NovelToon NovelToon
ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela penginapan yang kotor dan berdebu.

Sinar itu jatuh tepat di atas wajah Bima yang tidak tidur semalaman.

Matanya tampak merah karena kelelahan, tapi pikirannya sangat jernih dan tajam.

Bima masih duduk bersila di atas kasur kapuk usang dengan buku catatan bersampul kulit hitam di tangannya.

"Jadi selama ini semua aset mendiang ibu dialihkan secara licik oleh Hendra," gumam Bima pelan dalam hati.

Ia membalik halaman demi halaman buku catatan itu dengan teliti.

Setiap baris tulisan tangan ibunya mengungkap kebusukan ayah kandungnya sendiri.

Hendra dulunya bukan siapa-siapa sebelum menikah dengan ibunya.

Semua kekayaan awal keluarga mereka sepenuhnya berasal dari jerih payah dan warisan keluarga ibu Bima.

"Pria bajingan itu benar-benar memanfaatkan ibu dari awal," ucap Bima dengan suara dingin penuh penekanan.

Buku catatan itu juga mencantumkan lokasi sebuah brankas bank swasta lama di pusat kota.

Brankas itu hanya bisa dibuka menggunakan kunci perak kecil yang kini ada di tangan Bima.

Bima mengambil kunci perak kecil dari dalam kotak kayu tua.

Ia mengamati ukiran rumit di permukaan kunci tersebut dengan seksama.

"Isi brankas ini akan menjadi modal awal untuk menghancurkan mereka," kata Bima berbicara sendiri di dalam kamar sempit.

Tok, tok, tok.

Tiba-tiba suara ketukan kasar terdengar dari luar pintu kamar nomor sepuluh.

"Hei, kamar sebelah! Jangan berisik terus dari tadi pagi!" teriak suara seorang pria paruh baya dari luar.

Bima menoleh sekilas ke arah pintu tanpa sedikit pun merasa terganggu.

Ia tidak punya waktu untuk meladeni orang usil di penginapan murah seperti ini.

"Bodo amat," balas Bima pelan dengan nada acuh tak acuh.

Suara langkah kaki orang itu perlahan menjauh meninggalkan depan kamarnya.

Bima kembali fokus pada buku catatan dan rencana besarnya.

Ia menutup buku itu dan memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu bersama kunci perak.

Bima berdiri dari kasur dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.

Krrggh...

Suara bunyi tulang punggungnya bergemeretak karena terlalu lama duduk dalam posisi yang sama.

Bima melangkah menuju kamar mandi kecil yang ada di sudut ruangan.

Bau pesing dan lembab langsung tercium begitu ia membuka pintu kayu kamar mandi yang reyot.

Byur!

Bima menyiram wajahnya dengan air dingin dari keran bak mandi berlumut.

Segar, meski airnya terasa agak dingin di kulit.

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin kecil yang sudah retak di bagian tengah.

Pipi sebelah kanannya masih terlihat sedikit kemerahan bekas tamparan keras Hendra semalam.

Bima menyentuh pelan area yang memar itu sambil tersenyum miring.

"Tamparan ini akan kubayar lunas dengan bunga yang sangat tinggi," janji Bima pada pantulan dirinya di cermin.

Ia keluar dari kamar mandi dan mengenakan jaketnya kembali.

Bima keluar dari kamar nomor sepuluh dan berjalan menuruni tangga kayu penginapan.

Krok, krok, krok.

Suara pijakannya menggema di lorong sepi lantai dua.

Ia tiba di meja resepsionis dan melihat penjaga malam semalam yang kini sedang tertidur pulas.

Bima meletakkan kunci kamar berkarat di atas meja kayu tanpa membangunkan penjaga itu.

Ia melangkah keluar menuju jalanan kota di pagi hari yang mulai sibuk.

Suara klakson kendaraan dan lalu-lalang orang berlalu-print berpadu di sepanjang jalan.

Perut Bima tiba-tiba berbunyi menandakan ia belum makan apa pun sejak kemarin sore.

Krucuk...

Bima melirik ke sekitar dan menemukan sebuah warung nasi kuning pinggir jalan yang cukup ramai.

Ia berjalan mendekati warung tersebut dengan langkah mantap.

"Pesan satu porsi nasi kuning bungkus, Bu," kata Bima kepada wanita paruh baya pemilik warung.

"Baik, Mas. Mau pakai telur atau ayam?" tanya ibu warung itu ramah.

"Pakai telur saja," jawab Bima singkat sambil mengeluarkan uang dari sakunya.

Ibu itu segera membungkus pesanan Bima dengan cekatan.

Krincing...

Suara uang kembalian berdenting di tangan Bima.

Ia membawa bungkus nasi kuning itu dan duduk di bangku kayu panjang di dekat trotoar.

Bima membuka bungkusan itu dan mulai makan dengan lahap di tengah bisingnya kota.

"Wah, anak muda, kelihatannya lapar sekali ya," sapa seorang tukang becak yang duduk di sebelah Bima.

"Iya, Pak. Belum makan dari kemarin," jawab Bima sopan sambil tersenyum tipis.

"Makanya hidup di kota besar ini harus kuat mental, kalau tidak ya diinjak-injak orang terus," timpal tukang becak itu sambil tertawa kecil.

"Bapak benar, saya sedang belajar untuk tidak diinjak-injak lagi," balas Bima dengan tatapan lurus ke depan.

Setelah menghabiskan makanannya, Bima membuang bungkus kertas ke tempat sampah terdekat.

Ia merogoh saku celananya dan menghitung sisa uang yang ia miliki saat ini.

"Sisa uangku tinggal seratus lima puluh ribu rupiah," gumam Bima dalam hati.

Uang sebanyak itu tentu tidak akan bertahan lama di kota besar.

Ia harus segera menuju bank tempat brankas ibunya berada sebelum uangnya benar-benar habis.

Bima berjalan menuju halte bus terdekat untuk menuju ke pusat kota.

Suasana di dalam bus kota sangat padat dan bau keringat bercampur jadi satu.

Bima berdiri di dekat pintu sambil memegang tali gantungan bus dengan erat.

Ia mengawasi setiap pemandangan gedung-gedung tinggi di luar jendela bus yang mulai dilewatinya.

"Tunggu aku, keluarga Hendra," batin Bima penuh keyakinan.

Bus akhirnya berhenti di halte utama kawasan bisnis pusat kota.

Bima turun bersama kerumunan orang kantoran berjas rapi yang berjalan terburu-buru.

Langkah kaki Bima membawanya masuk ke sebuah gedung bank swasta yang megah dan ber-AC dingin.

Suasana di dalam bank sangat kontras dengan penginapan murah tempat ia menginap semalam.

Satpam berbadan tegap langsung menyambutnya dengan ramah di pintu masuk.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya satpam itu sopan.

"Saya ingin mengakses brankas penyimpanan lama," jawab Bima dengan nada tenang.

"Silakan ambil nomor antrean di sebelah kiri dan tunggu panggilan ke bagian layanan pelanggan ya," arah satpam itu.

Bima mengangguk pelan dan mengambil secarik kertas nomor antrean.

Ia duduk di kursi tunggu yang empuk sambil meraba saku jaketnya untuk memastikan kunci perak itu aman.

Beberapa menit berlalu hingga nomor antreannya dipanggil oleh mesin pengeras suara.

Suara bip nyaring terdengar.

Bip!

Bima langsung bangkit dari kursi dan berjalan menuju meja layanan pelanggan nomor empat.

Seorang wanita muda berpenampilan rapi dengan seragam bank menyambutnya dengan senyuman profesional.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu terkait rekening atau layanan kami?" tanya wanita itu ramah.

"Saya ingin membuka brankas penyimpanan atas nama almarhumah ibu saya," jawab Bima sambil mengeluarkan kunci perak dari sakunya.

Wanita itu melirik kunci perak unik yang diletakkan di atas meja.

Matanya sedikit membelalak kaget saat melihat ukiran khusus pada kunci tersebut.

"Ah, kunci brankas khusus generasi lama ya," kata wanita itu dengan nada yang sedikit berubah menjadi lebih berhati-hati.

"Silakan tunjukkan kartu identitas Anda dan surat keterangan kematian yang bersangkutan," pinta wanita itu sopan.

Bima menyerahkan KTP miliknya serta salinan surat kematian ibunya yang sudah ia siapkan di dalam tas kecil.

Wanita itu memeriksa dokumen-dokumen tersebut dengan teliti di komputernya.

"Baik, data Anda sudah terkonfirmasi sebagai ahli waris sah," kata wanita itu setelah beberapa saat mengetik.

"Mari ikuti saya ke ruang brankas bawah tanah," lanjutnya sambil berdiri dari kursi.

Bima mengikuti langkah wanita itu melewati koridor khusus menuju lift pengaman di bagian belakang bank.

Pintu lift berdenting lembut ketika terbuka di lantai bawah tanah yang sunyi dan ber-AC sangat dingin.

Suasana di ruang brankas bawah tanah terasa sangat hening dan steril.

Beberapa petugas keamanan berjas hitam berdiri berjaga di setiap sudut ruangan dengan ekspresi kaku.

Wanita itu mengantar Bima sampai di depan sebuah kotak brankas besi bernomor khusus.

"Silakan gunakan kunci Anda di sini, saya akan menunggu di luar batas garis aman," ujar wanita itu sambil menunjuk lubang kunci brankas.

Bima melangkah mendekati brankas besi berwarna abu-abu tua tersebut.

Ia memasukkan kunci perak kecil itu ke dalam lubang kunci dengan pas.

Klik.

Suara mekanisme kunci berputar terdengar sangat jelas di ruang yang sunyi itu.

Bima memutar gagang brankas besi tersebut perlahan-lahan.

Kreeet...

Pintu brankas yang tebal akhirnya terbuka lebar.

Di dalam brankas besi itu tidak ada tumpukan uang tunai yang melimpah.

Hanya ada sebuah flashdisk hitam kecil, sebuah sertifikat tanah tua, dan sebuah surat wasiat resmi.

Bima mengambil flashdisk dan surat wasiat itu dengan tangan yang sedikit bergetar.

"Apa isi flashdisk ini?" batin Bima penasaran.

Ia memasukkan benda-benda itu ke dalam saku jaketnya dengan cepat.

Petugas bank di belakangnya tersenyum ramah dan mempersiapkan dokumen penyerahan aset.

"Semua isi brankas telah resmi diserahkan kepada Anda sebagai pewaris sah," kata wanita itu.

Bima mengangguk pelan dan berterima kasih kepada petugas tersebut.

Ia keluar dari gedung bank dengan perasaan lega bercampur rasa penasaran yang besar terhadap isi flashdisk tersebut.

Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat ia diusir dari rumah semalam.

Permainan sebenarnya baru saja dimulai bagi Bima.

1
Aman Wijaya
lanjut terus Thor di tunggu updatenya 💪💪💪
Cherlly: iya kak ku😘😘
total 1 replies
Cherlly
makasih kaka suport nya😘😍
Aman Wijaya
gaaas njeduk pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat dalam berkarya
Cherlly: makasih kaka udah membaca sejauh ini😘😘😘
total 1 replies
Aman Wijaya
top markotop top lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll mantab Thor lanjut terus
Cherlly: trimakasih sudah baca sejauh ini kaka😍😍😍
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus
Cherlly: iya kaka kami akan lanjyutin cerita nya sampai tuntas😊😊😊😘
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor lanjut terus
Cherlly: siap kaka semangat kaka adalah motivasi saya untuk berkarya😍
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Bima lanjut
Cherlly: siap kaka ikutin ya keseruan nya😊😊😊

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
rahasia Bima mulai terkuak sedikit demi sedikit
Cherlly: iya kaka lanjutin biat nambah seru😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Bima
Cherlly: makasih kaka

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Tatiek Faruq
aku mampir thor, lama² dibaca seru juga
Cherlly: ttimakasih kaka sudah mampir ikutin keseruan cerita nya ya kaka biar saya nambah semangat untuk berkarya😍😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ
kak mampir novelku "Vampir vs Serigala versi novel" makasih
Cherlly: makasih kaka nanti sama2 baca kita
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!