Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 4
BAB 4
Maya berjalan cepat menuju sudut lounge eksklusif di balik panggung utama. Langkah kakinya yang menghentak keras mencerminkan gelombang kejengkelan yang masih menumpuk di dadanya.
"Napasmu sudah seperti banteng mau berlaga, Maya," sambut Nia dengan suara santai..
Di sudut meja bundar, dua sahabat karib Maya sejak zaman kuliah sudah menunggu dengan dua cangkir kopi panas dan sepotong croissant. Nia, seorang desainer grafis dan penata gaya (stylist) yang bertubuh mungil namun bicaranya sangat blak-blakan, menyodorkan cangkir kopi ke arah Maya. Sementara di sebelahnya, Dito, manajer merek yang selalu tenang, metodis, dan menjadi penengah di antara mereka, mengamati wajah Maya dengan senyum kecil.
"Aku bisa gila kalau setiap hari harus berada di ruangan yang sama dengan pria kaku itu!" seru Maya sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menyambar cangkir kopi dan meminumnya tanpa memedulikan asap tipis yang masih membumbung.
"Rendra lagi?" tebak Dito tenang sambil menyesap tehnya. "Aku membaca transkrip diskusi panel tadi via live stream. Secara teknis, poin Rendra tentang draping sutra sebenarnya ada benarnya, Maya. Kain sutra jenis itu—"
"Dito! Kau di pihak siapa, sih?" potong Maya cepat, menatap Dito dengan tatapan membunuh.
"Aku di pihak objektifitas," jawab Dito santai tanpa terintimidasi. "Psikologi seorang desainer yang sedang tertekan itu biasanya menolak kritik paling valid karena kritik itu datang dari orang yang paling ingin ia hindari. Dan kau, Maya Kirana, sangat membenci Rendra bukan cuma karena dia mengkritik bajumu."
Maya tertahan. Jemarinya meremas cangkir porselen di tangannya.
"Lalu karena apa lagi? Dia itu sombong, dingin, dan merasa dirinya paling tahu soal material!" balas Maya sengit.
Maya mendengus, lalu menyambar tablet digital di atas meja yang menampilkan galeri foto karya Ren—sang pemuncak klasemen. Binar mata Maya seketika berubah; kekesalannya menguap, berganti dengan decak kagum yang jujur.
"Lihat karya REN ini," bisik Maya seraya memperbesar detail sambungan kriya tembaga pada keliman kain di layar. "Dia tahu cara memadukan kekokohan logam dan kelembutan kain tanpa membuat salah satunya terlihat kaku. Konsepnya begitu jenius, puitis, dan bernapas…. Sangat jauh berbeda dari Rendra yang cuma tahu cara memaksakan kawat dingin pada busana!"
"Dan... tampan? Berkarisma? Serta punya tatapan mata yang selalu membuatmu salah tingkah tiap kali beradu argumen?" cerocos Nia cepat dengan nada penuh godaan, membuat Maya hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Nia! Jangan ngawur!" pekik Maya dengan pipi yang mendadak terasa hangat. "Dia itu musuh profesionalku!"
"Benci dan penasaran itu cuma terpisah oleh garis tipis, Maya," ujar Nia sambil memajukan tubuhnya ke meja, menatap mata Maya dalam-dalam. "Jujur padaku. Kenapa setiap kali Rendra bicara, reaksimu selalu berlebihan? Kalau kau menganggap kritiknya sampah, seharusnya kau bisa mengabaikannya dengan dingin. Tapi kau? Kau selalu terbakar. Kau selalu ingin membuktikan sesuatu padanya. Kenapa?"
Pertanyaan Nia menghantam dinding kesadaran Maya. Ruang interior pikirannya mendadak sunyi.
Kenapa? Kenapa setiap kata ketus Rendra selalu berhasil memicu guncangan emosional yang begitu dalam di dadanya? Ini bukan sekadar persaingan antar-desainer. Ada sensasi aneh yang tak masuk akal—seolah-olah jauh di dalam dirinya, ada bagian dari jiwanya yang merasa terluka karena tidak diakui oleh Rendra. Rasa terluka yang terasa sangat lama, jauh lebih tua dari usia permusuhan mereka di industri ini.
"Aku tidak tahu..." bisik Maya pelan, suaranya mendadak kehilangan nada garangnya. Ia menatap ke dalam cairan hitam di cangkirnya. "Setiap kali melihat matanya, aku merasa... seperti sedang dituntut untuk menuntaskan janji yang belum selesai. Itu konyol, kan?"
Dito dan Nia saling bertukar pandang. Bercandaan Nia menguap, berganti menjadi sorot mata prihatin. Dito menggeser duduknya mendekat.
"Itu dinamakan proyeksi trauma emosional, Maya," kata Dito pelan, beralih ke kacamata psikologinya. "Kau tertekan karena kompetisi ini. Ditambah Clarissa yang terus membayangimu sejak masa kuliah, otakmu mencari objek untuk meluapkan semua beban itu. Dan Rendra—karena dia sama-sama berprinsip keras—menjadi tempat teraman bagi alam bawah sadarmu untuk meluapkan defensifmu."
"Mungkin..." gumam Maya ragu. Namun di dalam hatinya, jawaban logis Dito tidak sepenuhnya memuaskan rasa hampa yang berdenyut di dadanya.
“Aku kira tidak demikian, Dito,” sahut Nia tiba-tiba. Ia menyandarkan punggung ke kursi, lalu melipat kedua tangannya di dada. “Kata orang zaman dulu, benci itu pertanda cinta yang tersembunyi.”
Maya langsung mendelik.
“Cinta dari mana?” tanya Maya tidak terima.
“Ya, dari mana-mana. Biasanya mulai dari bilang, ‘Aku benci dia!’ Lama-lama jadi, ‘Kok dia nggak datang, ya?” goda Nia sambil terkekeh.
Dito tertawa kecil. Maya meletakkan cangkirnya agak keras.
“Aku serius. Rendra itu menyebalkan!” tegas Maya lagi.
“Justru itu gejalanya,” sahut Nia cepat.
“Gejala apaan?” tuntut Maya penasaran.
“Kalau benar-benar tidak suka, mestinya cuek. Tapi kau hafal cara dia bicara, cara dia mengkritik, bahkan ekspresi wajahnya.” jelas Nia menduga.
Maya terdiam sesaat.
“Baiklah.” Nia mengerutkan dahi pura-pura serius. “Kalau begitu, aku punya pertanyaan sederhana. Kalau besok Rendra tiba-tiba bilang karya kamu sempurna, apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan curiga.” Maya menjawab spontan.
“Bukan itu.” Nia menyeringai. “Jantungmu berdebar atau tidak?” lanjutnya.
Maya terdiam. Dito segera menahan tawa.
“Jangan bicara sembarangan, Nia.” tegur Maya pelan.
Nada suaranya kali ini membuat Nia tidak melanjutkan godaannya. Dito hanya mengangkat alis, sementara Maya kembali menunduk menatap cangkir kopinya. Entah mengapa, candaan sederhana Nia justru meninggalkan sesuatu yang tidak nyaman di dalam pikirannya. Ia ingin membantah. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak yakin harus membantah bagian yang mana.
Sore harinya, saat hall pameran perlahan mengosong, Maya kembali ke area panggung untuk mengambil gulungan sketsa pendukung yang tertinggal di meja backstage. Lorong panjang itu sudah remang-remang, hanya diterangi oleh lampu koridor yang temaram.
Saat Maya membungkuk mengambil mapnya, sebuah langkah kaki berirama konstan terdengar mendekat. Maya menegakkan tubuh dan mendapati Rendra berdiri beberapa meter di depannya, memegang tas peralatan kriyanya.
Maya memasang kembali raut muka dinginnya. Ia memeluk map sketsanya erat-erat di dada.
"Masih belum puas mencari celah kesalahanku untuk besok?" tegur Maya ketus saat hendak berjalan melewati pria itu.
Rendra tidak menghindar. Ia berdiri di tengah lorong, menatap Maya yang berada dalam jarak kurang dari satu meter dengannya. Bayangan lampu koridor menimpa separuh wajah Rendra, mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan matanya yang kelam.
"Aku tidak pernah mencari kesalahanamu, Maya," jawab Rendra. Suaranya tidak lagi menggunakan intonasi dingin seperti saat di depan wartawan. Suara itu kini terdengar begitu pelan, rendah, dan sarat akan berat beban yang tak terucapkan.
Maya terhenti. Langkah kakinya mendadak terkunci oleh perubahan atmosfer di antara mereka.
"Lalu apa sebutan untuk semua kritikan pedasmu di panggung tadi?" tembak Maya, berusaha mempertahankan benteng pertahanannya meski dadanya mulai berdebar tak karuan.
Rendra menatap lurus ke dalam manik mata Maya. Untuk pertama kalinya, Maya melihat di dalam kedalaman mata pria itu, ada pendar kelelahan, rasa perlindungan yang tersembunyi rapat, serta kepedihan tersembunyi yang seolah merintih minta dibebaskan.
"Aku peduli pada keselamatan struktur karyamu, Maya..." ujar Rendra pelan, jemarinya di luar saku celana meremas tali tasnya halus. "Melebihi yang sanggup kau pahami saat ini. Karena aku tidak ingin melihat keindahanmu runtuh untuk kedua kalinya."
Untuk kedua kalinya?Kalimat itu menghantam kesadaran Maya bagaikan benturan fisik. Frasa itu terucap begitu alami dari mulut Rendra, seolah-olah mereka pernah melewati sebuah tragedi kehancuran bersama di masa yang sangat jauh.
Sebelum Maya sempat mencerna alur pikirannya atau menanyakan makna di balik kata-kata misterius itu, Rendra sudah memperbaiki posisi tasnya. Ia berbalik dan melangkah menelusuri lorong remang-remang, meninggalkan Maya yang berdiri terpaku di tengah keheningan, memegangi dadanya yang berdenyut kencang oleh sebuah ingatan asing yang mulai mengetuk pintu kesadarannya.