Wanita lemah yang menjadi bidadari dihatiku.. aku mencintaimu dengan caraku sendiri..
menceritakan kisah seorang wanita yang terpaksa menikah dengan seorang pria kaya yang arogant.
(Musim Pertama, Musim Kedua, dan Musim Ketiga Novel Terpaksa Menikah hanya disini)
salam hangat dari
Adel 💘 Satya
Sasha 💘 Dave
Kyara 💘 Rey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Kireina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TM 23
Malam
mencapai puncaknya, jam dinding menunjukan pukul 00.00 dini hari, Satya baru
pulang setelah seharian memadu kasih dengan Cecilia.
Adelia
terbangun saat mendengar seseorang membuka pintu kamarnya, "Sayang, Kau
sudah pulang?"
"Kenapa
belum tidur?" sandiwara, ya, hanya itu yang perlu dilakukan Satya agar tak
menyakiti istrinya.
"Di kantor
pasti banyak dokumen-dokumen yang harus kau kerjakan, kan? Kau pasti
lelah." Adelia turun dari ranjang dan membantu melepaskan dasi yang
dipakai Satya.
"Aku
tanya, kenapa kau belum tidur?"
Adelia
tersenyum, "Karena aku menunggumu." Adelia memeluk Satya dengan erat.
Sesak, hanya
itu yang dirasakan Adelia. Ingin menangis tapi tak bisa.
Satya
menggendong Adelia dan merebahkannya di atas ranjang, mengingatkan Adelia akan
pengkhianatan suaminya.
Hatinya
sakit, ingin teriak, dadanya sangat sesak.
"Bisakah
kita tidur?" Adelia membelai lembut rambut Satya.
"Aku
akan memelukmu."
Menghabiskan
setengah malam yang tersisa untuk tidur berdua, dan berpelukan.
Adelia
membenamkan wajahnya di dada bidang Satya, membentuk pola hati retak dengan
telunjuknya.
"Kenapa
kau menggambarnya seperti itu?" Satya meraih tangan Adelia dan menciumnya.
"Karena
aku suka menggambar dengan jari." Adelia menarik tangannya. Padahal itu
adalah caranya untuk menyampaikan rasa kekecewaan dan sakit hatinya.
***
Pagi hari
Satya terbangun dan tak mendapati Adelia di sisinya.
‘Sepagi ini
kemana dia?’
Satya
melangkah ke balkon kamar, ia melihat Adelia sedang bercengkrama dengan seorang
pria.
Pemandangan
itu membuat Satya mengernyit kesal, "Apa-apaan dia?"
Pandangan
pria itu beralih menatap Satya, secara kebetulan mereka bersitatap. Pria itu
tersenyum lalu mengangguk hormat.
Wajah dingin
dan datar tanpa ekspresi sedang memperhatikan pria asing yang bernama Gio.
Gio tak lain
adalah adik sepupu Adelia, yang baru saja datang dari luar kota dan secara
kebetulan datang untuk mengunjungi Adelia.
"Kak,
aku pergi dulu. Siang nanti aku akan menjemput kakak untuk makan siang."
"Oke,
kakak tunggu."
Gio pun
segera pergi.
Sarapan pagi
sudah siap diatas meja, Satya dan Adelia masih berada di dalam kamarnya.
Adelia
menyisir rambutnya, bermake-up senatural mungkin dan membiarkan rambutnya
tergerai.
Spesial hari
ini Adelia membuatkan rambutnya tergerai dengan indah, menampilkan sosok wanita
elegan.
Adelia
memakai dress putih sebatas lutut untuk bekerja hari ini.
"Selamat
pagi?" Senyum ceria nampak di wajah Adelia.
"Selamat
pagi." Dukey menyambutnya, "Di mana suamimu?"
"Masih
di atas." Adelia menarik kursinya untuk duduk. Adelia yang berhati lembut
bisa bersandiwara dengan sempurna.
Tak lama
kemudian Satyapun datang, ‘Ada apa dengannya? Aku merasa ada yang berbeda
darinya...’ Satya tiada hentinya menatap sang istri.
Usai sarapan
pagi seperti biasa pak Jang sudah siap diposisinya untuk mengantar Adelia.
"Pak
Jang, hari ini aku yang akan mengantarkannya!" seru Satya yang berdiri
tepat dibelakang Adelia.
Adelia yang
tak mengetahuinya pun terkejut, "Tidak perlu, kau pasti sibuk dikantor.
Aku tidak ingin menghambat lagi pula arah kantor kita berbeda. Pak Jang ayo,
aku sudah terlambat."
Pak Jang
hanya diam tak berani menjawab ataupun bergerak, tatapan dingin Satya telah
berhasil mengintimidasinya.
Satya
mengambil paksa kunci mobil, "Jika kau tidak mau, kau naik taxi
saja!"
"Tidak
masalah!"
Adelia pergi
meninggalkan parkiran setelah memesan taxi online.
‘Sial!’ Satya berdecak kesal, ia melempar
kunci mobilnya ke lantai.
Masa bodoh
dengan Satya ataupun surat perjanjiannya, asalkan pihak ke dua tidak mengajukan
perceraian di meja hijau maka semua akan baik-baik saja.
***
Divisi Keuangan...
Vivi datang
dengan membawa setumpuk berkas kemejanya, ia mengeluh kesal.
"Adel,
bisakah kau membantuku?"
"Sejak
kapan pekerjaanmu jadi menumpuk? Kau ini kebiasaan sekali, suka menunda
pekerjaan."
"Aaaaa.."
Vivi duduk dikursi dan mendorong kursinya dengan kaki agar mendekat kemeja
Adelia, "Aku hanya bertanya kau bisa membantuku atau tidak? Bukan untuk
menceramahiku!" protes.
Adelia
tertawa, "Haha, baiklah-baiklah, ayo."
maaf krang tertarik🙏🙏
bab selanjutx bersama lgi tpi gak ada rujuk