Karna sebuah kesalah pahaman, Rinjani ChiMa Wardhana memilih memendam cintanya pada sosok Lintang yang seolah menjadi pelangi di hari harinya yang sempat mendung sebab pengkhianatan dari Sang mantan kekasihnya yang dulu..
Lintang yang tak tahu apa-apa dan mendadak di jauhi pun akhirnya menjatuhkan pilihan pada gadis itu.
"Jujur sama Lilin, atau masuk Neraka?"
***********
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
🍂🍂🍂🍂🍂
"Lilin--," gumam Rinjani pelan, saking pelannya hanya ia yang bisa mendengar. Tapi deru napas hangatnya justru mampu menyampu wajah pria yang kini begitu dekatnya.
Merasa namanya di sebut, Lintang tersenyum dan tak lama ia menjauhkan wajahnya namun tak melepas tangannya.
"ChiMa, Abra kadabra?" tanya Lintang dengan tawa kecil meledek nya.
Tatapan yang saling bertemu itu tersirat jelas rindu yang begitu dalam siap di lupakan karna kini kedua mata Rinjani sudah berkaca-kaca yang entah apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Lilin--," panggil gadis itu pelan, suara yang teramat dirindukan pun kini terdengar lagi oleh Lintang yang tersenyum simpul.
Tangan yang di cekal cukup keras sama sama mereka lihat, dan Rinjani sebenarnya cukup kaget sebab ini tak seperti Lintang yang ia kenal, apa pria yang semakin tampan itu berubah menjadi jauh lebih berani sebab sudah mau menyentuhnya?
"Lilin tangkep, gak akan Lilin lepas lagi," tukasnya cukup tegas dan Rinjani hanya mengernyitkan dahinya.
"Ma--maksdnya?"
"Gak ada maksud, cuma mau jadiin kamu tersangka!" jawabnya semakin membuat wanita yang merindu itu bingung.
Tanpa rasa berdosa, keduanya meninggalkan kantor begitu saja padahal rapat jelas sedang berlangsung tapi Lintang terus membawa Rinjani keluar menuju parkiran tempat mobil mewahnya kini berada.
"Duduk yang manis, karena kita---."
.
.
.
Rumah utama yang kini sepi karna para bocah sudah beranjak dewasa tinggal menyisakan Phiu Samudera yang melamun di sisi tempat terkhir Sang Gajah.
Entah sudah berapa jam ia disana untuk mencurahkan isi hati dan kepalanya yang sejak tadi pagi sedikit membuat ia uring-uringan.
"Perasaan dede tuh gk enak, Appa. Kayanya bentar lagi ada sesuatu. Tapi apa? pusing dede tuh, pengen peluk Appa, bangun yuk bangun," Ucapnya lirih menahan sedih.
Semua masalah keluarga akan selalu ada di pundak nya selama ia masih hidup, karna apapun itu laporan pertama dari pasukan Gajah pasti jatuh ke tangannya lebih dulu.
Phiu yang meminta Appa bangun, tentu mak othor yang berjingkrak senang!
"Huft--, pasti Lilin, gak salah lagi," keluhnya kemudian, dan langsung menoleh saat ada tangan menyentuh pundaknya.
"Anginnya kencang, ayo masuk," ajak Mhiu Biru pada suaminya tersebut.
"Masih kangen Appa, Bee," jawabnya seolah menolak ajakan Sang istri.
"Kan masih bisa ngobrol sama boneka Gajah punyamu, ayo. Aku tak mau kamu sakit lagi," ujar wanita baya yang tubuhnya masih saja mungil. Jadi tak salah jika dulu Mhiu Biru pandai sekali berkuda.
Mau tak mau akhirnya mereka masuk juga kedalam bangunan mewah tersebut, memang benar yang di katakan Sang Nyonya Besar Rahardian jika angin yang berhembus sedikit menusuk ke tulangnya karna dingin. Apalagi ia juga baru sembuh dari sakitnya. Ada yang selalu membuat ia bertahan hingga kini yaitu para cucunya termasuk Lintang yang masih sangat berat untuk ia tinggalkan.
"Aku ambil buah dulu ya, mau?" tawar Mhiu Biru sebelum mereka masuk kedalam Lift.
"Hem, boleh. Tapi jangan terlalu banyak ya," jawabnya sambil berniat menunggu agar mereka bisa naik dan masuk kedalam kamar secara bersama seperti biasa.
Jika sudah begini, tentu pasangan itu akan kembali berdua layaknya pengantin baru sebab para keturunannya sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Tapi, belum juga Mhiu beranjak ternyata teriakan Lintang membuat pasangan suami istri itu bergegas ke arah ruang tamu.
"Ada apa, Lin?" tanya Phiu bingung
.
.
.
Lilin udah pegang ChiMa nih, harus tanggung jawab, Phiu.. nikahin sekarang pokoknya!
kek gimana pula tuh gayanya Thor... bleh dicoba gak tuh. 🤣🤣🤣
lama² gak jelas,gak konsisten