NovelToon NovelToon
Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:69.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mirna Samsiyah

Hidayah itu milik Allah, jika Dia telah berkehendak memberikan hidayah pada seseorang maka siapapun tidak dapat mencegahnya.

Termasuk pada Atalie—gadis chindo tersebut tidak pernah mengira bahwa berawal dari iseng ikut kajian Ustadz Umar dapat membawanya menemukan hidayah untuk memeluk Islam.

"Mas Umar, bantu aku, selama ini kamu udah banyak bantu aku tanpa diminta."

"Bantu apa?"

"Bantu aku bersyahadat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Besar

Mendung pekat menggantung di atas langit seolah mendukung suasana hati Atalie sore ini. Dada Atalie teramat sakit setelah mendapat amukan sang papa. Belum lagi mendengar Umar akan dijodohkan dengan seorang gadis. Semua itu terjadi dalam satu hari, Atalie merasa dunianya amat gelap.

Atalie tidak tahu seberapa jauh langkah membawanya pergi dari rumah. Ia sadar setelah langit semakin gelap dan kakinya terasa nyeri karena berjalan terlalu lama. Walaupun dokter mengatakan kaki Atalie sudah sembuh tapi saat berjalan kadang Atalie merasa kakinya nyeri.

Dingin semakin menusuk kulit, Atalie memeluk dirinya sendiri mengusap lengannya yang tidak tertutup baju. Harusnya ia mengenakan pakaian berlengan panjang karena nyamuk mulai hinggap dan menggigit permukaan kulitnya.

Atalie memutuskan duduk di kursi taman yang sepi, apa yang bisa ia putuskan setelah pergi dari rumah. Atalie harus memutuskan sesuatu karena itu adalah alasan Jaya memintanya pergi.

Air mata Atalie sudah mengering, kesalahannya memang fatal tapi ia tak menyangka jika Jaya akan mengusirnya dari rumah.

Atalie besar di keluarga yang hangat dan harmonis walaupun papa nya memang orang yang keras. Namun selama Atalie menuruti kemauan Jaya, maka ia aman dan tak akan mendengar amukan sang papa. Tadi pertama kalinya Atalie mendengar kemarahan papa nya yang begitu hebat.

Kumandang adzan terdengar di salah satu masjid tak jauh dari tempat Atalie duduk. Mulanya Atalie merasa kosong tapi suara adzan tersebut seolah memeluknya dan mengisi bagian dirinya yang terasa kosong.

Sebaris senyum tipis terbit di bibir Atalie, ia tidak tahu arti dari kalimat yang dikumandangkan dalam adzan tersebut tapi itu telah membuatnya merasa tenang. Ketenangan yang selama ini Atalie cari.

Bagaimana mungkin sebuah suara bisa memeluk tubuh Atalie yang kedinginan? ini ajaib.

Atalie memperhatikan jamaah membasuh muka di depan masjid, ia tahu itu adalah kewajiban umat muslim sebelum melaksanakan shalat dan mereka melakukannya 5 kali sehari. Tanpa Atalie sadari selama ini ia sudah banyak mencaritahu tentang Islam.

Atalie menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Keinginan Atalie bergejolak di dalam dada seolah ia tak bisa menahannya. Keinginan untuk memeluk Islam. Ia harus segera membuat keputusan apapun resikonya.

"Atalie?"

Atalie terperanjat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Suara seseorang yang Atalie harapkan kedatangannya. Atalie terkekeh, ia mungkin berhalusinasi karena tidak ada siapapun disini.

"Sedang apa kamu disini?"

Atalie menoleh ke kanan dan kiri mendengar suara itu lagi, mungkin ia sudah gila akibat diusir dari rumah.

"Aku disini."

"Mas Umar?" Atalie mendapati Umar berdiri di belakangnya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan dirinya tidak salah lihat. "Ngapain Mas disini?"

"Aku yang tanya begitu barusan." Umar melihat jejak air mata di wajah Atalie yang begitu kentara. Apa yang telah menimpa Atalie hingga gadis murah senyum itu berwajah muram.

"Oh, aku?" Atalie sendiri tidak tahu apa tujuannya disini.

"Ini sudah malam."

"Aku dengar kamu lagi keluar kota."

"Sudah pulang." Umar gemas karena Atalie tidak menjawab pertanyaannya, langit sudah gelap tapi Atalie masih berada disini seorang diri.

"Aku juga nggak tahu." Atalie akhirnya menjawab pertanyaan Umar.

"Maksudmu, kamu keluar tanpa tujuan?"

Atalie mengangguk, setelah ini ia mungkin akan pergi ke tempat kos Gracia atau mencari hotel dekat sini untuk menginap satu malam. Besok Atalie akan kembali ke rumah dan memberi jawaban. Atalie akan memikirkannya lagi hingga besok karena itu jawaban yang pasti membuat papa dan mama nya kecewa.

"Kamu harus pulang."

"Aku nggak mungkin pulang malam ini."

"Kenapa?"

Atalie tidak segera menjawab, apakah ia akan menceritakan kejadian tadi pada Umar. Namun mereka tidak cukup dekat untuk Atalie menceritakan hal pribadi seperti itu. Atalie juga tidak mudah berbagi cerita pada orang lain.

"Mas, bantu aku." Atalie menatap Umar dengan penuh harap, hanya Umar yang bisa membantunya saat ini. Bukankah Tuhan tidak mendatangkan Umar dengan sia-sia.

"Bantu apa?"

"Kamu percaya semua di dunia ini terjadi karena kehendak Tuhan?"

"Tentu saja."

"Mas Umar, bantu aku, selama ini kamu udah banyak bantu aku tanpa diminta."

"Bantu apa?" Umar menatap wajah penuh harap Atalie selama dua detik. Meski sebentar tapi Umar dapat melihat ketulusan di mata Atalie.

"Bersyahadat."

Umar tertegun mendengar perkataan Atalie, untuk beberapa saat ia merasa dunianya berhenti. Ini adalah hal baik hingga tak terasa mata Umar berkaca-kaca, ia takut dirinya salah dengar hingga meminta Atalie mengulang ucapannya. Atalie mengatakan hal yang sama untuk kedua kalinya, ia mengucapkan hal tersebut tanpa keraguan seolah-olah ada kekuatan baru dalam dirinya. Atalie siap menghadapi apapun di depannya setelah ini, ia yakin Tuhan akan selalu membantunya.

"Baiklah." Umar tentu tak bisa menolak permintaan Atalie, itu termasuk dalam doanya beberapa waktu terakhir.

"Aku harus bilang Papa dan Mama dulu, bukan minta izin tapi aku merasa harus bilang sama mereka dulu."

"Mereka akan menentang mu."

"Aku tahu, tapi nggak ada yang bisa mengubah keputusan ku termasuk Papa dan Mama."

Umar tersenyum, ia senang akhirnya Atalie membuat keputusan itu. Sejak bertemu Atalie di masjid saat itu, Umar merasa gadis itu akan memeluk Islam suatu hari nanti. Tak mungkin seseorang tidak terbuai dalam keindahan Al-Qur'an yang kerap dibacakan Umar atau Hamzah disela kajian. Buktinya Atalie datang berkali-kali, ia ketagihan pergi ke masjid.

"Aku akan menunggumu."

Atalie menengadah tangan merasakan titik-titik air yang turun dari langit, gemuruh juga sesekali terdengar pertanda hujan akan turun semakin deras.

"Aku pergi dulu." Atalie harus bergegas sebelum hujan turun.

"Kemana?"

"Ke tempat kos Gracia." Atalie segera pergi dari sana, tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Umar.

Umar menatap kepergian Atalie, ia merasa iba karena Atalie harus mengalami ini dalam perjalanan menjemput hidayahnya. Namun Umar juga merasa kagum, Atalie adalah salah satu orang yang Allah pilih untuk mendapatkan hidayah tersebut.

Tadinya Umar hendak mengajak Atalie ke pesantren tapi gadis itu sudah telanjur pergi.

******

Gracia heran melihat Atalie di depan pintu tempat kos nya dengan penampilan kacau tapi anehnya wajah Atalie terlihat cerah—secerah matahari tadi pagi. Gracia hendak bertanya kenapa Atalie ingin menginap di tempat kosnya malam ini. Namun melihat keadaan Atalie, Gracia menunda niatnya untuk bertanya.

"Mandi dulu gih, jelek banget muka kamu."

"Baru sadar?" Atalie mendengus melangkah melewati Gracia menuju kamar mandi, "pinjem baju kamu ya."

"Ambil aja terserah!" Gracia pergi ke dapur untuk membuat makanan, kebetulan ia juga belum makan malam. Setelah makan nanti baru Gracia akan mengintrogasi Atalie.

Atalie membiarkan tubuhnya diguyur air hangat yang menenangkan, ia harus mempersiapkan diri menghadapi papa dan mama nya besok. Atalie sudah membayangkan di kepalanya tatapan penuh amarah orangtuanya setelah ia mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam. Atalie tak pernah punya keinginan sekuat ini, bahkan ketika ia mengatakan ingin membuka butik dan papa nya menentang, ia bisa mengalah. Namun kali ini Atalie akan tetap pada pendiriannya meskipun orangtuanya begitu menentang keputusan tersebut.

Setelah ganti baju Atalie mencium aroma mie instan dari luar kamar. Ia mendapati Gracia sudah duduk di meja makan dengan dua mangkuk mie yang masih mengepulkan asap. Mie memang sempurna untuk dimakan saat hujan.

"Mie instan baunya kayak obat nggak sih?" Atalie duduk di hadapan Gracia.

Gracia mengabaikan ucapan Atalie, ia mengaduk mie lalu melahapnya satu suap penuh. Ditambah potongan cabai rawit, mie akan semakin lengkap menggugah selera.

"Makan aja, aku tahu kamu nggak biasa makan mie tapi malam ini aja kamu harus makan."

"Kenapa?"

"Aku tahu pikiranmu lagi kacau, mie pedes bisa sedikit membantu."

Atalie mengedikkan bahu, ia tak tahu apakah itu benar tapi ia tetap melahap mie tersebut. Jarang-jarang juga Atalie makan mie.

"Aku mau bersyahadat."

Gracia berhenti mengunyah, ia mengernyitkan dahi tak mengerti kalimat yang Atalie ucapkan.

"Apa itu?"

"Aku mantap untuk jadi muslim."

Sendok di tangan Gracia terjatuh menimbulkan suara cukup keras di lantai, ia tertegun untuk beberapa saat. Harusnya ia tak terlalu terkejut karena Atalie sudah menunjukkan tanda-tanda akan menjadi mualaf. Namun Gracia tak menyangka akan secepat ini karena Atalie masih rutin pergi ke gereja kadang mereka juga beribadah di gereja yang sama. Apa yang telah membuat Atalie memutuskan hal besar itu dengan begitu cepat.

"Yakin?"

"Lebih dari yakin." Atalie masih tenang memakan mie meskipun tenggorokannya terasa tercekat seolah ada batu besar yang tersangkut disana.

"Kenapa tiba-tiba?"

"Nggak tiba-tiba, aku udah pikirin ini sejak pulang dari Ijen waktu itu." Atalie banyak memikirkan soal Islam sejak pulang dari Ijen. Ia mendapat banyak hal dari sana, seperti saat teman-temannya pergi shalat sedangkan ia sendiri di tenda. Gigitan nyamuk membuat Atalie berpikir, sungguh menyenangkan jika ia selalu mengenakan pakaian panjang seperti teman-teman perempuannya. Atalie merasa nyaman saat mengenakan pakaian tertutup.

Buku-buku yang Atalie baca juga tak kalah memberikan pelajaran, meskipun sekarang buku itu sudah menjadi abu tapi Atalie dapat mengingat isinya di kepala.

"Gila kamu, jangan-jangan ini karena kamu jatuh cinta sama Umar."

"Nggak lah." Atalie menyanggah kuat-kuat kalimat tersebut, sekarang ia tak peduli Umar akan menikah dengan gadis lain yang penting ia sudah membuat keputusan tepat dalam hidupnya. Umar memang menjadi salah satu alasan tapi terlepas dari itu, Atalie tetap akan bersyahadat.

1
Lina Siti
Luar biasa
Rahmi Ami
bagus
Bundanya Abhipraya
udh baca sampe cerita anaknya daniel br tau cerita ini pokoke capcus baca maraton
Nina
kalo baca cerita yang pasangan suami istri belum di kasih keturunan,kadang tuh suka inget ke diri sendiri
Nina
di balik itu semua pasti ada hikmah nya
☝ℕ𝕦𝕟𝕦𝕥𒈒⃟ʟʙᴄ
semoga aisyah cepat hamil, jadi ikutan sedihh dehh
Immha Gadlys
alhmdulilah akhirnya yg di tggu2
✿⃝⭕🌼Ohti
ikut sedih
Nina
enak loh jantung pisang kalo di olah,bisa di sayur sama santan,di bikin bakwan,bisa di pepes,enak deh pokoknya
Nina
seharus nya Nelly bicara dulu baik baik jangan asal ngambil aja,belum tentu kan orang yg kita ambil uang nya orang yg gak punya kesulitan
Nina
ujian dalam kehidupan itu gak pernah gak ada,pasti selalu ada,itu lah cara Allah supaya kita bisa sabar, ikhlas,kuat,Allah tau yg terbaik buat kita
Nina
semangat terus Aisyah dalam segala hal apapun
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
aku banget ini kaak mirna.. 😭
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ: Aaamiin Ya Allah.. 🤲🤲
total 2 replies
Anis Hasan
lanjut semoga aisyah selalu bahagia dan istikomah
Nina
rutinitas kehidupan sehari2
Nina
dalam rumah tangga harus ada yggg saling mengalah,Yang satu api yg satunya jadi air
Nina
selalu banyak cobaan di rumah tangga,entah itu dari saudara,orang tua,kerabat,teman
Nina
semangat Aisyah,jangan sedih
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
salah satu obat mujarab ketika jadi istri itu, bagaimanapun rasanya sakit hati, sesesak apapun dadamu ketika dikecewakan.. harus bisa dan wajib diutarakan. biar g mengakibatkan penyakit datang bermunculan..
semangat terus kak Atali🥰
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
kasian aisyahh, jd ikutan nyesek berada diposisi aisyah🥲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!