Seorang Dewa Perang yang terbuang dari Alam Dewa karena ulah nya yang dianggap "nakal", hingga membuat kaisar Dewa memohon kepada sang pencipta untuk membuang nya ke alam manusia.
Jalan takdir yang membawa nya ke alam yang baru dengan ingatan yang hilang dan kekuatan yang tersegel.
Mampukah Sang Dewa Perang menemukan jati dirinya..? ikuti kisah ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sigi Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Ketiganya sudah sampai di sebuah tempat yang di janjikan, sebuah tempat semacam bangunan kuno yang tak terpakai namun masih terlihat terjaga.
Tampak tiga orang lelaki sudah terlihat berdiri dan menanti di sana, juga memakai pakaian tertutup beserta penutup kepalanya.
"Aaah...akhirnya kalian datang juga," seru salah satu orang, dari ketiga orang yang sudah menunggu di sana, terdengar lega.
Kemudian perlahan penutup kepala ketiganya di buka, mereka adalah Kidang Semeleh, Benowo dan satu orang lagi yaitu sang Prabu Danar Kencono.
Selanjutnya Jayeng Rono, Jaya Sanjaya juga Pelangi membuka penutup kepalanya.
Pelangi yang masih bingung hanya menatap ketiga orang di depannya tanpa ekspresi.
"A..A-Anakku ...," seru sang Prabu Danar Kencono dengan mata berkaca-kaca, menatap ke arah Pelangi yang berdiri di belakang Jayeng Rono dan Jaya Sanjaya.
Pelangi yang masih bingung menoleh ke arah Jayeng Rono, bagaimana pun kakek itulah yang selama ini menyayangi nya seperti orang tua sendiri.
"Iya nduk..ini Romo prabu mu..," kata Jayeng Rono mengangguk.
Pelangi masih ragu, masih berdiri di tempat nya, bagaimana pun tetap ada rasa asing di hati nya.
"Maafkan Romo anakku, selama ini tak pernah mengenalmu..," seru sang Prabu kembali, kini sudah berurai air mata nya.
Pelangi pun akhirnya luluh, ikut menangis mendekati Pria tua tersebut dan memeluknya.
Seketika keharuan menyeruak di sana, semua nampak bersedih ikut merasakan kepedihan hati dua orang bapak anak itu.
Pedih menjadi korban, karena semua itu ulah dari orang orang yang hanya mementingkan keuntungan pribadi dan kelompok nya.
**
Rombangan Jambumangli sudah tiba di Markas Utama kelompok Mata Iblis.
Sebuah hunian yang sangat mewah selayaknya istana raja, dengan benteng benteng yang tinggi menjulang.
Di tiap berapa tombak ada menara pengawas yang di jaga ketat oleh para penjaga dengan senjata yang siap hunus.
"Selamat datang tuan Jambumangli," sahut penjaga gerbang depan sopan menyambut kedatangan rombongan tetua lingkaran Ring tujuh dari kelompok Mata Iblis.
Jambumangli mengangguk, tersenyum lalu mulai memasuki markas utama kelompok Mata Iblis bersama anak buahnya.
Sebelum jauh masuk Jambumangli sempat bertanya kepada penjaga, "Apakah tetua yang lainnya juga sudah pada datang..?."
"Sebagian sudah ada yang datang tuan..," jawab penjaga itu menunduk sopan.
Jambumangli mengangguk kembali, lalu berjalan masuk markas.
Di dalam markas yang sangat besar tersebut terlihat beberapa bangunan yang megah megah.
Selain bangunan utama, bangunan pendukung juga tak kalah megah.
Kumala yang sudah lama tak berkunjung ke markas utama nampak sedikit terkagum dengan megahnya bangunan itu.
"Selamat datang ..., mari tetua Ring Tujuh Jambumangli ikut dengan saya," sambut seorang pelayan di sana dengan sopan mengarahkan rombongan Jambumangli menuju ke sebuah hunian yang sudah di siapkan di sana.
Nampak sekali di markas utama tersebut, kesibukan luar biasa.
"Ada acara apakah ayah di sini..?, seingat ku dahulu kita kesini tak terlihat kehebohan seperti ini..?."
"Hmm..," Jambumangli hanya tersenyum.
"Kamu tak ingat ini tahun apa..?, bulan berapa ..? Kumala."
Kumala mencoba mengingat ingat, seketika wajahnya mendadak pucat, "Aah..B.b-bukankah ini tahun pemilihan wanita selir Pemimpin Agung..?," gumam Kumala pelan dengan badan langsung terasa lemas.
"Anak pintar..," seru Jambumangli tersenyum mendengar kini anaknya sudah menyadari itu.
"Jadi selain saat ini adalah waktu pemilihan selir bagi Pemimpin Agung, saat ini juga akan di lakukan pertemuan membahas kejadian dan peristiwa terbaru yang berkaitan dengan rencana kelompok Mata Iblis," sahut Jambumangli kembali menerang kan dengan pelan, sambil terus mengikuti langah kaki dari pelayan yang bertugas mengantar mereka ke hunian yang telah di sediakan.
Kumala tak lagi menyahut, pikirannya kini di penuhi dengan rasa enggan.
"Bagaimana Jika Pemimpin Agung menjatuhkan pilihan kepadanya, sebagai salah satu dari wanita selir nya..?."
"Bagaimana jika benar dirinya terpilih menjadi selir Pemimpin Agung..?."
Entah kenapa kini Kumala malah ragu dan tak memiliki keinginan untuk itu.
Kumala sudah mencoba kembali meraba hati nya, mencoba menyelami lagi bagaimana keinginan nya seperti sewaktu masih remaja belasan tahun silam yang menginginkan menjadi ratu dari Pemimpin Agung, tapi semua itu kini terasa hambar.
Sekelebat bayangan wajah pemuda yang entah sejak kapan di kagumi nya malah melintas membuat dirinya tersenyum senyum sambil berjalan di sebelah ayahnya.
"Rupanya kau sudah tidak sabar menjadi salah satu selir Pemimpin Agung anakku..., pasti ayah akan bangga sekali jika itu terjadi," kata Jambumangli pelan kepada Kumala, yang terlihat senyum senyum sendiri.
Mendengar perkataan sang Ayah, Kumala langsung tercekat tenggorokan nya, lidahnya menjadi kelu dan wajahnya memucat sesaat.
Jambumangli tak menyadari itu, malah kian menggoda sambil tersenyum.
**
Jauh di tempat lain, tepatnya sebuah wilayah kerajaan Werdha Tama yang berada di bawah naungan Kerajaan Agung Wukir Asri, terlihat seratusan orang tengah berkuda di lembah gunung Wilujengan.
Pasukan dari kelompok pengguna element Api tepatnya kelompok Api Suci yang di pimpin oleh Wereng Ireng itu tengah mencari lokasi dimana pusaka Zirah dari Ndaru Kolocokro berada.
Menurut pasukan pengintai kelompok Api Suci ini, lokasi Zirah pusaka itu berada di bukit ular, sebelah barat gunung Wilujengan.
Sebuah bukit yang kabarnya terdapat banyak sarang ular beracun yang jumlahnya hingga jutaan bahkan lebih.
"Masih jauh kah tempat bukit ular itu..?," tanya Wereng Ireng kepada pasukan pengintai yang juga penunjuk jalan.
"Setengah hari lagi tetua..," jawab pria penunjuk jalan yang berkuda di depan.
"Setelah melewati bukit di depan barulah kita sampai di bukit Ular," sahut pria itu lagi, lalu memacu kudanya lebih cepat lagi.
**
Di sebuah bukit yang tandus dan hanya terdapat beberapa pohon merambat, terlihat banyak gua dan lubang lubang kecil di lereng yang banyak di timbuni bebatuan.
Terlihat juga banyak binatang melata yang nampak berkeliaran di sana.
Ular ular yang berjumlah ribuan bahkan jutaan itu makin jelas terlihat berjubel di sebuah gua yang paling besar di ujung tebing.
Entah mengapa ular ular tersebut suka berada di sana, seakan ada yang menarik mereka disana atau bahkan mungkin di jaga oleh mereka.
Senopati Anjar Gumelar salah satu prajurit hebat dari kerajaan Wukir Asri bersama limaratus pasukan nya nampak mengawasi wilayah yang banyak terdapat kawanan ular ular tersebut.
Bau amis dan anyir serta bau bangkai jelas jelas tercium pekat di hidung.
Bukan hanya binatang besar, namun mayat mayat para pendekar juga nampak bergelimpangan di sepanjang bukit.
Nampaknya mereka adalah para pendekar yang berniat mengambil Zirah pusaka di wilayah tersebut.
"Hati hati nampak nya tempat ini benar benar sangat berbahaya..!," teriak Anjar Gumelar kepada para prajurit yang di bawa nya.
Melihat banyaknya mayat yang berserakan sudah kewajiban bagi Anjar Gumelar memperingatkan pasukan nya.
"Jangan ada yang ceroboh, kita lihat dulu situasinya baru kita susun rencana..," kata Anjar Gumelar kembali.
__________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....
jgn naif dunk thor..
lha ini ktmu kok g kembali ke Jaya thor..
yg bnr mn thor?