Cincin tunangan tertinggal di jari manis wanita asing? Kok bisa? Ya bisa buktinya
Alhan mengalami hal itu karena ulahnya sendiri. Ironisnya dia tidak tahu nama dan alamat rumah wanita itu apalagi nomor hapenya. Siapakah sebenarnya wanita itu? Bisakah ia bertemu wanita asing itu lagi ? Dan bagaimana Alhan melamar kekasihnya kalau cincinnya saja tidak ada? Simak terus kisahnya. Happy reading!❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Resign
Alhan masih bingung untuk menjawab apa. Sebenarnya ia sulit sekali move on dari Nurmala. Terlalu banyak kenangan yang belum bisa sirna dari hatinya. Karena sebelum kejadian tadi siang hubungan mereka baik-baik saja tanpa ada perselisihan.
"Ya Bun. Tapi Han tidak mau menikah secepat kilat. Han rasa pernikahan itu harus tetap direncanakan dengan matang walaupun hanya prosesi akad nikah saja. Han tahu bunda sayang sama Wafa namun perlu dipertimbangkan pula untuk melamar Wafa itu perlu adanya pertemuan dua keluarga. Sedangkan yang Han tahu keluarga Wafa tinggal cukup jauh dari kota ini." Rianti mengangguk "Oke ...oke....lantas mau kapan?" Cukup lama mereka terdiam pada akhirnya Alhan buka suara.
" Bulan depan" ujar Alhan mantap walaupun hatinya masih ragu.
" Oke.... fix bulan depan ke penghulu. Minggu depan kita atur lamaran. Oiya besok kamu temui Wafa di klinik kalau bisa sih di kontrakannya kamu tahu kan kontrakannya?" Alhan menggeleng. Dia sama sekali tidak tahu tempat tinggal Wafa selama ini, menurutnya pertemuannya dengan Wafa sampai rencana pernikahan bisa dibilang sangat cepat, sehingga ia sama sekali belum mengenal lebih dekat dengan calon istrinya itu bahkan dengan tempat tinggalnya.
"Sebagai calon pasangan suami istri harusnya kamu tahu. Besok kamu temui dia beritahu kalau Minggu depan keluarga kita akan bersilaturahmi ke rumah keluarganya. Duh bunda sudah engga sabaran pengen punya mantu dan nimang cucu" terlihat wajah bunda penuh kebahagiaan.
Pagi-pagi Alhan sudah siap berangkat ke sekolah tempatnya mengajar. Ia sudah memutuskan untuk berhenti dari sekolah tersebut. Ia mencoba untuk bisa move on dari Nurmala oleh sebab itu segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu harus diakhiri begitupun dengan pekerjaan yang satu tempat dengannya. Ia tidak ingin luka itu menggores hatinya dengan beberapa gosip murahan dari rekan-rekan sesama guru.
Hari ini Alhan membawa mobil ke sekolah kali ini ia mengabaikan motor bututnya yang sangat ia banggakan karena beli dari hasil keringatnya sendiri. Ia memarkirkan mobil di halaman parkir sekolah, tampak masih sepi hanya beberapa orang guru yang baru datang.
" Huh masih pagi begini pengawas sudah datang." Salah satu guru perempuan mengeluh.
Guru tersebut mengamati dari jauh mobil yang dianggap punya pengawas. Ia ingin tahu berapa orang yang datang hari ini. Karena hari ini ada kegiatan supervisi kelas yang selalu dipantau oleh pengawas. Supervisi dilakukan untuk menilai kinerja guru di kelas oleh kepala sekolah . Khususnya bagi guru-guru yang ada jadwal hari ini. Namun begitu terkejutnya guru tersebut ketika yang keluar dari mobil tersebut adalah Alhan. Surprise karena biasanya Alhan membawa motor bututnya dan sebenarnya hari ini pun Alhan tidak ada jadwal mengajar. Kegiatan supervisi tahun ini sangat berbeda, pengawas lebih sering memantau jalannya supervisi secara langsung. Kegiatan ini membuat ketar-ketir semua guru pasalnya guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran secara lengkap termasuk media pembelajaran dan semua itu nantinya harus dibawa ke kelas. Kebetulan Alhan sudah disupervisi Minggu lalu jadi ia terlihat santai. Jadi setidaknya untuk hengkang dari sekolah tersebut sudah tidak ada beban lagi. Alhan langsung menyambangi ruang kepala sekolah. Ia memberikan surat pengunduran diri kepada kepala sekolah pagi ini karena ia yakin kalau sudah siang kepala sekolah bakalan sibuk. Ditolak? Jelas kepala sekolah menolak pengunduran diri tersebut karena kinerja Alhan sangat baik apalagi kepala sekolah tahu kalau Alhan salah satu dosen dari perguruan tinggi ternama, ini sangat memengaruhi kualitas sekolah itu sendiri. Namun karena alasan Alhan yang sangat masuk akal dengan berat hati permohonan pengunduran diri dikabulkan jadi mulai hari ini Alhan bukan lagi guru di sekolah tersebut.
Setelah dari ruang kepala sekolah Alhan langsung menuju kantor guru untuk mengambil barang-barang miliknya yang tersimpan di atas meja. Ia membereskan dan meletakkan barang tersebut ke dalam kardus yang sudah ia siapkan sebelumnya. Satu persatu guru berdatangan, saling menyapa dan berjabat tangan.
"Loh pak Alhan sedang apa? Kok barang-barang bapak dimasukkan ke dalam kardus sih?" tanya Pak Jumadi yang mejanya bersebelahan dengan Alhan.
'Ini pak hari ini adalah hari terakhir saya di sekolah ini sekalian saya mohon pamit" Alhan tersenyum.
"Loh....loh...loh ngga ada angin ngga ada hujan kenapa pamit, Pak Alhan resign dari sekolah ini?"
"Ya begitulah" Jawabnya singkat. Obrolan mereka menjadi perhatian guru-guru yang lain termasuk Nurmala yang baru saja datang. Semua guru menghampiri Alhan.
"Mohon maaf bapak dan ibu sekalian hari ini adalah hari terakhir saya di sekolah ini. Mohon maaf lahir dan batin jika ada kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja selama mengajar di sini. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup saya selama ini. Saya sangat senang bisa berteman dengan kalian. Kalian adalah guru-guru yang hebat teruslah berkembang dan pantang menyerah untuk sabar dan ikhlas dalam mendidik anak-anak. Sukses buat kalian semua"
"Kami juga mewakili dewan guru mohon maaf pak Alhan. Terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga sekolah ini. Kami akan kehilangan sosok guru yang bersahaja, guru idaman semua murid karena ketampanannya. Semoga di tempat yang baru bapak selalu diberi kesehatan dan rezeki yang barokah, aamiin" Semua guru mengamini lalu tersenyum, satu persatu menyalami menghampiri Alhan. Tepat pukul 07.15 WIB bel sekolah dibunyikan tanda jam pertama dimulai. Semua guru yang ada jadwal saat itu memasuki kelas masing-masing. Tersisa Alhan dan Nurmala. Seolah semua guru memberi ruang pada mereka untuk berbicara. Alhan hendak beranjak dari tempatnya.
'Han.....tunggu!" Alhan menghentikan langkahnya tanpa menoleh karena ia tahu yang berbicara adalah Nurmala. Nurmala yang duduk di deretan paling belakang menghampiri Alhan yang mejanya terletak di depan selisih 3 meja dari tempatnya.
"Kenapa kamu resign dari sekolah ini. Bukan kah ini mata pencaharian mu selama ini? Kalau kamu resign kamu mau kerja apa, Han? Aku tahu aku salah sudah mutusin kamu tapi aku mohon kamu jangan pergi dari sekolah ini. Aku tidak ingin karir kamu hancur gara-gara aku. Han maafkan aku. Yang pantas keluar dari sekolah ini adalah aku bukan kamu."
"Ibu Nurmala terima kasih sudah perhatian sama aku. Jangan khawatir karena bumi Allah itu luas. Aku yakin setelah resign dari sini aku akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari ini. Dari pada keberadaan ku di sini membawa luka yang terdalam itu sangat menyakitkan Bu, sangat sakit. Perih dan kurasa obat yang paling mujarab pergi dari kehidupan orang yang sudah menorehkan luka itu. Aku harap ibu bahagia bersama orang pilihan, langgeng selamanya samawa ya, assalamualaikum" Alhan tidak ingin berlama-lama ia beranjak pergi meninggalkan Nurmala yang masih bergeming dengan derai air mata. Bukan ini yang Nurmala inginkan. Ia hanya ingin berpisah tanpa ikatan bukan berpisah dengan Alhan sepenuhnya. Setidaknya kalau Alhan masih bekerja di tempat yang sama Nurmala masih bisa menatap wajah nya dan masih bisa bercengkrama namun ternyata di luar ekspektasi justru Alhan lebih memilih pergi selamanya dari kehidupan Nurmala. Itu sangat menyakitkan. Sungguh Nurmala khawatir karena yang ia tahu Alhan seorang guru honor yang hanya mengandalkan gaji dari sekolah ini yang selalu ditemani motor bututnya saat bertugas.