Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
"Gimana nak jadi ambil kosnya?" Tanya wanita paruh baya itu pada seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
"ya buk jadi saya ambil, saya bayar segini dulu yah bu untuk DP. Besok setelah saya bawa barang saya, saya bayar sisanya" ucap gadis itu pada wanita yang menjadi lawan bicaranya.
"Iya nak, ibu terima yah nanti kamu hubungi saja ibu kalau sudah bawa barangnya untuk ke sini"
"iya buk nanti saya hubungi, kalau gitu saya pergi dulu" ucapnya kepada ibu tersebut kemudian berlalu pergi.
Isabell, gadis itu adalah Isabell, dia baru saja mendapatkan kosan untuk menjadi tempat tinggalnya yang baru. Dan kali ini dia tinggal menemui seseorang yang ingin membeli motornya setelah itu baru besok dia akan pindah ke kosan barunya.
Drrrt Drrtt Drrtt
"Halo"
"Neng ini orang yang mau lihat motornya neng udah datang, neng bisa ke sini sekarang?" Ucap seseorang di seberang sana.
"Ok bang, Isabell ke sana sekarang tunggu sebentar yah"
"Siap neng"
Tut
Isabell kemudian langsung menuju motornya dan melajukannya ke tempat bengkel yang biasa dia gunakan untuk menyimpan motornya. Yah Isabell meminta batuan pada pemilik bengkel itu untuk mencarikan pembeli untuk motornya karena pemilik bengkel itu lumayan terkenal untuk menjual motor-motor bekas yang layak pakai.
Hanya butuh kurang dari sepuluh menit Isabell sudah sampai di bengkel tersebut dan langsung turun dari motornya untuk menemui seseorang yang ingin membeli motornya.
"Mana yang mau beli motor Isabell bang?" Tanya Isabell yang baru saja datang pada pemilik bengkel itu.
"Itu neng yang pakai jaket warna biru itu disana, biar Abang aja yang panggilin" ucap pemilik bengkel itu dan di angguki oleh Isabell lalu berjalan ke arah pemuda yang berniat membeli motor Isabell, beberapa detik kemudian pemilik bengkel itu kembali datang bersama dengan seorang pemuda tampan.
"Ini neng yang mau beli motor neng" Isabell pun berbalik dan melihat wajah siapa yang ingin membeli motornya.
"Oh hai kak saya Keysa yang mau jual motor" sapa sopan Isabell pada pemuda tampan tersebut. Pemuda didepannya terkejut melihat wajah penjual motor yang ingin dia beli ternyata adalah perempuan yang tadi pagi datang ke sekolahnya untuk bertemu dengan Rhaella.
"Merrit" jawab Merrit datar dengan tetap menyambut uluran tangan Isabell.
"Mau di lihat dulu kak motornya?" tanya Isabell dan di angguki oleh Merrit.
Merrit pun kemudian berjalan sebentar dan melihat motornya masih terlihat baru, Merrit pun mengecek apa saja yang jadi kendala di motor itu, tapi sepertinya motor itu masih sangat bagus tidak ada kendala apapun.
"Gimana kak?" Tanya Isabell.
"Motor lo masih bagus nggak ada kendalanya Gue beli di atas harga yang lo kasih" jawab datar Merrit pada Isabell, dan itu membuat Isabell melotot.
"Yang bener kak? Eh tapi jangan deh kak udah harga segitu aja yang saya kasih ngga papa" Merrit yang melihat wajah lucu Isabell ingin sekali tersenyum tapi dia harus tetap menjaga image-nya.
"Ngga papa gue tambahin, mana nomor lo" tanya Merrit pada Isabell.
"Nomor apa kak?" Tanya bingung Isabell.
"Nomor rekening lo mana biar gue bayar terus kasih nomor WhatsApp lo juga nanti gue kirim bukti pembayarannya" jawab panjang lebar Merrit dan di angguki oleh Isabell.
"Oh nomor rekening sana nomor WhatsApp oke tunggu bentar"
"Nih nomor rekening sama nomor WhatsApp saya kak"
"Jangan panggil gue kakak, kita seumuran" jawab Merrit sambil mengetik nomor di handphone Isabell.
"Oh yah? Kenapa Lo bisa tahu kalau kita seumuran?" Ucap Isabell dan langsung merubah gaya bicaranya.
"Lo yang tadi panggil datang ke MIHS kan lo samperin Rhaella tadi" jawab Merrit dengan tetap mengotak-atik handphonenya. Isabell mendengar itu pun menganggukkan kepalanya mengerti.
"Oh tadi lo liat gue? Lo Dimana emang tadi?" tanya Isabell yang kepo.
"Gue Di belakang cowok yang di samping Rhaella tadi" jawab datar Merrit dan di angguki lagi oleh Isabell.
"Nih selesai ntar gue kirim bukti pembayarannya" Merrit memperhatikan bukti pembayarannya di handphone miliknya.
"Lo beneran lebihin bayarnya?" Merrit hanya mengangguk saja.
"Padahal mah ngga perlu tapi Oke deh makasih kalau gitu, nih kunci motornya sama surat-suratnya" ucap Isabell memberikan kunci serta surat-surat motornya, Merrit pun menerimanya.
"Baang ... " Panggil Isabell pada pemilik bengkel tersebut. Kemudian langsung di hampiri oleh pemilik bengkel.
"Nanti Isabell transfer yah buat Abang, thank udah bantuin Isabell selama ini"
"Siap neng sama-sama"
"Ya udah Keysa balik dulu"
"Iya hati-hati neng"
"Gue balik dulu... Merrit.. right ?" Ucap Isabell mengingat nama Merrit. Merrit hanya mengangguk saja kemudian Isabell pun berjalan keluar menuju motornya yang sudah di beli oleh orang, di ikuti oleh Merrit di belakang.
"Maaf yah ayah Isabell harus jual motor pemberian ayah" ucapnya pada motor tersebut dan di lihat oleh Merrit, Merrit pun menghampirinya lalu memberikan kunci motor itu lagi.
"Nih lo pake aja dulu motornya" Isabell di buat terkejut dan bingung oleh tindakan Merrit.
"Gue kan udah jual ke elo motornya, gimana ceritanya Lo kasih ke gue lagi nih motornya"
"Gue ke sini bawa motor, Lo pake aja dulu motor ini lagian gue punya nomor lo, kalau Lo bawa kabur nih motor gue bisa lacak dengan mudah sekalipun Lo buang itu kartu yang lo pake"
"Ya tapi kenapa Lo kasih ke gue lagi" tanya Isabell bingung.
"Gue ngga kasih tapi gue pinjemin sampai lo puas pakenya" Isabell semakin dibuat bingung oleh Merrit.
'apa dia denger tadi gue ngomong? gue kembaliin aja uangnya kali yah kan ngga enak gue' gumamnya dalam hati.
"Gue kembaliin aja uang lo deh"
"Nggak!! udah lo pake aja motornya, nanti gue hubungi kalau gue butuh itu motor" ucap Merrit kemudian pergi menuju motornya dan berlalu pergi meninggalkan kebingungan Isabell di tempat.
"Itu orang aneh banget dah, baru kali ini gue nemuin orang yang beli motor tapi malah kasih ke penjual lagi motornya" lirihnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pun kembali menaiki motornya untuk menuju kediamannya, baru setelah itu dia akan menemui Rhaella.
...
Setelah beberapa menit berkendara Isabell sampai di kediaman Johnson, dia menyimpan motornya di pagar bagian belakang kediaman Johnson agar mempermudah iya untuk keluar nantinya. Setelahnya Isabell pun masuk menuju pintu, baru saja dia ingin mengetuk pintu tapi pintu rumah sudah terbuka lebih dulu.
"Dari mana aja lo?" Tanya sarkas Luna pada Isabell
"Gue kerja" jawab datar Isabell.
"Lo kerja pake baju sekolah gitu sampe malam, ngga usah bohong lo" ucap kembali Isabell.
"Percuma gue ngomong juga kalo lo ngga percaya" jawab datar lagi Isabell.
"SIALAN, tadi Lo ngapain ke sekolah gue ha ? Lo mau godain anak-anak di sekolah gue yang terkenal kaya raya iya kan?" Sarkas Luna kembali dengan tuduhannya. Isabell hanya menghela nafas lelahnya kembali mendengar tuduhan Luna.
"Hidup lo nggak indah yah kalau ngga asal nuduh orang lain, apa jangan-jangan lo yang lagi ngicar anak orang kaya di sekolah lo itu hm?" Jawab santai Isabell dan kembali bertanya dengan tersenyum miring.
"ANJING DASAR SIALAN DASAR ANAK PUNGUT, MATI AJA LO BANGSAT" suara keras Luna terdengar hingga seluruh ruangan, sampai para maid dan ibu dari Luna pun datang melihat apa yang terjadi.
"Luna ada apa ini kenapa kamu teriak malam-malam begini sih?" Tanya ibu Luna menghampiri mereka.
"Dia Bu bikin aku kesel, dasar ngga berguna"
"Kamu anak sialan, apa yang udah kamu lakukan kepada anak saya ha?" Bentaknya pada Isabell dengan mata yang melotot.
"Isabell ngga bilang apa-apa, Luna aja yang marah-marah terus ke Isabell" jawab santai Isabell.
"Mah... Mending mama usir aja ni anak pungut dari rumah kita, nanti kita bisa sial kalau terus Nampung anak sialan ini" ucapnya dengan tersenyum miring, dia pasti berfikir bahwa Isabell pasti akan memohon untuk tidak di usir karena dia tidak punya uang dan tempat tinggal jika harus di usir dari rumah ini.
"Lo mau usir gue, oh dengan senang hati gue akan pergi" jawab Isabell dengan Tersenyum manis. Luna malah di buat geram, karena perkiraannya sudah salah.
"Lo ngga ada khawatir khawatirnya gue usir, apa Lo bakal tinggal ke rumah om-om Lo itu iya? Secara Lo kan ngga punya uang kalau berharap dari gaji lo kerja di cafe gue yakin itu ngga bakal cukup"
"ngga bakal cukup memang kalau itu elo"
"Sialan Lo pas..." Ucapan Luna terhenti karna ibunya menghentikannya.
"Udah sayang biar dia pergi dari rumah ini, supaya rumah kita bisa tentram dan damai ngga ada lagi parasit di rumah kita" ucap ibu Luna sinis pada Isabell.
"Kalau gitu Isabell ke kamar dulu ambil barang-barang Isabell"
"Sana Lo buruan ambil Barang-barang ngga berguna lo itu terus langsung pergi dari rumah ini" usir Luna pada Isabell. Isabell pun kemudian berjalan santai menuju kamarnya, dia hanya membawa pakaiannya dan buku-buku pelajaran, lalu setelahnya Isabell kembali keluar, dia menghampiri Luna dan ibunya yang sedang berdiri menunggunya untuk segera keluar dari rumah mereka.
"Bu Isabell minta maaf kalau selama ini Isabell selalu buat ibu marah, meski Isabell sendiri nggak tahu dimana letak kesalahan Isabell, Isabell juga mau berterima kasih karena sudah bersedia membesarkan Isabell hingga sebesar ini. Ibu jaga kesehatan ya, Ini adalah bakti Isabell yang terakhir untuk ibu" setelah mengucapkan itu Isabell langsung meraih tangan kanan ibu angkatnya dan menyalimi dengan khusus, ibu Luna sendiri sudah tersentuh hatinya mendengar ucapan dari Isabell dan di tambah lagi Isabell menyaliminya dengan penuh kasih, bahkan anak kandungnya sendiri tidak pernah melakukan hal itu padanya.
"Lo apa-apaan si, udah sana pergi" sentak Luna memisahkan Isabell yang sedang mencium tangan ibunya, ibunya sendiri hanya diam tapi terlihat dari raut wajahnya yang seperti terharu sekaligus sedih melihat Isabell di usir oleh anaknya sendiri.
"Isabell pamit Bu assalamualaikum" kemudian Isabell pun keluar dari rumah itu. Siapa sangka dia yang tadinya ingin kabur sekarang malah di usir, dia pun menengok ke belakang menatap bangunan yang dulu pernah menyimpan banyak kenangan saat dirinya kecil bersama ayah angkatnya serta ibu angkatnya, dia menyeka air matanya yang tiba-tiba saja keluar saat mengingat kenangan itu.