Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Mentari membaca puluhan lembar dokumen yang diberikan Riko dengan perasaan tak menentu. Jemarinya gemetar setiap kali membalik halaman. Baru dua hari Langit terbaring koma, namun dampaknya terasa begitu cepat dan kejam.
Satu per satu kontrak kerja sama dengan para klien dibatalkan. Alasannya beragam sebagian terdengar masuk akal, sebagian lagi jelas mengada-ada. Seolah kejatuhan Langit adalah kesempatan yang selama ini mereka tunggu.
Bahkan proyek pembangunan hotel impian terbesar Langit,kini terancam berhenti total.
“Jadi… harta yang tersisa tinggal segini?” tanya Mentari pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
“Benar, Nyonya,” jawab Riko dengan wajah serius.
Mentari menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. Namun yang mengusik hatinya bukanlah bayangan hidup miskin. Bukan itu.
Yang paling ia takutkan adalah biaya perawatan Langit,angka-angka yang tertera di laporan rumah sakit, peralatan medis, dan waktu yang tak bisa dipastikan. Semua itu jelas tak murah.
Ia mengepalkan tangan, menatap dokumen di depannya.
"Apa tidak ada keringanan dari mereka?” tanya Mentari lagi. Suaranya lelah, namun ada nada kecewa yang tertahan.
Semua yang terjadi terasa begitu tidak masuk akal. Andai nanti Langit sadar, ia bertekad suaminya tak lagi menjalin kerja sama dengan relasi-relasi yang tega meninggalkan mereka di saat terburuk.
“Sebenarnya… saya curiga ada permainan di balik semua ini, Nyonya,” ucap Riko akhirnya, nadanya diturunkan.
Mentari terdiam sejenak. Ia menatap Riko dengan sorot mata tajam.
“Maksudmu… Papa?” tanyanya pelan.
Riko mengangguk perlahan.
“Tuan Baskoro bukan tipe orang yang mau menyerah begitu saja terhadap putranya.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Mentari mengepalkan jemarinya. Jika benar ada campur tangan ayah Langit di balik runtuhnya usaha ini, maka masalah mereka bukan sekadar soal uang tapi hal lain juga.
Sore harinya.
Mentari duduk di kursi di samping ranjang suaminya.Tangannya menggenggam erat tangan Langit yang masih terpasang selang infus. Sentuhannya hangat, seolah berharap kehangatan itu bisa memanggil kesadaran suaminya kembali.
“Mas… aku rindu,” ucapnya lirih.
“Tolong cepat bangun. Jangan biarkan aku sendirian seperti ini.”
Tatapannya tak lepas dari wajah Langit yang pucat, dengan perban melingkari kepalanya. Nafas pria itu teratur, namun sunyi,terlalu sunyi.
Air mata Mentari akhirnya jatuh. Tangisnya pecah tanpa suara, bahunya bergetar menahan sesak yang sejak tadi ia pendam.
Setahun kebersamaan ternyata telah mengikat mereka begitu kuat. Ikatan yang baru ia sadari sepenuhnya saat Langit terbaring tak berdaya seperti ini.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dari arah luar.
Mentari langsung menoleh. Seketika tubuhnya membeku saat melihat dua sosok yang tak pernah ia lupakan,orang-orang yang setahun lalu pernah ia hadapi.
Baskoro dan Angel.
Melihat ayah mertuanya datang, Mentari buru-buru berdiri. Tangannya masih gemetar, namun punggungnya ia tegakkan.
“Aku tidak perlu basa-basi denganmu,” ucap Baskoro dingin.
“Tinggalkan anakku. Aku akan membiayai seluruh perawatannya sampai ia sadar dan sembuh seperti sedia kala.”
Mentari mengepalkan tangan. Ia melirik Langit yang masih terbujur tak berdaya di ranjang, lalu kembali menatap Baskoro dan akhirnya Angel.
Wanita itu masih sama seperti dulu. Angkuh. Arogan. Tatapannya penuh rasa menang.
“Aku tidak akan meninggalkan suamiku,” jawab Mentari lirih, namun tegas.
Angel terkekeh kecil, sinis.
“Kau mau membiarkan Langit mati, Mentari?” ucapnya tajam.
“Bukankah Riko sudah banyak memberitahumu tentang kondisi keuangan kalian?”
Ia melangkah mendekat.
“Dengan apa kau akan membiayai pengobatan Langit yang jelas tidak murah ini?”
Mentari mengangkat dagu. Sorot matanya tajam, penuh perlawanan.
“Aku tidak perlu memberitahumu apa pun,” balasnya.
“Yang pasti, aku tidak akan membiarkan suamiku sendirian. Aku akan tetap berada di sisinya.”
Baskoro tertawa pendek, tanpa humor.
“Hei, Mentari,” katanya merendahkan.
“Kau itu hanya wanita murahan yang dipungut oleh putraku.”
Kini suaranya meninggi.
“Dan sekarang dia sedang tidak berdaya. Sebagai ayah kandungnya, aku berhak membawanya kembali.”
Ia menunjuk Langit.
“Kau pikir aku tega melihat Langit seperti ini?”
Ia menyeringai dingin.
“Pikirkan baik-baik. Biarkan aku menyembuhkannya dengan biayaku. Biarkan dia menjalani kehidupan barunya.”
Mentari menahan napas. Dadanya terasa seperti diremas, namun ia tak mundur selangkah pun.
“Ayo, Angel,” ucap Baskoro akhirnya. “Kita pergi.”
Namun sebelum mereka berbalik sepenuhnya, satu hal jelas:
"Pikirkan baik-baik dan jangan egois."
Begitu pintu ruangan kembali tertutup rapat, air mata Mentari langsung mengalir tanpa bisa dibendung.
Ia melangkah cepat ke sisi ranjang, menggenggam tangan Langit erat-erat.
“Mas… ayo bangun,” suaranya bergetar.
“Lihat aku. Pikirkan Mina.”
Ia menggeleng pelan, air mata menetes di punggung tangan suaminya.
“Selama ini kamu selalu minta aku buat bilang cinta, kan?”
Ia tersenyum pahit di sela tangisnya.
“Baik… aku nyerah, Mas.”
Napasnya tersengal.
“Selama ini aku menyembunyikan perasaan ini dari kamu. Aku pikir pernikahan kita cuma di atas kertas.”
Suaranya pecah.
“Tapi selama setahun aku jadi istrimu… cinta itu tumbuh. Makin besar. Makin dalam.”
Mentari menunduk, keningnya menyentuh tangan Langit.
“Mas Langit… aku mencintaimu. Sangat.”
Isaknya kian menjadi.
“Tolong bangun. Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Tangisnya memenuhi ruangan, bercampur doa dan ketakutan yang tak terucap,menunggu keajaiban yang mungkin saja sedang mendengar.
*
Hari demi hari terus berlalu. Mentari tak henti mondar-mandir antara rumah dan rumah sakit. Ia nyaris tak memedulikan kondisi tubuhnya sendiri,makan seadanya, tidur sekadarnya, hidupnya seolah hanya berpusat pada satu nama: Langit.
“Tari, biar Mama saja yang ke rumah sakit,” ujar Bu Mutia khawatir. “Kamu kelihatan lemas, Nak.”
Mentari menggeleng pelan.
“Enggak, Mah. Aku tetap harus jaga Mas Langit,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
“Dia selalu ngomel kalau aku nggak ada,” lanjutnya, terkekeh kecil meski matanya menyimpan lelah.
Bu Mutia hanya bisa menghela napas panjang. Di dalam hati, ia bersyukur,Langit berada di tangan wanita yang benar-benar mencintainya.
“Oh ya,” ucap Bu Mutia kemudian, ragu. “Mama mau ngomong sesuatu. Semalam badan Mina agak hangat.”
Mentari langsung terkejut. Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Sekarang gimana kondisinya, Mah?” tanya Mentari cepat, nada suaranya penuh cemas.
Rasa bersalah langsung menyelinap di dadanya.
Belum sempat Bu Mutia menjawab, teriakan Bi Arum terdengar nyaring dari arah kamar Mina.
“Nyonya Mutia...."
Dua wanita itu langsung berlari ke lantai atas, langkah mereka tergesa dan penuh kepanikan.
Begitu Mentari sampai di depan kamar, langkahnya terhenti seketika.
Tubuhnya kaku.
Mina terbaring di atas ranjang kecilnya, tubuh mungil itu terguncang hebat oleh batuk yang tak tertahankan. Dari bibirnya, darah segar keluar, menodai seprai putih.
“Mina…” bisik Mentari parau.
Dunia seolah runtuh di hadapannya. Tangannya gemetar hebat, lututnya nyaris tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
“Bi… panggil dokter,” suaranya pecah. “Cepat… tolong…”
Tangis Mentari tak terbendung. Dalam satu waktu, ia merasa Tuhan sedang menguji batas kekuatannya,suami yang koma, dan kini putrinya… batuk darah di hadapannya.
Bersambung...
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏