MEI NAGANO, Gadis Jepang yatim piatu yang kini berumur 25 tahun. Setelah berhasil menyandang gelar Sarjana Farmasi di kota Osaka, kini ia kembali ke Tokyo tanah kelahirannya untuk mengadu nasib.
MEI mendapat kesempatan melakukan wawancara di PT KOBANE KINBA CO. sebuah perusahaan besar sebagai karyawan baru.
Tetapi, MEI justru bertemu seseorang yang sudah tujuh tahun ini selalu ia tunggu kehadirannya.
Dia adalah RYO YOSHIZAWA, pria yang melakukan One Night Stand dengannya ketika MEI nekad hendak bunuh diri di usia ke-18 tahun karena patah hati. Ternyata, RYO adalah CEO PT KOBANE KINBA CO.
Apakah yang terjadi selanjutnya dengan MEI dan RYO? Akankah keduanya dipersatukan kembali untuk bersama? Akankah benih-benih cinta tumbuh setelah tahu kenyataan yang sebenarnya?
Author mohon dukungan pembaca lewat LIKE, FAVORIT, KOMENTAR serta RATE ⛤⛤⛤⛥⛥🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 (KABUR)
"Kembalikan Angel padaku! Dia adalah hakku!"
Ryo menatap geram wajah Wanabe. Mei berusaha menjadi penengah keduanya.
"Jangan seperti itu, Kak! Kau menyakiti perasaan Ryo dan juga Angel!" kata Mei mengingatkan Wanabe. Ia merasa bisa menasehati karena cukup mengenal pria itu. Mereka kecil bersama karena kedua orang tua yang bersahabat.
"Mei! Angel anakku, bukan anaknya. Angel darah dagingku, bukan darah dagingnya. Dia hanya mengambil keuntungan dari keadaan Felic waktu itu!"
"Hoho...! Kemana kau saat Felicia hamil dan minta pertanggung jawabanmu, Takeshi? Kau... Bahkan kabur tanpa perasaan setelah mengetahui kekasihmu itu mengandung!"
"Aku pergi untuk kehidupan yang lebih baik! Untuk masa depanku dengan Felicia juga calon anak kita!"
"Iyakah? Hm... Sayangnya aku sangat ragu!"
"Sebaiknya kalian tidak bertengkar. Angel jauh lebih penting daripada keributan kalian yang tak ada ujungnya! Hari ini Angel sedang senang. Ini, dia tuliskan surat untuk Mei dan Ryo. Tolong jaga kondisi kesehatan gadis kecil itu!"
Dokter Owen memberi warning.
Ryo dan Wanabe terdiam. Mencoba menjaga perkataan mereka untuk tidak saling debat lagi.
"Aku, akan berikan donor sumsum-ku dengan catatan Angel aku bawa!"
Ryo membelalakkan matanya.
"Apa? Apa kau fikir Angel itu barang? Hewan peliharaan yang bisa kau bawa dan ambil seenakmu? No, tidak! Aku tidak akan memberikan Angel pada siapapun apalagi padamu!"
"Oke, fine! Jangan harap aku akan masuk ruang operasi dan mendonorkan sumsumku!"
"Orang gila! Kau mengaku Angel anakmu tapi kau malah bertingkah seperti orang jahat yang menukar nyawanya demi keegoisanmu yang bodoh!"
Ryo kesal, Wanabe memberinya pilihan. Dan pilihan itu membuatnya semakin kesal.
Ryo mulai merasa, Wanabe bakalan berbuat aneh dan menberinya kesulitan di kemudian hari.
Ternyata fellingnya sangat tepat.
Keesokan hari Paman dan Sepupu Felicia mendatangi Ryo di kantor pusat PT Kibane Kinba Co.
Rupanya mereka mendapatkan kabar kalau Angel bukan putri Ryo. Wanabe gerak cepat dengan mencari dan mendatangi kerabat-kerabat Felicia demi untuk kepentingannya mendapatkan semua yang diinginkan.
Ryo tak dapat mengelak.
Paman dan Sepupu Feli menginginkan Ia mencocokkan DNA dengan Angel.
Kenyataan memang tak bisa di kompromi. Tetapi Ryo berkeyakinan tinggi, ia mampu mengurus Angel apalagi Mei juga kini turut mendukungnya.
Ryo mengambil tindakan membawa kabur Angel dari kota Tokyo. Ia telah memiliki tabungan yang cukup guna menghidupi mereka bertiga di kota Nagoya.
"Ryo, apa tindakan kita ini tidak akan membahayakan keadaan Angel? Tidakkah kita terlihat sangat egois?" tanya Mei waswas ketika Ryo mengajaknya serta membawa pergi Angel keluar rumah sakit karena khawatir dibawa Wanabe Takeshi.
"Kita bisa membuatnya bahagia. Itu adalah obat yang paling baik di seluruh dunia, bukan?" kata Ryo meyakinkan Mei.
Dengan menggunakan skuter sewa dari gedung sebelah rumah sakit, Ryo menjalankan aksinya menjemput Angel di pukul sembilan malam.
Angel masih di ruang isolasi.
Masih mendapatkan perawatan medis untuk masuk ruang operasi dalam waktu dekat.
Namun mengingat ancaman Wanabe kemarin, Ryo urung melakukan operasi pada Angel. Ia cukup percaya diri kalau Angel bisa hidup lebih lama asalkan diberikan obat yang Dokter Owen biasa resepkan.
Dengan mengendap-endap seperti pencuri, Ryo berhasil masuk kamar isolasi.
Angel sudah tertidur lelap karena obat yang diberikan suster pukul tujuh malam tadi.
Ryo mencabut selang infus dan juga selang bantuan pernafasan yang ada di tubuh putri kecilnya yang tampak tidur nyenyak.
"Angel, maafkan Papa, Nak! Ini Papa lakukan demi kamu dan Papa. Kita bisa hidup bersama di kota Nagoya. Kamu akan menyaksikan sendiri pernikahan Papa Mama di kota itu, nanti!" gumam Ryo membuat Angel terjaga.
"Papa?"
"Iya Sayang, ini Papa! Diam ya, Nak! Papa akan membawamu ke suatu tempat yang lebih baik!"
"Operasinya?" tanya Angel bingung.
Ryo memangku erat tubuh Angel.
Ia menutupi tubuh Sang Putri dengan selimut putih. Lalu berjalan keluar sama seperti tadi. Dengan kepala menengok ke kanan dan ke kiri. Takut juga kalau ketahuan para suster perawat yang sedang istirahat.
"Mei!"
"Ryo, di sini!"
Mei yang menjadi partner Ryo dalam penculikan Angel pun melambaikan tangan.
Sebuah mobil bak tertutup telah mereka siapkan. Malam itu juga ketiganya pergi meninggalkan Tokyo menuju Nagoya.
Butuh waktu 5 jam dengan kecepatan sedang menuju kota Nagoya. Itu sudah termasuk cepat karena perjalanan dilakukan malam hari sehingga mereka tidak terjebak macet dan lain sebagainya.
Pukul dua dini hari cuaca dingin Nagoya menyambut kedatangan ketiganya.
Ryo yang menyetir sementara Mei duduk disebelahnya dengan memangku tubuh mungil Angel yang terbungkus selimut tebal dan dalam keadaan tidur pulas.
Mereka telah tiba di sebuah kota kecil bernama Nagiso. Kota yang sejuk dengan bangunan tradisional dimana-mana merupakan rute jalur peristirahatan yang menghubungkan kota Kyoto dengan kota Edo.
Di Kota ini pulalah Mei lahir karena Mamanya berasal dari Nagano. Untuk menghormati leluhur sang Mama, maka Mei bayi diberi nama Mei Nagano oleh mereka.
Mereka bertiga tertidur pulas dalam mobil van.
Hingga tanpa terasa matahari mulai muncul dari balik perbukitan hijau yang indah. Semburat hangatnya menyinari wajah Mei serta Ryo yang menggeliat terbangun dari tidurnya.
Angel lebih dahulu tersadar.
"Mama! Papa! Ohayou gozaimasu!" sapa Angel dengan suara kawaii-nya.
"Ohayou gozaimasu, my Beby Angel!" jawab Ryo tersenyum senang.
Mei membuka kelopak matanya. Ikut tersenyum karena paginya yang cerah dimulau dengan tatapan lembut dari seorang Ryo dan juga Angel.
"Kita akan memulai hidup baru bersama di kota ini!"
"Iyakah?"
"Iya, Angel! Apakah kamu bahagia?"
"Tentu, Mama! Angel senang sekali. Tapi... Bukankah hari ini harusnya Angel jadwal operasi?"
"Hehehe... Angel tidak perlu memikirkan itu. Angel sudah sembuh. Angel adalah survivor cancer. Tinggal menjaga kesehatan saja dengan baik, dan ikuti nasehat Papa Mama agar tidak sakit lagi. Okay?"
"Oke Papa! Siap, Mama! Angel akan jadi anak yang baik, karena kini Angel punya Mama juga. Jadi, keluarga kita lengkap bukan?"
"Tentu. Kita akan bahagia! Papa Mama akan segera menikah. Dan Angel bisa memakai gaun pengiring pengantin untuk Papa Mama. Mimpi Angel akan jadi kenyataan!"
"Waah! Kapan, Ma, Pa?"
"Secepatnya!"
"Asiiik!"
Ryo memang telah berjanji pada Mei, akan segera menikahinya di kuil nenek moyangnya.
Kini tinggal selangkah lagi mereka berjalan di altar suci. Menuju mahligai rumah tangga sebagai suami istri.
"Besok, kita cari butik pakaian pengantin. Kita sewa pakaian itu untuk hari minggu. Bagaimana?" tanya Ryo disambut sorak sorai Angel dan tatapan haru Mei.
"Mama lahir hari Minggu di bulan Mei. Pas bukan? Papa akan menikahi Mama hari Minggu, tepat di awal bulan Mei. Walaupun berbeda dua hari, tapi Papa bisa jadi hadiah teristimewa hari kelahiran Mama!"
"Waah, sugoi!!!"
Mimpi yang indah. Akan menjadi nyata. Mei dan Ryo bahagia. Walaupun dalam keadaan kabur melarikan Angel dari semua orang di kota Tokyo.
...🍀BERSAMBUNG🍀...