Kehidupan Gita semakin berubah dengan kelahiran sang buah hatinya, banyak hal baru yang terjadi di hari-hari yang dia lewati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran
Rasa takut masih saja
belum hilang, dia sadar kalau pengorbanan seorang ibu itu sangat besar.
“Bu Gita, yang tenang
ya. Kamu kan orangnya kuat yakin pasti bisa lahiran normal. Percayakan sama
saya, dan jangan lupa berdoa.” Kata Dokter Hisam yang selama ini menjadi dokter
kandungannya.
“Iya sayang, kamu kan
kuat.” Kata Gilang sambil memegang erat tangan Gita yang sudah berkeringat.
“Dok, kita mulai
sekarang?” tanya suster.
“Iya kita mulai
sekarang ya. Bu Gita ikuti sesuai aba-ba saya ya.” Kata Dokter sambil tersenyum
santai agar Gita tidak terlalu tegang. Meskipun kenyataannya mau di buat
sesantai apapun dia tetap tegang dan merasakan sakit yang luar biasa.
“Semangat sayang kamu
pasti bisa.” Gilang terus menyemangati
Gita.
“Atur napas .. iya lalu
mengejan sekuat tenaga ya Bu Gita.” Dokter Hisam memberikan aba-aba. Dan Gita
pun mulai menarik napas.
“Ayo sedikit lagi Bu Gita.”
Kata Dokter Hisam.
Air mata Gita mulai
menetes membasahi pipinya, rasa sakit ini sangat luar biasa, sakit yang selama
ini alamai tak seberapa dengan apa yang dia rasakan sekarang. Jika melahirkan
memang dikatakan bertaruh hidup dan mati dia mempercayainya.
Hati Gilang sedih, dia
tidak bisa melihat Gita kesakitan. Ingin sekali dia menggantikannya, biarkan
dia yang merasakan sakit.
“Ya Tuhan, kuatkan
Gita, selamatkan Gita dan bayi kami.” Doa Gilang dalam hati.
“Hngggh!!”
“Ayo dorong!”
“Dorong lagi Bu Gita.”
“Bagus, ayo bu Gita
semangat.”
“Oeeek!...Oeeek..!”
Bayi laki-laki lahir
selamat, normal tak kurang satu hal pun. Bayi itu menangis sangat lantang. Gita
tersenyum, saat mendengar bayinya sudah lahir.
Gilang benar-benar
sangat bahagia, rasa dalam hatinya campur aduk setelah beberapa tahun
pernikahannya akhirnya dia di karuniai juga putra.
“Selamat Bu Gita dan
Pak Gilang, bayinya laki-laki.”
“Makasih dokter.” Kata
Gita lemas, senyum yang merekah lama-lama memudar dengan matanya yang mulai
terpejam.
“Dokter ini kenapa
istri saya?” Gilang panik saat melihat Gita pingsan.
“Jangan khawatir Pak
Gilang, si ibu hanya kelelahan.” Kata Dokter Hisam.
“Terima kasih dok, udah
membatu persalinan istri saya. Suster terima kasih.” Gilang mengucapkan banyak
terima kasih untuk dokter dan suster.
“Sama-sama Pak Gilang,
biar bayinya di mandiin dulu.” Jelas Dokter Hisam.
“Iya Dokter.”
“Gilang, bagaimana cucu
dan menantu mama?” Tanya Rima saat Gilang keluar ruangan bersalin.
“Iya Gilang, bagaimana
anak mama?” tanya Wanda.
“Bayi Gita dan Gilang
sudah lahir dengan selamat, ibu dan anak sehat semua.” Kata Gilang dengan wajah
yang sumringah. Raut wajahnya berbinar.
“Keponakan gue dimana
sekarang?” tanya Fara tidak sabar ingin melihat wajah keponakannya itu.
“Sedang di mandiin.”
Kata Gilang.
“Cucu Papa cewek apa
cowok?” Tanya Seno.
“Jagoan Pa.” Jawab
Gilang.
“Wah.. bisa satu genk
nih sama Rafa.” Kata Raka sambil terkekeh.
“Wah.. cucu mama jagoan
semua. Senangnya.” Kata Wanda.
“Jadi nggak sabar deh
pingin lihat.” Kata Wanda.
“Iya Jeng, saya juga
sudah tidak sabar. Pingin banget gendong.”
Setelah hampir satu jam
Gita terlelap tidur akhirnya dia sadar juga, dia sudah berpindah dari tempat
persalinan.
“Sayang, kamu sudah
bangun?” Gilang mengusap rambut Gita.
“Hem, dimana bayi kita?”
tanya Gita.
“Sebentar lagi diantar
kesini. Sayang makasih ya kamu sudah melahirkan putra yang sangat tampan.”
Gilang mengecup pipi Gita.
“Sama-sama sayang,
makasih juga ya sudah menguatkan dan juga menemani aku sampai bayi kita lahir.”
Ucap Gita.
“Cepat pulih ya sayang.”
Gilang kembali megusap rambut Gita.
“Sayang, selamat ya.”
Wanda memeluk putrinya.
“Mama juga selamat udah
jadi oma yang keberapa ya?” Gita meringis.
“Iya, udah banyak
cucunya.” Kata Seno.
“Harusnya kamu kasih
mama selamat, kan ini cucu mama yang pertama.” Rima iri karena tidak di kasih
selamat sama Gita.
“Iya Mama, selamat.”
Gita memegangi tangan Rima lalu memeluknya.
“Ih mama, gitu aja iri.”
Goda Gilang.
“Permisi, bayi ganteng
datang.” Kata suster saat membawa bayi Gita.
“Ah.. sini sama mama.”
Kata Gita.
Suster memberikan bayi
kepada Gita, “ Sayang.” Ucap Gita sembari mencium pipinya. Dan Gilang pun ikut
menciumnya.
Bayi imut dengan tubuh
gembul, memberikan kebahagiaan luar biasa. Untuk keluarga besar Gita dan
Gilang.
“Sini, sama Oma.” Rima
langsung merebut bayi dari tangan Gita.
“Ih... mama Gilang saja
belum gendong udah diminta saja.” Gilang
manyun.
“Jangan pelit kenapa,
nanti juga bakalan banyakan sama kamu tinggalnya.” Kata Rima.
“Iya, biarin sama
oma-omanya dulu.” Sahut Wanda.
“Halo... ponakan Om.”
Seru Vian saat masuk ke ruangan Gita. “Mana-mana ponakan gue.” Vian mencari
anak Gilang.
“Hey..hey... brisik
banget sih loh.” Kata Fara.
“Kenapa sih, kan gue cuma
mau ketemu keponakan gue. Pasti gantengnya kayak gue.” Vian menggerak-gerakan
alisnya.
“Vian, jangan
ngadi-ngadi kamu.” Rima nggak terima cucunya di katakan mirip sama Vian.
“Ih.. memang kenapa sih
tante. Tante Wanda, Vian kan ganteng toh?” Vian meminta pembelaaan Wanda.
“Iya, kamu gateng.”
“Tuh Tante. Kata tante
anda Vian ganteng.”
“Ngomong-ngomog siapa
namanya?” tanya Vian.
“Iya nih, siapa Gita?”
Fara juga menanyakan.
“Em..belum tahu.”