Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10. Menemukan Lokasi
Deril dan Deril melangkah masuk kedalam halaman rumah yang ditunjuk oleh anak buahnya.
Rumah itu terlihat sepi, seperti tidak ada orang dirumah itu, tapi Rendi dan Ariel tetap mengetuk pintu rumah itu dan memberi salam dengan sopan.
Deril dan Re sadar kalau bertamu kerumah orang harus sopan. "Assalamualaikum, apa ada orang didalam?" Re terus mengetuk dan memanggil yang punya rumah.
Hingga beberapa menit tidak ada sahutan dari dalam rumah. "Mungkin tidak ada orang didalam." Ujar Deril karena melihat rumah nampak begitu sepi.
Re mengangguk, dan berkata. "Terus bagaimana, apa kita pulang?" tanya Re sedikit kecewa.
Kedua lelaki tampan itu hendak keluar dari halaman rumah itu, tanpa disangka sebuah motor butut masuk kedalam halaman rumah itu.
Setelah memarkirkan motor bututnya, lelaki paruh baya itu menghampiri Re dan Deril yang sudah berhenti melangkah karena melihat lelaki paruh baya masuk kedalam halaman bersama motor bututnya.
"Kalian sedang apa disini?" tanya lelaki paruh baya itu pada Re dan Deril sambil matanya menelisik dari ujung kepala sampai ujuk kaki Re dan Deril.
"Kami ingin bertemu pemilik rumah ini, apa Bapak pemiliknya?" tanya Re pada lelaki itu.
"Ada perlu apa kalian dengan pemilik rumah ini?" tanya lelaki itu lagi tidak memberitahu terlebih dahulu siapa pemilik rumah dihadapan mereka, karena melihat Re dan Deril sepertinya bukan orang sembarangan.
"Kami ingin bertanya sesuatu, tapi didalam tidak ada orang." Jawab Re lagi, sedangkan Deril hanya diam saja mendengarkan percakapan Re dengan lelaki paruh baya didepannya ini.
"Aku pemilik rumah ini, apa yang ingin kalian tanyakan?" akhirnya lelaki paruh baya itu mengakui dirinya adalah pemilik rumah yang mereka datangi karena melihat keduanya sangat sopan dalam berbicara.
Deril dan Re saling pandang ternyata benar yang ada dalam benak mereka kalau lelaki paruh baya didepannya sekarang adalah pemilik rumah yang mereka berdua datangi.
"Begini Pak, sebenarnya kami kesini ingin menanyakan tentang motor gede yang pernah Bapak lihat beberapa hari yang lalu." Re mencoba menjelaskan maksud kedatangannya.
Lelaki paruh baya itu mengangguk mengerti, kemudian lelaki itu mengajak Deril dan Re duduk di bangku dihalaman rumahnya.
"Kenapa Klain ingin tau tentang itu?" tanya lelaki tua itu saat ketiganya sudah duduk.
"Begini Pak, beberapa hari yang lalu Adik kami tidak pulang kerumah dan tidak ada kabar, kami sudah mencarinya kemana-mana, namun nihil,kamu tidak menemukannya." Re menceritakan semua yng terjadi.
"Kami dengar malam itu dia balapan, dan motor Adik kami itu, motor gede, dan menurut orang kami bilang Bapak pernah melihat motor itu dan juga pengendara motor itu." Sambung Deril menjelaskan.
Lelaki tua itu mengangguk mengerti, kemudian dia mulai menceritakan sesuai yang dia lihat.
"Itu memang benar, tapi aku hanya melihat saja mereka berlalu."
"Apa Bapak bisa menceritakan lebih rinci, dan maksud Bapak mereka, apakah yang Bapak lihat bukan Adik kami saja?" tanya Re lagi karena lelaki itu mengatakan mereka yang artinya banyak bukan hanya Ariel seorang.
"Waktu itu aku pulang dari rumah temanku, saat aku hampir tiba disini, kemudian ada suara sepeda motor, aku berhenti ditepi jalan karena suara motor itu berlalu sepertinya sangat kencang." Lelaki itu jeda sesaat, setelah itu mulai bercerita lagi.
"Ternyata benar, motor itu berlalu sangat kencang, motor yang didepan dikendarai oleh seorang saja, sedangkan motor dibelakang dikendarai oleh dua orang, sepertinya mereka saling kejar-kejaran, untuk orangnya aku tidak bisa memastikan mereka anak muda atau bukan." Begitu cerita lelaki itu sesuai dengan yang dia lihat.
"Yang Bapak lihat kemana arah motor itu, kemana jalan ini tembus." Tanya Re lagi.
"Kalian gimana sih, ya tentu kedepan, dan jalan ini hanya Samapi dikebun sawit saja." Jawab Bapak itu lagi.
"Tadi Bapak bilang jalan itu buntu, hanya sampai dikebun sawit, apa setelah itu Bapak tidak melihat kalau kedua motor itu balik atau gimana." Timpal Deril yang sejak tadi menyimak.
Bapak itu menggeleng, dia tidak melihat motor itu balik, mungkin saat motor itu balik Bapak itu sudah tertidur.
"Aku tidak melihat lagi, mungkin juga waktu itu aku sudah tertidur, tapi keesokan pagi itu, ada yang melihat ditikungan ada seperti body motor pecah dan pagar pembatas juga rusak, orang disini menduga kalau kerusakan pagar ada motor yang menabrak pagar itu." Lanjut cerita Bapak itu.
Deril dan Re saling pandang, sepertinya keduanya punya dugaan yang sama.
"Kalau begitu terimakasih Pak, kami pamit dulu, kami ingin melihat ditikungan itu, mungkin saja ada titik terang tentang Adik kami." Bapak itu mengangguk, dan mempersilahkan Deril dan Re pergi.
Deril juga mengeluarkan sedikit uang untuk Bapak itu atas informasi yang dia berikan.
"Bapak, ini ada sedikit hadiah dari kami, mohon diterima." Deril menggenggam kan sedikit uang ditangan Bapak itu.
Deril dan Re tiba ditikungan yang dimaksud oleh lelaki paruh baya tadi, Re dan Deril dapat memastikan kalau tikungan ini benar seperti yang dikatakan oleh lelaki paruh baya itu karena ada pagar yang rusak.
Keduanya turun dari mobil, Deril melihat ada beberapa keping body motor disana, dan Deril dapat memastikan kalau kepingan body itu benar milik Ariel.
Deril ingat betul seperti apa warna motor Adiknya itu, karena Deril juga pernah memakai motor itu.
"Re, ini tidak salah lagi, coba lihat, ini beneran warna motor Ariel." Deril memberikan kepingan body itu pada Re.
"Iya benar, tapi kemana Ariel, apa yang terjadi dengannya?" tanya Re tapi tidak ada jawaban.
Re dan Deril juga melihat kesungai, namun tidak ada jejak apapun yang dapat mereka temukan disana.
Re dan Deril melanjutkan pencarian, keduanya menyusuri jalan itu hingga sampai diujung jalan, dan benar seperti yang dikatakan oleh lelaki itu kalau jalan ini hanya sampai dikebun sawit.
Re dan Deril banyak menghabiskan waktu disana, mereka mencari kesemua tempat yang dekat dengan lokasi kejadian.
Mereka tidak lelah mencari hingga ke seluruh kebun sawit itu, namun tetap nihil, Ariel seakan hilang ditelan bumi.
Karena hari sudah hampir gelap, kedua pemuda tampan itu memutuskan kembali kerumah dengan harapan yang hampa.
Diperjalanan pulang keduanya banyak mengobrol tidak Lian yaitu tentang Ariel sehingga mereka menemukan kejanggalan.
"Tadi disana, hanya ada kepingan body motor Ariel, apa kamu tidak Merakan kejanggalan?" tanya Deril pada Re yang sedang mengemudi.
Re segera menghentikan mobilnya ditepi jalan, kemudian menatap Deril yang menanyakan tentang kejanggalan.
"Benar, sedangkan tadi Bapak itu bilang, dia melihat ada dua motor, berarti motor yang satunya kemana, jangan-jangan--" keduanya menghentikan percakapan dan saling mengangguk.
"Sudah pasti ada yang mengejar Ariel dan--" keduanya menutup mulut dan menggeleng.
Bersambung.
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..