Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Senyum Keluarga Mahendra
Akhir pekan tiba. Pagi itu, Aira baru saja selesai sarapan ketika Arga datang membawa sebuah kotak pakaian.
"Nona Aira, saya diminta Mas Devan menyerahkan ini kepada Anda," ujar Arga sambil meletakkan kotak tersebut di atas meja.
Aira menatap kotak itu dengan sedikit heran. "Apa ini, Pak Arga?"
"Pakaian untuk acara keluarga Mahendra nanti. Mas Devan meminta saya menyiapkannya agar Anda memiliki busana yang sesuai untuk acara tersebut."
Aira membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah gaun berwarna lembut dengan potongan sederhana, tetapi tetap terlihat elegan.
"Mas Devan yang memilihnya?"
"Beliau meminta saya menyiapkan pakaian yang sesuai. Untuk model dan warnanya, saya yang mengurusnya."
Aira mengangguk pelan.
"Baiklah. Terima kasih sudah menyiapkannya, Pak Arga."
"Sama-sama, Nona. Jika ada yang perlu disesuaikan, silakan beri tahu saya."
Setelah Arga meninggalkan kamar, Aira kembali memperhatikan gaun tersebut. Ia tidak menyangka Devan akan memikirkan pakaiannya untuk acara itu. Namun, ia menganggapnya sebagai bagian dari persiapan mereka sebelum diperkenalkan secara resmi kepada keluarga besar Mahendra.
Aira kemudian mulai bersiap.
Sambil merapikan rambutnya, pikirannya sempat beralih pada sanggar tenun peninggalan kakeknya di Bantul. Sejak berangkat ke Jakarta, ia telah meminta Paman dan Bibi untuk mengurus sanggar tersebut. Meski begitu, ia tetap ingin terlibat dalam perkembangannya, termasuk kerja sama yang baru saja disepakati dengan Galeri Nusantara.
Ia berharap usahanya kali ini bisa membantu menjaga sanggar agar tetap berjalan dan berkembang.
Setelah selesai bersiap, Aira keluar dari kamar dengan mengenakan gaun yang disiapkan untuknya. Ia menemukan Devan sedang menunggu di ruang keluarga.
Pria itu mengalihkan pandangan dari ponselnya ketika mendengar langkah kaki Aira.
"Kau sudah siap?"
"Sudah, Mas."
Devan mengamati penampilan Aira sekilas, lalu berdiri dan mengambil kunci mobil yang terletak di meja.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Ibu pasti sudah menunggu."
Aira mengangguk dan mengikuti langkahnya.
Mereka meninggalkan penthouse tanpa banyak percakapan. Sepanjang perjalanan, Devan sesekali memeriksa ponselnya, sedangkan Aira memandang keluar jendela.
Beberapa saat kemudian, Devan meletakkan ponselnya.
"Acara hari ini mungkin cukup ramai. Selain keluarga, ada beberapa mitra senior perusahaan yang diundang."
Aira menoleh.
"Apakah aku perlu melakukan sesuatu selain memperkenalkan diri?"
"Tidak. Cukup bersikap seperti biasa. Kalau ada pertanyaan yang membuatmu tidak nyaman, kau tidak perlu menjawab semuanya."
Aira mengangguk pelan.
"Baik, Mas."
Devan kembali memandang jalan di depannya. Ia tidak tahu apakah Aira akan merasa nyaman di tengah keluarganya nanti, tetapi setidaknya ia ingin perempuan itu mengetahui bahwa dirinya tidak harus menghadapi setiap situasi dengan terpaksa.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Kediaman keluarga Mahendra sudah ramai ketika mobil Devan tiba.
Beberapa kendaraan terparkir di halaman yang luas. Para tamu terlihat berkumpul di ruang utama, berbincang sambil menikmati hidangan yang telah disediakan.
Devan turun lebih dahulu, lalu berjalan ke sisi mobil untuk menunggu Aira.
Setelah Aira turun, mereka memasuki rumah bersama.
Siska yang sedang berbincang dengan beberapa kerabat segera menghampiri mereka. Senyumnya tampak ramah ketika menyambut Devan, tetapi sikapnya berubah lebih formal saat berhadapan dengan Aira.
"Kalian akhirnya datang juga," katanya.
Devan mengangguk. "Tadi jalanan cukup ramai."
Siska kemudian mengalihkan pandangannya kepada Aira.
"Aira, ikut Ibu. Ada beberapa anggota keluarga yang perlu kau temui."
Aira mengikuti Siska menuju ruang utama, sementara Devan berjalan di sampingnya.
Di sana, Siska memperkenalkan Aira kepada beberapa kerabat yang telah berkumpul.
"Ini Aira, istri Devan."
Beberapa orang mengangguk dan menyapanya dengan ramah. Aira membalas sapaan mereka dengan sopan.
Namun, tidak semua orang menunjukkan tanggapan yang sama.
Seorang pria paruh baya yang duduk di dekat jendela memperhatikan Aira cukup lama sebelum akhirnya berbicara.
"Jadi, ini perempuan yang dipilih Devan untuk menjadi istrinya?"
Siska menoleh kepada pria tersebut.
"Benar. Mereka sudah menikah beberapa waktu lalu."
Pria itu mengangguk, tetapi tatapannya masih tertuju kepada Aira.
"Kalau boleh tahu, apa kegiatanmu sebelum menikah dengan Devan?"
"Saya membantu mengurus sanggar tenun keluarga di Bantul, Om," jawab Aira.
"Sanggar tenun?" Pria itu tampak sedikit terkejut. "Berarti keluargamu menjalankan usaha kecil di sana?"
Aira mengangguk.
"Benar, Om. Sanggar itu peninggalan kakek saya. Sekarang Paman dan Bibi yang mengurusnya karena saya tinggal di Jakarta."
Pria itu mengangguk perlahan, seolah baru memahami latar belakang Aira.
"Menarik juga. Aku hanya heran, mengapa Devan memilih pasangan dari latar belakang yang cukup berbeda dengan keluarga kita. Apalagi, dia sedang menghadapi banyak urusan penting di perusahaan."
Percakapan di sekitar mereka sempat mereda.
Aira bisa menangkap maksud di balik pertanyaan itu. Pria tersebut memang tidak menghinanya secara langsung, tetapi nada bicaranya menunjukkan keraguan terhadap alasan Devan memilihnya.
Meski demikian, Aira tetap menjawab dengan tenang.
"Setiap orang tentu memiliki pertimbangannya sendiri, Om. Saya tidak tahu semua alasan Mas Devan, tetapi saya akan berusaha menjalankan peran saya sebagai istrinya dengan baik."
Pria itu mengangkat alisnya sedikit.
"Jawaban yang cukup hati-hati."
Aira hanya tersenyum sopan.
"Menurut saya, tidak semua hal harus dinilai dari latar belakang seseorang, Om. Saya memang berasal dari keluarga sederhana, tetapi saya tetap berusaha melakukan yang terbaik dengan apa yang saya miliki."
Devan yang sejak tadi berdiri di samping Aira mendengar seluruh percakapan tersebut. Ia memperhatikan bagaimana Aira menjawab pertanyaan tanpa menunjukkan kemarahan atau berusaha membuktikan dirinya secara berlebihan.
Sebelum pria itu kembali berbicara, Devan akhirnya menimpali.
"Menurutku, latar belakang seseorang tidak cukup untuk menentukan apakah dia pantas atau tidak berada di sampingku."
Pria itu menoleh kepadanya.
"Aku hanya bertanya, Devan."
"Aku tahu, Om. Dan Aira sudah menjawabnya."
Nada suara Devan tetap tenang, tetapi cukup jelas untuk mengakhiri pembicaraan tersebut.
Pria itu tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia beralih membicarakan hal lain dengan kerabat yang duduk di dekatnya.
Aira menoleh sekilas kepada Devan.
"Terima kasih, Mas," ucapnya pelan.
Devan hanya mengangguk.
"Kau tidak perlu memikirkan pertanyaan seperti itu."
Aira tidak menjawab. Ia kembali mengikuti percakapan di ruangan tersebut, sementara Devan menyapa beberapa kerabat yang baru datang.
Dari tempatnya berdiri, Siska memperhatikan interaksi mereka. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa Devan mulai menunjukkan sikap berbeda terhadap perempuan yang sejak awal dianggapnya tidak cocok menjadi bagian dari keluarga Mahendra.
Namun, ia tidak menunjukkan ketidaksenangannya. Ada banyak orang di sana, dan ia tidak ingin sikap pribadinya menjadi bahan pembicaraan.
Siska kemudian menghampiri Aira yang sedang berdiri tidak jauh dari meja hidangan.
"Aira, ikut Ibu sebentar."
Aira menoleh, lalu mengikuti langkah Siska menuju sudut ruangan yang sedikit lebih sepi.
"Ada yang ingin Ibu sampaikan?" tanya Aira.
Siska memandangnya sejenak sebelum menjawab.
"Keluarga Mahendra memiliki kebiasaan dan cara hidup yang mungkin berbeda dengan yang biasa kau temui. Kau perlu memahami itu."
Aira mengangguk sopan.
"Saya mengerti, Bu."
"Bagus. Akan ada banyak orang yang memperhatikanmu, terutama karena kau sekarang menjadi istri Devan. Tidak semua orang akan mengatakan apa yang mereka pikirkan secara langsung."
Aira memahami bahwa ucapan itu bukan sekadar penjelasan. Ada peringatan terselubung di baliknya.
"Saya akan berusaha menjaga sikap selama acara berlangsung."
Siska menatapnya beberapa saat.
"Semoga kau bisa menyesuaikan diri."
Setelah mengatakan itu, Siska kembali ke tengah ruangan untuk menyambut tamu lain.
Aira tetap berdiri di tempatnya selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali bergabung dengan para tamu.
Ia sudah menduga bahwa menjadi bagian dari keluarga Mahendra tidak akan mudah. Namun, ia tidak ingin membiarkan sikap orang lain membuatnya kehilangan ketenangan.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Acara berlangsung hingga menjelang sore. Aira berusaha mengikuti percakapan dengan baik, sesekali menjawab pertanyaan dari kerabat Devan yang ingin mengenalnya lebih jauh.
Beberapa orang ternyata cukup tertarik ketika mengetahui bahwa ia membantu mengembangkan motif tenun di sanggar peninggalan kakeknya. Mereka menanyakan proses pembuatan kain dan bagaimana sanggar tersebut bertahan hingga sekarang.
Aira menjawab sebisanya, termasuk menceritakan sedikit tentang motif Giri Senja yang menjadi salah satu karyanya.
Percakapan itu membuatnya merasa sedikit lebih nyaman. Setidaknya, tidak semua orang memandang latar belakangnya sebagai sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Ketika suasana mulai lengang, Aira mengambil segelas air dari meja hidangan. Devan yang baru selesai berbincang dengan salah satu kerabat menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Aira menoleh.
"Baik, Mas. Kenapa?"
"Tadi aku melihat beberapa orang terus bertanya kepadamu."
"Tidak apa-apa. Sebagian dari mereka hanya ingin tahu tentang sanggar."
Devan mengangguk.
"Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, kau boleh meninggalkan percakapan itu. Kau tidak harus menjawab semua pertanyaan mereka."
Aira memandangnya sejenak.
"Aku tahu. Tapi menurutku, selama mereka bertanya dengan baik, tidak ada salahnya menjawab."
Devan tidak membantah.
Ia mulai memahami bahwa Aira bukan perempuan yang selalu membutuhkan orang lain untuk membelanya. Aira mampu menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan caranya sendiri, selama orang lain tidak melewati batas.
"Ayo, kita pamit kepada Ibu. Setelah itu, kita pulang."
Aira mengangguk.
Mereka kemudian menghampiri Siska untuk berpamitan. Siska hanya mengangguk singkat sebelum kembali berbincang dengan tamu yang berada di dekatnya.
Setelah mengucapkan salam kepada beberapa kerabat, Aira dan Devan meninggalkan kediaman keluarga Mahendra.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Di dalam mobil, Aira menyandarkan punggungnya pada kursi. Setelah beberapa jam berada di tengah keramaian, ia merasa sedikit lelah.
Devan meliriknya sekilas.
"Kau lelah?"
"Sedikit."
"Kalau begitu, istirahat saja. Perjalanan pulang masih cukup jauh."
Aira mengangguk, lalu kembali memandang ke luar jendela.
Beberapa menit kemudian, ia teringat percakapan dengan salah satu kerabat Devan.
"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?"
Devan mengalihkan pandangannya sebentar.
"Apa?"
"Kenapa tadi Mas membelaku ketika Om itu mempertanyakan latar belakangku?"
Devan terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Karena pertanyaannya mulai mengarah pada penilaian yang tidak perlu."
Aira menatapnya.
"Mas tidak merasa malu karena aku berasal dari keluarga sederhana?"
Devan mengernyit tipis.
"Kenapa aku harus merasa malu?"
Aira tidak langsung menjawab.
Devan kembali memusatkan perhatian pada jalan.
"Aku menikahimu karena keputusanku sendiri, Aira. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk membiarkan orang lain merendahkanmu hanya karena latar belakangmu."
Jawaban itu membuat Aira terdiam beberapa saat.
Ia tidak tahu apakah Devan benar-benar memandang pernikahan mereka seperti itu atau hanya ingin menjaga nama baiknya di hadapan keluarga. Bagaimanapun, ia belum melupakan bagaimana pria itu memperlakukannya pada awal pernikahan mereka.
"Baik, Mas," jawabnya akhirnya.
Devan tidak melanjutkan pembicaraan. Ia tahu masih ada banyak hal di antara mereka yang belum selesai, dan satu tindakan tidak serta-merta menghapus semua yang telah terjadi.
Mobil terus melaju menuju penthouse.
Sementara itu, di kediaman keluarga Mahendra, Siska masih mengingat sikap Devan selama acara berlangsung. Putranya itu memang tidak melakukan sesuatu yang berlebihan, tetapi ia bisa melihat bahwa Devan mulai memberi ruang bagi Aira di sisinya.
Siska belum tahu apakah perubahan itu hanya bagian dari upaya mereka menjaga penampilan di hadapan keluarga atau ada hal lain yang mulai tumbuh di antara keduanya.
Namun, ia tidak berniat mengambil kesimpulan terburu-buru.
Untuk saat ini, ia memilih mengamati.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
awas loo menjilat ludah sendri ,, 🤭🤭