Semua yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari pengalaman masa lalu. Angin bertiup dan musim pun berganti, Andhra telah mencari jati diri yang entah dimana akan dia temui.
Kehidupan suram di masa lalu membuat hatinya dipenuhi oleh dendam.
Ozan yang selalu menemani, juga ada
keluarga yang selalu memberi, adik tiri yang berselimut mendung derita. Andhra mendapatkan semuanya bukan tanpa alasan.
Hingga masanya cinta masa lalu hadir dan membuat hidup Andhra berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
"Aku tidak jadi jatuh?" Ucap Rossi bingung. Merasa ada yang menarik tangannya, dia membuka bola matanya.
"Kauuu!"
"Mau naik atau tidak?"
"Dewa Yunani! Darimana kau datang?"
Gadis ini merepotkan saja. Bukannya cepat naik, malah bicara tidak jelas.
Masih dengan rasa heran, Andhra tetap menarik gadis unik yang dia juluki kancil. Hingga saat mencapai puncak, Rossi masih terpesona. Entah dimana jiwa warasnya. Mungkin telah jatuh bersama dengan batu.
"Dewaku!" Andhra mengernyit bingung jadinya. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian Andhra.
Tahi lalat itu ... Mengapa bisa sama persis. Andhra mengusap lembut bibir Rossi, meneliti setitik noda hitam yang membuat jantung Andhra berdesir. Warna merah muda yang mengikat rasa ingin mencicipinya.
Tidak!
Segera Andhra tersadar, menarik kembali jemarinya. Hampir saja dia kebablasan. Apakah itu bunga? Oh, jadi dia bermaksud mengambil bunga itu. Nah! Beginikan cocok. Sama-sama bagaikan bunga yang baru saja mekar. Batin Andhra.
Cukup lama Rossi terbuai oleh pesona Andhra.
Pletak.
Rossi kaget bukan kepalang. Dirinya telah berdiri tegak di bibir tebing, hampir terjatuh kembali jika Andhra tidak segera menariknya. Sepersekian detik, momen romantis itu mampu membuat hati keduanya berdegup kencang.
Dewa Yunani? Dia si batu? Benarkah dia?
Perlahan keduanya tersadar. Andhra paling pandai menguasai diri.
Salah tingkah kan jadinya. Tergoda sih. 'Sial, kuat banget pesona nih cowok.'
"Apa? Tampan? Sudah sejak lahir tahu!" Ketus Andhra memasukkan salah satu tangan ke dalam saku celana.
Jangan tunjukkan gaya keren kamu di depanku Cogan. Aku bisa khilaf karenanya. Lalu, bagaimana dengan cita-citaku untuk menemukan pangeran masa kecilku? Batin Rossi.
"Yeaay narsis banget jadi orang. Hati-hati loh, bisa menimbulkan sifat ujub tahu!"
"Gua Andhra, bukan Ucup!" Berlenggang pergi dengan gaya lebih keren. Bagaimana tidak membuat Rossi termehek-mehek, Andhra sempat mengerling nakal kepadanya.
Jantung, kuatkan benteng pertahananmu!
"Ujub woooi, bukan Ucup!"
Sekarang, dia baru saja cium jauh padaku? Mata Rossi membulat sempurna.
Cogan nyebelin. Jerit Rossi dalam hati.
Ekspresi gadis itu, sungguh lucu. Lihatlah, dia bagaikan Barbie yang kehabisan baterai.
Eh, emang ada ya Barbie kehabisan baterai kayak yang ditulis author? Hehe.
~
~
"Ros, kamu tidak kenapa-napa kan, Nak?" Ibu segera memeriksa anak perempuannya. Baju putih yang hampir dipenuhi noda berwarna tanah di bagian depannya. Membuat Ibu sebagai orang tua dipenuhi rasa panik dan curiga.
"Ayaaahhhh! Ini anakmu kenapa? Lihatlah kondisinya!" Heboh Ibu semakin was-was. Bukannya menjawab, Rossi malah sibuk menata hati yang masih berbunga-bunga sebab perlakuan Andhra.
Kenapa sikapnya aneh begini ya? Apa mungkin kesurupan? Mana ada setan pagi-pagi begini berkeliaran. Ibu semakin curiga.
"Ros!"
"Ibu!" Kini memeluk erat tubuh ibunya.
"Ada apa sih Ibu?" Tergopoh-gopoh ayah datang. Tangannya masih penuh dengan bekatul. Saat di panggil, Ayah sedang asyik memberi makan ayam.
Ibu mendorong pelan tubuh Rossi, hingga berjarak dengan dirinya.
"Ros! Kau! Kenapa Nak?" Membolak-balik tubuh Rossi. "Siapa yang melakukan ini padamu! Katakan siapa orangnya? Ayah akan menuntut keadilan. Tidak akan ayah biarkan orang itu hidup tenang sebelum dia merasakan apa yang kamu alami."
Wihhh, gini nih, sosok ayah terbaik. Bertanggung jawab banget lho.
Bukan Rossi namanya jika tidak sadar bahwa keadaan sudah semakin memanas. Harus di ademin ini. Meski hatiku masih berkobar karena Cogan Andhra. Eh sejak kapan Si Batu berubah jadi Cogan?
"Nggak ada, Ayah!Rossi hanya terpleset dan jatuh tadi.
"Baguslah, itu tandanya kamu semakin dewasa." Ibu dan Rossi sampai melongo sebab kalimat aneh Ayah. Bukankah tadi heboh sendiri sebab peduli sama anak? Kenapa detik berikutnya bisa berubah?
"Kayaknya perlu diluruskan ini." Ibu menyingsing lengan kanannya. "Anak jatuh, kamu bilang bagus?" Sungut Ibu. Padahal kan ada kata lanjutannya. Biasalah wanita kalau tersinggung, mana bisa dia berpikir jernih."
"Sabar, Bu! Maksud ayah, itu artinya Rossi semakin dewasa. Seseorang yang mampu bangkit setelah jatuh adalah orang yang lebih kuat daripada seseorang yang tidak pernah jatuh sama sekali. Dia yang pernah jatuh, akan lebih siaga dan lebih kuat dalam menghadapi segala hal. Pelajaran hidup yang akan menjadikan dirinya memiliki masa depan lebih cerah suatu saat nanti."
"Belajarlah dari pengalaman, Nak! Jika kami jatuh, lekaslah bangkit. Sebab waktu tidak menunggu dirimu bangkit. Tapi dirimulah yang harus mengejar waktu agar bisa selalu tegak berdiri." Ayah menepuk lembut bahu Rossi.
"Kamu paham, Nak?" Ibu malah menggaruk rambut, tanda tak paham. Padahal dari tadi sibuk mendengarkan lho. Apakah kadar pemahaman ibu memang dangkal ya?
Rossi anak yang cerdas, tentu saja mengangguk jujur. Paham!
"Maksudnya itu apa, Yah?" Kan gagal paham si Ibu.
"Telo goreng anget-anget wenak, Bu!" Goda ayah melenggang pergi.
"Apa begitu artinya, Ros!" Rossi mencium pipi ibunya.
"Apa Ayah pernah berbohong, Bu?"
Ibu menggeleng. "Nah, itu tau!" Rossi segera ngacir ke dalam rumah.
"Ros, ibu belum selesai bicara!"
"Rossi, gerah! Mau mandi, Ibu!"
"Ayah sama anak sama saja. Ibu kan kepo! Penasaran, bagaimana caranya Rossi mengejar waktu nanti."
~
~
"Kak! Kak! Kakak!" Farid dicuekin sebab Andhra tanpa sepatah kata, nampak tergesa-gesa masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Andhra memilih segera mandi dengan masih memakai baju lengkap, Andhra menyalakan shower. Menikmati segarnya guyuran air membasahi sekujur tubuh.
'Apa yang terjadi, apakah penyakitku semakin parah dan kini menyerang sampai ke jantung? Ataukah memang aku mengalami sakit jantung?' Andhra meraba dadanya yang masih berdetak lebih kuat dari biasanya.
Beberapa menit telah berlalu. Andhra menyudahi aktivitas di kamar mandi. Handuk putih melilit di pinggang. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering.
"Katakan!" Andhra mendengar lawan bicaranya beberapa menit. Rahangnya mengeras seketika.
"Baiklah! Beri dia hadiah yang sepantasnya. Tidak perlu merepotkan Ozan untuk masalah sepele seperti ini. Kuharap kau mampu diandalkan."
Andhra bergeming sejenak. Muka datarnya lebih menakutkan dari sebelumnya.
Andhra mendengarkan lagi. Yang diseberang memberi keterangan. Sebaris lengkungan tipis terbit dari bibir Andhra. "Aku akan kesana dua jam lagi."
"Ternyata dia belum juga mengenaliku!" Andhra menyimpan ponselnya kembali.
Sedangkan di teras depan. Farid terheran akan kelakuan Andhra. Tidak biasanya Andhra membuang sepeda kesayangannya dengan asal.
"Kamu ngapain Kakak, dia sampai marah begitu lho. Bahkan sampai melemparmu dengan kasar." Ucap Farid menegakkan sepeda Andhra. Cukup lama Farid mengelus sepeda itu.
"Apa kakak sudah bosan padamu? Tapi hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya?" Masih meneliti sepeda Andhra. Farid berjongkok guna mengecek rem, pidal, semua apapun yang kemungkinan ada kerusakan.
"Tidak ada! Semua sempurna dan normal! Hai, apa kau nakal tadi?" Jadi bingung sendiri Farid. "Kakakku telah sekian lama baru kembali. Mengapa kau harus membuat masalah dengannya? Bagaimana jika di ....!"
Benarkan, apa yang dikhawatirkan Farid kejadian.
"Kakak mau kemana?"
"Aku akan kembali pagi ini. Waktuku sudah terbuang banyak di sini."
"Tapi, Kak!"
"Andhra, bawa ini untuk bekal perjalanan!"
Apa? Ibu tahu jika Kak Andhra akan kembali, dan aku tidak tahu apapun?
Andhra menerima bekal yang diberikan oleh Halimah. Sebuah mobil hitam memasuki halaman. Farid menjadi khawatir karenanya.
"Kakak? Kau!"
"Aku perlu lebih cepat sampai, Rid!"
Itu berarti ada hal genting terjadi.
"Apa perlu bantuan? Berikan aku sebuah tugas, maka Kakak hanya perlu duduk dan menerima kabar baiknya." Desak Farid. Seorang berjas hitam turun lalu menghampiri Andhra. Mengambil kotak makanan yang ada ditangan Andhra.
"Bawa saja koper itu, aku akan membawa berkah ibu." Halimah meneteskan air mata karena ucapan Andhra.
"Allah SWT selalu menjagamu, Nak!"
To be Continued
Mobil berjalan cukup cepat, kini telah sampai pada sebuah lapangan sepakbola.
"Bekerjalah dengan baik!"
"Siap Tuan!"
Andhra merapikan jas nya, kemudian memakai kacamata, lalu sedikit membungkuk dan naik pesawat.
ozan dilema donk,mw nolong yg mana dulu...
aq agak amnesia😊😊😊
abis malam jumatan khan
Salam dari
SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
🙏🙏🙏
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏 by. Sri Ghina Fithri