Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Kaila, aku hanya ingin menjelaskan apa yang terjadi. Aku ingin minta maaf padamu sebelum aku mati," kata Maya sambil memperlihatkan wajah bersalahnya.
Aku terdiam seribu bahasa saat mendengarkan kata-kata Maya. Aku tahu sedikit banyak tentang kehidupan Maya sebelumnya. Ia memang punya penyakit yang selalu menyiksa dirinya selama ini.
Aku sudah berteman dengan Maya sejak lama. Aku tahu bagaimana Maya melewati hari-hari saat ia masih aku anggap sebagai teman baik.
"Kaila, aku minta maaf dan sangat menyesal atas apa yang aku lakukan. Aku tidak berniat menjadi penghianat untuk persahabatan kita."
"Lalu?" tanyaku dengan nada yang mulai melemah.
"Beri aku waktu untuk bercerita. Jika kamu tidak keberatan. Ayo kita pergi ke cafe itu untuk minum bersama," kata Maya sambil menunjuk kearah luar swalayan.
Aku melihat kearah luar. Di sana ada sebuah cafe yang letaknya hanya dibatasi oleh jalan pemisah yang tidak terlalu lebar.
"Bisakah kamu ikut aku ke cafe itu, Kaila?" tanya Maya dengan suara pelan dan lembut.
"Baiklah. Aku ikut kamu ke sana. Tapi tidak lama, hanya lima belas menit saja."
"Tidak masalah. Aku rasa lima belas menit sudah cukup untuk aku menjelaskan apa yang telah terjadi."
Aku dan Maya akhirnya berjalan keluar dari swalayan ini. Aku urung dahulu niatku untuk berbelanja kebutuhanku, hanya karena permintaan sahabat yang lebih pantas aku sebut musuh ini.
Tapi, kita sebagai manusia tidak boleh menghakimi seseorang terlebih dahulu, sebelum kita tahu apa alasan di balik penghianatan yang ia lakukan. Tidak salah bagi kita untuk memberi kesempatan pada mereka.
Setidaknya, itulah yang sedang aku pikirkan. Aku berusaha memberi kesempatan pada Maya untuk menjelaskan. Walau rasanya sangat sakit hati ketika melihat wajah Maya yang terlihat polos namun berbisa ini.
Aku dan Maya berjalan beriringan menuju cafe. Tentunya, tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Hingga kami sampai dan langsung duduk di salah satu kursi yang tidak ada orangnya.
"Mau minum apa Kaila?" tanya Maya berbasa basi padaku, sambil kami sama-sama duduk.
"Tidak ada," ucapku datar tanpa ekspresi.
"Lima belas menit tanpa minuman atau makanan, mana enak dilihat orang Kaila. Pesanlah salah satu minuman!"
"Tidak usah, May. Lima belas menit tidak lama. Lagian, aku tidak tertarik untuk makan ataupun minum sesuatu," ucapku terus menolak dengan sinisnya.
"Baiklah kalau begitu," kata Maya lembut.
Maya memangil salah satu pelayan. Ia memesan dua gelas jus buah yang berbeda tentunya.
Aku pikir, ia menyerah setelah aku bilang tidak mau. Tapi, ia malah memesan dua jus yang berbeda. Yang pastinya, satu untuk aku dan satunya lagi untuk dia.
Karena ia memesan satu jus belimbing dan satu lagi jus alpokat. Yang tentunya ia tahu kalau aku biasanya sangat suka dengan jus alpokat. Sedangkan Maya, ia sangat suka dengan jus belimbing.
"Untuk apa kamu pesan dua gelas jus? Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak ingin minum," kataku dengan nada kesal.
"Jika kamu tidak ingin minum, itu terserah kamu. Tapi aku wajib memesan sesuatu untuk kamu minum," kata Maya sambil tersenyum padaku.
Maya masih tetap sama. Ia tidak berubah sedikit pun. Ia akan tetap tersenyum padaku ketika aku marah padanya.
Saat aku marah, ia tidak akan ikut marah. Ia malah memilih untuk membujukku dengan bermacam-macam caranya. Bahkan, ia tergolong teman yang sangat penyabar bagi aku.
Beberapa menit berlalu, tidak ada kata yang terucap lagi di antara kami. Aku memilih untuk diam dengan pikiranku sendiri. Sedangkan Maya, ia terlihat menantikan pesanan kami datang.
"Maya, apa yang mau kamu bicarakan? Bicarakan saja sekarang. Aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar berdiam diri di sini," ucapku tak sabar lagi.
"Sabar, Kaila. Kita tunggu jusnya datang baru bicara."
"Aku tidak ada waktu untuk itu," ucapku sangat kesal.
"Aku tahu kamu adalah perempuan yang penyabar, Kaila. Kamu pasti bisa menunggu sampai jusnya datang sebentar lagi," kata Maya sangat santai seperti tidak ada beban sedikit pun.
"Aku ...."
Belum sempat aku melanjutkan perkataan ku, salah satu pelayan datang membawa jus kemeja kami.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄