Tidak ada yang sulit, tetapi dia bukan tipeku.~Rafandra Darren Adelio.
Kupikir dia itu berbeda, ternyata sama saja.~Kimmy Rosella.
Kisah di antara hati bertemu logika. Siapa yang mampu mengalahkan rasa? Lalu apakah keduanya dipertemukan dalam garis kehidupan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23#Malam Pertama Berujung ...
Pertanyaan Rafa seketika membuat Kimmy tersedak. Buru-buru pemuda itu memberikan gelasnya, "Maaf, minum dulu."
Diterimanya gelas tanpa ingin menatap Rafa, lalu meneguk beberapa teguk air hingga merasa baikan. Rasa laparnya seketika hilang padahal baru makan beberapa sendok. Bagaimana bisa pemuda itu bertanya di saat makan, sepertinya sang suami masih travelling tanpa tahu jalan pulang.
"Makanlah! Aku sudah kenyang." ujar Kimmy beranjak dari tempat duduknya, "Habiskan makanannya, aku akan bersiap."
Ucapannya terdengar samar bahkan begitu lirih hingga Rafa mengernyit. Pemuda itu berpikir Kimmy kesal sehingga pergi meninggalkan makan malam yang baru saja dimulai, tetapi di saat melihat apa yang dilakukan sang istri. Tangannya terhenti mencomot makanan.
"Baju tidur?" Buru-buru geleng kepala menyingkirkan pikiran nyelenehnya, lalu kembali fokus menikmati makanan yang sayang untuk dibuang.
Lima belas menit kemudian, makanan sudah tandas meski hanya di piring pertama. Rafa menutup makanan yang utuh dengan nampan, lalu beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan. Kesibukannya bermain air yang dicampur sabun cair hingga tak menyadari kemunculan Kimmy dari dalam kamar mandi.
"Ekhem! Mau mandi dulu atau?" Deheman dari belakang mengalihkan perhatian Rafa yang menatap cermin di depan wastafel.
Tatapan mata saling terpaut, perlahan menyusuri pemandangan melewati pantulan kaca yang tak seberapa tetapi menangkap siluet indah dari arah belakang. Pemuda itu merasakan hawa panas bahkan kesulitan menelan saliva melihat keindahan ciptaan Allah.
Kimmy menundukkan pandangan dengan perasaan cemas. Rasanya seperti siap, tidak siap. Meski ia sudah dewasa tapi memakai pakaian terawang yang pasti pakaian dinas para istri, ia merasa kurang nyaman. Gugup, tak tahu harus melakukan apa hingga tiba-tiba ia melihat kaki yang berhenti di depannya.
Tangan terangkat melingkar ke pinggang, lalu tanpa permisi menariknya hingga tersentak membalas tatapan mata berkabut sang suami. "Rafa, aku ...,"
"Kita akan melakukannya bersama-sama. Bismillahirrahmanirrahim," Rafa mendekati wajah Kimmy, lalu mengecup kening istrinya begitu dalam seraya berdoa memohon perlindungan.
Kimmy bisa merasakan betapa Rafa berusaha untuk memulai semuanya dengan tata cara yang diajarkan dalam agama mereka. Pasrah ketika tangan pemuda itu membimbingnya berjalan sampai ke ranjang. Sentuhan tangan dingin yang menyadarkan kegugupan sang suami memulai perjalanan malam nan panjang.
Melihat itu, ia memberanikan diri membantu Rafa. Perlahan menyatukan kedua bibir membiarkan sensasi kenyal saling bergesekan menyapa sebagai salam perkenalan. Pagutan yang terasa datar menyadarkan keduanya betapa kaku dan tidak berpengalaman. Deru napas kian tak teratur melepaskan pagutan.
"Apa kamu benar-benar ingin melakukan ini?" tanya Rafa dengan napas yang masih sedikit terburu-buru, sedangkan yang ditanya hanya mengangguk pelan tapi tanpa keraguan.
Kesiapan Kimmy mengubah posisi keduanya. Rafa mulai mengambil alih permainan memberikan sentuhan pertama pada raga halal yang siap menerima penyatuan hangat penuh kasih sayang terselip hasrat yang membelenggu akal. Dikecupnya mata, lalu hidung, kemudian merenggut manisnya bibir.
Sesaat menetap kembali berebut kekuasaan dengan tangannya yang berkeliaran tak tentu arah. Lirikan mata melihat ke bawah dimana tangkupan tangan benar-benar pas menggenggam squash yang menarik perhatiannya. Tanpa melepaskan kain penutup, tangan bekerja memulai perjalanan tambahan.
"Bantu aku lepasin pakaian," bisiknya pada Kimmy membuat wanita itu mengangguk, lalu melakukan permintaannya.
Begitu juga sebaliknya, pemuda itu menanggalkan semua benang yang menjadi penghalang. Hampir saja tersedak di saat pemandangan indah terpampang jelas memenuhi bola matanya. Kimmy yang menyadari tengah ditatap intens hanya bisa memalingkan wajah dengan pipi bersemu merah.
Sentuhan lembut menjalar mempermainkannya, "Rafa, aku ...,"
"Relax, Kim. Aku akan menyenangkan istriku sebelum mengambil hak yang sangat ku nantikan." pungkas Rafa kembali menyibukkan diri memberikan stempel kepemilikan pada raga putih yang kini berjejak merah.
Tangannya sibuk m3r3m4s, sedangkan bibir menikmati s3s4p4n puncak bukit k3mb4s yang menantang berharap ditaklukkan. Jiwanya melayang tak mampu lagi berkata-kata karena miliknya semakin meronta ingin mendapatkan kepuasan. Pergulatan ranjang yang terus menerus menghasilkan derit suara malam.
"Rafaa ...," tubuh Kimmy menggeliat bersama keluarnya cairan kesuksesan pertama Rafa membawa wanita itu mencari ******* kenikmatan. "Kupu-kupu memenuhi dalam perutku."
"Tentu saja, Sayang. Sekarang giliranku," Rafa memposisikan diri, lalu mengatur kaki Kimmy agar tidak cidera. Kemudian kembali mendekat tanpa jarak, tak lupa menuntun tangan sang istri agar melingkar di punggungnya. "Lakukan sesukamu, tahan atau menjerit, aku akan menerima."
Tak ingin istrinya tegang, pemuda itu kembali meraup bibir Kimmy. Perlahan tetapi pasti sembari menggerakkan pinggul yang memang sudah di posisi tepat sasaran. Tapi tiba-tiba entah apa yang terjadi. Dimana tubuhnya terjatuh ke bawah bersamaan hentakan keras menerobos dinding gua.
Bibir terbungkam, napas tertahan bersambut setetes air mata dari kedua sudut mata sang istri. Kimmy sengaja menarik tubuhnya hingga penyatuan tanpa persiapan berhasil merenggut kehormatan wanita itu tapi kenapa? Ia bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir keluar setelah melewati pagar utama pertahanan.
"Aku hanya takut melihatmu tidak cepat melakukan itu, jadi ...," ucap lirih Kimmy menggantung begitu pagutan terlepas membuat Rafa tersenyum manis.
Tak ingin menundanya lagi, kini pemuda itu menikmati sensasi candu yang meledakkan akal sehat. Ritme pelan begitu menyiksanya tetapi Ia tak ingin buru-buru hingga sepuluh menit berlalu. Goyangannya semakin liar membuat Kimmy harus menahan diri untuk tidak mengeluh sakit. Apalagi sang suami berusaha untuk bertindak hati-hati.
"Aaarrgghh, Kimmy ...," jeritnya bergema ke seluruh ruangan dengan pelepasan pertama yang sengaja Ia benamkan ke rahim sang istri.
Pergulatan pertama terasa begitu kaku membuat Rafa mengulang perjalanan malam pertama mereka sekali lagi. Kimmy membiarkan pemuda itu mendapatkan hal seorang suami agar Ia tak berdosa sebagai istri. Tanpa pemuda itu sadari, pikirannya jauh menembus ke masa lalu.
"Please, lepasin aku. Kita bukan pasangan sah ...," tubuh terpelanting ke belakang hingga kepala membentur dinding.
Sekilas ingatan itu berbaur menjadi satu dengan rasa yang kini menguasai raganya. Wajah yang menyeramkan mencoba merenggut kehormatan, ia tak kuasa membedakan mana ilusi dan mana kenyataan hingga tanpa sadar mendorong tubuh Rafa sekuat tenaga.
Pemuda itu berguling ke sisi kiri ranjang hampir jatuh ke lantai dengan kesadaran yang tersentak karena perlakuan kasar istrinya. "Kim ... Astagfirullah, kamu kenapa?"