[🚫Hati-hati, novel ini bisa buat kamu terbang melayang-layang lalu jatuh ke dalam empang🚫]
Kisah Tuan Muda Rico.
Pria dewasa yang dijodohkan dengan gadis amit-amit bernama Bebiana.
Tidak hanya merepotkan, gadis belia itu juga memiliki hobi aneh. Yaitu mencuri apa saja yang bisa dijadikan uang demi menuruti hobinya bermain game.
Akankah Rico bisa bertahan memiliki istri yang hobinya maling sana-sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Semua pekerjaan Rico banyak yang terbengkalai hari ini. File tugas menumpuk. Pertemuan dengan klien ditunda. Bahkan ia nyari membatalkan sebuah kontrak karena ketidakkonsistennya. Dan semua itu bisa terjadi karena Bebi.
Gara-gara ia sibuk mengurus dan menemani gadis itu ke pemakan ayahnya Rico jadi harus ekstra lembur. Hingga tak terasa, jarum jam bergerak cepat nyaris mencapai angka 23.00.
Saatnya ia harus mengistirahatkan diri agar dapat menjalani aktivitas yang lebih melelahkan esok hari.
"Sudah malam rupanya!" Pria itu bergumam. Mulai meregangkan tangannya ke atas untuk melemaskan syaraf-syaraf tegang pada tubuhnya.
Ingatan Rico tiba-tiba meluncur bebas pada Bebi. Kira-kira sedang apa wanita itu, ya? Entahlah! Untuk apa ia memikirkan perempuan tidak jelas seperti itu?
Meskipun Bebi sedang dalam keadaan berduka, tapi Rico akui kalau jauh di dasar hatinya merasa biasa saja. Ia hanya sempat kasihan, lalu sekarang biasa saja seolah tidak pernah mendengar ayah Bebi meninggal.
Pria itu justru memikirkan perbuatannya tadi siang. Apakah Bebi benar-benar tidak masalah kehilangan keperawanannya? Gadis itu tampang biasa saja seolah kejadian singkat itu tidak pernah terjadi.
"Bodo amatlah!"
Tak mau begitu ambil pusing, akhirnya Rico bergerak perlahan. Mematikan lampu di ruang kerja lantas berjalan mendekati pintu. "Waktunya untuk tidur! Jangan sampai aku gila hanya karena memikirkan petasan banting itu!"
Tangannya memutar handle pintu. Kemudian berbalik untuk memastikan monitor dan benda elektronik lainnya sudah dalam keadaan mati.
"Astaga!" Bola mata pria itu nyaris copot saat mendapati sang ayah tengah berdiri kaku di depan ruang kerjanya.
"A-apa yang Anda lakukan? Kenapa belum pulang?"
Plakkkkk!
Satu pukulan melesat cepat di kepala tanpa dapat di elak. Rico semakin membulatkan matanya tidak terima.
"Apa yang ayah lakukan?" Sengaja memanggil tuan Wicaksno dengan panggilan itu saking emosinya. Tangannya mengepal, tidak terima dipukul seperti anak bocah.
"Ayah belum pulang? Ngapain Ayah di sini?" Bertanya sekali lagi dengan nada setengah mengusir. Panggilannya ngelantur suka-suka dia. Kadang ayah, kadang Anda. Menandakan bahwa sayang orang tua tapi hatinya gengsi.
"Ayah yang seharusnya tanya kepadamu! Apa yang kamu lakukan di ruangan itu sampai lupa dengan keadaan istrimu. Apa kamu tahu Bebi belum keluar kamar sejak pulang tadi. Ayah bahkan sampai pusing takut anak orang mati kelaparan di dalam kamar. Masa kamu yang suaminya tidak peduli sama sekali," omel Wicaksono ke mana-mana.
Rico menggaruk kepala belakangnya. Lantas bicara setengah berdecak, "Aku kerjalah! Untuk membuat perusahaan Anda semakin bejaya!"
"Berjaya kepalamu! Urus istrimu dulu sana! Bawakan dia makan!"
"Hmmmm." Pria itu melangkah pergi meninggalkan sang ayah tanpa peduli. Ia sungguh tidak ingin bertengkar dengan tua bangka sialan itu.
Wicaksono menoleh sambil menatap punggung besar anaknya. "Mau ke mana kamu?"
"Ke dapur. Katanya Bebi belum makan, kan? Tentu saja sebagai suami yang baik aku harus membawakan makanan untuknya. Apa Anda sudah puas?" Rico berbicara sangat enteng, tanpa peduli bahwa di belakangnya tuan Wicaksono tengah mengumpat geram kelakuan bocah satu itu.
Pria itu lanjut berjalan santai. Lantas mendapati pelayan sedang menaruh dua hati ayam krispi di atas sepiring nasi hangat.
"Makanan buat siapa?" tanya Rico mengagetkan pelayan dari belakang.
"Astaga, Tuan!" Pelayan itu berbalik seraya memegangi jantungnya yang berdetak tak karuan. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ralat pelayan itu dengan bahasa lebih sopan.
"Buatkan makanan untuk Bebi! Nanti antarkan makanannya padaku. Kutunggu kamu di meja makan!"
"Kebetulan sekali Tuan!" pelayan itu tersenyum. "Saya baru saja selesai menyiapkan makanan untuk nona muda. Setelah kami membujuknya untuk makan, akhirnya nona mau makan juga asal dibelikan hati ayam krispi yang dijual di depan gapura."
"Hati ayam krispi? Di depan gapura?" Rico yang tak pernah memakan gorengan seribuan yang digoreng dengan minyak jelantah mengernyit. "Apa makanan itu higienis?"
Pelayan itu nyaris tertawa mendengat ucapan Rico. Tentu saja tidak, harganya saja sangat murah. Makanan khas kalangan orang bawah yang rasanya dijamin selangit. Dalam catatan harus menyukainya.
"Saya kurang tahu Tuan! Tetapi ini makanan kesukaan nona Bebi. Nona yang meminta saya membeli ini." Sambil menyodorkan nampan biru dengan menu yang bagi Rico terlihat menggelikan itu.
Dahi Rico masih mengkerut. Membentuk tiga garis lurus sambil memperhatikan minyak-minyak yang melekat dan menambah tekstur hati itu makin menjijikan.
Jenis makanan macam apa ini?
Rico yang terbiasa makan makanan rebus dan panggang bergidik ngeri. Ia nyaris menyodorkan makanan itu lagi ke arah pelayan. Namun buru-buru pelayan itu mengingatkan.
"Ini makanan kesukaan nona! Nona tidak akan mau makan kalau bukan ini menunya."
"Hmmm, oke ... baiklah!" Ada helaan putus asa saat Rico membayangkan mulut Bebi mengunyah benda berlemak tidak sehat itu.
Eh, kenapa aku jadi peduli sekali pada wanita itu?
***
Komennya dong..... Zeyeng..... Biar g sepi sepi amat ini lapak
wkakakaaakakakaaaaaa....
🤦🤦🤣🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃