TAMAT SEASON 1
Seorang dosen cantik yang berniat untuk melupakan rasa sakitnya dan memulai hidup baru tanpa cinta, kini dikejar-kejar oleh pria yang jauh lebih muda setelah pertemuan pertama mereka di Bali.
Liburan singkat yang tadinya tak ingin saling mengenal, justru berlanjut hingga menumbuhkan rasa cinta.
Perbedaan umur yang lumayan jauh, membuat Yasmin menolak mentah-mentah ungkapan hati Eza.
Eza yang ternyata adalah mahasiswa di tempatnya mengajar, membuatnya berpikir dua kali tentang niat untuk hidup tanpa cinta lagi.
Yasmin dan Eza terlibat cinta penuh gejolak. Wanita itu pun bingung, apakah itu benar-benar cinta, ataukah hanya nafsu belaka.
Akankah percintaan mereka bisa berjalan mulus?
Sementara banyak faktor yang wanita itu pikir mustahil untuk melanjutkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbawa suasana
...*** ...
Keadaan sekitar seperti berpihak pada mereka. Beberapa orang yang tadi ada di atas tebing, telah meninggalkan tempat itu. Entah sebuah keberuntungan atau kesempatan yang mereka ambil tanpa sengaja. Aksi yang mereka lakukan tak ada yang mengetahuinya. Yasmin seperti sedang dibutakan oleh hasrat. Entah keberanian dari mana, ia tak menolak sama sekali perlakuan Eza padanya.
Pertemuan antar bibir itu berlangsung cukup lama. Keduanya saling menikmati sesapan demi sesapan satu sama lain. Saling mengulum dengan penuh damba. Yasmin memejamkan mata, menikmati setiap sesapan dan gigitan kecil yang diberikan oleh Eza. Detak jantung mereka saling berpacu.
Saat tersadar, Eza melepas ciumannya dan mereka kembali bertatapan. Mereka terdiam, kejadian yang tak direncanakan baru saja terjadi, membuat keduanya canggung. Entah siapa yang memulainya lebih dulu, yang jelas mereka sama-sama menikmati dan saling tertarik dalam permainan masing-masing.
Eza tersentak, melepas tautan tangan dari pinggang wanita itu. "Ehemm, maaf." Lalu sedikit menjaga jarak tubuh mereka.
Mata keduanya masih saling bertatapan, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi tak mampu terucap, tertahan di tenggorokan.
“Tidak perlu minta maaf." Wanita itu tersenyum tipis, dia mengalihkan pandangan, menghindar dari mata Eza yang terus memandangnya. Dalam hatinya, Yasmin merasa malu, kenapa dengan mudahnya ia terbawa ke dalam suasana seperti tadi.
Cukup lama mereka terdiam, hingga akhirnya Eza mengajak Yasmin turun. "Kita turun sekarang? Pantai di sini juga tak kalah menyenangkan," tutur Eza kemudian.
"Oke, kita turun." Yasmin menyetujuinya, ia pun ingin mengalihkan rasa yang tak bisa diartikan saat ini.
Mereka kembali menyusuri pantai berpasir putih yang terbentang sepanjang 200 meter, dengan panorama Samudra Hindia. Hari sudah mulai beranjak siang, dan mereka sudah mulai merasa lapar. Namun, tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Eza hanya mengikuti Yasmin yang berjalan santai di sepanjang bibir pantai.
Hingga akhirnya Yasmin berhenti. "Kamu tidak merasa lapar?" Ia berbalik seraya memegangi topinya yang tertiup angin.
"Iya, aku sedikit lapar. Sudah waktunya makan siang, sebaiknya kita cari tempat makan." Ajak Eza kemudian.
Yasmin mengangguk, lalu ia mengikuti langkah Eza. Ada beberapa cafe yang dikelola masyarakat setempat. Eza membawanya ke salah satu cafe tersebut.
Perasaan canggung mulai menghinggapi keduanya. Eza sedikit merasa khawatir karena Yasmin hanya diam setelah turun dari tebing.
"Senja?"
"Emmm."
"Soal yang tadi … aku tidak bermaksud lancang."
"Sudah jangan dibahas," dalih Yasmin, dia menghindari pembahasan yang sudah dipastikan akan membuat pipinya merah karena malu.
"Tapi ... aku benar-benar tidak enak, aku takut kamu berpikir macam-macam padaku, lelaki brengsek misalnya."
"Nggaklah, aku nggak mungkin berpikiran seperti itu," ucap Yasmin. "Aku juga salah."
Yasmin mengakui bahwa dirinya juga turut ikut andil dalam adegan singkat tadi, jika saja dia menolak, mungkin ciuman itu tidak akan terjadi.
"Salah gimana maksudnya?"
"Ah sudahlah! Jangan terus membahasnya, aku sudah sangat lapar." Yasmin merasa malu jika dia harus bilang 'terbawa suasana', tapi memang itulah kenyataannya.
Terik matahari semakin panas, cahayanya mampu menembus pori-pori kulit dan menyengat. Mereka kembali mengobrol sambil menghabiskan makan siang. Perlahan bisa menghilangkan perasaan canggung tadi. Keduanya semakin akrab, meskipun baru mengenal, mereka dapat menyesuaikan diri masing-masing.
Suara deburan ombak, suara hembusan semilir angin, suara burung yang terus berkicau, membuat hati Yasmin yang semula gundah menjadi sangat damai. Wanita itu membiarkan Eza menggandeng tangannya sedari tadi.
Pantai Balangan menyuguhkan pemandangan sunset spektakuler, yang menciptakan nuansa romantis. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu disana hingga matahari tenggelam.
Saat mereka tengah asyik berjalan di bebatuan karang, sebua panggilan tiba-tiba masuk di ponsel Yasmin.
...***...