Elvan begitu mencintai istrinya. Begitu juga istrinya yang sangat mencintainya. Namun, setelah menikah tiga tahun lamanya, Clara yang merupakan istri Elvan mulai berubah sikap. Di sela-sela rumah tangganya yang tak baik-baik saja, Elvan terjebak satu malam bersama Rania yang merupakan office girl yang bekerja di kantornya.
Akankah Elvan mempertanggung jawabkan perbuatannya? Ataukah dia tetap pada pendiriannya untuk tetap setia dengan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.23
Terlihat Elvan yang baru mengerjapkan kedua matanya. Dia menatap ke sampingnya, ternyata tidak ada istinya. Dia menatap jam yang ada di dinding. Ternyata baru pukul lima pagi.
''Apa Rania sedang masak,'' gumamnya.
Elvan beranjak dari atas tempat tidur. Dia pergi keluar untuk memastikannya. Sesampainya di dapur, dia melihat istrinya yang sedang masak. Elvan tersenyum sambil menatap istrinya dari belakang. Kebetulan posisi Rania membelakanginya, sehingga tidak melihat kedatangan suaminya.
''Rajin sekali nih jam segini sudah masak,'' ucap Elvan.
Rania menoleh ke belakang. Dia melihat suaminya yang sedang memperhatikannya.
''Mas Elvan sudah bangun?''
''Iya nih. Kamu masak apa?''
''Aku masak sup, akhir-akhir ini kalau pagi aku inginnya makan sup.''
''Sepertinya enak tuh,'' Elvan menghirup aroma harum yang menggugah selera dari masakan istrinya.
''Ya lumayan, seperti biasanya.'' Rania memperlihatkan senyumnya. ''Oh iya, Mas Elvan sudah Shalat belum?''
''Aku jarang-jarang melaksanakannya,'' jawabnya.
''Mas Elvan ini seorang pemimpin dalam keluarga. Jadilah imam yang baik, yang bisa mengajarkan anak dan istrinya hal yang baik pula. Setidaknya jadilah contoh yang baik.''
''Iya, aku akan Shalat sekarang.''
''Maaf ya, bukannya aku so ngatur. Lagian ini juga demi kebaikan Mas Elvan sendiri sebagai kepala keluarga.''
Elvan tidak marah saat istrinya mengatakan itu. Dia malah terlihat senang karena istrinya begitu perhatian. Elvan melihat jika istrinya itu wanita yang sangat baik. Bukan hanya hatinya saja, namun perilakunya dan akhlaknya.
Rania merasa aneh saat melihat suaminya yang malah tersenyum menatapnya.
''Kenapa Mas Elvan tersenyum?''
''Ah tidak kok. Aku ke kamar dulu,'' Elvan berlalu pergi dari hadapan istrinya. Dan itu membuat istrinya semakin heran saja.
Rania lanjut memasak lagi. Hanya sup ayam saja yang dia masak, tidak ada menu lainnya. Karena itu tugasnya Bi Darmi. Rania hanya memasak apa yang dia inginkan saja.
Akhirnya matang jug sup ayam buatannya. Rania langsung pergi ke kamarnya, karena hendak mandi.
Rania melihat suaminya yang sudah tampak rapi. Pakaiannya pun sudah beda dengan yang tadi.
''Mas, sudah mandi ya? Maaf ya aku tidak menyiapkan pakaian ganti untukmu,'' ucap Rania kepada suaminya.
''Tidak apa-apa, Ran. Lagian aku bisa ambil sendiri kok.''
''Aku mandi dulu, Mas.'' Rania langsung melangkah menuju ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
Elvan keluar dari kamar, karena dia takut jika nanti istrinya tidak nyaman kalau melihatnya masih berada disana. Apalagi istrinya masuk ke kamar mandi tanpa membawa pakaian ganti.
Siang ini Bu Rosma sengaja datang ke kantor Elvan. Karena kemarin sore Bu Rosma datang ke rumahnya, namun ternyata Elvan tidak ada.
Bu Rosma sudah berdiri di depan ruang kerja anaknya.
Tok tok
Bu Rosma mengetuk pintu itu, lalu langsung membukanya. Ternyata ruangan itu tampak kosong. Bahkan meja kerjanya juga tampak rapi. Tidak ada laptop disana.
''Kemana Elvan? Apa dia tidak masuk kantor,'' gumam Bu Rosma yang sedikit bingung.
Bu Rosma mencari ke kamar pribadi anaknya yang ada di ruangan itu. Bahkan juga mencarinya ke toilet. Namun anaknya tidak ada. Bu Rosma memilih untuk keluar dari ruangan itu.
Reno yang baru keluar dari ruangannya, melihat Bu Rosma yang baru keluar dari ruangan Elvan.
''Selamat siang, Bu.'' Reno menyapa Bu Rosma dengan ramah.
''Siang juga. Ren, dimana Elvan? Kenapa ruangannya kosong?''
''Pak Elvan pulang tadi sebelum jam makan siang,'' jawabnya.
''Kamu tahu tidak dia tinggal dimana? Kemarin saya ke rumahnya, namun Elvan tidak ada di rumah.''
''Mungkin tinggal di apartemennya, Bu.''
''Baiklah, saya akan coba pergi kesana.''' setelah mengatakan itu Bu Rosma segera pergi dari sana. Tujuannya saat ini ke apartemen anaknya
Dengan menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, kini Bu Rosma telah sampai di depan deretan apartemen mewah. Bu Rosma yang baru keluar dari mobil, langsung saja pergi menuju ke apartemen anaknya.
Saat ini Bu Rosma berada di dalam lift.
Ting
Lift sudah berhenti, dan pintu itu terbuka. Bu Rosma segera keluar dari lift, lalu melangkah menuju ke apartemen anaknya.
Kini Bu Rosma berdiri di depan apartemen. Bu Rosma langsung memencet bel. Tak lama ada yang membukakan pintu, dan ternyata itu Elvan. Elvan terkejut melihat ibunya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Mamah? Kenapa datang kesini?" Tanya Elvan.
"Kamu ini bagaimana sih, orang tua datang malah di tanya seperti itu."
"Maaf, Mah. Tapi mamah itu datang tidak bilang-bilang aku dulu."
"Mamah masuk ya," Bu Rosma hendak melangkah masuk, namun Elvan menghalanginya.
"Jangan!" Elvan merentangkan tangannya agar ibunya tidak bisa lewat.
"Kenapa tidak boleh?"
"Bukan seperti itu, Mah. Hanya saja apartemenku sedikit berantakan. Sebentar aku bereskan dulu," Elvan langsung menutup pintu apartemennya. Dia membiarkan ibunya berdiri di luar. Sebenarnya Elvan mengatakan itu hanya untuk beralasan saja.Dia takut jika saat masuk, ibunya melihat Rania.
Elvan menghampiri istrinya yang berada di dapur. Kebetulan istrinya baru selesai membuat puding.
"Rani, kamu sekarang ke kamar ya. Jangan lupa kunci pintunya. Kamu juga jangan bersuara," pintanya.
"Memangnya kenapa?" Rania merasa sedikit aneh karena tiba-tiba suaminya menyuruh dia masuk kamar. Dia melihat raut wajah suaminya yang terlihat panik.
"Nanti aku jelaskan. Tapi untuk sekarang menurut saja denganku."
"Baiklah," Rania menurut dengan suaminya. Dia langsung pergi menuju ke kamarnya
Setelah melihat kepergian istrinya, Elvan langsung ke depan untuk membukakan pintu. Karena jika di biarkan terlalu lama menunggu, ibunya bisa memarahinya.
Cklek
Elvan sudah membuka pintu. Dia menatap ibunya yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
"Ayo masuk, Mah!" Ucapnya ramah.
Bu Rosma mendekati anaknya, lalu menarik telinganya.
"Dasar anak nakal."
"Aduh maaf, lepasin dong! Telingaku sakit loh," kini Elvan sudah melepaskan diri dari ibunya.
"Awas saja kalau berani macam-macam," setelah mengatakan itu, Bu Rosma melangkah ke dalam. Lalu duduk di sofa yang ada di ruang depan.
Elvan yang melihat ibunya duduk, dia langsung menghampirinya.
"Mah, mamah mau minum apa?" Tanya Elvan.
"Nanti saja. Lagian mamah bisa ambil sendiri."
Elvan mendudukkan dirinya di depan ibunya.
"Kemarin sore mamah datang ke rumahmu, tapi kamu tidak ada di rumah. Lagian kenapa tinggal di apartemen sih, disini kan sempit." Ucapnya sambil menatap sekitar.
"Aku sedang ingin tinggal disini, Mah."
Bu Rosma menatap anaknya dengan sedikit curiga.
"Kamu habis mengusir Clara dari rumah. Tapi sekarang malah tinggal disini. Apa kamu menenangkan diri karena gagal move on?"
"Tidak, kenapa mamah bisa berpikiran seperti itu?"
"Ya habisnya kamu tidak terlihat terbuka. Mamah kira kamu gagal move on."
Tiba-tiba Bu Rosma merasakan haus.
"Mamah ke belakang dulu ya. Haus nih ingin minum."
"Iya, Mah."
Bu Rosma yang sudah berada di dapur, langsung mengambil minum. Namun tak sengaja melihat ada susu ibu hamil yang di taruh di atas kulkas.
"Kok ada susu ibu hamil disini? Apa itu milik Clara? Tapi kenapa ada disini?" Bu Rosma tampak bertanya-tanya dalam dirinya.
Bu Rosma kembali ke depan, menghampiri anaknya.
"Van, kenapa di dapur ada susu ibu hamil?"
Elvan diam seketika saat mendengar penuturan ibunya. Dia memikirkan alasan yang tepat agar ibunya tidak curiga.
"Em ... Itu," Elvan tampak bingung mencari alasan.
"Kenapa kamu gugup? Kamu menyembunyikan sesuatu dari mamah?"
"Tidak kok. Itu susu milik Clara, Mah. Kebetulan dia sempat tinggal disini," Elvan terpaksa berbohong kepada ibunya.
Tokoh2nya kuat karakternya...
Tokoh2nya kuat karakternya...