Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Ta, jangan ketawa terus, dong! Kalau begini terus, bisa-bisa aku nggak jadi balas dendam ke keluarga Wirawan dan malah terpaku sama Patkai!" keluh Eka pada Ita.
Setelah terus-menerus digoda, Eka akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari perusahaan Kai. Ia harus menyelamatkan jantungnya yang rasanya hampir meledak setiap kali berdekatan dengan lelaki itu—apalagi saat Kai menyentuhnya. Tapi bukannya mendapat saran dari sahabatnya, yang ia dapat justru tawa keras seolah Ita menikmati penderitaannya. Sungguh keterlaluan, bukan?
"Gak gitu, Ka. Aku yakin kamu sendiri udah terjebak sama perasaanmu," sahut Ita, masih tersenyum jahil. "Lagian, siapa sih yang bisa nolak pesona Pak Kai? Selain wajahnya yang dingin dan datar, semuanya dapat nilai sepuluh!"
Saat itu, mereka tengah berjalan berdampingan di dalam mall. Eka menghela napas sebelum menarik lengan Ita, mengajaknya masuk ke sebuah toko.
"Kita masuk sini dulu," ujar Eka, lalu menambahkan dengan nada gelisah, "Jadi… apa aku salah strategi? Mana setelah ini kita mau pulang kampung dan ketemu bapakku lagi."
"Hah? D-dia setuju ketemu bapakmu?" Ita nyaris tersedak.
"Setuju." Eka menghela napas, lalu menatap Ita dengan ekspresi sulit dijelaskan. "Kamu tahu nggak dia bilang apa setelah sukses bikin aku nggak karuan?"
Ita menggeleng, masih menatap penasaran.
Eka menarik napas panjang sebelum menirukan suara Kai, “Aku akan ikut, karena aku ingin melihat wajah bapakmu ketika mengetahui putrinya bukan hanya membangkang… tapi juga sudah memilih pria lain.”
Ita terdiam sejenak, lalu… pecah dalam tawa keras.
"Ta!" Eka mendelik kesal, tapi Ita justru semakin terpingkal.
"Ya ampun, Ka! Itu so like him!" Ita masih terkikik. "Bahkan di situasi kayak gini, dia tetap sombong banget!"
Eka mendengus, frustrasi sendiri. Kalau sudah begini, siapa yang lebih berbahaya—Kai atau dirinya sendiri yang mulai goyah?
Ia mengalihkan perhatian dengan melirik satu baju di rak. Saat tangannya hendak mengambilnya, tiba-tiba tangan lain menyerobot lebih dulu.
"Aku suka ini!"
Eka menoleh, terkejut mendapati sosok yang belum ingin ia temui lagi—Rina. Mantan adik iparnya itu masih sama seperti dulu, mendominasi dan penuh percaya diri. Ita yang melihat kejadian itu langsung maju, menatap Rina dengan tidak terima.
"Hai, apa kamu nggak punya sopan santun?" tegur Ita, mendorong tubuh Rina sedikit.
Rina mendengus, menatap Ita dengan tatapan meremehkan. "Siapa kamu? Berani sekali mendorongku! Apa kamu nggak tahu siapa aku?"
"Aku nggak peduli siapa kamu! Tapi dari sikapmu, kelihatan banget kalau kamu cuma anak ingusan tanpa didikan orang tua! Yatim piatu, ya?" tandas Ita tajam.
Rina membelalak, wajahnya berubah merah. Meski ayahnya sudah tiada, ia masih memiliki seorang ibu. Merasa dihina, ia langsung mendorong Ita dengan sekuat tenaga.
Ita terhuyung ke belakang, hampir jatuh—tapi Eka sigap menangkapnya tepat waktu.
Eka menahan Ita agar tidak jatuh, lalu dengan sigap membantunya berdiri tegak. Ita mengusap lengannya yang terasa sakit akibat dorongan tadi, sementara Rina menatap mereka dengan tatapan puas.
"Jangan seenaknya main dorong, Rina," suara Eka terdengar dingin.
Rina menyilangkan tangan di dada, menatapnya penuh rasa menang. "Kenapa? Cuma itu balasan buat mulut kurang ajar temanmu."
Ita hendak maju lagi, tapi Eka lebih dulu menahannya. Mata Eka kini menatap Rina dengan tajam. "Dulu aku masih bisa bersikap sabar karena aku pikir kamu hanya keras kepala. Tapi ternyata kamu memang tidak pernah berubah, ya? Masih menyebalkan seperti dulu."
Rina tertawa kecil, jelas menikmati konfrontasi ini. "Dan kamu masih sama seperti dulu—terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya lemah di dalam."
Eka mengepalkan tangan, mencoba mengendalikan emosinya. Ia tidak mau terpancing lebih jauh. "Terserah kamu mau berpikir apa. Aku nggak tertarik berdebat sama orang yang masih hidup di masa lalu."
Rina mendengus. "Lucu sekali. Padahal kamu yang dulu tergila-gila pada keluargaku. Sekarang pura-pura tidak tertarik?"
Ita, yang sedari tadi sudah kesal, akhirnya angkat suara. "Dengar, ya, anak yatim piatu. Masa lalu sudah lewat. Kalau kamu masih mau hidup dengan ilusi lamamu, silakan. Tapi jangan seret Eka ke dalamnya."
Rina menyipitkan mata ingin memberikan pukulan keras pada Ita, tapi melihat Eka yang pasang badan ia langsung membalas. "Jangan khawatir, aku juga tidak tertarik berurusan dengan mantan keluarga. Aku hanya mengambil apa yang aku mau," katanya sambil menggoyangkan baju yang tadi direbutnya dari Eka.
Eka menatapnya sejenak, lalu menghela napas. "Ambil saja. Aku nggak akan berebut barang dengan orang yang suka main serobot."
Rina mengangkat dagu, tersenyum penuh kemenangan, lalu berbalik meninggalkan mereka.
"Ka, kok kamu ngalah gitu aja sih? Aku yang emosi," ucap Ita, tidak terima, apalagi saat ini Eka justru tersenyum santai.
"Berebut boleh, tapi apa dia sanggup bayar?" kata Eka tenang.
"Maksudmu?" Ita mengernyit, tak mengerti.
"Harga pakaian itu hampir dua puluh juta. Setahuku, uang jajan dia nggak sampai segitu. Apalagi sekarang, perusahaan kakaknya lagi pailit," jelas Eka.
"Du… dua puluh juta?" Ita terbelalak. Baru sekarang ia sadar mereka sedang berada di butik brand terkenal.
"Aku tadi cuma asal masuk, numpang ngadem sekalian lihat-lihat baju orang kaya. Tapi siapa sangka, malah ada yang ngikutin dan berebut baju."
Ita masih melongo. Pandangannya berpindah dari Eka ke arah Rina yang semakin menjauh. "Jadi… maksudmu, dia barusan ngambil baju seharga dua puluh juta tanpa tahu harganya?"
Eka mengangguk santai. "Setahuku, uang jajannya nggak sampai segitu. Dan dengan kondisi perusahaan kakaknya sekarang, aku ragu dia masih bisa belanja bebas kayak dulu."
Ita terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa. "Ya ampun, Ka. Jadi kita tinggal tunggu aja sampai dia sadar kalau nggak mampu bayar? Ini lebih seru dari balas dendam!"
Eka ikut tersenyum kecil, lalu mengangkat bahu. "Bukan urusanku. Kalau dia cukup nekat, mungkin dia bakal nyuruh orang lain bayarin."
Belum sempat mereka beranjak, tiba-tiba terdengar suara ribut di dekat kasir. Ita dan Eka secara refleks menoleh dan menemukan Rina berdiri dengan ekspresi kaku, sementara pegawai toko dengan ramah menanyakan apakah ia ingin membayar dengan kartu atau tunai.
"Kita lihat sebentar?" bisik Ita dengan mata berbinar.
Eka menghela napas, tapi ikut mendekat. Dari jarak aman, mereka melihat Rina mengeluarkan kartu kreditnya dengan angkuh, lalu menyerahkannya kepada pegawai toko. Pegawai itu menerimanya dengan sopan, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah canggung.
"Maaf, Mbak. Kartu ini ditolak," ucapnya dengan nada hati-hati.
Wajah Rina langsung tegang. "Coba lagi," katanya ketus.
Pegawai itu menurut, namun hasilnya tetap sama. "Maaf, masih tidak bisa. Mungkin ada kartu lain yang bisa digunakan?"
Eka menahan tawa, sementara Ita hampir saja bersorak kalau saja Eka tidak menutup mulutnya.
"Aku... Aku akan bayar tunai!" Rina akhirnya berkata dengan suara kaku. Ia buru-buru merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, namun jumlahnya jelas tidak cukup.
"Mbak, totalnya masih kurang," ujar pegawai itu sopan.
Wajah Rina semakin memerah. Beberapa pengunjung mulai melirik, membuatnya semakin gelisah.
Ita mencondongkan tubuh ke arah Eka dan berbisik, "Harusnya kita rekam ini. Momen langka!"
Eka menahan tawa. "Jangan cari masalah," bisiknya kembali.
Rina tampak semakin frustrasi, lalu menoleh ke sekeliling, seakan berharap menemukan seseorang yang bisa menolongnya. Saat itulah pandangannya bertemu dengan Eka.
Eka tersenyum tipis, lalu dengan santai berjalan mendekat. "Ada masalah, Rina?" tanyanya dengan nada lembut, namun jelas penuh sindiran.
Rina menggertakkan gigi. "Kamu..."
Eka melirik baju di tangan pegawai toko. "Sepertinya kamu nggak perlu ambil barang yang di luar kemampuanmu."
"Udah yatim piatu, sombong gak bisa berkaca ya gini jadinya," sindir Ita dengan nada pedas.
Rina mengepalkan tangan, lalu dengan kasar meraih tasnya. "Tunggu pembalasanku," geramnya sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan baju yang tadi ia rebut dengan sombong.
Begitu Rina benar-benar menghilang, Ita akhirnya tertawa lepas. "Astaga! Itu karma tercepat yang pernah aku lihat!"
Eka menghela napas, lalu menoleh ke pegawai toko. "Bajunya masih ada, kan? Tolong bungkus untuk saya saja."
Ita melongo. "Loh? Kamu serius beli?"
Eka mengangguk santai, lalu mengeluarkan kartu kredit tanpa batas. Rina, yang ternyata belum benar-benar pergi, melihatnya dari kejauhan. Tubuhnya menegang, matanya membelalak. "Tidak... itu tidak mungkin. Jangan-jangan... kartu itu?!"