NovelToon NovelToon
Sahara Penghuni Rumah Angker Bagaskara

Sahara Penghuni Rumah Angker Bagaskara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Poligami / Spiritual / Rumahhantu / Matabatin
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ridwan01

Bintang yang mengalami kebangkrutan terpaksa harus menjual semua asetnya dan juga pindah dari kota tempat dia tinggal
beruntung dia masih punya warisan sebuah rumah dari sang Kakek Bagaskara
Tapi rumah itu tidak berani di dekati penduduk karena terkenal Angker dan tidak bisa di masuki siapapun kecuali oleh sang pemilik
mampukah Bintang dan keluarganya bertahan disana? dengan banyak gangguan dan juga musuh sang kakek yang mengincarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam pertama di datangi babi ngepet

Dimas masuk ke dalam kamarnya, karena sang mama dan bi Sumi sedang memasak bersama Bu RT, bahan masakan memang mereka beli di jalan, saat di perjalanan begitu mereka berhenti sejenak untuk beristirahat

Krieett

Dimas sedikit terkejut saat membuka lemari jati yang ada di kamarnya, lemari itu terlihat sangat bagus dan masih baru padahal Usinya sudah puluhan tahun, itu yang di katakan Bintang padanya saat membersihkan kamar

"Ini kotak apa ya?" Gumam Dimas saat melihat sebuah kotak di dalam laci lemari itu, dia sudah memasukkan semua pakaiannya ke dalam lemari

"Ko seperti kotak perhiasan" gumamnya lagi

"Di kunci, kira kira kuncinya di mana ya?"

Trak

Suara bernada terjatuh dari atas lemari dan sempat mengenai kepala Dimas hingga sedikit berdarah

"Aws... Itu kan kunci, apa mungkin kunci kotak ini"

Dimas mengambil kunci itu, dia tidak sadar di ujung kunci itu ada darah miliknya dan dia Langsung memasukkan kunci itu tanpa membersihkan darahnya terlebih dahulu

Ceklek

Kotak itu sudah di buka dan terdapat sebuah cincin bertuliskan Sahara di dalam cincin berwarna silver itu

"Ini emas atu perak ya? Boleh di pakai nggak ya?"

"Nanti saja tanya papa kalau sedang senggang" ucap Dimas memasukkan kembali cincin itu dan menyimpan kotaknya ke dalam laci, dia juga mengusap kepalanya yang berdarah tapi tidak terasa sakit

Dia ambil plester dan menempelkan itu pada lukanya

"Anak jujur" suara seorang perempuan terdengar samar di telinga Dimas

"Dimas, makanan sudah siap" panggil Silvia dari arah bawah

"Iya ma, sebentar Dimas turun" jawab Dimas dan langsung keluar dari kamarnya

"Kamu kenapa lama?" Tanya Bintang

"Dimas sekalian beresin pakaian Dimas pa, supaya pas besok kasurnya sudah di jemur, Dimas nggak cape lagi" jawab Dimas

"Kalau pak Bintang masih kurang nyaman disini, kalian bisa tidur di rumah saya" ucap Karman

"Tidak perlu pak, kami sudah sangat merepotkan, lagipula disini sudah bersih, nanti kami akan gelar kasur lantai untuk sementara sampai semua Kasur dan juga kamar disini benar benar bersih" jawab Bintang

"Oh sampai lupa, ini anak saya namanya Galang" ucap Karman

"Halo Galang, namaku Dimas" ucap Dimas menjabat tangan Galang

"Kalian sepertinya satu sekolah dan satu kelas" ucap Karman

"Galang kelas berapa?" Tanya Silvia tersenyum lembut

"Saya kelas sepuluh Tante" jawab Galang sopan

"Sama, aku juga kelas sepuluh, kita berangkat sekolah bareng ya nanti, sekolah Dimas sama dengan Galang kan pa?" Tanya Dimas yang memang gampang akrab dengan siapapun

"Iya, sekolah kalian juga sama" jawab Bintang

"Galang tidak usah malu, Dimas ini memang seperti ini, dia mudah akrab dengan siapa saja" ucap Silvia

"Iya Tante, saya malah senang, soalnya saya sedikit pemalu" jawab Galang

Mereka makan dengan tenang dan setelah selesai, keluarga Karman pamit pulang

"Bi biar Dimas yang cuci piring, bi Sumi istirahat saja kasihan sejak tadi lelah bersih bersih

"Nggak usah den, biar bibi saja, ini kan memang tugasnya bibi" jawab Sumi

"Nggak, bibi duduk saja bersama mama dan papa" balas Dimas

"Baiklah, tapi kalau cape nanti bibi bantu kesini ya" jawab Sumi dan Dimas mengangguk

Saat Dimas mulai mencuci piring, dia merasa ada seseorang yang mengawasinya dari belakang, dia pikir Sumi masih disana dan menemaninya di dapur

"Dimas bukan anak kecil bi, bibi nggak perlu tungguin Dimas disini, Dimas berani ko" ungkap Dimas terkekeh

Tap tap tap

Suara derap langkah menjauh dari arah belakang Dimas

"Alhamdulillah.. selesai juga akhirnya" ucap Dimas

"Wah, sudah di gelar saja nih kasur lantainya" ucap Dimas Langsung merebahkan badannya di samping Bintang

"Rasanya badan papa sakit semua, belum besok kita masih harus bersih bersih luar dan menjemur kasur kasur di kamar" ungkap Bintang

"Untung kita sempat minta bantuan pak RT untuk mengurus pembayaran listrik sebelum datang kemari kemarin, kalau tidak, mungkin saat ini kita juga gelap gelapan" ucap Bintang

"Iya tadinya mama pikir, rumah ini seperti vila vila di puncak yang di urus seseorang, tapi ternyata benar benar rumah kosong tak berpenghuni" jawab Silvia

"Tapi non, ko barang barang disini aman ya, padahal barang barang di dalam rumah ini antik antik loh, lemari di kamar saya juga dari kayu jati, belum itu guci guci yang sepertinya dari jaman Belanda" ucap Sumi

"Kan warga disini nggak ada yang berani masuk bi" jawab Silvia

"Segitu takutnya ma, sampai mereka nggak berani mengambil rumput di tanah milik Kakek" ungkap bintang

"Oh iya ma, besok kan akan ada yang merenovasi rumah dan halaman depan, sebaiknya kunci pintu kamar kita dan jangan sampai ada yang masuk ma" ucap Bintang

"Kenapa memangnya pa? kan kita hanya tinggal berempat disini" tanya Silvia

"Entahlah ma, papa merasa barang berharga kita harus kita jaga baik baik, termasuk Dimas dan bi Sumi juga, perasaan papa, di kampung ini masih kental dengan dunia mistis" jawab Bintang yang sejak mendapat bisikan itu perasaannya jadi lebih peka dan sensitif

"Kami akan jaga baik baik barang berharga kami den" jawab Sumi

"Bibi dari mana tadi? Pas Dimas selesai cuci piring?" Tanya Dimas

"Dari kamar, membereskan pakaian bibi den, kan tadi Aden yang cuci piringnya, jadi bibi beresin baju bibi saja" jawab Sumi

"Terus yang awasin Dimas di dapur siapa ya?" Gumam Dimas

"Kenapa?" Tanya Bintang

"Nggak pa, kadang Dimas merasa ada yang awasi Dimas tapi mungkin hanya perasaan Dimas saja" jawab Dimas gugup

"Ayo semuanya sebaiknya kita tidur, supaya besok tidak mengantuk" ucap Bintang memejamkan matanya begitupun yang lain

Mereka tidak sadar, sejak mereka masuk ada sosok yang terus mengawasi mereka terutama Bintang yang menyebut dirinya sebagai pemilik rumah itu

"Cah bagus, akhirnya kau pulang juga, aku sudah tunggu kamu sejak lama, akan aku jaga kalian setelah tuan Bagaskara meninggal" bisik sosok itu di telinga Bintang yang masih sedikit sadar hingga dia benar benar tertidur pulas

Brak brak brak

"Astagfirullah.. apa itu" gumam Sumi saat sesuatu memaksa masuk ke dalam rumah dan membuatnya terbangun

Ngok ngok ngok

"Astagfirullah.. babi ngepet!" Teriak Sumi dan semuanya terbangun karena terkejut

"Apa bi! Babi ngepet? Mana?" Tanya Bintang

"Itu den, dia di bawah meja dekat Sofa" jawab Sumi

"Dimas, ambil garam Yang ada di dalam lemari penyimpanan di dapur, dan tongkat kayu yang ada di peti di bawah kompor" perintah Bintang menatap Babi itu tanpa takut

"Ini pa" ucap Dimas Langsung bersembunyi bersama Silvia dan Sumi

"Bismillahirrahmanirrahim"

Prak prak prak

Tongkat kayu itu di pukulkan Bintang bersamaan dengan garam yang dia lempar ke babi tersebut

Boom... Brugh ggrrrrrr

Suara ledakan dan juga Babi itu yang terlihat terlempar ke sudut rumah Bintang, ringisan terdengar setelah babi itu pergi menembus pintu rumah Bintang dengan punggungnya yang terluka

"Alhamdulillah" ungkap Bintang mengusap tongkat kayu itu dan menutup kembali garam yang tersimpan di dalam kotak jati

"Papa nggak apa apa kan?" Tanya Silvia

"Nggak apa apa ma, kalian istirahat lagi saja, papa harus bersih bersih dulu" jawab Bintang pergi dari sana menuju kamarnya

Sebelum pindah kesana hal pertama yang di urus Bintang adalah listrik dan juga air, beruntung rumah itu terdapat sumur yang airnya jernih juga tak pernah surut, hingga tidak menyulitkan Karman waktu memasang mesin Air dan juga menyambungkan pipa saluran Air yang sudah tersedia di rumah itu

"Ma Dimas seumur hidup baru kali ini lihat penampakan babi ngepet" ungkap Dimas Shok dengan wajah pucat

"Mama juga sama Dimas, bi, gimana bibi tahu itu babi ngepet?" Tanya Silvia

"Bibi lihat babi itu nembus pintu non, dan juga terus mengendus endus di sekitar tangga" jawab Sumi juga masih pucat

"Tapi papa hebat banget ma, bi, bisa usir babi itu pakai tongkat saja" ungkap Dimas dan Silvia baru menyadarinya, sejak datang kesini dia bisa melihat suaminya itu jadi berbeda dan tahu letak barang barang yang sebelumnya dia tidak tahu

"Itu tongkat siapa ya bi?" Tanya Silvia

"Tongkat itu sudah ada di bawah meja kompor sejak saya bersih bersih tadi nyonya, saya tidak berani memindahkannya soalnya itu bukan milik saya" jawab Sumi

"Apa mas Bintang tahu tentang tongkat itu dan letaknya juga?" Tanya Silvia dan Sumi menggelengkan kepalanya

Di kamar

"Kenapa aku tiba tiba bisa tahu tata letak semua barang lama di rumah ini ya" gumam Bintang saat dia selesai mandi

Bersambung

1
Antoni Indri
lagi seru2 nya eh tubi kontinyu
Ridwan01: sudah ada kak episode barunya, masih di review
total 1 replies
Antoni Indri
keren..lanjut ampe tamat
Antoni Indri
Sepi
padahal ceritanya bagus.
gw demen.
lancar ampe tamat ye
Ridwan01: terima kasih kak 🙏☺️
total 1 replies
Chindy Natasya
lanjut thorrr
Chindy Natasya
hayuuuk lanjut update thorr
Ridwan01: siap kak terima kasih
Ridwan01: siap kak terima kasih 🙏☺️
total 2 replies
Ridwan01
terima kasih sudah mampir 🙏☺️
TheNihilist
Gak bisa dijelaskan dengan kata-kata betapa keren penulisan cerita ini, continue the good work!
Ridwan01: terima kasih kak 🙏☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!