Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Lahir Dibahu
Merasa kepalanya sangat berat, Cakra memilih menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya. Seharian ini pekerjaannya tidak fokus karena kepalanya yang cenderung terasa berat.
Tok tok tok
"Masuk saja..." jawabnya terdengar lemas.
Seseorang mendorong pintu lalu masuk ke dalam membawa setumpuk berkas-berkas.
"Siang Pak Cakra, ini ada beberapa berkas yang harus ditandatangani,"
"Iya, letak saja di sana," dia terlihat begitu lemas sehingga menarik perhatian wanita itu.
"Bapak baik-baik saja?"
"Tentu, kau bisa keluar,"
Setelah kepergian wanita itu, Cakra memutuskan untuk ke sofa dan terlelap di sana sehingga malam hari tiba.
Saat kembali terbangun dari tidurnya, kepalanya bukannya mereda, dia justru semakin merasa pusing sehingga ia memutuskan untuk ke rumah sakit saja.
Begitu tiba di rumah sakit, dia langsung mendapat giliran.
Saat masuk ke dalam ruangan dokter, Cakra maupun Naura kaget saat melihat antara satu sama lain.
Ternyata, dokter dalam ruangan itu adalah Naura. Dan Cakra sendiri tidak tahu kalau istri pertamanya itu kerja di sana.
"Silakan duduk Pak," ramah Naura tetap bersikap profesional, seolah-olah sedang menghadapi pasien, bukan suami.
Kalau dipikir-pikir, hari ini pasangan suami istri itu seharusnya berada di pengadilan. Akan tetapi, mungkin karena kesibukan masing-masing sehingga tidak ada yang saling mempedulikan.
Dan sudah dua hari juga Naura tidak pernah pulang ke rumah Cakra, karena dia tahu mertuanya pasti tidak akan mau menerimanya lagi karena merasa dibohongi.
Tapi sepertinya takdir tetap saja mempertemukan mereka.
Cakra pun mulai diperiksa oleh Naura, "Tubuh bapak panas sekali, Anda demam. Saya sarankan kalau boleh sampai beberapa hari ke depan usahakan untuk istirahat yang cukup dan jangan bekerja dulu," tutur Naura, memberi sedikit nasehat.
Cakra tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya diam. Setelah itu dia pun bangkit keluar dari ruangan Naura usai selesai
Ternyata Cakra adalah pasien terakhir Naura, karena wanita itu sudah bergantian shift dan akan segera pulang.
Usai bersiap-siap, dia berniat untuk langsung pulang, namun setibanya di depan rumah sakit dia justru mendapati Cakra masih duduk di sana sembari memegangi kepalanya.
Tak tega melihat pria itu, dia pun datang menghampiri.
"Kamu baik-baik saja?" Naura bertanya, dimana dia masih menggunakan bahasa formal seperti bukan pasangan suami istri.
"Aku rasa seperti tidak bisa menyetir menyetir sendiri," jawab Cakra.
"Kalau memang tidak bisa menyetir sendiri, kenapa tidak hubungi saja sopir dari rumah. Nanti mereka datang menjemputmu di sini,"
"Sepertinya aku lagi malas ke rumah, bagaimana kalau aku ke rumahmu saja?"
Salah satu alisnya terangkat, heran dengan permintaan yang meluncur dari mulut Cakra.
"Kau pasti tahu, aku tinggal dirumah Kakek. Yakin? kamu mau tinggal sama perempuan menjijikan sepertiku?" Naura bertanya, mengingatkan kembali Cakra atas kata-kata pria itu yang kejam, dan sering mengatainya perempuan menjijikkan semenjak menjadi istrinya.
Matanya menatap tajam Naura, tak lupa juga mendengus. "Aku sakit, tapi kau justru masih sempat-sempatnya mengungkit itu semua!"
"Tentu saja, kamu yang tiba-tiba mau ke rumah saya, itu aneh sekali."
"Kau siap membantu atau tidak?"
"Baiklah, tapi, aku hanya menaiki sepeda motor. Apa kau mau naik itu?"
"Kalau begitu, kau setir saja mobilku pulang ke rumahmu,"
"Aku tidak setir mobil."
Pria itu meringis, "Emangnya kau bisa apa sih! nyetir juga gak bisa!"
"Bagus kalau kau tahu," Naura menjawab tenang, Cakra yang kepalanya sudah pusing semakin bertambah pusing dibuatnya.
"Terserah kau, Naura!"
Akhirnya mau tidak mau, Naura memutuskan memesan teksi saja.
Tak butuh waktu lama, keduanya sudah tiba. Kakek Rama bahkan sampai terheran-heran melihat ada Cakra yang datang.
"Cakra?" Kakek memanggil saat pria itu masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... Itu wajah kamu kenapa, Cakra? Muka kamu pucat sekali!" tanya Kakek Rama cemas.
"Cuma pusing sedikit saja, Kek," Cakra menjawab, sembari menekan pelan pelipisnya.
Tak lupa Cakra juga mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah sederhana itu.
Tiba-tiba tanpa sengaja, matanya menangkap tubuh mungil Kiki yang lagi belajar di tengah ruangan.
Iya, semenjak dua hari lalu, Kakek Rama sengaja meminta agar Kiki tinggal bersama di rumah itu.
Semenjak sudah mengetahui Kiki darah daging, cucu cicitnya sendiri. Orang tua tersebut tak mungkin membiarkan Kiki jauh darinya lagi.
Meskipun awalnya kecewa, akan tetapi bagaimanapun juga, Kiki putri Naura cucunya, dan Kakek lapang dada menerima anak itu apa adanya, hingga tak ragu mengizinkan Naura dan Kiki tinggal menetap di sisinya.
"Akhirnya, Mama pulang!" Kiki berseru, menghampiri Naura begitu wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Iya, Sayang. Kamu sudah makan apa belum ini?"
"Maunya Kiki makan sama Mama,"
"Benarkah? Baiklah, kita makan bareng nanti ya, Sayang."
"Siap, Ma!" dengan semangat 45.
Cakra yang datang sebagai tamu, cuma duduk diam di sofa, menatap gadis kecil itu. Kiki tiba-tiba menoleh, dan tak lupa juga melempar senyuman manis ke arah Cakra.
Senyuman yang terlihat itu, Cakra dibuat terkejut. Garis senyumnya, alis tebalnya, sorot matanya, sungguh sangat mirip sekali dengan Kak Anggara? Ini anak benar-benar versi mininya. Hanya saja, dia bisa tersenyum ramah dan ceria, sungguh berbeda dengan Kak Anggara yang sering memasang wajah dingin, tidak enak di lihat itu! Batin Cakra, sempat-sempatnya me
"Semisalnya mau istirahat, di rumah ini cuma terdiri dari dua kamar, kamar aku sama punya Kakek. Kalau kau mau, mungkin bisa istirahat di kamar aku saja. Kalau tidak, ya bisa coba-coba diruang tamu," ucap Naura, tak lupa juga menyelipkan kata-kata seolah mengatakan, di rumah ini tidak banyak pilihan.
Tubuhnya yang lelah dan segera butuh istirahat, tentu saja tak banyak meminta. "Aku dikamar kamu saja,"
"Okey." dia segera menuntun Cakra menuju kamarnya.
Saat tiba di kamar saja, Cakra segera mengedarkan pandangannya. Satu kata untuk kamar itu, bersih!
Tanpa izin, pria itu langsung naik ke atas ranjang Naura, merebahkan tubuhnya yang dari tadi menuntut untuk di istirahatkan.
"Aku pergi sebentar, ambilkan obat yang dari rumah sakit tadi," Naura berpamitan, keluar kamar berjalan ke arah dapur, guna mengambil minum.
"Kiki sudah lapar banget, Ma..." Kiki berucap, menyusul sang mama.
"Kalau begitu, Kiki tolong Mama sebentar, bawakan obat sama air minum ini ke kamar buat Paman tadi. Mama mau masak dulu untuk kita," bicara dengan nada lembut, Naura menyerahkan nampan kecil berisi obat dan segelas air putih.
"Siap, Ma."
Sigap, Kiki membawa nampan berisi air minum dan obat itu masuk ke dalam kamar.
"Ini obat buat Paman, kata Mama berikan ke Paman sama airnya." tutur gadis kecil itu dengan nada polosnya, memberikan nampan yang dia bawa kepada pria dewasa yang terbaring itu.
Kedatangan Kiki, membuat Cakra kembali mendudukkan dirinya.
"Hei kamu, kemari duduk di sini," titah Cakra, memerintahkan anak kecil itu untuk duduk di dekatnya.
Dengan raut wajah polos, gadis kecil itu menurut tanpa membantah.
"Kalau Paman boleh tahu, berapa usiamu?"
"Enam tahun, Paman."
Cakra manggut-manggut, kemudian mengambil obat dan juga air dari nampan yang gadis itu bawa dan langsung meneguknya.
Setelah itu, dorongan dari dalam hatinya kembali ingin bertanya lebih jauh pada gadis tersebut. "Kau, sudah sekolah?"
"Iya, Paman,"
"Apa boleh? Paman minta izin sesuatu?" tutur Cakra.
"Memangnya, Paman mau izin apa?"
"Enggak, bukan apa apa, cuman pengen lihat bahumu aja."
"Bahu aku? Emang ada apa dengan bahu aku Paman?"
"Ya, enggak ada apa-apa. Boleh enggak nih?" elak Cakra, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia periksa di sana.
"Baiklah, kalau begitu, Paman,"
Mendapat izin dari gadis kecil itu, Cakra segera mengangkat tangannya tak sabar ingin melihat bahu gadis itu.
Saat dia sedikit memindahkan kain penutup bahu Kiki.
Deg!
Jantungnya berdebar-debar karena di mana dia mendapati sebuah tanda lahir sesuai dugaannya, menempel tepat di bahu kanan gadis itu.
Tanda lahir yang dimiliki oleh Kiki jelas sangat mirip dengan punya kakaknya. Hanya saja, punya Anggara sedikit cenderung lebih bundar sementara Kiki sedikit memanjang.
Dia semakin bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa ada seseorang yang begitu bisa mirip seperti ayah dan anak tapi tunggu...
Cakra mulai mencerna. Apa jangan-jangan, gadis kecil ini memang putrinya Kak Anggara? kagetnya dalam hati.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls