"Siapa sangka, pertemuan yang tidak disengaja itulah yang membuat kita sampai saat ini masih bersama" ~ Nadila Azzahra Putri Gunawan.
"Lo bisa nggak sih, seharii aja nggak gangguin gue Vin?" Tanya Nadila kesal.
"Enggak bisa!!!"
"Sebenarnya mau lo itu apa sih Vin?"
Vino mendekat. "Kan udah gue bilang, gue mau jadi pacar lo"
Deg
_________________________________________
Bukankan ada pepatah yang mengatakan, bahwa apapun yang tengah kamu hadapi, kamu harus percaya dan yakin, bahwa Allah akan memberikan jalan keluarnya, bahkan dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan.
Jodoh, memang tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu seperti apa kita akan dipertemukan dengan jodoh. Seperti halnya dengan Nadila yang bertemu dengan jodoh dengan cara yang tidak pernah ia sangka.
Nadila fikir, pertemuan singkat pada saat itu hanya akan berakhir sampai disana saja. Namun siapa sangka, semuanya masih berlanjut sejak beberapa tahun mereka kembali dipertemukan. Dan ternyata, memang pria yang bernama Vino itulah yang menjadi jodohnya.
Mau tau gimana kisah Nadila dan Vino? Kuy baca. Jangan lupa di like, komen, dan vote :)
Copyright © Afrialusiana
Dont copy my story. Ingat dosa!!
Follow Ig Author : @Afrialusiana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afria Lusiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang bareng
Perkuliahan hari ini baru saja selesai, waktu telah menunjukkan pukul 14.00 siang. Di dalam kelas, Nadila tampak sedang mengemasi buku-bukunya ke dalam tas.
"Nad, habis ini lo langsung pulang?" Tanya Kenny yang berada di samping Nadila.
"Kenapa emang Ken?"
"Huh kebiasaan" Kenny berdecak. "Kalo orang nanya itu dijawab dulu maimunah, baru nanya balik"
Nadila cengengesan. "Iya gue langsung pulang, kenapa nyai?" Tanya Nadila balik.
"Oo gapapa sih, cuma nanya" Sahut Kenny tanpa merasa bersalah.
"Eleh, udah gue tebak juga lo" Sinis Nadila yang hanya dibalas cengengesan oleh Kenny.
Nadila dan Kenny berjalan beriringan di koridor kampus. Gadis itu berjalan menuju depan Fakultas menunggu Pak Aji menjemput dirinya. Sementara Kenny, gadis itu permisi lebih dulu pada Nadila karena hari ini ia ada urusan penting bersama keluarga besarnya.
Siang itu cuaca sangat panas, Nadila berdiri di depan gedung A Fakultas Ilmu Pendidikan menunggu Pak Aji sambil mengotak atik ponselnya dengan kening tertaut karena silaunya matahari. Gadis itu menoleh ke arah kiri dan kanan, mencari Pak Aji yang mungkin saja sudah datang. Namun Nadila belum juga mendapati Pak Aji setelah 10 menit menunggu.
Tak berselang lama, sebuah motor matic berhenti tepat di hadapan Nadila. Motor matic? benar, hanya motor matic. Bukan motor mewah ala ala anak orang kaya.
Nadila yang semula menunduk sibuk memainkan ponsel, mengangkat kepalanya ke depan. Melirik manusia yang tanpa aba-aba berhenti tepat di hadapan dirinya itu. Kening Nadila tertaut saat mendapati siapa orang tersebut.
"Lo?" Nadila memutar bola matanya malas.
Benar, siapa lagi pria itu jika bukan Vino. Nadila menatap Vino dengan tatapan sinis dan tidak suka. Namun hal itu tidak membuat Vino pergi dari sana. Pria itu justru membalas gerutu Nadila dengan sebuah senyum manis.
"Lagi nungguin sopir lo ya?" Tanya Vino sok akrab.
Nadila memalingkan pandangan ke samping. Rasanya gadis itu enggan menatap Vino yang ia rasa begitu menyebalkan. "Bukan urusan lo" Sahutnya tanpa menoleh ke arah Vino.
"Mau nyoba naik motor butut nggak?" Tanya Vino.
Nadila menoleh. "Nggak usah! Makasih! Sahut Nadia jutek.
Vino tertawa kecil "Oiya, gue lupa, orang kaya mana level naik motor, apalagi cuma motor butut kayak gini."
Nadila menoleh ke arah Vino. Gadis itu menatap Vino dengan tatapan benar-benar tidak suka. "Maksud lo apaan ngomong kayak gitu?"
"Gue rasa lo tau maksud gue apa!"
Nadila benar-benar merasa kesal dengan ucapan Vino. Pasalnya, meskipun hidup Nadila serba berkecukupan, namun gadis itu tidak pernah menganggap rendah siapapun. Karena Nadila tahu, semua orang di dunia ini sama. Semua hanya titipan dari sang pencipta. Hanya saja setiap manusia diberikan takdir yang berbeda-beda.
Yang jadi masalah dan alasan Nadila menolak Vino adalah Vino sendiri, rasanya Nadila begitu malas berurusan dengan laki-laki menyebalkan itu. Nadila menolak ajakan Vino bukan karena motornya, melainkan karena orangnya. Tapi Vino justru berfikir akan hal yang tidak-tidak.
"Gue nggak per..."
"Gue tau lo nggak se sombong itu." Potong Vino sebelum Nadila menyelesaikan ucapannya.
"Bagus deh kalo lo tau!"
"Kalo gitu, berarti lo mau dong nerima tawaran gue?" Vino menarik turunkan alisnya.
"Ck! Ini orang bener-bener cari masalah mulu ya sama gue!" Gumam Nadila dalam hati dengan tatapan masih fokus pada Vino.
"Gue emang nggak se sombong yang lo fikir, dan gue juga nggak pernah milih-milih kendaraan, bahkan naik bajai sekalipun gue nggak masalah.Tapi saat ini yang jadi masalah adalah, gue nggak mau diantar sama cowok nyebelin kaya lo!"
"Ya berarti sama aja dong, lo gengsi naik motor butut kayak gini?" Putus Vino sepihak.
"Aduhh kenapa sih lo nggak ngerti-ngerti juga maksud gue?"
"Gue ngerti maksud lo, intinya lo gengsi kan diboncengin pake motor butut kayak gini?" Vino mengulang ucapannya.
"Enggak! Lo jadi orang nggak usah asal ngomong kalo nggak tau faktanya seperti apa!" Tekan Nadila.
"Ya kalo gitu lo mau dong pulang sama gue? Katanya nggak sombong, naik bajai juga mau?"
"Ck! Nadila memutar bola matanya jengah. Gadis itu terpaksa menerima tawaran Vino. Karena ia tidak ingin di cap sebagai manusia sombong karena memiliki segalanya.
Nadila terlebih dahulu menghubungi Pak Aji agar tidak usah menjemput dirinya ke kampus. Gadis itu menerima helm dari Vino dengan raut wajah kesal. Sementara Vino, pria itu tersenyum melirik ke arah Nadila.
***
Di perjalanan, bibir Nadila tidak berhenti tersenyum. Gadis itu menikmati indahnya pemandangan siang hari di pusat kota. Sementara Vino, pria itu sedari tadi tak henti memperhatikan Nadila dari spion motornya.
Rasanya sudah lama sekali Nadila tidak menikmati pemandangan seperti saat ini. Naik motor, menikmati udara yang siang itu. Meskipun awalnya memberontak, namun saat ini Nadila justru menikmatinya.
Vino berhenti tepat di depan rumah Nadila.
"Udah sampe mbak. Jangan lupa kasih bintang lima nya ya" Ucap Vino tertawa.
Namun, Nadila sama sekali tidak menghiraukan candaan Vino. Gadis itu baru tersadar, bahwa selama di perjalanan pulang dirinya belum memberi tahu Vino alamat rumahnya. Tapi mengapa Vino bisa membawa dirinya sampai ke sini?
Nadila turun dari motor Vino, membuka helm yang ada di kepalanya dengan raut wajah bingung. Ia menatap Vino dengan tatapan penuh selidik.
"Lo kenapa tau rumah gue?" Tanya Nadila.
"Oiya, kenapa gue bisa tau ya?"
"Gue serius!" Nadila menatap Vino dengan tatapan tidak ramah karena pria itu selalu saja mempermainkan dirinya setiap kali berbicara.
"Apa lo papparazi?" Nadila kembali melontarkan pertanyaan.
Vino menaikkan bahunya. "Mungkin bisa di bilang sepeti itu" Sahutnya acuh.
"Selama ini lo ngikutin gue?"
"Maybe"
"Sebenarnya lo punya masalah apa sih sama gue? kenapa gue harus ketemu lo terus?"
"Kalau kata Afgan mah jodoh pasti bertemu" Sahut Vino dengan raut wajah polosnya.
"Ck! Lo bisa nggak sih kalo ngomong serius?"
"Lo mau diseriusin sekarang?" Yakin udah siap? nggak mau fokus kuliah dulu?"
"Arkhhhhh. Terserah, ngomong sama lo sama aja ngomong sama orang gila"
Nadila berlalu pergi meninggalkan Vino untuk masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
"Gue emang gila karena lo. Woi nggak mau ngajak gue masuk dulu gitu? Nggak mau bilang makasih kek? apa kek?" Sorak Vino saat Nadila sudah melangkah semakin menjauh.
Namun, gadis itu sama sekali tidak menghiraukan ucapan Vino.
Vino melirik helm yang ada di tangannya, pria itu tersenyum kemudian memasang kembali helm tersebut di kepalanya.
Dari kejauhan, dari teras rumah, Nadila menatap Vino. Ia sejenak memandang pria itu sampai tubuh Vino benar-benar hilang dari sana.
.
.
.
.
.
.