NovelToon NovelToon
Telat Nikah?

Telat Nikah?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Lin_iin

Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.

Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.

Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.

Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diintrogasi Part 2

####

Begitu selasai mengeringkan rambutku, aku langsung bergegas turun, mencari keberadaan Ibu yang ternyata sedang sibuk menata makanan untuk kami sarapan.

Dengan sedikit takut-takut, aku berjalan menghampiri Ibu. Menawarkan bantuan yang langsung ditolak Ibu dengan lembut. Tidak ada nada bicara yang dingin maupun ketus. Ibu sudah kembali seperti sedia kala, yang lembut dan penuh perhatian. Ibu memang cenderung orang yang mudah emosi, tapi Ibu juga lumayan gampang mengerti situasi setelah dijelaskan. Tapi harus Bapak yang menjelaskan, kalau aku sudah pasti hanya akan berakhir dengan adu mulut tak berkesudahan karena sifat kami yang lumayan mirip.

"Qilla minta maaf karena sudah ngecewain Ibu."

"Uwes, ora sah dibahas. Ibu males bahasnya, bikin emosi wae. Wes kono, panggil Bapakmu suruh sarapan."

Aku mengangguk patuh, kemudian bergegas meninggalkan dapur menuju belakang rumah. Menghampiri Bapak yang sedang sibuk memberi makanan ayam-ayamnya.

"Pak, ayo sarapan! Makanannya sudah siap."

Bapak menoleh ke arahku sebentar, kemudian fokus memberi makan ayam-ayamnya.

"Iya, nanti Bapak nyusul."

"Sekarang, Pak," kataku tak ingin dibantah.

"Iya." Bapak langsung berdiri. "Kamu sudah laper banget to?" tanya Bapak sambil merangkul pundakku.

Aku menyengir sambil mengangguk. "Diintrogasi bergilir Bapak sama Ibu bikin Qilla jadi laper banget," candaku sambil tertawa.

Bapak ikut tertawa kemudian mencubit hidungku dengan gemas. Kalau dipikir-pikir sudah sangatttt lama aku tidak bercanda dengan Bapak seperti ini. Aku juga lama tidak bermanja-manja dengan Bapak. Sepertinya kandasnya hubunganku dengan Kenzo sedikit berdampak bagus untuk hubunganku dengan Bapak. Meski kalau dengan Ibu sedikit buruk.

Setelah menyelesaikan sarapan bersama Bapak dan Ibu, aku mencuci piring dan membereskan meja makan. Begitu semua selesai ku kerjakan aku langsung bergegas menuju rumah Mas Adi. Sudah kangen rasanya sama Kafka.

"Kakak," panggilku dari halaman depan Mas Adi.

Tak berapa lama Kafka langsung berlari keluar rumah. Aku langsung merentangkan kedua tanganku, menyambut Kafka. Jagoan Mas Adi ini langsung berhambur ke pelukanku.

"Bulek!!"

"Sudah mandi?" tanyaku berbasa-basi, setelah mencium kedua pipinya yang gembul. Wangi parfum untuk anak-anak bercampur minyak telon tercium saat aku menciumnya.

"Sudah." Kafka mengangguk.

"Sudah maem?" tanyaku sambil mengangkat tubuhnya yang terasa berat ini.

Kafka menggeleng. "Kakak nggak suka sama masakan Bunda," curhatnya membuatku tersenyum. Rasanya gemas ingin mengigit hidungnya yang sedikit mancung.

"Loh, emang Kakak dimasakin apa?" tanyaku sambil menurunkannya, nggak kuat rasanya kalau menggendongnya sampai dalam. Jadi aku memilih menggandengnya saja.

"Sayur daun ketela. Kakak kan nggak suka, Lek." Kafka memajukan bibirnya.

Lucu deh lihatnya.

"Hayo, kemarin Kakak janji sama Bunda kalau nggak mau pilih-pilih makanan. Kenapa sekarang gitu?" tanya Mbak Lusi yang baru keluar dari dapur. Tangan kanannya membawa piring yang ku tebak makanan untuk Kafka sementara tangan kirinya memegang gelas berisi air putih.

"Menu sarapannya merakyat ya, Mbak," gurauku setengah tertawa.

"Mas Adi ngidam. Aku males kalau masak dua macem," ujar Mbak Lusi sambil meletakkan piring dan juga gelas di atas meja.

"Masih?"

Mbak Lusi mengangguk. "Dari hamil Kafka juga gitu kan. Minta aku masak ini-itu. Nggak pernah bisa dinego."

"Apa aku ajak makan di rumah Ibu aja, Mbak?" tawarku yang langsung diangguki setuju oleh Kafka dengan semangat.

Mbak Lusi melotot tak suka ke arah Kafka, kemudian menggeleng tegas. "Nggak boleh. Ayo, sekarang coba dulu. Buka mulutnya! Aa!"

Kafka memalingkan wajahnya diiringi gelengan kepala tak kalah tegas, kedua tangannya pun dilipat di depan dada.

"Enggak mau!" seru Kafkat menolak dengan tegas.

"Kakak!"

"Enggak."

Mbak Lusi menghela nafas. "Oke. Sekali saja. Kalau Kakak nggak bisa makan sayurnya, nanti nggak usah pake sayurnya. Bunda ganti. Setuju?"

Kedua mata Kafka langsung berbinar mendengar tawaran sang Bunda. Mbak Lusi mengangguk pasrah, membuat Kafka makin senang. Aku pun ikut senang melihatnya. Aku cukup salut melihat cara mendidik Mbak Lusi.

"Serius, Bun?"

"Iya. Sekarang buka mulutnya!"

Dengan patuh Kafka membuka mulutnya. Mbak Lusi pun langsung memberikan sesendok nasi beserta daun ketela dan juga suwiran ayam di atasnya.

"Gimana?" tanya Mbak Lusi.

Aku memajukan wajahku untuk melihat ekspresi Kafka. Bocah itu tampak mengunyah dengan serius, seperti para juri memasak yang hendak mengomentari masakan pesertanya.

"Rasanya agak aneh, tapi masih bisa dikunyah. Oke, Kakak makan ini saja. Pake sayur lebih sehat ketimbang makan nggak pake sayur. Iya kan, Bun?"

Mbak Lusi mengangguk. Kemudian meletakkan piringnya di atas meja.

"Makan sendiri?" tawarnya kemudian.

Kafka mengangguk, kemudian turun dari sofa dan memilih duduk di karpet.

"Bulek mau makan?" tawar Kafka sebelum menyendokkan nasinya ke dalam mulutnya.

Aku menggeleng. "Enggak. Bulek udah makan tadi sebelum ke sini."

Kafka mengangguk paham. Kembali meneruskan makannya dengan lahap. Siapa yang akan mengira kalau bocah ini tadi sempat menolak mentah-mentah saat disuruh makan itu sayur.

"Bener kalian putus?" tembak Mbak Lusi tanpa basa-basi.

Aku mendesah sambil mengangguk.

"Kenapa? Kurang potensial apa lagi sih, si Kenzo itu?"

Aku menatap Mbak Lusi marah lalu berdecak. "Aku baru selesai diintrogasi Ibu sama Bapak, Mbak. Bergilir. Sekarang Mbak Lusi juga mau introgasi aku?" tanyaku sebal.

"Mbak tanya doang, bukan mau introgasi," balas Mbak Lusi tak terima.

"Sama aja intinya."

"Terserah. Jadi kenapa?"

"Baru sadar aja kalau kita ternyata kemarin terlalu percaya diri bisa sampai ke pelaminan."

"Hah?"

"Ya pokoknya gitu lah, Mbak." Aku malas menjelaskan. Dan memang nggak akan bilang yang sebenarnya.

"Pasti ada yang tertarik sama orang lain," celetuk Mbak Lusi.

Aku melongo. Aduh, lupa. Mbak Lusi kan Dewinya peka. Mana bisa aku kalau berbohong sama Mbak Lusi, yang seperti punya kemampuan untuk membaca pikiran orang lain.

"Jadi siapa?" tanya Mbak Lusi dengan wajah penasarannya.

Aku yakin wajahku saat ini pasti panik.

Mbak Lusi tertawa kecil, kedua matanya meneliti wajahku yang dengan segera aku palingkan.

"Kamu?" tebaknya tepat sasaran.

Aku berdecak karena ketahuan.

Sial.

"Seganteng apa sih dia sampai mau ninggalin pria nyaris sesempurna Kenzo?" tanya Mbak Lusi penasaran.

Aku berpikir sejenak, membandingkan wajah mereka sesuai ingatanku.

"Gantengan Kenzo sih kayaknya," kataku sambil membayangkan wajah keduanya. "Tapi Rey punya kharismatik yang beda, yang entah kenapa aku suka," imbuhku tanpa sadar. Setelah tersadar aku berdecak sambil mengumpat dalam hati. Kan, kena lagi.

Sementara Mbak Lusi justru terbahak.

"Jadi namanya Rey. Kenalin dong, udah sampai mana hubungan kalian?" tanya Mbak Lusi antusias. Ia bahkan sampai menarik-narik lenganku agar aku segera bercerita.

Kafka bahkan sampai heran melihat kelakuan Bundanya.

Aku tersenyum, baru hendak membuka suara namun dikagetkan dengan suara yang aku tebak itu milik Mas Adi.

"Siapa Rey?" tanyanya dingin.

Tubuhku mendadak membeku. Gugup luar biasa. Kapan Mas Adi sampai.

"Kok udah pulang, Yah?" tanya Mbak Lusi. Melupakan rasa penasarannya dan muka panikku.

Mas Adi ini bukan pekerja kantoran, kerjaannya bantuin Bapak jual-beli tanah, sama bantu Ayah mertuanya ngurusin pabrik makanan ringan, jadi jam kerjanya suka nggak normal.

"Iya, yang mau beli tanahnya lagi ada halangan, jadi batal ketemu," kata Mas Adi menjawab pertanyaan Mbak Lusi dengan lemut. Kemudian pandangannya beralih kepadaku. "Jadi siapa itu Rey?" ulang Mas Adi, membuatku bertambah gugup.

Mampus. Sepertinya sekarang giliran Mas Adi yang bakalan ngintrogasi.

****

Aku dan Mas Adi duduk berhadapan di sofa ruang tengah yang ada di rumahnya. Tatapan mata Mas Adi masih sama tajamnya, sementara aku masih diam tertunduk. Mempersiapkan diri untuk diintrogasi Mas Adi. Tapi Mas Adi tak kunjung bersuara, membuatku bertambah gugup.

"Kenapa diam saja?" tanya Mas Adi akhirnya membuka suara.

Aku mendongak, lalu menatap Mas Adi bingung. Lah, bukannya harusnya aku nunggu ditanya ya?

"Eh?"

"Mau jelasin siapa itu Rey?"

Aku diam, baru kemudian memilih kembali menunduk.

"Oke. Mas ganti pertanyaannya." Mas Adi mangguk-mangguk. "Gimana hubungan kamu sama Kenzo? Baik-baik saja?"

"Iya." Aku mengangguk ragu. "Kami baik-baik saja, meski kami akhirnya memilih menjalani hidup masing-masing," lanjutku kemudian.

Mas Adi sontak langsung tertawa, tawa meremehkan lebih tepatnya.

"Jadi, akhirnya udah kandas juga?"

"Mas Adi!" seruku tak terima.

"Oke, oke, sorry. Jadi bisa kita lanjut ke pertanyaan yang tadi?"

"Pertanyaan yang mana?" tanyaku pura-pura tak paham.

"Rey."

Aku mendesah lalu menggeleng. "Jangan dulu lah, aku belum siap ditanya tentang dia. Hubungan kami pun belum jelas juga." Aku mengangkat kedua bahuku.

"Dek," panggil Mas Adi tiba-tiba.

"Iya."

Sebenarnya Mas Adi memang tidak jarang sih memanggilku dengan sebutan 'dek'atau 'nduk'. Tapi nada bicaranya itu lho yang terdengar sedikit luar biasa bikin aku deg-degan.

"Berhenti main-main, umur kamu udah nggak cocok buat pacaran. Kalau udah mantap langsung wae, ya?"

"Apaan sih, Mas, aku sama Kenzo belum genap sebulan putusnya. Masa iya aku udah mau nikah aja."

Mas Adi memandangku. "Tapi ini bukan perselingkuhan kan, La?"

"Astaghfirullah, Mas. Bukanlah. Aku belum segila itu sampai main di belakang. Rey bahkan larang aku hubungi dia sebelum aku sama Kenzo putus."

"Maksudnya?"

"Ah, ribet aku jelasinnya. Kapan-kapan aja. Aku mau pinjem anak kalian. Bye!" Aku langsung berdiri.

"Mas belum selesai bicara," kata Mas Adi melarangku pergi. Aku tidak perduli.

"Besok aja introgasi lanjutannya," teriakku sambil menuruni anak tangga. Mengabaikan teriakan Mas Adu.

Tbc,

**ada yang minta fast update???

saya udah punya darftnya loh, sampai selesai

gk ada???

ya udah, klo gtu 😂 saya update sesuka hati ajahhhhhh**

1
Sheety Saqdiyah
gaya bahasa & penulisannya ok, jd nyaman bacanya..
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
Ulil Baba
kalau gk gitu nikah udah lama tapi belum hamil pasti banyak yang tanya gitu udah bati durung /udah isi belum,, gimana perasaan mu
Jessica
Luar biasa
Lia Kiftia Usman
itu bedanya rey dan kenzo...
Lia Kiftia Usman
gpp kali...harga menunjukkan kwalitas Alhamdulillah uang hilang gantinya ruko daripada uang hilang ikutan 'judol'..ups🤭
Lia Kiftia Usman
sip... harus itu..memahami rasa menjadi pihak ibu...
Lia Kiftia Usman
aq baca ulang thor karyamu...
Lia Kiftia Usman: siap..
total 2 replies
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
Quinn Cahyatishine
aku baca ulang udah agak lupa jalan ceritanya,krn udah lama banget, 🤭
Vie ardila
Luar biasa
Afnina Helmi
udh gk keitung berapa kali aq mampir kesini, krn seseru ini cerita ny
yani djamil
bagus banget, bacanya enak, mengalir tdk ribet, kosa katanya jg bagus, syg terlambat nemunya, semangat Thor /Drool//Good/
yani djamil
bagus banget..enak bacanya, serasa denger org ngobrol...syng baru Nemu..uwun teh ShaNti udh d tunjukin novel yg bagus.. semangat Thor /Good//Pray/
Lina Herlina Hardjati
cuusss
Lilis Rosmayati
ga sk sm qilla. kasian sm kenzo yg bgitu baik. kesha bener nikah ato tinggalin . ngegantung ank orng si qila. nyebelin
Rozzy Haris
ko aku kaya ga ikhlas ya kalo ga sama Kenzo Aqila nya
Alea
ya udah deh Kenzo nya buat aku aja.
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Alea
baca novel ini karna liat di...di profil mom Shanti.
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti
Arha🥰: sma kak 😁
iseng buka profilny kak shanti niat cari rekomendasi novel yg bagus, eh nemu ini😁
total 1 replies
Alea
kalau aku diajak nikah sama laki laki kayak Kenzo langsung mau aja dong jangan sampai dia capek nunggu aku siap,terus malah kecantol cewek lain
Oetaribardaini
Masha Allah baru novel yg seru di Noveltoon kyk gni bagus banget ...
Arha🥰: bener kak, alurny spt nyata g terlalu d buat2 kyak novel laennya..
mgkin ad judul novel yg bsa d rekomendasikan kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!