"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23. Permintaan Mama
Menjelang Magrib Mama dan Adrian pulang. Dalam perjalanan, mama menanyakan tentang Lyvia kepada putranya.
"Maksud Mama bagaimana....?" tanya Adrian yang kurang paham dengan bahasa Mamanya.
"Adrian...kalian sudah dewasa, sudah waktunya kalian berhubungan ke jenjang yang lebih serius. Jangan terlalu lama menggantung status perempuan." Adrian hanya tersenyum mendengar penjelasan Mamanya.
"Mama tenang saja...Adrian sudah mempersiapkan segalanya." jawabnya.
"Mama sudah tidak sabar pengen menimang cucu..." hayalan Mama membuatnya senyum-senyum sendiri.
Malam ini Adrian masih diam dirumah. Dia duduk sendiri di teras depan rumah dengan ditemani secara kopi hitam. Terlihat Prima memasuki halaman rumahnya menggunakan motor gedenya.
"Mau aku buatkan teh, kopi atau susu...?" tawar Adrian padanya.
"Widiiiiiiiiiuuuu....ngopi aja lah, biar awet melek...buat persiapan ntar malem..." jawabnya setengah mengejek sahabatnya itu.
"Dasar lo...otak mesum..."
Lagi -lagi hanya tinggal tawa mereka yang terdengar. Tak lama Adrian keluar dengan secangkir kopi pesanan Prima.
"Silahkan Pak...kalo kurang manis, minumnya sambil lihat senyum saya..." kata Adrian.
"Gimana, apa yang harus saya kerjakan?"
tanya Prima sembari menikmati seruputan kopinya.
"Tenang saja...santai dulu bro, kita ngobrol cantik dulu..." jawab Adrian.
"Ngomong-ngomong... berapa bulan kehamilan istrimu...?" tanya Adrian kepo.
"Masuk bulan ke 7..."
"Oya... Alhamdulillah, soal....Maya, apakah dia sudah pulang ke kotanya...?" tanya Adrian ingin memastikan.
"Sudah... kemarin siang, aku langsung konfirmasi dengan hotel tempat dia menginap. Menurut CS nya, Maya sudah cek out sejak pagi." jelasnya pada Adrian.
Mendengar pembicaraan mereka, mama keluar membawa sepiring cake dan buah sebagai pendamping minum kopi.
"Adrian...kok gak diajak masuk Nak Primanya..."
"Gakpapa Ma...sudah biasa dia enakan diluar" jawab Adrian
"Iya Ma....lebih adem alami, hehehe..." sambung Prima cengengesan.
"Ya sudah... dilanjutkan, Mama ke dalam dulu ya..."
Prima yang dari tadi melirik cake yang ada di piring, dia buru-buru mencicipinya.
"Hhhmmm....bentuknya menggoda, ternyata rasanya lebih mempesona, lumer di mulut..." komentarnya.
"Habiskan...aku yakin dirumahmu tidak ada yang menggoda dan mempesona." jawab Adrian.
"Bukannya kebalikannya ya...? makan sendiri, bikin kopi sendiri, tidurpun juga sendiri, kasihan.... ganteng-ganteng gak laku."
ejek Prima pada sahabatnya.
"Tu kan....kumat otak mesum..."
*Hahahahhahahahhaha.....
Prima tidak bisa menahan tawanya. Dia geli dengan ekspresi wajah Adrian saat itu.
"Eehhh....kira-kira PR apa yang akan kamu berikan padaku...?"
"Lyvia besok keluar dari Rumah Sakit dan setelah dia benar-benar vit, aku ingin melamarnya terlebih dahulu."
"Bagus dong...lalu apa yang bisa aku bantu?"
"Mama tidak mau kami berlama-lama pacaran, setelah ada kesepakatan kami akan segera menikah." kata Adrian yang masih di dengarkan dengan seksama oleh Prima.
"Dan...PR yang akan aku berikan padamu, aku minta tolong uruskan berkas-berkas persyaratan pernikahan yang diperlukan." jelas Adrian panjang kali lebar.
"Yassalammmm.....gitu doang...?"
Adrian mengernyitkan dahinya mendengar komentar sahabatnya itu.
"Memang kenapa...?"
"Adrian yang ganteng, kalau cuma itu saja... kapanpun kamu perlukan, aku akan selalu siap membantu...ngapain muter-muter..."
"Makasih ya Prim....kamu memang sahabat sekaligus saudara bagiku."
"Tenang saja...aku siap buka les privat khusus untukmu" ledeknya lagi...
"Kumaaatttt.....!" sanggah Adrian.
*Hahahhahahahahahha......
Riuh tawa mereka terdengar lagi.
"Okelah...aku pamit dulu ya...?? istriku sendiri di rumah, aku janji tidak lama-lama..."
"Iya, eeehhh.... tunggu sebentar, aku ada sesuatu untuk istri kamu..."
"Whhaatttt.....!" Prima masih menunggu diluar dengan penasaran, apa yang akan diberikan sahabatnya itu.
Adrian keluar dengan sebuah amplop coklat di tangannya.
"Titip ini buat istri kamu..."
"Apa ini....? ada-ada saja, enggak-enggak...aku membantumu bukan karena ini Adrian...??!!" tolak prima yang sedikit tersinggung dengan hadiahku.
"Prima... dengerin dulu, aku tidak kasih ini sebagai imbalan karena kamu membantuku, tapi ini hadiah dariku untuk 7 bulanan istrimu..."
Prima masih bingung dengan sikap temannya.
"Prim...kalau kamu menolaknya, berati kamu tidak menganggap ku sebagai saudara.."
"Baiklah...aku akan sampaikan pada istriku, terimakasih banyak atas semuanya"
"Sama-sama...salam buat istri dan baby kamu..."
Adrian kembali ke dalam setelah sahabatnya itu berlalu dari pandangannya. Dia mendekati Mamanya yang duduk menikmati acara di televisi.
"Ma... soal aku & Lyvia, aku berencana akan melamarnya setelah kondisi tubuhnya sudah vit... bagaimana menurut Mama...?"
"Adrian... apapun yang kamu lakukan, Mama akan selalu mendukung & merestuimu."
Jawaban Mama bagaikan perisai buatnya, yang akan membuatnya lebih percaya diri dan lebih mantap untuk melangkah.
***
Lyvia sudah bersiap untuk kembali pulang kerumahnya. Dia membantu ibu untuk membereskan perlengkapannya selama dirawat di Rumah Sakit.
"Bu...biar Via selesaikan, Ibu ke bagian administrasi saja untuk menyelesaikan pembayaran." Lyvia memberikan kartu debitnya agar Mama bisa menyelesaikan biaya administrasinya.
"Ya sudah...Via tungggu sebentar ya, Ibu segera kembali."
"Assalamu'alaikum...." sapa Adrian, ketika melihat Ibu keluar dari ruang rawat Lyvia.
"Wa'alaikumsalam...Nak Adrian, masuk Nak... Ibu tinggal sebentar ya..."
"Ibu mau kemana...?" tanya adrian.
"Ibu mau ke kasir, untuk menyelesaikan biaya administrasinya."
"Tidak usah Bu... Ibu temani Via saja, biar Adrian yang selesaikan."
"Tapi....."
"Sudah gakpapa Bu...mana resinya biar Adrian yang jalan.
Ibu memberikan resi sekaligus kartu debet Lyvia.
"Ibu...ini disimpan saja, nanti terjatuh." Adrian mengembalikan kartu debet Lyvia kepada Ibunya.
"Ibu...kok Ibu kembali...? kenapa...?"
"Tidak apa-apa Via...sudah ada Nak Adrian disana.
"Via terlalu banyak merepotkan Adrian Ma..."
"Ibu juga gak enak, tapi bagaimana lagi dia memaksa..."
Tidak memakan waktu lama, Adrian sudah menyelesaikan administrasinya.
"Ibu, Via... sudah siap...?"
"Sudah Nak..."
"Biar saya bantu Bu..." pinta Adrian.
Lyvia yang duduk di samping bangku kemudi, hanya terdiam dari tadi.
"Via.... kenapa kamu tidak semangat sayang, apa yang masih kamu rasakan...?"
"Tidak ada mas...aku...aku cuma gak enak merepotkanmu terus..."
Adrian hanya menggelengkan kepalanya.
"Ibu... nanti sampai di rumah, ada yang mau saya bicarakan."
"Iya Nak..." jawab Ibu Lyvia.
"Mau bicara apa mas....?"
"Aku mau bikin perhitungan denganmu..." jawab Adrian lirih.
Adrian membantu ibu menurunkan barang-barangnya dari dalam bagasi. Di dalam sudah ada Kania yang membuatkan teh hangat untuk kedatangan Kakaknya.
"Biar Nia yang bawa Kak..." pinta Kania pada Adrian.
"Bisa...?"
"Bisalah...cuma segini doang..." jawab Kania. Adrian kembali menutup mobilnya dan mengikuti Lyvia masuk ke dalam rumah.
"Diminum dulu Nak...." kata Ibu yang turut duduk mendekati Lyvia di ruang tamu.
"Iya Bu... terimakasih." diteguknya teh hangat untuk membasahi kerongkongannya sebelum menyampaikan sesuatu.
"Adrian mau menyampaikan pesan Mama, kalau beliau ingin mengenal keluarga ini lebih dekat, jadi Insha Allah Minggu depan kalau Lyvia sudah benar-benar vit dan Ibu juga berkenan, maka kami akan silaturahmi dengan tujuan untuk melamar Lyvia."
Lyvia masih terdiam, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Via....apa kamu tidak keberatan dengan maksud yang aku utarakan tadi...?"
"Eehhhhhmmmm.... tidak Mas, aku menurut saja apa kata Ibu..." jawabnya gugup.
"Baiklah Nak.... sampaikan salam Ibu kepada Mama, dengan senang hati...pintu rumah ini selalu terbuka..."
"Terimakasih Ibu....Adrian sampaikan nanti kepada Mama..."
"Tapi mas kabarin dulu, kapan kira-kira mau kesini dan jangan mendadak" sambung Lyvia.
"Iya sayang....jangan khawatir, Ibu tidak usah menyiapkan apa-apa, semua biar Adrian yang fikirkan."
*Subhanallah... Alhamdulillah Ya Allah...Engkau telah mengirimkan kekasih yang baik hati untukku....* do'a Lyvia dalam hati.
~ --------------------------------
~ --------------------------------
~ --------------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗