Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMAN HIJAU DI ATAS GEDUNG
Malam telah beranjak larut hingga keheningan menjelang fajar menyelimuti kediaman keluarga Shen. Di ruang utama yang temaram, Xiao Luo bersama keluarga Shen dan keluarga XIn duduk melingkar. Mereka tengah mengatur strategi pelik tentang bagaimana kemunculan Xiao Luo secara terang-terangan di pulau pengasingan nanti tidak sampai memicu kecurigaan penduduk setempat, terutama para petugas jaga yang dikenal ketat mengawasi gerak-gerik orang buangan.
Sebelum fajar menyingsing, Xiao Luo juga sempat menitipkan satu permintaan penting.
"Buatlah sebuah pagar kayu yang mengelilingi sumur tua itu, sambungkan hingga melingkari seluruh area rumah keluarga Shen," pesan Xiao Luo serius. Dengan pembatas tersebut, ia berharap bisa keluar-masuk dimensi waktu dan berkunjung kapan saja tanpa harus cemas kepergok orang luar.
Kring!
Jam di dinding baru saja menunjuk pukul 06.00 pagi ketika alarm di atas nakas berdering nyaring. Xiao Luo mengerjap, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Kurang tidur selama beberapa hari terakhir akibat bolak-balik menembus dimensi membuatnya kelelahan fisik. Untunglah ia sudah berpesan kepada keluarga Shen bahwa ia tidak akan datang berkunjung selama beberapa hari ke depan demi memulihkan staminanya.
Tanpa membuang waktu, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Pagi ini, ia memilih mengenakan setelan profesional: kemeja putih berpotongan rapi dipadu celana bahan hitam, atribut wajib seorang office girl. Begitu siap, ia langsung melangkah keluar rumah tanpa sempat menyentuh sarapan.
Dalam perjalanan menuju kantor, pikirannya terpecah menjadi dua dunia yang kontras. Di satu sisi, ia hanyalah seorang karyawan rendahan yang harus bekerja keras mencari uang demi menyambung hidup di ibu kota yang kejam. Namun di sisi lain, ia kini mengemban takdir besar sebagai "penyelamat" sekaligus tumpuan harapan bagi belasan orang buangan di pulau terpencil abad lampau, yang sepenuhnya bergantung pada suplai logistik modern darinya.
Uang hasil penjualan ginseng memang masih tersisa banyak. Tetapi, mengandalkan satu sumber saja bukanlah keputusan yang bijak. Di tengah lamunannya, ia hampir melupakan potensi bisnis dari sulaman tangan Su Wanwan. Dan seolah menjadi jawaban atas pikirannya, sahabat karibnya itu mendadak muncul, bahkan datang jauh lebih pagi dari biasanya. Biasanya untuk karyawan seperti dirinya paling pagi jam tujuh baru datang.
"Xiao Luo!" panggil sebuah suara familiar.
Xiao Luo menoleh, sedikit terkejut. "Loh, tumben sekali pagi-pagi begini sudah datang?"
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan. Kamu masih punya waktu sebentar, kan?"
Xiao Luo melirik jam tangannya dengan cemas. "Maaf, Wan. Pagi ini sepertinya tidak bisa, aku sudah hampir terlambat. Apa urusannya sangat mendesak? Tidak bisakah dibahas nanti saja sepulang kantor?"
"Aku hari ini mengambil cuti, jadi lebih baik kita bicara sekarang. Tidak lama, kok," tukas Wanwan antusias. "Ini soal kain sulaman yang kamu berikan kemarin. Ibu sudah melihatnya dan sangat setuju. Uang untuk pembelian kain yang kemarin akan segera aku transfer. Oh ya, kalau wanita tua dari tempatmu itu datang lagi, tolong pesankan lebih banyak. Hanya itu yang ingin kusampaikan."
Bahu Xiao Luo seketika terasa lebih ringan. "Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak, Wan..."
"Sama-sama. Aku juga harus berterima kasih padamu. Tanpa kamu, kami tidak akan pernah melihat peluang bisnis sebaik ini," balas Wanwan tersenyum tulus. "Sekarang cepatlah masuk ke dalam, kamu sudah mau terlambat. Aku juga harus segera berangkat."
"Kamu sendirian?"
"Tidak, Xu Kai sudah menunggu di dalam mobil."
"Baiklah, hati-hati di jalan, ya!"
"Siap!"
Selepas berpamitan, Xiao Luo mempercepat langkah kakinya begitu tiba di gedung perkantoran. Karena tahu ia sudah tidak sempat mengikuti apel atau briefing pagi, ia langsung meluncur naik ke lantai sembilan.
Ketiga rekan kerjanya sudah tampak sibuk di pos masing-masing. Tanpa buang waktu, Xiao Luo menyambar perlengkapan pembersihnya dan berjalan mantap menuju ruang CEO.
Ia bekerja dengan ketelitian tinggi, memastikan tidak ada sebutir debu pun yang tertinggal di atas meja kerja sang CEO yang megah, hingga menyikat bersih sudut-sudut toilet pribadinya.
Begitu ruang CEO selesai dipoles dan dipastikan steril—syukurlah Tuan Muda Huang belum menampakkan batang hidungnya—ia membawa peralatan kerjanya keluar, lalu melanjutkan rutinitas wajib ke ruang rapat. Meskipun tidak ada jadwal agenda rapat hari itu, ruangan tersebut tetap harus dibersihkan dan dijaga kerapiannya setiap hari.
Di tengah kesibukannya, Sekretaris He tiba-tiba muncul dari balik koridor dan menghampirinya.
"Xiao Luo," sapa sang sekretaris anggun.
Xiao Luo langsung berdiri tegak. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Hari ini Tuan Muda tidak datang ke kantor, jadi kamu tidak perlu repot menyiapkan makanan atau minumannya," instruksi Sekretaris He. "Setelah tugasmu di sini selesai, langsung naiklah ke area rooftop gedung. Kamu belum pernah ke sana sebelumnya, bukan?"
"Belum pernah, Nona."
"Mulai hari ini, kamu memiliki tugas tambahan untuk merawat seluruh tanaman di sana bersama Wang Yun."
"Maksud Nona... di atas atap gedung ini?"
"Benar. Tuan Besar sangat menyukai sayuran organik segar. Karena itulah area rooftop disulap menjadi kebun hidroponik dan organik untuk suplai bahan makanan beliau setiap kali berkunjung ke kantor. Untuk detail pekerjaannya, tanyakan langsung pada Wang Yun, Dahui, dan Yun Yi. Mereka sudah lama mengurus tempat itu."
"Baik, Nona. Saya mengerti."
Sepeninggal Sekretaris He, Xiao Luo segera merampungkan sisa pekerjaannya di ruang rapat. Setelah merapikan seluruh alat pembersih, ia melangkah menuju lift dan naik ke lantai paling atas gedung pencakar langit tersebut. Pintu lift terbuka, dan pemandangan di hadapannya membuatnya terpaku seketika.
Hamparan hijau yang luas, tertata rapi di atas atap beton gedung perkantoran mewah, membentang di hadapannya. Pemandangan asri itu bahkan jauh melampaui ekspektasinya; tempat tinggalnya sendiri bahkan kalah indah dibanding oasis di tengah kota ini.
"Kak Wang Yun..." panggilnya ragu-ragu.
Sosok yang dipanggil menoleh sejenak, lalu kembali fokus pada tanaman di tangannya. "Kamu sudah datang. Apa ruangan CEO dan ruang rapat sudah beres?"
"Sudah beres, Kak. Kakak sedang apa?"
"Sedang menyiangi rumput liar. Apa Nona He yang mengirimmu ke sini?"
"Iya, benar. Katanya aku harus membantu Kak Wang Yun dan bertanya apa yang harus kukerjakan di sini."
Wang Yun tersenyum ramah. "Gampang, kok. Setiap hari kita berempat harus bergantian menyiram semua tanaman ini dan menjaga kebersihannya. Kalau untuk rumput liar, biasanya diperiksa dan dibersihkan seminggu sekali. Nah, sekarang tolong bantu aku mencabut rumput-rumput ini dulu. Setelah itu, kita akan memanen beberapa sayuran yang sudah siap petik. Urusan memasaknya nanti diserahkan pada Yun Yi." Wang Yun melirik Xiao Luo penuh selidik. "Kamu pasti belum pernah memasak untuk jajaran petinggi, kan?"
Xiao Luo terkekeh pelan sambil mengikat rambutnya. "Mana mungkin pernah, Kak. Ini saja baru hari ketiga aku bekerja di sini, dan taman di atap ini bahkan baru kutahu hari ini."
"Makanya, masih banyak hal baru yang belum kamu ketahui di gedung ini," balas Wang Yun hangat. "Nikmati saja prosesnya, belajarlah pelan-pelan."
"Baik."