Sebuah kenyataan hidup yang sangat pilu dan menyakitkan membuat sebagian orang mengalami kejadian trauma yang sulit dilupakan. Namun, tidak semua orang merasa bahagia menikmati hidupnya yang penuh luka yang membekas di hati mereka.
Kebahagiaan yang diimpikan telah sirna oleh kenyataan pahit yang mereka alami. Disini, akan dibahas dalam sebuah novel LUKAS yang akan menguras emosi dan air mata.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Jangan lewatkan update terbaru dari perjalanan kehidupan yang penuh pilu ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Rindu
Setelah makan malam selesai, Dimas berniat menemui Aqila di taman belakang. Tetapi, suasana masih sedikit ramai. Akhirnya, Dimas menunggu waktu yang tepat sekitar pukul sembilan malam saat semua orang sudah kembali ke kamar.
Satu jam menunggu. Tampak Davina sudah tertidur pulas. Kini, Dimas menata bantal dan guling dengan selimut. Lalu, dirinya perlahan turun dari kasur dan melangkah bak maling membuka pintu dan menutup kembali secara perlahan agar Davina tidak curiga.
Dimas, kemudian membuka ponsel mengirim pesan pada Aqila untuk menemuinya karena rindu.
Sedangkan, Aqila sendiri ternyata belum tidur karena masih harus mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya.
"Ting." Ponsel Aqila berbunyi. Layar menyala tanda ada pesan masuk. Aqila pun membaca pesan berlogo hijau itu. "Aku tunggu di pintu dapur belakang, sekarang!"
Tanpa berpikir panjang, Aqila segera menutup buku dan mematikan lampu kamarnya. Tubuhnya bergerak cepat ingin segera menemui Tuan Dimas.
Begitu sampai di dapur. Tampak ada senter menyala disana, bahwa Dimas benar ada di dapur.
"Tuan Dimas? Sedang apa disini?" tanya Aqila lirih karena takut suaranya membangunkan yang lainnya.
Tanpa basa basi, Dimas segera mengecup bibir ranum Aqila yang membuat sang empunya terkejut bukan main.
"Baunya wangi sekali. Harum khas Tuan Dimas, membuatku tak berdaya." batin Aqila merasa terhanyut oleh pesona Dimas.
Aqila pun membalas ciuman Dimas dan tentu saja Dimas senang akan kemajuan Aqila yang ternyata juga menyukai dirinya.
"Aqila, aku merindukanmu."
Mendengar kata manis dari Dimas, Aqila terdiam seribu bahasa. Dirinya bingung dan sekaligus rindu juga pada Dimas. Tetapi, apakah mungkin hubungan ini akan mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya.
Tak mendapat jawaban dari Aqila. Dimas segera membawa gadis itu ke kamar Aqila. Gadis itu sendiri menurut apa yang dilakukan Dimas. Namun, hatinya berdebar saat berdekatan dengan Tuan Dimas.
Aqila mengikuti Dimas dan ternyata malah kembali ke kamarnya. "Tuan, kita mau ngapain di kamar?" tanya Aqila polos.
"Tentu saja aku merindukanmu dan juga semua tubuhmu," jawab Dimas dan merebahkan tubuh Aqila dengan pelan.
Dimas membuka baju tidurnya satu per satu. Terpampanglah tubuh atletis Dimas di mata Aqila. Gadis itu terpana saat melihat tubuh lelaki itu. Dimas pun tersenyum saat mata wanita yang dicintainya tak berkedip menatap tubuhnya.
"Kamu suka, Aqila?" Dimas bertanya saat duduk di dekat Aqila.
Gadis itu langsung sadar dari tatapan syahdunya dengan wajah merona merah. Dirinya telah ketahuan melihat tubuh Dimas dengan sangat mendamba.
Sekali lagi, Dimas mencium bibir ranum Aqila dengan lembut dan tangannya membuka baju gadis itu secara perlahan sampai tanpa sehelai baju pun.
"Aqila...Aqila... Aku merindukanmu sayang."
"Aah." Aqila bagai di sengat lebah saat Dimas mencium lehernya dan menggigit bagian telinga dengan lembut.
Keduanya pun saling terbuai satu sama lain dan kegiatan panas pun berlangsung dengan sangat intens.
Di kamar lain, Bayu pun tampak gelisah. Sebab, rencananya akan menggauli Aqila malam ini malah gagal lagi. Bayu berpikir, Dimas akan pulang besok. Ternyata, dirinya keliru. Dimas pulang tanpa pemberitahuan dan kini dirinya tak bisa berbuat banyak saat Dimas berada di rumah. Sedangkan, Davina wanita bodoh itu pun juga tidak memberitahu apa-apa dan tidak bereaksi malam ini.
"Aku harus bagaimana untuk mendekati gadis itu? Kenapa sulit sekali dan selalu gagal terus?" Bayu berbicara pada dirinya sendiri karena merasa kesal.
Tanpa sadar, terlintas dalam pikiran Bayu memiliki ide untuk mendekati gadis itu dengan rencananya sendiri, tanpa bantuan Davina kali ini.
"Kali ini, rencanaku harus berhasil." Senyum jahat Bayu pun terbit saat membayangkan hal tersebut.
lanjutin aja laaah 😎🤫🥺
heeeemmm mau alasan apalagi neeeh
yaakiiiiin neeeh 🫣🫣🏃🏃
ntar temen arisannya mengira jika Bayu lah suami Davina donk 👉👈
padahal sepasang kekasih itu akan seneng banget jika kekasihnya selalu berada di sampingnya
lha klo kamunya wafat, lalu yang menjaga Aqila siapa donk ???
eeeeiiiiitttssss tapi kamu kan masih terikat dengan pernikahan ya, lalu jaga Aqila gak bisa maksimal deeeh
kamu doa aja supaya Aqila selalu dalam lindungan Allah
aamiin ya rabbal alamiin
ternyata kena prank ama Kak Dina deeeeh
huuuuuuffttttt syukurlah jika itu semua hanya mimpi belaka
semula dirinya yang ingin membunuh Dimas eeeh ini malah dia sendiri yang wafat 👉👈
ada apa ini sebenarnya???
kenapa ada adegan tusuk menusuk seeeh....
Idul Adha kan masih lama tuuuh 🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃
dan Aqila yang sedang dalam posisi membawa pisau 😱😱😱😱
karena percuma aja, ikutan ajang kumpul-kumpul eeeh gak membawa pada kebaikan
kapan ya, Dimas akan mergoki Davina ama Bayu