Mu Yongsheng adalah jenderal Kekaisaran Dalu yang sangat setia. Tiba-tiba kekaisaran Dalu yang tenang itu menjadi kacau dengan kematian sang putri dan pengkhianatan yang di lakukan oleh sang perdana mentri.
Saat Mu Yongsheng membantu sang kaisar menyelamatkan diri dari kekacauan itu, dirinya terjatuh di dasar jurang hitam, hingga akhirnya bertemu dengan Zhaoyang seorang pendekar suci.
Pertemuan itu mengubah jalan hidupnya.
Bagaimana kisahnya?
Simak terus PENDEKAR PEDANG DARI TIMUR, dan dukung penulis dengan:
👉Like,
👉Rite dan
👉koment.
🙏Terima Kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhistira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Bing Xiang.
Hongli membiarkan istrinya menangis dalam pelukannya sambil meringis, menahan rasa sakit saat tangan permaisuri Jiao menyentuh luka yang ada di punggungnya.
Jingmi yang masih berada di luar ruangan lalu menutup pintu dari luar.
Di dalam ruangan.
Permaisuri Jiao menatap wajah Hongli yang terlihat kesakitan.
" suamiku ada apa?"
" Hmm.. Istriku, kamu menyentuh lukaku," jawab Hongli pelan.
Dengan segera permaisuri Jiao melepaskan pelukannya, tetapi tindakan tersebut dihentikan oleh Kaisar Hongli yang memeluknya dengan erat.
" Suamiku, kamu!?"
" Itu hanya luka fisik, lagipula juga sudah di obati."
Mereka berdua terdiam sambil berpelukan dengan erat dan merasakan kedamaian dalam keheningan itu.
" Istriku, bagaimana kabar Putri kita?"
Tiba-tiba mata Permaisuri Jiao berkaca-kaca,
" Suamiku, tenanglah. Putri kita ternyata masih hidup dan saat ini dalam tahap pemulihan, terutama memulihkan kesadarannya."
" Istriku, apa yang sebenarnya terjadi pada Putri kita?"
Permaisuri Jiao lalu membawa Kaisar Hongli duduk di tepi ranjang, dan mulai bercerita.
" Suamiku, ternyata Putri kita telah dicelakai dengan menggunakan racun embun. Aku bahkan sudah meminta Jingmi untuk melakukan penyelidikan ini."
" lalu di mana Putri kita sekarang?"
" Saat ini dia dalam pengawasan dan perawatan para tetua. Suamiku, Lalu bagaimana dengan dirimu dan mengapa begitu lama tiba di tempat ini?"
Hongli menatap istrinya dengan lekat.
" Begitu banyak rintangan yang kuhadapi, karena semua orang menginginkan kepalaku, jadi aku harus berhati-hati."
Permaisuri Jiao lalu berdiri dan memasuki kamar kecil lalu kembali dengan membawa satu baskom air hangat.
" Suamiku, Aku ingin kamu beristirahat tetapi aku ingin membersihkan tubuh terlebih dahulu." sambil melepaskan pakaiannya satu persatu.
Matanya terbelalak saat melihat punggung kanan suaminya dengan lilitan kain, bahkan masih meninggalkan jejak luka berwarna biru pada kulitnya.
" Suamiku, Jelaskan luka ini padaku!"
" Itu adalah bekas panah yang berisi racun kalajengking biru. Aku bersyukur pada Jenderal Yongsheng dan Huanran yang begitu setia menemaniku, menjaga, merawat bahkan mempertaruhkan nyawa mereka demi keselamatan ku." suara Hongli lirih.
" Suamiku, lalu dimana mereka berdua?"
Kaisar Hongli lalu menjelaskan semua rentetan peristiwa yang dihadapinya selama melarikan diri, mulai saat dirinya terkena panah beracun saat memasuki gerbang jalan rahasia, hingga mereka tersesat di hutan terlarang dan berbagai pertarungan yang dihadapi oleh Yongsheng dan Huanran.
" Saat ini, kedua Jenderal itu sedang menjalankan misi untuk mengalihkan perhatian ke wilayah timur dan barat."
Permaisuri Jiao hanya bisa menggelengkan kepala sambil membayangkan bagaimana setianya kedua Jenderal itu menemani suaminya.
" Istriku, Jenderal Yongsheng telah membuat pengakuan padaku, bahwa dia memiliki hubungan dengan Putri kita, Apakah kau mengetahuinya?"
Permaisuri Jiao tampak terkejut, " Apakah benar demikian?"
" Yongsheng sendiri yang mengatakannya di hadapanku. Istriku Apa pendapatmu?"
" Jika mereka saling mencintai, mengapa tidak? Sebagai orangtua tentu aku menyetujuinya."
" Aku senang mendengarnya, lagi pula jenderal Yongsheng merupakan orang yang bertanggung jawab dengan loyalitas yang kuat serta kemampuan bela diri yang cukup tinggi."
Percakapan mereka terus berlanjut hingga permaisuri Jiao selesai membersihkan tubuhnya.
" Suamiku, beristirahatlah aku akan menemanimu." sambil membaringkan diri di sisi Hongli dan memeluknya dengan hangat.
****
Di tengah Hutan.
Huanran terus bergerak ke wilayah utara menuju gunung langit.
" Jenderal, kira-kira kita tiba di Gunung Langit berapa hari lagi?"
" Tiga atau empat hari lagi."
Keempat prajurit itu hanya bisa menggelengkan kepala.
" Mengapa kalian seperti itu, Apakah kalian kelelahan?"
" Benar Jendral, kami kelelahan dan kelaparan," Jawab prajurit Ying dengan jujur.
" Baiklah, tetap lanjutkan perjalanan, kita akan mencari tempat penginapan terdekat."
" Baik Jenderal," jawab keempat prajurit itu dengan semangat.
Kali ini mereka dapat sedikit leluasa, karena tidak ada lagi orang-orang yang mengejar dan mencari keberadaan kaisar Hongli dan mereka.
****
Tepi sungai Shenghuo.
Seorang gadis cantik bersama seorang pria tua sedang memancing di sungai itu.
" Guru, mengapa hari ini tidak ada ikan yang menarik pancinganku?"
Pria tua itu hanya bisa terkekeh melihat tingkah gadis itu.
" Xiang er, kamu selalu tidak sabaran, mungkin ikannya sedang bermain-main hingga lupa jika ada makanan di depan mereka." goda sang guru.
" Guru, mengapa anda tertawa sedangkan tidak ada hal yang lucu di tempat ini?"
Sekali lagi pria tua itu terkekeh.
" Xiang er, mungkin ikan-ikan di sungai ini sedang mencari pasangannya, sehingga mereka lupa dengan makanan enak di hadapan mereka."
" Guru, jangan sebut-sebut pasangan, karena aku tahu arah pembicaran guru yang masih ingin menjodohkanku dengan Pemuda lemah itu!"
" Hoho... Aku tidak mengatakannya. Jika kamu masih mengingatnya itu berarti kamu menyukainya."
" Hais... Guru, anda memancing kemarahan ku!" ucapnya lalu berdiri hendak meninggalkan tempatnya.
Tiba-tiba matanya terpaku pada sesuatu yang terapung di atas air.
" Guru, ada mayat di sana!" Sambil menunjuk ke arah yang di maksud.
Sang guru lalu memincingkan matanya.
" Bagaimana mungkin!" ucapnya lalu terbang ke tengah sungai dan meraih tubuh itu lalu membawanya ke tepi sungai.
" Guru!?"
" Dia tidak mati, tapi bagaimana mungkin, pedang ini bahkan telah menembus tubuhnya."
" Guru, lihat!" sambil menunjuk rusuk kiri yang terluka cukup lebar.
Sang Guru mengedarkan kekuatannya lalu memperhatikan tubuh itu sekali lagi.
" Pedang, pedang ini telah menjaga nyawanya tapi bagaimana mungkin!"
" Guru, Apakah kita akan menolongnya?"
" Xiang er, apa pendapatmu?"
" Guru, kita tolong saja dia."
" Jika demikian, kamu bawa tubuhnya."
" Ah... Guru, mengapa harus aku?"
" Kan, kamu yang ingin menolongnya. jika tidak, ya kita tinggalkan saja atau kita hanya hanyutkan kembali."
" Hais guru, anda sangat kelewatan. Membiarkan seorang gadis kecil sepertiku mengangkat tubuh yang penuh dengan luka ini, bahkan sebagian lukanya juga sudah membusuk."
Sang Guru hanya tersenyum. Di dalam hatinya, dia sangat senang. Walaupun sifat Xiang yang kasar dan keras kepala, tetapi dia masih peduli dengan orang lain.
" Jangan katakan jika kamu menolongnya karena dia tampan?"
Bing Xiang mendelik kearah gurunya.
" Guru, ini nyawa, aku tidak bercanda."
" Hoho... Sekarang Xiang er juga bisa serius. Apakah kata-kataku salah? Xiang er, pemuda ini memang tampan. Oh iya, secara tidak langsung sekarang dia juga telah menyentuhmu," ucap sang guru sambil tertawa.
Xiang menghentikan langkahnya, dan menatap sang guru dengan kesal.
" Eit, Jangan katakan kamu membenciku, karena aku tahu dengan tatapan itu," ledek sang guru sekali lagi sambil melangkahkan kakinya dengan tenang meninggalkan Xiang yang menatapnya dengan kesal.
Xiang lalu membawa tubuh itu memasuki sebuah gua yang cukup luas.
" Guru!?"
" Tentu saja aku akan menolongnya, letakkan tubuhnya di atas dipan itu!"
Xiang tidak menyangka, Sang guru yang telah mendahuluinya ternyata sedang menyiapkan berbagai herbal untuk menolong pemuda tersebut.
" Lepaskan pakaiannya!"
" Guru!"
" buka bajunya saja."
" B- baik guru."
Xiang secara perlahan lalu melepas baju pemuda itu.
Tampak sekujur kulitnya telah lecet, dan terluka.
" Guru, bagaimana dengan pedangnya?"
" Biarkan saja, aku akan mengurusnya. Tugasmu adalah melumuri tubuh itu dengan ramuan ini." Sambil memberikan berbagai ramuan yang telah di haluskan.
" B-baik guru." lalu melumuri tubuh itu dengan perlahan.
" Ho..ho.. sebelumnya dia tidak sengaja menyentuh mu, sekarang kamu dengan sengaja menyentuh tubuhnya."
" Guru!" sambil berdiri lalu meninggalkan Goa.
" Xiang er, Jika kamu pergi, tidak ada yang akan mengurusnya, karena aku akan keluar untuk mencari sesuatu yang aku perlukan untuk mengobatinya."
Gadis cantik itu melototi sang guru dengan kesal.
" Aku akan pergi. Jaga dan bersenang-senanglah dengan pacarmu itu." Dengan suara tawa yang menggema di sekitar tempat itu lalu menghilang.
krn cintanya tertuju pd jia li
sungguh mengharukan