SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Badai di Gerbang Keabadian
Ibu Kota Phoenix tidak pernah sesunyi ini. Biasanya, jalanan utama akan dipenuhi oleh pedagang dan hiruk pikuk rakyat, namun hari ini, udara hanya diisi oleh suara derap kaki ribuan tentara zirah berat dan kepakan sayap burung pemakan bangkai yang mulai berputar-putar di langit. Semua toko tutup, jendela-jendela rumah dipaku rapat, dan ketakutan menyelimuti kota seperti kabut beracun.
Di atas tembok gerbang utama yang dikenal sebagai Gerbang Keabadian, Long Tian berdiri tegak. Zirah emasnya berkilauan tertimpa cahaya matahari yang kemerahan, namun wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Kabar tentang hancurnya Sekte Pedang Langit telah menghancurkan kewarasannya. Di sampingnya, Feng Meili gemetar hebat, tangannya mencengkeram jubah Long Tian dengan kuku-kuku yang nyaris patah.
"Dia datang, Kakak Tian... dia benar-benar datang," bisik Meili dengan suara serak.
"Diamlah, Meili," desis Long Tian. Matanya menatap lurus ke arah cakrawala, di mana sesosok bayangan hitam perlahan muncul dari balik bukit pasir.
Itu adalah Lin Xiao.
Ia berjalan sendirian. Tidak ada pasukan, tidak ada kereta perang. Hanya seorang gadis dengan jubah hitam yang berkibar tertiup angin, membawa sebuah kotak perak di tangan kirinya dan pedang Nightshade yang tersarung di pinggangnya. Rambutnya kini dibiarkan putih perak sepenuhnya, memancarkan aura yang begitu kuno dan dominan hingga tanah yang ia pijak seolah-olah bergetar ketakutan.
Setiap langkah Lin Xiao bergema seperti detak jantung kematian. Di belakangnya, dalam jarak yang aman, ribuan rakyat jelata dan kultivator liar mengikuti dari kejauhan—mereka ingin melihat dengan mata kepala sendiri apakah legenda tentang kebangkitan Mawar Hitam itu benar adanya.
Lin Xiao berhenti tepat seratus meter di depan gerbang. Ia mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata Long Tian yang berada di atas tembok.
"Long Tian," suara Lin Xiao tidak keras, namun berkat energi Inti Dewa, suaranya terdengar jelas di setiap sudut Ibu Kota. "Tiga hari telah berlalu. Aku membawa apa yang kau inginkan, dan aku datang untuk apa yang menjadi milikku."
Long Tian memberikan isyarat, dan seketika ribuan pemanah di atas tembok menarik busur mereka. "Ruxue! Kau telah menghancurkan kedamaian kekaisaran ini! Kau membantai murid-murid tak berdosa dan mencuri harta suci! Menyerahlah sekarang, atau aku akan meratakan tempat ini dengan api!"
Lin Xiao tertawa, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk para prajurit berdiri.
"Kedamaian? Kedamaian yang kau bangun di atas tumpukan mayat keluargaku? Dan murid-murid 'tak berdosa' itu adalah mereka yang mengasah pedang untuk membunuh siapa pun yang tidak mau berlutut padamu!"
Lin Xiao membuka kotak perak di tangannya, memperlihatkan Jantung Phoenix yang berdenyut merah membara. "Kau menginginkan ini untuk mencapai Tahap Inti Emas tingkat puncak, bukan? Tanpa ini, kau hanyalah naga tanpa taring."
Wajah Long Tian berubah menjadi merah padam akibat amarah. "SERANG! BUNUH DIA!"
Syuuutt! Syuuutt!
Ribuan anak panah yang dialiri energi api melesat turun seperti hujan api dari langit. Namun, Lin Xiao tidak menghindar. Ia menghujamkan pedang Nightshade ke tanah.
'Domain Nirwana: Perisai Mawar Abadi!'
Dari bawah kakinya, tumbuh ribuan duri hitam raksasa yang melengkung ke atas, membentuk kubah pelindung yang tak tertembus. Anak-anak panah itu meledak saat menyentuh duri tersebut, namun tidak mampu memberikan goresan sedikit pun pada Lin Xiao.
Di saat yang sama, Lin Xiao melepaskan segel Jantung Phoenix. Energi panas yang luar biasa menyambar duri-duri hitamnya, menciptakan kombinasi energi merah dan hitam yang mengerikan.
"Jika kau ingin api, aku akan memberimu neraka!"
Lin Xiao melompat tinggi ke udara, melewati tembok gerbang dalam satu lompatan tunggal. Ia mengayunkan pedangnya, melepaskan gelombang energi berbentuk bulan sabit yang menghancurkan seluruh deretan pemanah di sisi kiri tembok.
BOOOOMM!
Tembok Gerbang Keabadian yang legendaris itu runtuh. Debu dan puing-puing berterbangan, menciptakan kekacauan total. Para prajurit berteriak ketakutan saat melihat Lin Xiao mendarat dengan anggun di tengah-tengah barisan Garda Phoenix.
"Lindungi Putra Mahkota!" teriak para jenderal.
Namun, Lin Xiao bergerak seperti bayangan yang menari di antara kematian. Setiap tebasannya mengambil nyawa, setiap langkahnya menghancurkan pertahanan. Ia tidak lagi menahan diri. Energi Nirwana-nya telah mencapai puncaknya, menciptakan pusaran kegelapan yang menghisap energi spiritual setiap musuh di sekitarnya.
Long Tian akhirnya tidak punya pilihan selain turun ke medan tempur. Ia mencabut pedang emasnya, 'Cakar Naga', dan melompat turun menuju Lin Xiao.
TRANG!
Benturan kedua pedang mereka menciptakan gelombang kejut yang meratakan bangunan-bangunan di sekitar gerbang. Mata mereka bertemu dalam jarak dekat.
"Kau seharusnya tetap mati di jurang itu, Ruxue," desis Long Tian, otot-otot lengannya menegang menahan tekanan pedang Lin Xiao.
"Dan kau seharusnya tidak pernah mengkhianatiku, Long Tian," jawab Lin Xiao dengan mata ungu yang berkilat kejam. "Karena sekarang, aku akan memastikan kau merasakan setiap inci rasa sakit yang aku rasakan saat jantungku kau tusuk."
Lin Xiao menendang dada Long Tian hingga pria itu terlempar menabrak patung naga raksasa di alun-alun. Belum sempat Long Tian berdiri, Lin Xiao sudah berada di atasnya, pedangnya mengarah tepat ke tenggorokan sang pangeran.
Namun, tiba-tiba sebuah cahaya putih menyilaukan muncul dari arah Istana Dalam.
Sesosok pria tua dengan jubah putih murni melayang turun dari langit. Tekanan auranya jauh melampaui Long Tian—dia adalah Kaisar Long, ayah Long Tian, yang selama ini dikabarkan sedang melakukan meditasi tertutup.
"Cukup, gadis kecil," suara Kaisar Long terdengar seperti guntur. "Kau telah menumpahkan terlalu banyak darah naga hari ini."
Lin Xiao menyipitkan matanya, merasakan ancaman yang jauh lebih besar. "Kaisar tua... kau akhirnya keluar dari lubang persembunyianmu."
"Jika kau menyerahkan Jantung Phoenix sekarang, aku akan membiarkanmu pergi dengan nyawa yang tersisa," ucap Kaisar Long dengan nada merendahkan.
Lin Xiao berdiri tegak, rambut peraknya menyala dengan energi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia menggenggam Jantung Phoenix dengan tangan kirinya dan pedang Nightshade di tangan kanannya.
"Kau ingin benda ini?" Lin Xiao tersenyum tipis, lalu dengan gerakan yang mengejutkan semua orang, ia menghancurkan Jantung Phoenix di tangannya dan membiarkan energinya diserap langsung ke dalam tubuhnya.
"TIDAK!" teriak Long Tian dan Kaisar Long bersamaan.
Tubuh Lin Xiao mulai memancarkan cahaya ungu dan merah yang menyilaukan. Tanahnya retak, langit berubah menjadi gelap total, dan petir ungu mulai menyambar-nyambar di sekitar Ibu Kota.
"Hari ini," suara Lin Xiao kini terdengar seperti suara ribuan orang yang berbicara bersamaan. "Kekaisaran Phoenix akan berakhir. Dan dari abunya, Mawar Hitam akan bertahta!"