Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Davis Patah Hati
Setelah Silva tahu yang sebenarnya, bahwa dia hanyalah anak angkat dari keluarga ini, Silva kini terlihat muram dan tidak ceria seperti sebelumnya. Bahkan kini, Silva berusaha menghindar dari Davis.
Sementara Davis, melihat Silva berubah seperti itu, hatinya menjadi sedih. Padahal ia benar-benar mencintai Silva. Mungkin benar, perasaan sebagai adik yang sejak dulu terbangun dalam diri Silva, tidak bisa berubah dengan semudah membalikkan telapak tangan. Dia merasa Davis hanyalah sosok kakak.
Bahkan sudah seminggu lebih, sikap Silva benar-benar berubah terhadap Davis, hal ini membuat Davis semakin sedih dan kecewa. Silva sama sekali tidak ingin dijemputnya. Dia lebih suka pesan gojek tanpa peduli Davis yang sudah bersiap ingin menjemputnya.
"Dek, tunggu." Davis berhasil menghalangi Silva yang akan menaiki tangga setelah ia baru pulang dari kampus. Silva menundukkan kepala, seperti peringatan sang mama, Silva tidak boleh banyak berinteraksi dengan Davis, Silva pun patuh.
"Kenapa kamu harus berubah seperti ini sama kakak? Kamu diancam mama supaya bersikap datar dan dingin seperti ini? Kalau kamu memang tidak bisa mencintai kakak, sikapnya biasa saja, kakak juga tidak akan memaksakan kamu," protes Davis seraya berhasil meraih tangan Silva.
Silva tidak menjawab, dia memang sedang berusaha menghindari Davis. Perasaannya tidak boleh berubah, baik atas perintah sang mama maupun atas kata hatinya.
"Maaf Kak, aku mau segera masuk kamar," ujar Silva seraya melepaskan cekalan tangan Davis.
"Davis, buat apa kamu tahan tangan adikmu? Biarkan dia pergi ke kamarnya." Mama Verli tiba-tiba datang dan menegur Davis yang menahan tangan Silva. Davis terkejut saat melihat sang mama datang, terpaksa ia melepaskan tangan Silva.
Silva pun segera menaiki tangga lalu masuk kamar.
"Semua karena Mama," dengus Davis seraya berlalu dan menaiki tangga. Ia kecewa dengan sikap sang mama terhadap Silva. Dia tahu, Silva bersikap seperti itu karena hasutan sang mama.
Davis segera memasuki kamarnya, hatinya sedih. Baru kali ini dia mencintai perempuan, tapi balasannya sesakit ini.
Davis termenung di dalam kamar, kalau saja dia seorang perempuan, tentu saat ini Davis sedang menangis, tapi air mata itu berusaha ia tahan, karena ia seorang laki-laki.
"Tok, tok, tok."
Pintu kamar Davis terdengar diketuk tiga kali, Davis tersentak. Dalam keadaan patah hati seperti ini, dia malas gerak. Lagipula siapa yang mengetuk pintu kamarnya, paling Mama Verli.
"Dav, aku masuk, ya? Dikunci tidak pintunya?" teriak seseorang yang tidak lain Danis.
"Masuklah, aku tidak kunci pintu," balas Davis. Danis membuka pintu kamar Davis, lalu ia segera masuk. Di dalam kamar, Davis terlihat termenung dan sedih. Danis tahu apa yang dirasakan sang adik, diapun pernah mengalami jatuh cinta, saat patah hati, apa yang dirasakan Davis pernah juga dirasakannya.
"Dav, ngapain kamu, kamu sedih?" Pertanyaan sang kakak, bagai olok-olok bagi Davis, ia tidak bersuara karena lagi malas bicara dengan siapapun termasuk sang kakak.
"Aku tahu sedih dan kecewa karena cintamu tidak dibalas oleh Silva. Kamu harus ikhlas Dav, mungkin Silva bukan perempuan terbaik untukmu. Dia lebih nyaman menjadi adikmu. Biarkanlah dulu dia merasa nyaman jadi adik kita, toh kalau nanti ada perasaan, aku yakin Silva akan bisa mencintaimu," hibur Davis mencoba meredam kesedihan Davis.
Davis masih tidak bersuara, ucapan sang kakak justru membuat telinganya terasa panas dan berdenging.
"Abang tidak merasakan apa yang aku rasakan, jadi seenaknya bicara seperti itu. Aku cinta sama Silva, aku ingin memiliki dan melindunginya. Apa salahnya mama membiarkan kami tumbuh perasaan itu, tidak ada salahnya bukan? Justru mama akan sangat diuntungkan, karena hubungan Silva sama mama bisa semakin dekat layaknya anak kandung," ungkap Davis dengan mata berkaca-kaca.
"Aku kecewa, kenapa Silva juga terang-terangan menghindariku. Dia sama sekali tidak mau dijemput saat pulang kuliah. Semua gara-gara mama," dengusnya masih menyalahkan sang mama.
"Dav, sabar dong. Mana jiwa ksatriamu sebagai prajurit? Masa prajurit cemen seperti ini. Ayo, bangkitlah, masih banyak perempuan lain yang bisa kamu pilih dan dijadikan bagian hidupmu," bujuk Danis lagi berharap Davis tidak sedih lagi.
"Sudahlah, Bang, tidak perlu membujuk aku lagi. Abang juga sama tidak mendukung keinginanku." Davis sedikit meradang saat Danis baru saja menghiburnya. Ternyata susah juga menghibur orang yang patah hati karena cinta. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Baiklah, pesan terakhir dariku untukmu. Tetaplah sayangi Silva. Jaga dia dengan baik. Aku tidak mau melihat atau mendengar dia diapa-apain sama kamu. Kalau kamu memang benar cinta, rubahlah cara mencintaimu dengan perhatian yang tulus," pungkas Danis terdengar dewasa dan bijaksana.
Tapi bagi Davis yang saat ini jiwanya sedang tidak stabil, ucapan bijak seperti apapun, tidak membuatnya bisa meredam sakit hati atau patah hati dalam dirinya.
Danis pergi dari kamar Davis, dia berharap apa yang diucapkannya barusan bisa diterima oleh nuraninya.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu Dav. Aku juga pernah merasakannya. Semoga kamu bisa cepat move on dari Silva," batin Danis prihatin dengan keadaan Davis saat ini.
Besoknya, tiba-tiba pagi sekali Danis mendapatkan telpon dari Sintia, bahwa Sintia sudah ada tanda-tanda melahirkan.
"Apa, kamu sudah kontraksi, Sayang?" Terdengar kalimat Danis di telpon.
"Ok, ok. Tunggu aku, ya. Aku akan segera datang. Aku hari ini ijin sekaligus minta cuti beberapa hari." Danis segera menutup panggilan dari Sintia, dia terlihat tergesa.
"Dan, kenapa? Tia sudah mau melahirkan?" Mama Verli bertanya.
"Iya, Ma. Danis harus segera ke kantor mengurus surat ijin cuti. Danis pergi dulu, ya," ucap Danis sambil berpamitan sama sang mama.
"Lalu, kapan mama bisa menyusul kamu?"
"Mama nanti saja kalau bayinya sudah lahir. Nanti, Danis kasih kabar lagi, ya," ucap Danis seraya beranjak menuju tangga. Mama Verli setuju.
Danis, terburu-buru menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamarnya, melengkapi dandanannya. Setelah itu ia segera bergegas menuju kamar Davis sang adik.
Di depan pintu kamar, Davis kebetulan baru saja keluar dengan seragam lorengnya.
"Dav, hari ini aku harus pulang dulu ke kampungnya Sintia, Sintia akan melahirkan. Kamu baik-baik di sini, jangan sedih-sedih lagi. Ingat pesanku, jaga dan berikan perhatian yang tulus untuk Silva. Aku yakin perasaan cinta itu perlahan-lahan akan muncul dalam diri Silva. Percaya sama aku," ucap Danis memberi keyakinan sembari memeluk sang adik yang akhir-akhir ini wajahnya selalu muram.
"Selamat, ya, Bang. Salam buat Mbak Sintia, semoga bayi dan mamanya selamat sehat dan lancar proses lahirannya," balas Davis memberikan doa untuk istri dan bayi Danis yang akan baru lahir ke dunia.
"Ok. Aku pamit, ya. Ingat pesan aku. Jaga dan beri perhatian yang tulus untuk Silva," pesannya sebelum Danis benar-benar pergi.
akhirnya direstui juga...
nunggu Davis tantrum dulu ya ma
berhasil ya Davis 😆😆😆👍👍