Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA
Armin langsung terbatuk-batuk mendengar kalimat itu, dia tersedak udara tiba-tiba. "Hah?" Dia menatap Mikhasa.
"Maksudku, pacar bayaran. Ya, aku bakal bayar kamu dua kali lipat dari gaji kamu sekarang. Gimana?" Ucap Mikhasa menjelaskan maksudnya. Membalas tatapan Armin dengan sungguh.
Armin membelalakkan mata tak percaya. Dia dibayar untuk menjadi pacar? Heh nih cewek stres apa mabuk? Dia belum bisa mencerna semua ini, sungguh.
Mikhasa melanjutkan, "Kamu seorang pelayan cafe, kamu pasti butuh duit lebih kan? Kamu butuh uang kan?"
Armin mendadak kaku. Dibilang kayak gitu ... nyesek juga. Padahal isi rekeningnya hampir meledak.
Melihat Armin yang hanya diam dan terlihat ragu, Mikhasa menaikkan harga, "tiga kali lipat dari gaji kamu sekarang." Tangannya mengulur kedepan, penuh keyakinan. "Deal?"
Armin menatap tangan itu, lalu kembali menatap Mikhasa. "Yakin kamu nggak bakal nyesel?" Tanya Armin, memastikan. Matanya menatap lekat, misterius dan seolah penuh pertimbangan.
Mikhasa mengangguk mantap. "Enggak bakal," jawabnya. Dia mendorong tangannya lebih maju. Gestur yang jelas tanpa basa-basi.
"Ok." Armin menerima uluran tangan itu.
"Deal."
Mikhasa tersenyum puas. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkannya pada Armin.
"Simpan nomor kamu di sini."
Armin menerimanya tanpa banyak bicara. Dia mengetik nomor ponselnya lalu menyerahkannya kembali pada Mikhasa.
"Armin." Mikhasa membaca nama kontak yang baru saja tersimpan. "Aku Mikha, Mikhasa." Gadis itu memperkenalkan diri. Lalu mengetik sesuatu. Tak lama, ponsel di saku Armin bergetar.
"Itu nomorku," kata Mikhasa.
Armin mengangguk tanpa mengambil ponselnya.
Mikhasa menarik nafas pelan, "Jadi, besok adalah acara pernikahan mantan pacarku."
Armin diam, matanya menatap Mikhasa lebih serius. Memindai setiap garis wajahnya. Bagaimana ia bicara dan bagaimana bagaimana gadis ini mengerutkan alis.
"Dia nikah sama sahabatku sendiri. Parahnya lagi, tuh cewek udah bunting." Mikhasa menceritakan kisah cintanya.
Armin nampak terkejut tapi raut wajahnya tetap terlihat tenang.
Mikha menunduk sejenak. Ada luka yang begitu dalam di hatinya. Dihianati dua orang yang ia cintai adalah pukulan terberat. Tak lama, ia tertawa kecil, getir. Menertawakan dirinya sendiri. Merasa jika dirinya sangat bodoh.
"Nah, aku butuh kamu buat jadi pacarku," ucapnya. Ia kembali menatap Armin lalu melanjutkan, "sehari semalam saja. Kamu cukup temenin aku dateng ke pesta itu. Gandeng tanganku, senyum manis, dan akting kayak cowok tampan yang berhasil kutaklukkan."
Armin mengangkat alis. "Pura-pura mesra di depan penghianat? Seperti hal yang seru."
Mikhasa mengangguk. "Kamu harus pakai pakaian paling rapi yang kamu punya. Aku nggak mau keliatan kayak ngajak pelayan kafe beneran."
"Tenang, kalau soal gaya, aku bisa mirip CEO."
"Bagus. Besok sore kita ketemu."
Dan malam ini, perjanjian aneh mereka dimulai.
Armin melangkah meninggalkan cafe begitu Mikhasa pergi. Mobil mewah sudah menunggunya di depan, lengkap dengan seorang asisten yang siap membukakan pintu untuknya.
"Atur jadwal liburku besok," ucapnya datar sebelum masuk ke dalam mobil.
"Baik, Tuan Axel."
Axel Mercier. Tidak ada lagi Armin si pelayan. Dia adalah putra dari keluarga konglomerat pemilik hotel jaringan internasional. Pewaris tahta bisnis yang lebih suka di balik layar.
Mobil melaju tenang menembus jalanan ibu kota yang mulai sepi, lampu-lampu kota memantul di kaca jendela seperti bayangan yang tak ingin menetap.
Sementara itu, di tempat lain, Mikhasa sudah sampai di apartemennya. Ia duduk di pojokan kamar, punggung bersandar pada dinding dingin, tangan gemetar menggenggam sebuah undangan, dari orang yang paling menghancurkan hidupnya.
"Kupikir… jatuh cinta akan selamanya indah.
Aku kira rasa ini akan menuntunku ke masa depan yang kubayangkan setiap malam. Ternyata tidak.
Ternyata cinta juga bisa patah dan berdarah. Sampai rasanya aku tak tahu harus menahan bagian mana dulu yang paling sakit.
Pelaminan itu adalah impianku. Aku pernah membayangkan berdiri di sana bersamamu dengan gaun putih, dengan mata berbinar, dengan tanganmu menggenggam tanganku. Tapi nyatanya, pelaminan itu bukan untukku.
Bukan untuk kita.
Karena besok, kau menikah dengan sahabatku sendiri.
Lucu, ya? Dua orang yang paling aku percaya, justru dua orang yang paling melukaiku. Aku tidak tahu lagi mana yang lebih menyakitkan,
kehilanganmu, atau menyadari bahwa aku sama sekali tidak pernah diperjuangkan dan mungkin tidak pernah benar-benar dicintai."