NovelToon NovelToon
Setelah Hujan

Setelah Hujan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:154.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restviani

Bagaikan buah simalakama. Aku pergi, dia hancur. Aku bertahan, aku yang hancur. Lalu, jalan seperti apa yang harus aku ambil?

Siapa yang tidak mengharapkan hubungan harmonis dengan keluarga pasangan. Setiap pasangan pasti berharap hubungan yang baik-baik saja dalam keluarga besarnya. Pepatah mengatakan, jika kau siap untuk menikah dengan anaknya, maka kau pun harus siap menikah dengan keluarganya? Lalu apa jadinya ketika orang tua pasangan kita tidak menerima kita sepenuhnya? Pilihannya hanya ada dua. Bertahan, atau melepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan Cinta Dadan

Di restoran, fokus Daniar hilang setelah bertatap muka dengan pemuda itu. Rasanya, wajah milik sang pemuda tidak asing di mata Daniar. Namun, Daniar sendiri lupa entah di mana pernah melihat wajah itu. "Ah, menyebalkan sekali," dengus Daniar yang masih bisa didengar oleh Dadan.

"Ya, Kenapa Niar?" tanya Dadan.

Daniar gelagapan. Sejurus kemudian, dia menegakkan tubuhnya kembali. "Eh, nggak kenapa-kenapa kok, Kak."

"Oh, ya. Mau makan apa?" tanya Dadan seraya menyodorkan buku menunya.

Daniar mengambil buku menu yang disodorkan Dadan. Dia kemudian membolak-balikan lembar demi lembar isi buku tersebut. Sebenarnya, ada banyak foto makanan yang bisa menggugah selera makannya. Namun, sejak bertemu dengan pemuda itu, pikiran Daniar tiba-tiba kosong.

Dadan hanya bisa menghela napas saat melihat tingkah daniar yang hanya membuka lembaran buku menu. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Dadan memutuskan untuk bertanya kepada Daniar.

"Sudah ketemu apa yang kamu cari, Niar?" tanya Dadan.

Daniar mendongak. Tampak kerutan tipis di keningnya. "Maksudnya?" tanya Daniar.

"Maksudnya, apa makanan yang ingin kamu pesan sudah ketemu?" Dadan memperjelas pertanyaannya.

Namun, tiba-tiba saja Daniar malah menyodorkan buku menu itu kepada Dadan.

"Sebaiknya Kakak saja yang pesankan. Niar nggak ngerti dengan nama-nama makanannya," ucap Daniar.

"Astaga Niar ... dari tadi kamu membolak-balikan lembaran buku itu tapi nggak ngerti apa isinya? Ish, buang-buang waktu saja!"

Tanpa sadar, Dadan mendengus kesal saat mendengar ucapan Daniar. Dia tidak menyadari jika keluhannya itu justru membuat Daniar memiliki penilaian yang lain terhadap dirinya.

"Mas!" panggil Dadan kepada salah seorang pelayan di restoran tersebut.

Seorang pemuda berpakaian hitam putih pun menghampiri meja mereka. "Mau pesan apa, Mas, Mbak?" tanyanya sopan.

"Dua porsi steak dan orange juice," jawab Dadan seraya menyerahkan buku menu kepada pelayan tersebut.

"Siap! Mohon ditunggu sebentar, Mas," jawab sang pelayan. Tak lama kemudian, pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Dadan dan Daniar.

"Kabarnya steak di sini sangat enak loh, Niar." Dadan mengawali percakapan.

"Benarkah?" jawab Daniar seraya menatap keluar, berharap penglihatannya bisa bertemu lagi dengan sosok pemuda tadi.

"Kamu cari siapa sih, Niar?" tanya Dadan yang melihat Daniar duduk, tapi memandang keluar dengan raut wajah cemas.

"Eh, enggak ... Niar nggak nyari siapa-siapa, Kak? Oh iya, tadi apa kata Kakak?"

"Tuh, 'kan ... kamu nggak fokus sih," gerutu Dadan terlihat kesal.

"Maaf," jawab Daniar. "Omong-omong, Kakak sering kemari ya?" tanya Daniar.

"Ini resto favorit aku," jawab Dadan.

"Hmm, pantas Kakak langsung tahu jenis makanan enak di sini tanpa melihat menu," tukas Daniar.

Dadan pun hanya tersenyum. "Niar, aku mau ngomong serius. Boleh nggak?" tanya Dadan menegakkan posisi duduknya.

"Ya boleh lah ... masak mau ngomong aja dilarang," sahut Daniar.

"Aku suka kamu. Maukah kamu menjadi pacarku?" tanya Dadan tanpa basa-basi.

Daniar terkejut mendengar pertanyaan Dadan. Dia hanya mampu membisu sambil menatap lekat ke arah si penanya. Entahlah, jujur Daniar belum mampu menarik kesimpulan tentang kedekatan ini. Semuanya begitu cepat bagi Daniar.

"Niar, kok diam?" Dadan kembali bertanya.

Sejenak, Daniar menarik napas dalam-dalam. "Tolong beri Daniar waktu, Kak. Daniar tidak bisa memberikan jawaban saat ini. Jujur saja, semua ini terlalu cepat, Kak. Daniar bingung harus jawab apa," ucap Daniar.

Dadan hanya menghela napas mendengar jawaban Daniar. Gurat kecewa tergambar sangat jelas di wajahnya. Namun, dia juga tidak bisa memaksa Daniar untuk menjawab keinginannya saat ini juga.

"Hmm, semoga kamu bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat, Niar," harap Dadan.

Daniar bergeming.

.

.

"Ish, gua nggak setuju kalau sampai tuh cowok jadi lakinya Daniar," dengus Deni, mengepalkan tangannya.

Yandri yang sedang menikmati makanannya hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya.

"Sudah, redam dulu emosinya. Entar badan kamu lemes. Ingat Den, emosi juga butuh tenaga loh," gurau Yandri seraya lebih mendekatkan makanan Deni.

"Ish, gua serius nih, Yan. Gua nggak terima ya, kalo si Niar merit ma tuh cowok. Uuh, yang bener aja. Jangan sampai lepas dari kandang macan eh malah masuk kandang buaya."

Deni semakin terlihat sangat kesal. Entahlah, sebagai sesama laki-laki, Deni bisa merasakan jika Dadan bukanlah cowok baik-baik.

"Sudah-sudah, nggak usah suudzon gitu ah," tukas Yandri. "Cepat habiskan makanannya!" perintah Yandri.

"Ish Yan, gua nggak suudzon. Gua serius nih, gua paling tahu tabiat cowok playboy tuh kayak gimana," timpal Deni.

"Iya lah ... secara gitu loh, kamu 'kan mantan playboy, hehehe..." kelakar Yandri.

Deni hanya mendelik mendengar gurauan sahabatnya itu.

"Lagian Den, aku heran sama kamu. Gadis itu bukan siapa-siapa kamu. Lantas, kenapa juga kamu uring-uringan seperti ini?" lanjut Yandri.

"Siapa bilang dia bukan siapa-siapa gua, Yan? Dia itu sahabat gua. Dan sebagai seorang sahabat, gua nggak rela Daniar berjodoh dengan laki-laki seperti itu. Titik!" tekan Deni.

Yandri hanya menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Deni. Kalau sudah jodoh, kamu bisa apa Den? batin Yandri.

.

.

Di dalam kamar, Daniar tampak gelisah seraya menggigit ujung kuku ibu jarinya. Ungkapan cinta Dadan tadi siang, masih terngiang-ngiang di telinga. Jujur saja, Daniar sendiri belum siap untuk menjalin kembali sebuah hubungan. Terlebih lagi dia masih trauma atas masa lalunya yang begitu buruk. Namun, Daniar bingung harus berkata apa. Menolak pun butuh sebuah alasan. Meskipun Daniar memiliki alasan yang cukup kuat. Namun, lidahnya terlalu kelu untuk berbicara jujur kepada laki-laki itu.

"Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?" gumam pelan Daniar.

Tok-tok-tok!

Daniar terhenyak saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Sejurus kemudian, dia berjalan untuk membuka pintu kamar.

"Ibu? Ngapain Ibu malam-malam datang ke kamar Niar?" tanya Daniar mengerutkan keningnya.

Bu Salma nyelonong memasuki kamar putrinya sambil berkata, "Memang butuh sebuah alasan ya, buat masuk ke kamar anaknya."

Daniar mengekor di belakang ibunya. "Ish, bukan begitu, Bu. Ya ini, 'kan sudah malam. Kenapa juga Ibu belum tidur?" tanya Daniar.

"Ibu nggak bisa tidur, Niar. Ibu keinget sama acara kamu tadi siang? Gimana acara kencannya? Sukses?" Bu Salma dibuat penasaran oleh kepergian anaknya bersama seorang laki-laki tadi siang.

"Ish Ibu, nggak baik loh kepo-in kegiatan anaknya sendiri," gurau Daniar.

"Kepo-in kehidupan anak sendiri nggak pa-pa Niar, asal jangan kepo-in kehidupan tetangga sebelah." Bu Salma membalas gurauan Daniar.

"Hadeuh, Ibu ini ada-ada aja. Dibilangin malah ngeyel," tegur Daniar.

"Udah ah, Ibu nggak mau debat sama kamu. Ayo ceritakan, gimana kencannya tadi?" Bu Salma kembali bertanya.

"Ish Ibu, Niar sama kak Dadan itu nggak kencan. Kita hanya jalan-jalan saja ke mal, terus makan. Gitu doang kok," rengut Daniar.

"Iya-iya, Ibu tahu. Tapi kalau jalannya berdua, tetap bisa dikatakan kencan, 'kan?" tukas Bu Salma.

"Ih nggak bisa dibilangin. Terserah Ibu deh," jawab Daniar kesal.

"Ya sudah, apa saja yang kalian bicarakan?" tanya bu Salma.

"Nggak banyak sih, cuma ..." Daniar menggantungkan kalimatnya.

"Cuma apa, Niar?" desak bu Salma.

"Cuma kak Dadan ungkapin rasa cintanya ke Niar," jawab Daniar.

"Wah, bagus dong Niar."

"Ih bagus apanya. Udah deh, Niar mau istirahat. Ibu kembali saja ke kamar, ya. Kasihan tuh, ayah nungguin Ibu."

Daniar meraih tangan ibunya agar segera berdiri. Sedetik kemudian, dia mendorong pelan tubuh sang ibu supaya keluar dari kamarnya.

"Ish, kamu ini! Dasar anak nggak ada akhlak!"

1
Atik
emangnya ibu kamu, yg manfaatin anaknya buat kepentingan pribadi
Atik
sedih banget mikirin nasib bintang
Atik
gila nih orang!!
Atik
astaga, apa maunya nih nenek tua...
aarhh...bikin emosi aja
Atik
satu kata untuk ibu mertua. "Gila"
Atik
selamat jalan khadijah
Atik
aduh...gak tahan sama kelakuan habibah...uuuh
Atik
rasain...
ngeyel sih
Atik
ngeyel
Atik
dasar kk ipar gila. nimbrung aja kerjaannya
Atik
jangan nekat daniar
Atik
daniar terus yang disalahin. dasar mertua gak tau diri
Atik
ya elah, banyak gaya amat. kalo gak punya duit mah, diem bae napa
Atik
gedek lama" sama sikap mwryam
Atik
idih, dikasih hati minta jantung. gak tau malu banget
Atik
bini lu pengertian, tapi lu sendiri, bego...
Atik
nyusahin banget ni orang
Atik
ampun banget dah ma bu maryam itu. gak pernah bersyukur jadi orang
Atik
Sejauh ini, ceritanya masih ringan dibaca. Konfliknya berisi tentang keseharian hidup, jadi masih logis.
Semangat Thot, Luar biasa ceritanya
Atik
astaga, Deni...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!