Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Dua Puluh Tiga
Malam menjelang di kediaman Hana yang masih nampak ramai oleh gelak tawa Ryan yang sedang bercanda dengan baby Aksa.
Seperti tak lelah saat ia bermain dengan Aksa. Hana hanya tersenyum melihat interksi keduanya. Andai itu Rico ayah kandung kamu nak, pasti kamu akan lebih bahagia lagi, batin Hana. Buru-buru Hana mengenyahkan pikirannya tentang Rico.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Aksa juga sudah mulai mengantuk. Sudah beberapa kali ia menguap dan mengusap matanya. Ryan menggendongnya menghampiri Hana.
"Dia ngantuk kayanya." ujar Ryan yang melihat Aksa tak sesemangat tadi.
"Sini, biar aku boboin dulu."
Ryan menyerahkan Aksa pada Hana. Memang benar kalau Aksa sudah mengantuk, matanya saja sudah sayu.
"Aku ke kamar Aksa dulu. Kalau kamu belum makan, di meja sudah aku siapkan. Dan jangan pulang dulu, ada yang mau aku omongin." ucap Hana sebelum berlalu menuju kamar Aksa.
"Baiklah." jawab Ryan.
Saat Hana menidurkan Aksa, Ryan memilih makan. Ia tiba-tiba saja merasa lapar melihat perhatian Hana untuknya.
"Gini yah rasanya kalau sudah punya istri. Makan di siapin. Apa-apa di siapin!" Ryan bermonolog sendiri. Ia mulai menikmati makanan yang di masak Hana. Menurutnya apa pun yang di masak Hana semuanya terasa enak.
Saat selesai, Ryan menuju ruang tengah. Di sana sudah ada Hana duduk menonton televisi. Ryan mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Hana.
"Masakan kamu enak. Maksih yah." puji Ryan untuk hidangan malam ini.
"Itukan makanan juga sudah sering aku masak."
"He he he. Tapi tetap enak. Kamu mau ngomong apa? Nggak mau minta pulangkan?" todong Ryan. Ia jelas akan menolak jika Hana ingin pulang. Ia sudah merasa nyaman dengan kehadiran Hana dan Aksa.
Hana mengulas senyum di bibirnya mendengar pernyataan Ryan. "Enggak kok!"
Ryan menghembus napas lega "Syukur lah. Terus apa?"
"Aku mau kerja! Jujur saja aku merasa tidak enak dengan kamu. Kamu sudah banyak membantu ku. Setidaknya dengan bekerja aku bisa mengurang ketergantungan hidup kami berdua dengan mu." jelas Hana mengutarakan maksudnya.
Ada raut kecewa di wajah Ryan mendengar penuturan Hana. Ia tatap lekat-lekat wajah perempuan yang sudah mampu menggetarkan hatinya itu. Ia menarik napasnya dalam.
"Kenapa? Apa kamu keberatan?"
"Bukan seperti itu. Aku benar-benar tidak enak hati terlalu banyak merepotkan kamu, Yan."
"Baiklah. Tapi tunggu Aksa satu tahun lebih. Supaya kamu lebih enak ninggalin dia kerja nanti dengan pengasuhnya."
"Baiklah, terima kasih Yan. Aku benar-benar berterima kasih banyak atas semua bantuan kamu. Aku nggak tau harus membayarnya kaya gimana."
"Bayar aku dengan mengurus ku seumur hidup kamu." ucap Ryan dengan wajah serius
Hana sontak terkejut mendengar penuturan Ryan.
Ryan menggenggam tangan Hana "Menikahlah dengan ku Hana. Aku akan menjadi ayah yang baik untuk Aksa. Aku akan menjadi suami yang membanggakan untuk mu."
Hana menunduk sedih. Jujur saja, ia tidak memiliki perasaan khusus untuk Ryan. Dan yang utama ia masih merasa trauma. Ia takut akan di perlakukan seperti Rico memperlakukannya dulu.
"Yan, kamu orang baik. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik. Bukan orang seperti aku. Aku perempuan yang sudah punya anak. Pernah menikah juga."
"Aku tau dan aku tidak mempermasalahkan itu. Aku menyayangi kalian berdua. Aku tulus Hana. Aku tau mungkin masih ada trauma di hati kamu. Ijinkan aku menggantinya dengan kebahagiaan."
Hana tak kuasa menahan laju air matanya. Ia menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan aku. Berikan aku waktu. Kamu benar rasa trauma itu masih ada. Tidak mudah menjalani hidup sampai saat ini. Bahkan waktu aku tau kalau aku mengandung Aksa, aku hampir putus asa." ucap Hana sedih. Masih segar di ingatannya bagaiman Rico memperlakukannya malam itu hingga ia hamil.
"Jangan bersedih. Aku akan menunggu sampai kamu membuka hati untuk ku." ujar Ryan penuh keyakinan.
Jujur saja Hana merasa tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi. Ryan orang yang teguh akan pendiriannya.
"Terima kasih, Yan." balas Hana dengan senyum manisnya untuk menutup kegundahan di hatinya.
"Sekarang tidur lah. Aku akan pulang dulu."
"Kamu nggak menginap?" tawar Hana.
"Hmmm besok saja. Besok weekend aku mau ajak kalian berdua jalan-jalan."
"Baik lah."
Hana mengantar Ryan sampai depan rumah.
"Jangan main game lagi. Langsung istirahat saja!" pesan Hana.
Ryan menyunggingkan senyumnya "Baik nyonya Narendra!" Ryan membungkukkan badannya memberi hormat di iringi dengan gelak tawanya.
"Masuk sana." perintah Ryan yang langsung di angguki oleh Hana. Setelah meyakinkan Hana masuk dan mengunci pintu rumah dengan benar, barulah Ryan beranjak dari sana.
Flash back off.
"Jadi waktu itu dia juga nggak tau kalau hamil?" tanya Rico.
"Iya. Setelah 3 bulan usia kandungannya baru ia menyadarinya."
Rico mengehela nafasnya berat. Ia menyadari ini semua salahnya. Andai waktu itu ia tidak egois dengan pernikahan mereka, mencoba mempertahankannya. Andai waktu itu ia bisa menahan pengaruh obat malam itu, mungkin tak akan terjadi kesalahan yang ia perbuat. Rico hanya bisa berandai.
"Sebenarnya, setelah kejadian malam itu. Saat aku terbangun Hana sudah pergi. Dan aku juga berniat untuk bertanggung jawab dengan menikahinya lagi. Dan saat aku tau dia pergi, aku berusaha mencari keberadaannya. Lebih dari satu tahun aku menyewa beberapa informan untuk mengetahui di mana Hana tinggal. Hanya saja tak terlintas dalam pikiran ku kalau dia akan pergi sejauh itu."
"Mungkin dia ingin menenangkan diri, makanya pergi sejauh itu." jawab Ryan
"Entahlah. Ini semua memang salah ku." lalu jeda beberapa detik "Jadi kapan kita menemui Aksa?"
"Besok aku juga oke kalau kamu nggak sibuk. Tapi memang lebih cepat lebih baik."
"Aku akan meminta asistenku untuk mengatur ulang jadwalku besok."
"Ryan, apa kau mencintai Hana?" Karena dari cerita yang ia tangkap Ryan memang memiliki perasaan khusus untuk Hana.
"Ya. Aku mencintai Hana dan juga Aksa." Jawab Ryan mantap.
Ryan kembali menyesap minumannya. Ryan melihat jam mewahnya yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Ternyata cukup lama mereka berdua tadi.
"Kalau begitu saya pamit ke kamar dulu. Kamu bisa menghubungi ku!" Ryan menyodorkan kartu namanya. Ia memang sudah merasa mengantuk dan lelah juga.
"Ah baiklah. Istirahatlah." Rico mengambil kartu nama dan menyimpannya dalam saku bajunya.
"Kalau begitu saya pamit dulu."
"Silahkan. Dan terima kasih karena sudah menjaga mereka berdua selama ini!" ucap Rico tulus.
"Tidak masalah." jawab Ryan seraya berlalu.
Rico masih belum beranjak dari cafe. Sebenarnya ia malu dan takut bertemu Hana kembali. Takut Hana memiliki trauma terhadapnya. Namun demi Aksa anaknya akan ia lakukan. Apa lagi mendengar Aksa dalam keadaan sakit membuat sudut hatinya juga merasa sakit.
"Anak!" bibirnya melengkung senyum saat mengucapkan itu. Hatinya membuncah bahagia.
Rico sudah menyusun berbagai rencana jika bertemu Aksa anaknya nanti.
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....