, mereka mengikrarkan janji sehidup semati. Namun naas, Gea malah dikhianati oleh kekasihnya di hari pernikahannya yang membuatnya harus berada pada keadaan yang lebih mengecewakan. Hari itu juga, ia bertemu dengan Briel, seorang laki-laki yang juga harus menikah di hari itu juga yang sama sekali tidak Gea kenal, memaksa Gea untuk menikah dengannya karena suatu kesalahpahaman.
Mereka berdua mengarungi bahtera rumah tangga yang diterpa berbagai macam musim.
Akankah Gea dan Briel bisa melewati semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asabernisletih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Curahan Hati Gea
"Kesedihan adalah suatu proses awal untuk mengerti dan merasakan betapa besarnya kebahagiaan hingga suatu ucapan syukur keluar dari bibir sang empunya. Berbahagialah karena kau punya kesedihan."
🍂
Hari semakin petang. Senja dengan semburat jingga mewarnai langit di sore itu. Daun-daun berguguran di atas gundukan tanah, seiring angin sepoi-sepoi menerpa daun kering. Seorang wanita menangis sambil memegang nisan. Ia mencurahkan semua rasa pada sang mendiang yang telah mendahuluinya selama lebih dari 20 tahun.
"Ma, Papa mengusirku lagi, bahkan sebelum aku mengungkapkan maksudku menemuinya," ucap Gea sambil menangis.
"Andai Mama disisiku pasti semuanya tidak akan berakhir begini." Gea mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Kenapa Papa tega kepadaku, Ma? Kenapa?"
Suasana hening menyergap di sekitarnya. Hari yang gelap tidak menjadi suatu penghalang untuk membuatnya pergi dari sana.
"Jikalau bisa, bawalah aku bersamamu, Ma. Gea capek, Ma, capek."
Sungguh, ingin sekali ia mengakhiri hidupnya. Orang yang berharga di hidupnya tidak mempercayainya bahkan mengusirnya. Larut hingga pikirannya hanya terfokus pada satu titik, dimana ia ingin mencurahkan seluruh keluh kesahnya pada mendiang mamanya. Bahkan gawainya yang berdering pun ia abaikan. Bukan karena ia tahu, tapi karena terlalu larut hingga ia tidak menyadari dering itu.
🍂
"Astaga dimana dia? Kenapa dia tidak mengangkat pangillanku? Ada apa dengannya?" ucap Hendri yang mencemaskan Gea. Ia berjalan mondar-mandir di apartemennya.
Pikirannya melayang-layang, memikirkan suatu kata "bagaimana jika", yang tidak akan pernah ia tahu jawabannya tanpa ia memastikannya. Rasa cemas itu seakan membunuhnya secara perlahan, tanpa ia tahu kapan akhir harinya itu tiba. Seketika pikirannya itu tertuju pada Bima.
"Halo, Bim, tolong cari tahu keberadaan Gea saat ini. Sejak tadi dia pergi namun sampai sekarang ia belum juga kembali," ucap Hendri pada Bima yang ada di sebrang sana. Setelah mendapat jawaban persetujuan dari Bima, Hendri menutup panggilannya.
Setelah beberapa saat, Hendri mendapat notifikasi pesan dari Bima. Ia segera menyambar kunci mobilnya yang jarang ia gunakan. Ia tidak mau mengambil risiko dibuntuti orang karena mobil yang ia pakai tadi. Ia melajukan mobilnya membelah hari gelap menuju dimana Gea berada.
Sampailah Hendri di suatu pemakaman. Ia melihat seorang wanita bersimpuh di sebuah nisan. Bahunya bergetar. Ia menatap iba pada wanita yang merupakan bosnya dan sudah dianggap sebagai adiknya itu. Ia berjalan menghampiri Gea.
Hendri memegang pundak Gea. Gea pun menoleh ke arahnya dengan muka sembab.
"Ayo pulang Gey, sudah malam," ucap Hendri sambil membantu Gea berdiri tanpa adanya penolakan dari Gea. Mereka berjalan meninggalkan pemakaman itu.
🍂
Saat ini Gea tengah berbaring di sebuah dipan di depan rumahnya sendirian. Hendri telah pamit pulang beberapa waktu lalu. Gea menatap bintang-bintang bertebaran yang menghiasi malam itu, tanpa sinar purnama yang terpancar. Ingin ia menyampaikan pada sang bintang disana agar menyampaikan rasanya kepada Sang Pencipta. Hingga tak terasa ia terlelap.
Ia berada di hamparan padang yang ditumbuhi banyak bunya warna-warni. Harum semerbak memelusup di indra penciumannya. Ia berjalan menelusuri hamparan itu. Di ujung hamparan itu terdapat danau yang berair jernih. Ia melihat seorang wanita, berdiri menatap danau. Ia penasaran siapa wanita itu.
Kemudian wanita yang ternyata masih sangat cantik itu membalikkan badannya, tersenyum hangat kepada Gea. Rasa hangat memenuhi hatinya yang kosong. Gea berjalan cepat, berlari menghampiri wanita itu, lalu memeluknya erat. Erat sekali hingga ia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Pelukan yang baru kali ini ia rasakan. Damai adalah kata yang menggambarkan rasa yang ia rasakan.
Gea menangis sesenggukan dipelukan wanita itu. Pelukan yang menenangkan. Pelukan yang ingin ia rasakan selama ini. Gea mendongakkan wajahnya. Ia melihat wajah cantik yang bersinar dari dekat. Ia menyadari bahwa itu adalah sosok mamanya.
"Mama," gumam Gea.
Wanita itu mengulas senyum hangat. Ia mengelus lembut pipi Gea.
"Gea, anakku, lanjutkan hidupmu, Nak. Mama tidak akan membawamu, karena kamu berharga. Hidupmu istimewa. Namun Mama akan selalu mengawasimu dan akan selalu ada. Disini." Wanita yang merupakan sosok mamanya itu menunjukkan tangannya tepat diulung hati Gea. Air mata Gea semakin bercucuran.
"Berbahagialah, Nak. Yakinlah bahwa akan ada suatu hal yang menunggumu di depan sana. Janganlah terlalu larut dalam kesedihanmu. Karena kesedihan yang berlarut akan menghambatmu untuk menemukan suatu kebahagiaan. Serahkanlah semua bebanmu pada Yang Maha Kuasa. Mama mencintaimu, Nak," ucapnya kemudian tersenyum.
Setelah kata-kata itu terdengar, perlahan tubuh wanita itu memudar. Semakin memudar da memudar hingga hilang dari dekapannya. Gea bingung dengan apa yang terjadi. Ia berteriak memanggil-manggil mamanya yang telah hilang entah kemana.
"Mama!"
Gea terbangun dari tidurnya. Nafasnya memburu.
"Mimpi yang seperti nyata," gumamnya kemudian tersenyum. Ingin sekali mimpi itu benar-benar nyata, bukan hanya sekadar mimpi. Namun itu sudah lebih dari cukup. Akhirnya ia dapat merasakan pelukan mamanya walaupun itu hanyalah mimpi.
Ia melihat ke sekitarnya, dan hari ternyata masih gelap. Rupanya waktu telah menginjak di pergantian hari beberapa detik yang lalu. Ia menguncir rambutnya lalu berjalan menuju ke dalam rumah.
Dalam suasana hening, ia mengucap syukur dan berdoa. Meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa, berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Meminta agar Dia memberikan suatu hal yang terbaik di hidupnya.
🍂
//
Apa yang akan kalian lakukan jika kalian menjadi Gea?
.
.
.
Okedeh semua, selamat membaca, selamat beraktivitas dan jangan lupa bahagia 💕
Oh iya, sambil menunggu diriku up lagi, bisa baca karya keren teman sekaligus kakak online asa.
Cuss cek cek 😁😁
My Stiff Husband - Desy Puspita
Makasi thor ceritanya bagus, meski up nya lama tapi gpp
ditunggu karya selanjutnya
tetap semangat berkarya