Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23_Status Baru
Michael membuka matanya perlahan. Matanya menatap sekeliling yang masih terlihat sepi dan manik matanya menatap tepat pada wanita yang ada di dekatnya, meringkuk dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh dan memunculkan kepala saja. Michael menatap lekat gadis yang sudah beralih menjadi wanita sejak semalam, ketika Michael memaksa menyetubuhinya. Air matanya bahkan sudah mengering. Michael yakin, akan ada banyak sekali tanda yang ditinggalkannya.
“Ini semua karena keinginanmu, Vinda,” ucapnya tanpa rasa bersalah. Dia akan tetap menyiksa Vinda selama hidupnya. Tidak akan ada cinta meski mereka sudah diikat dengan hubungan pernikahan.
Aku tidak pernah mencintaimu dan tidak akan pernah. Michael menatap dengan wajah mengeras yang sudah menahan emosi. Setiap kali melihat Vinda, jantungnya benar-benar merasakan hal berbeda. Bukan cinta, tetapi kebencian.
“Pernikahan ini terjadi karena kamu. Jadi, nikmati penderitaannya mulai hari ini,” desis Michael dengan senyum mengerikan.
Michael memutuskan untuk turun dari ranjang dan memakai pakaiannya. Matanya menatap kamar yang sudah berantakan karena ulahnya semalam, menyetubuhi Vinda dengan beringas. Dia tau, seharusnya wanita tersebut mendapatkan malam pertamanya dengan begitu baik, tetapi dia tidak akan pernah melakukannya karena bukan Vinda wanita yang diinginkan.
Michael mengenakan pakaiannya dan segera keluar dari kamar. Dia harus membersihkan diri dan memilih kamar tamu sebagai kamarnya saat ini. Dia harus benar-benar menahan amarahnya pagi ini. Setidaknya dia akan bersama dengan Vinda sampai Rensi ditemukan. Aku akan menikahi mu lagi ketika kamu ditemukan, ucapnya dalam hati.
Michael masuk ke kamar mandi, menanggalkan semua pakaiannya dan meletakan di ranjang kotor dekat pintu masuk. Setelahnya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri serta pikiran kotornya tentang ingatan semalam. Tentang bagaimana dia mulai merengkuh kenikmatan dari tubuh yang tidak diharapkan.
_____
Sinar matahari mengintip dari baik tirai rumah kayu dan mengusik penghuni tunggal kamar dengan kondisi mengenaskan. Membuat wanita yang saat ini tengah berbalut selimut menggeliat dan membuka matanya perlahan. Vinda membuka mata dan menyesuaikannya dengan ruangan sekitar. Setelah dirasa jelas, bola matanya mengamti seiri ruangan.
Vinda meneliti ruangan yang awalnya begitu rapi, kini sudah mirip seperti kapal pecah. Apa semalam terjadi gempa? Jelas. Vinda masih ingat gempa kecil tersebut disebabkan ulah pria yang benar-benar dibencinya. Ya, Vinda membenci Michael yang bahkan tidak memiliki hati ketika merobek keperawannya.
Vinda menghela napas panjang dan mulai mendudukan tubuhnya, menahan rasa sakit yang menyerang bagian bawahnya. Helaan napas terdengar ketika dia berhasil duduk an menyandarkan tubuhnya di kelapa ranjang. Matanya menatap pakaian mahal yang saat ini teronggok di lantai dengan keadaan yang sudah tidak dapat digunakan.
“Ael memang gila,” pikirnya dengan wajah yang sudah mendengus kesal. Sekarang aku harus pakai apa?
Vinda menatap sekitar dan tidak menemukan Ael di sekitarnya. Rasanya dia benar-benar merasa sakit hati. Kenapa? Entahlah. Bibirnya hanya tersenyum tipis dengan mata terpejam. Tangannya masih memegang erat selimutnya sampai dada karena dia sadar, semalam Michael menelanjanginya dengan begitu tega.
Pintu ruangan terbuka, membuat Vinda membuka matanya dan memandang seseorang yang sudah berdiri dengan pakaian rapi. Vinda mengabaikan kedatangan Michael yang sudah tidak membuatnya heran. Bahkan, dia memilih membuang wajahnya dan tidak menatap pria kurang ajar yang tengah menatapnya tajam.
“Cepat bangun dan mandi. Kita akan kembali ke rumah pagi ini,” ucap Michael dengan suara dingin.
Vinda melirik Michael dengan tatapan malas. “Kamu ingin aku telanjang pulang ke rumahmu, hah?” tanyanya dengan wajah menantang.
Michael menghela napas dan memutar matanya malas. “Roy akan membawa pakainmu sebentar lagi. Jadi, lebih baik kamu mandi sekarang.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Michael berbalik badan dan siap pergi. Dia enggan bersama dengan Vinda terlalu lama. Saat ini, pikirannya hanya akan terfokus dengan Rensi dan keberadaan wanitanya. Dia harus segera mendapatkannya. Apa pun caranya.
“Apa setelah semalam dengan kurang ajarnya kamu mengambil keperawananku, kamu tidak berniat menolong wanita malang ini, Tuan Michael?” ucap Vinda dengan wajah santai dan nada menyindir. Dia sebenarnya tidak mau meminta bantuan Michael, tetapi dia tidak bisa melangkah sendiri. Selangkangannya masih terasa sakit dan perih akibat pergulatan semalam.
Michael yang mendengar langsung berbalik, menatap Vinda malas. Langkahnya melebar mendekati ranjang yang sudah dihancurkan olehnya semalam. Dia mendengus kesal dan langsung mengangkat Vinda tanpa rasa bersalah sama sekali. Kakinya menuju kamar mandi yang sudah tersedia di kamar tersebut, mengisinya dengan air hangat dan memasukan Vinda ke bath up.
“Sudah?” tanya Michael dengan tatapan tidak suka. Dia sebenarnya tidak ingin membantu Vinda, tetapi dia sadar, semalam dia terlalu buas mengenjot Vinda.
Vinda hanya mengangguk dan membuka tangan yang sejak tadi digunakan untuk menutupi dada dan bagian kewanitaannya. Menghela napas panjang dan merendam tubuhnya, meresapi aroma therapy pada ruangan tersebut.
_____
Satu jam kemudian, Vinda sudah berdiri di depan cermin kamar mandi dan menatap tubuhnya yang sudah dibalut dengan jubah mandi yang sudah tersedia di ujung ruangan. Matanya meneliti setiap jengkal tubuh yang sudah tampak begitu menyedihkan. Banyak sekali tanda kemerahan yang ditinggalkan Michael. Bahkan lengannya masih membiru karena genggaman Michael yang terlalu erat. Kakinya masih merasa sakit karena beberapa kali terkilir dan tidak dirasakannya.
Vinda menghela napas panjang dan menunduk perih. “Kenapa pernikahanku bahkan tidak begitu baik? Impian mendapatkan pria yang benar-benar akan menyayangiku sudah benar-benar pupus.”
Ya, semua harapan dan impian Vinda sudah hancur sejak saat dia menerima pernikahan paksa dengan Michael. Dia ingin sekali kabur pada saat itu, tetapi pikirannya kembali berontak. Bagaimaan dengan keluarganya? Rasanya dia bukan seseorang yang egois yang akan membiarkan ayahnya menderita. Setidaknya ini yang bisa dilakukan untuk membalas semua kebaikan sang ayah.
Ketukan pintu terdengar beberapa kali dan membuat Vinda mengalihkan pandangannya. Dia ragu untuk membuka. Bagaimana jika Michael?
“Vinda, ini aku, Roy. Aku membawakanmu pakaian.”
Mendengar nama yang disebut membuatnya tersenyum dan menghapus jejak air mata yang tanpa sadar sudah menitik. Dengan cepat dia membuka pintu dan menampilkan sosok tegap dengan senyum sumringah.
“Aku membawakanmu pakaian. Segeralah ganti dan turun. Tuan Michael sudah menunggu di lantai dasar,” jelas Roy dengan nada datar seperti ketika bertugas.
Vinda mengangguk patuh. Dia tidak memiliki tenaga untuk membantah. Tetapi, saat Roy hendak keluar kamar, Vinda menghentikannya.
“Roy, tunggu,” ucapnya membuat Roy yang sudah siap pergi berbalik menatapnya.
“Iya, ada lagi?”
Vinda diam sesaat, menimbang apa yang akan ditanyakannya benar? Matanya menatap Roy yang masih setia memandangnya. “Apa Rensi sudah ditemukan?” tanyanya dengan nada gugup.
Roy yang mendengar hanya diam dengan mulut terkunci rapat. Namun, setelah beberapa saat, kepalanya menggeleng. “Jangan pikirkan Rensi. Jauh lebih baik kamu segera ganti pakaian karena Tuan Michael tidak suka menunggu.”
Vinda yang mendengar peringatan tersebut hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar mandi, mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan untuknya dan segera bersiap. Dia masih enggan mencari masalah dengan pria kurang ajar yang nyatanya sekarang menjadi suaminya. Mulia hari ini, karena bagaimana pun, dia tidak bisa mengubah kenyataannya. Dia sudah bukan gadis tanpa status. Saat ini, dia sudah memiliki status baru. Status yang tidak pernah dipikirkannya sama sekali, bahkan dalam mimpi sekali pun.
_____
Tasya masih berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah Michael. Sejak semalam keduanya tidak bisa dihubungi dan itu membuatnya semakin panik. Semalam,setelah Michael membawa pergi Vinda dengan cara paksa, dia dan Adelardo langsung mengikuti. Sayangnya, mereka kehilangan jejak dan saat mereka sampai di rumah Michael, anaknya tidak datang ke sana.
“Sayang, kamu bisa duduk dulu? Aku capek melihatmu ke sana ke sini,” ucap Adelardo yang sejak semalam menenangkan istrinya, meski tidak membuahkan hasil sama sekali.
Tasya yang mendengar hanya diam dengan wajah yang masih tampak begitu cemas. Meski dia memilih untuk duduk di sebelah suaminya, pikirannya masih tidak tenang. Ditanbah dengan Beni yang saat itu juga diam dengan perasaan was-was.
“Maafkan anak saya yang sudah kurang aja,” ucap Tasya tidak tega melihat Beni yang sudah begitu cemas.
Beni yang mendengar tersenyum tipis menanggapi. “Tidak. Saya yang harus meminta maaf. Karena anak saya yang kabur dan meninggalkan pernikahan, membuat keluarga Aditama menanggung malu.”
Nani yang sejak tadi diam membelalak dan hendak membuka mulut, tetapi mata Beni yang menatap tajam ke arahnya langsung membuatnya diam seribu bahasa. Matanya langsung membuang pandangan dan menatap ke arah lain. Sebenarnya dia menyesalkan karena pada akhirnya Vinda yang menjadi keluarga Aditama saat ini. Saat Rensi kembali, kamu akan segera tergantikan, Vinda.
Suara deru mobil terdengar di halaman depan rumah Michael. Tasya yang mendengar langsung berdiri dan berlari, disusul dengan Beni dan Adelardo yang juga tampak terburu-buru. Tasya berdiri di pintu depan dan menghela napas lega melihat Vinda keluar dari mobil anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Vinda melangkah mendekati kerumunan yang sejak tadi memandang ke arahnya. Tasya yang melihat langsung menghambur memeluk Vinda dan beberapa kali mengucap syukur. Rasanya seluruh beban yang sejak semalam ditanggug menguap begitu saja. Hal yang sama juga dirasakan oleh Beni ketika melihat Vinda baik-baik saja.
“Kamu baik-baik saja, sayang? Ael tidak menyakitimu, kan?” tanyanya dengan wajah serius dan memandang Vinda lekat.
Vinda melirik Michael yang saat itu berdiri di dekatnya. Tidak ada respon apa pun. Lalu, matanya kembali melirik wanita yang tampak begitu mengkhawatirkannya. “Tidak.” Vinda menggeleng dengan senyum terukir.
Adelardo yang melihat ikut merasakan lega. Dia melangkah dan mendekati Vinda yang masih tampak begitu canggung. Tangannya mengelus puncak kepala menantunya dengan lembut. “Selamat datang di keluarga Aditama. Papa harap, kamu bisa menjadi pendamping Ael selamanya.”
Vinda yang mendengar hanya diam dengan pandangan kosong. Selamanya? Apa mungkin itu akan terjadi? Meski dia tidak menyukai Michael, dia masih berharap bisa melakukan pernikahan sekali seumur hidup. Namun, semua hanya harapan semata. Dia akan pergi saat Rensi kembali dan dia berharap saudarinya itu segera kembali.
“Papa dan Mama sudah seleai? Ael masih banyak pekerjaan,” ucap Michael dengan nada ketus. Tanpa menunggu persetujuan dari orang tuanya, Michael melangkah meninggalkan ruang tamu, diikuti Roy yang setia berada di belakangnya.
_____
“Apa yang kamu dapatkan?” tanya Michael yang sudah duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap tajam Roy yang sudah berdiri dengan tegap dan wajah datar.
“Namanya Dave Wijaya. Dia anak pemilik perusahaan Wijaya Santosa. Perusahaan kita memiliki setengah dari saham di perusahaan tersebut. Selebihnya, semua pemegang saham adalah perusahaan yang menjalin kerja sama dengan kita dan memiliki baik. Saham terbesar lainnya di pegang oleh keluarga Tuan Randy, dokter pribadi keluarga Aditama.”
Michael yang mendengar hanya tersenyum misterius. Dia tidak akan membiarkan seseorang memiliki Rensi. Apa pun alasannya. “Dan bagaimana kabar dari Rensi?”
Roy berdehem sejenak dan menatap Michael lekat. “Nona Rensi belum ditemukan. Dugaan terakhir, Nona Rensi pergi bersama dengan Dave.”
Mendengar hal tersebut, Michael langsung menggeram penuh amarah. Dia membanting berkas yang ada di mejanya dan menatap Roy dengan bibir terkatup. “Aku tidak mau tau. Secepatnya kamu cari Rensi sampai ketemu,” ucapnya sembari menunjuk Roy dengan telunjuk, “dan jangan lupa, buat perusahaan Wijaya hancur. Jika perlu, hancurkan sekalian keluarga sialan itu,” desisnya tanpa ampun.
Roy yang mendengar hanya mengangguk patuh dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk, berpamitan. Setelah itu, dia melangkah meninggalkan Michael yang masih diselimuti amarah. Matanya menggelap dengan napas yang tidak teratur.
“Kamu berani bermain denganku, Dave. Jadi, terima semua kehancuranmu sekarang,” ucapnya dengan senyum kejam yang terlukis.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄