Arabella Qaseema, wanita dewasa berumur 24 tahun. Sesuai dengan namanya yang cantik, Arabella memiliki paras yang cantik dan imut. Tapi sayang, ia sulit mendapatkan pasangan. Setiap bulan yang berganti, bergulir disetiap harinya. Arabella, selalu berharap akan ada seorang pria yang akan datang untuk melamar.
"Hilal jodoh belum terlihat. Jadi nunggu hilal dulu. Nanti ya, kalau enggak Sabtu, ya Minggu,"
"Kalau diundang, aku gak mau ngasih kado. Hari minggu gini KUA-nya tutup,"
"Memang mau nyariin calon buat aku?"
"Besok ya, kalau enggak hujan. Aku cariin satu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revolusi Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama
Hari terus berlanjut, hingga terik matahari telah menyinari seluruh isi bumi. Cuaca hari ini sangat cerah, terlihat orang-orang berlalu lalang disekitar jalan. Beberapa orang pasangan remaja terlihat saling bergandengan dengan senyum bahagia terpatri diwajah.
Angin berhembus dengan tenang, membuat pohon bergoyang dengan daun kering berjatuhan ketanah akibat hembusan angin.
Seorang gadis tengah duduk di kursi taman, memakai baju syar'i berwarna biru muda senada dengan hijab. Sepatu flat shoes berwarna putih dengan tas jinjing berwarna hitam.
Duduk seorang diri dengan senyum tipis yang terus tersungging. Wajah ayunya tampak berseri-seri. Sesekali melihat gawai, untuk sekedar melihat waktu.
Saat melihat seseorang yang ditunggunya telah sampai, senyumnya semakin lebar. Dengan cepat ia segera berdiri menyambut kedatangan orang yang ditunggu nya.
"Assalamu'alaikum. Ara maaf telah membuatmu menunggu"
Haafizh. Pemuda berusia dua puluh sembilan tahun itu terlihat sangat tampan. Kali ini penampilan nya sangat beda, yang biasanya memakai baju loreng atau baju serba hitam kali ini ia tampil berbeda.
Penampilan Haafizh begitu terlihat casual. Ketampanan Haafizh semakin meningkat dengan kegagahan yang begitu berwibawa. Diumur Haafizh yang hampir memasuki tiga puluh, seperti tidak termakan usia, Haafizh seperti masih terlihat berusia dua puluh tiga tahunan.
"Wa'alaikumussalam. Tidak apa, saya juga baru sampai tadi"
Keduanya saling melempar senyuman. Bak sepasang kekasih pada umumnya, Haafizh dan Arabella tampak begitu serasi. Bahkan mereka seperti sepasang pengantin baru yang tengah dimabuk cinta.
Hari ini adalah kencan pertamanya dengan Arabella. Tentunya sepengetahuan Pak Haidar dan Pak Abian. Kedua orang tua itu telah merencanakan sesuatu agar Arabella semakin bertambah yakin kalau Haafizh adalah jodoh nya.
Seharusnya Haafizh beserta keluarga harus pergi kerumah Pak Haidar untuk melamar Anabella. Tapi Pak Abian telah merencanakan sesuatu hingga rencana perjodohan itu diundur dulu, pasalnya Dinda sangat kesal namun dengan segala bujuk rayu dari sang suami, akhirnya Dinda luluh juga.
Untuk sementara waktu mungkin rencana perjodohan ini bisa tertunda tapi dilain waktu Pak Abian harus berbicara yang sebenarnya pada Dinda kalau Haafizh telah memiliki pilihannya sendiri.
Semua ini masih dalam kendali Haafizh, Pak Abian, dan Pak Haidar. Tapi dilain waktu yang akan datang, entah apa yang akan terjadi. Dinda yang begitu keras kepala pasti akan sulit untuk menerima semua keputusan ini.
Haafizh sudah berpikir tentang semua yang akan ia lakukan demi Arabella dan cintanya. Mungkin kali ini ia akan membantah kemauan bundanya. Tapi Haafizh berhak memperjuangkan cintanya demi Arabella.
Sebelum ia kembali bertugas Haafizh berencana akan mengkhitbah Arabella setelah itu ia akan mengajak Arabella untuk pengajuan nikah. Jujur Haafizh sangat sedih karena harus mengrahasiakan ini semua dari bunda. Rencananya Haafizh akan mengatakan ini semua setelah ia selesai pengajuan nikah nanti.
Haafizh langsung membukakan pintu mobil untuk Arabella, dengan senang hati Arabella langsung masuk kedalam mobil. Setelah memastikan Arabella duduk dengan nyaman, Haafizh segera menutup pintu mobil. Ia mengitari mobil lalu segera masuk kedalam mobil. Duduk di balik kemudi seraya memasang sabuk pengaman.
Rencananya Haafizh akan mengajak Arabella mengunjungi beberapa tempat wisata indah. Sebenarnya Haafizh ingin langsung mengkhitbah Arabella tapi kata ayahnya dan Pak Haidar itu terlalu terburu-buru. Seharusnya Haafizh menyakinkan dulu kalau diantara keduanya memang sudah benar-benar memiliki rasa cinta, dan Arabella terlihat begitu yakin dengan Haafizh barulah Haafizh akan menyatakan tujuan baiknya pada Arabella.
Mobil BMW hitam milik Haafizh langsung melesat membelah jalanan kota yang begitu ramai. Sepanjang perjalanan Haafizh bercerita banyak hal, seperti pengalaman sekolah dulu hingga ia masuk ke pendidikan kemiliteran.
Begitu juga dengan Arabella, tanpa rasa canggung seperti biasanya. Kali ini Arabella juga bercerita banyak hal pada Haafizh. Keduanya tampak begitu saling menanggapi dengan baik.
Mobil berhenti saat lampu merah, kepala Haafizh bersandar pada setir kemudi dengan memiringkan kepalanya kearah Arabella, sengaja agar lebih leluasa menatap Arabella yang menghadap lurus kedepan.
"Ra, kamu cantik"
Pipi Arabella memerah, dengan tingkahnya yang terlihat malu-malu. Kalau sudah seperti ini Arabella akan merasa canggung kembali. Haafizh selalu memanfaatkan waktu untuk selalu menggombalinya disetiap saat.
"Haafizh sebaiknya kamu memperhatikan kedepan" Titah Arabella seraya melirik pada Haafizh sekilas.
Bukannya penurut Haafizh malah terkekeh.
"Kenapa harus melihat kedepan, sementara masa depan saya adalah kamu, Ra."
Senyum sensual Haafizh begitu menggoda, siapa saja pasti akan meleleh melihatnya. Begitu juga dengan Arabella, ia jadi salah tingkah.
"Kamu sangat mengemaskan sekali, Ra. Tolong jangan memperlihatkan ekspresi seperti itu pada orang lain, selain saya saja."
Saat bersama Arabella hatinya selalu berdebar, apalagi kala Arabella tersenyum Haafizh selalu tidak bisa berhenti mengalihkan dunianya. Seolah, titik dunia ini hanya terpusat pada Arabella.
Dulu saat ia bertugas, Haafizh selalu merindukan Arabella disetiap dentuman jam yang bergerak memutari waktu. Ingin cepat pulang menemui gadis pujaannya. Arabella seperti narkoba bagi Haafizh, selalu saja membuat Haafizh candu. Ahh, rasanya kata candu saja tidak cukup. Haafizh sangat candu berat akan semua yang berkaitan dengan Arabella.
Diusianya yang sudah matang dan mapan. Tentunya Haafizh sudah ingin segera memiliki pasangan hidup. Kapan waktu itu tiba, Haafizh selalu berdo'a, semoga sang Maha Kuasa memudahkan niat baiknya untuk segera menghalalkan Arabella.
Mengingat dirinya adalah seorang tentara, dan rencana pernikahan yang ingin segera dilakukan apakah bisa secepat yang ia mau. Apalagi pengajuan nikah butuh proses yang lama.
Dengan patuhnya Arabella mengangguk mengiyakan keinginan Haafizh. Sontak saja membuat Haafizh tersenyum senang.
Lampu sudah kembali berwarna hijau, Haafizh segera memacu kendaraannya kembali. Keduanya mengunjungi tempat wisata akuarium. Tempat ini menyuguhkan pengunjung akan dunia bawah laut, tempat ini dinamakan Sea World.
Keduanya terlihat begitu asik berjalan beriringan seraya melihat berbagai jenis hewan bawah laut. Arabella berdecak kagum, baru pertama kali ia mengunjungi tempat Sea World.
Saking antusiasnya Arabella tidak sadar memegang pergelangan tangan Haafizh. "Haafizh ini sangat indah sekali" Ucap Arabella, penglihatan nya tidak lepas dari ikan-ikan yang berterbangan disekitar keduanya.
Lantas saja hal itu membuat Haafizh senang bukan main. Awalnya ia terkejut, tapi melihat Arabella seperti tidak menyadarinya maka Haafizh akan diam-diam saja menikmati sentuhan tangan Arabella di pergelangan tangan kanannya.
"Iya indah" Sahut Haafizh dengan tersenyum-senyum.
Keduanya terus berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih, menikmati indahnya Sea World dengan senyum bahagia yang terus tersungging diwajah keduanya.
Selepas mengunjungi dunia bawah laut, Haafizh mengajak Arabella kesebuah restoran jepang. Tentunya karena ini sudah jam makan siang lantas keduanya memilih untuk makan bersama.
Keduanya memilih menu yang sama yaitu semangkuk mie ramen. Sajian mie ramen ini sangat menggugah selera, dengan aroma dari hidangan mie ramen ini sangat membangkitkan rasa ingin segera mencicipi apalagi dengan porsi yang begitu banyak.
Selesai makan Haafizh mengajak Arabella untuk menonton bioskop. Keduanya duduk bersebelahan dengan jarak yang begitu dekat. Arabella terlihat begitu menikmati setiap adegan yang diputar, Berbeda dengan Haafizh, pria itu malah sibuk memperhatikan Arabella dari samping.
Menopang dagu dengan tangannya, Haafizh terus menyunggingkan senyuman seraya memperhatikan wajah Arabella.
Hari sudah sore saat keduanya keluar dari bioskop. Kencannya bersama Arabella sangat menyenangkan, apalagi saat di Sea World Arabella terus memegangi tangannya.
"Haafizh tadi itu filmnya sangat bagus! Apalagi saat pemeran utamanya terus berjuang demi mempertahankan hubungannya dengan sang kekasih." Seru Arabella dengan begitu semangat.
"Kalau kamu suka bagian yang mana?" Tanya Arabella seraya menatap Haafizh dengan raut wajah senang.
Mendapat pertanyaan itu sontak membuat Haafizh terdiam. Pasalnya ia tidak memperhatikan film tadi melainkan memperhatikan Arabella.
"A-aku... aku lupa" Jawab Haafizh dengan tergagap seraya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
Lantas membuat dahi Arabella berkerut. Padahal baru beberapa menit yang lalu film selesai diputar, masa iya bisa secepat itu lupa.
Tidak ingin bertanya lebih banyak Arabella hanya diam keduanya berjalan beriringan menuju parkiran. Haafizh menghembuskan napas lega karena Arabella tidak bertanya lagi.
Tempat terakhir yang akan dikunjungi yaitu pantai, sangat cocok sekali untuk dikunjungi sore hari. Selain pemandangan yang indah menampilkan senja, suasana pantai disore hari sungguh sangat tenang dan sejuk apalagi Haafizh ingin melihat matahari terbenam bersama Arabella.
Tidak butuh waktu lama keduanya telah tiba dipantai, suasana cukup ramai terlihat beberapa anak kecil berlarian kesana kemari seraya memainkan pasir. Haafizh langsung mengajak Arabella ke tempat jembatan panjang yang terbuat dari kayu.
Keduanya terus berjalan beriringan, sampai diujung jembatan yang membentuk lingkaran keduanya lantas diterpa angin pantai yang kencang sesekali suara deburan ombak terdengar jelas.
"Indah sekali" Arabella begitu sangat senang, apalagi sedari tadi senyum indahnya selalu tersungging menghiasi wajahnya yang cantik.
Haafizh menatap Arabella dari samping, melihat Arabella terlihat begitu bahagia membuat Haafizh juga ikut bahagia.
"Terakhir kita kepantai saat saya berpamitan ingin berangkat bertugas" Ucap Haafizh seraya mengingat kenangan satu tahun yang lalu bersama Arabella.
"Apa kali ini juga sama?"
Haafizh menggeleng. "Saya kesini ingin melamar seseorang" Ucap Haafizh seraya menghadap pada Arabella.
Mendengar perkataan Haafizh barusan, senyum bahagia Arabella raip seketika. Lantas ia termenung dengan hatinya yang terasa sesak.
"Ka.. kamu in.. ingin melamar siapa?" Tanyanya seraya menahan rasa sesak dihati, yang begitu menyakitkan.
tinggal menunggu prahara sang bunda nya hafiz lanjut....!
Masya Allah...
🤣