NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 19

sDamian sedang duduk santai di kursi kebesarannya sambil menikmati minuman berwarna merah pekat dengan aroma anyir yang khas. Cairan itu berputar perlahan di dalam gelas kristal yang berada di tangannya.

Suasana ruangan begitu tenang. Hanya terdengar bunyi kecil ketika Damian meletakkan gelasnya di atas meja.

Namun, ketenangan itu seketika terusik ketika pintu ruangan terbuka kasar hingga membentur dinding.

BRAK!

“Tuan! Ada serangan di wilayah timur!” lapor Vandes dengan suara lantang.

Damian mengangkat wajahnya. Tatapan merahnya yang semula tenang seketika berubah tajam.

“Apa katamu?” tanyanya dingin, memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.

“Wilayah timur sedang diserang, Tuan. Pasukan musuh sudah mulai bergerak dan menyerang pertahanan kita,” jawab Vandes cepat. Dia menundukkan kepalanya sesaat sebelum kembali menatap Damian.

“Sialan!” geram Damian sambil mengepalkan tangannya di atas meja. Gelas kristal di dekatnya bergetar akibat gerakan tersebut.

Dia bangkit dari kursinya, lalu menatap Vandes dengan sorot mata penuh amarah.

“Bagaimana keadaan pasukan kita sekarang? Apakah mereka semua sudah bergerak untuk menghadapi serangan itu?” tanyanya tegas.

“Sudah, Tuan. Seluruh pasukan yang berjaga di wilayah timur telah dikerahkan untuk menghadapi musuh,” jawab Vandes, berusaha menyampaikan laporan itu setenang mungkin.

“Lalu, apa masalahnya?” desak Damian. Rahangnya mengeras ketika melihat keraguan di wajah bawahannya.

Vandes menarik napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan laporannya.

“Persediaan senjata kita juga telah dicuri, Tuan. Menurut laporan yang kami terima, Orzan berada di balik pencurian tersebut.”

Suasana ruangan mendadak terasa mencekam.

Damian terdiam selama beberapa detik. Nama Orzan membuat amarah yang sejak tadi ditahannya kembali membara.

“Orzan...” gumamnya pelan, mengeja nama itu dengan kebencian yang nyaris tak tersembunyikan.

Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Jadi, dia bukan hanya berani menyerang wilayahku, tetapi juga mencuri persediaan senjataku?” desis Damian dengan senyum sinis yang perlahan terukir di bibirnya.

Vandes menundukkan kepala, tidak berani menyela.

“Sepertinya bajingan itu sudah bosan hidup,” lanjut Damian dingin. Dia meraih mantel hitam yang tergantung di sandaran kursinya, lalu mengenakannya dengan gerakan cepat.

“Tuan, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya Vandes sambil berdiri tegak menunggu perintah.

Damian menoleh ke arahnya. Tatapan mata merahnya menyala tajam, memancarkan aura mengintimidasi yang membuat Vandes semakin serius memperhatikan setiap perkataannya.

“Kita ke sana sekarang juga!” perintah Damian tegas.

“Baik, Tuan!” sahut Vandes cepat sambil membungkukkan tubuhnya.

Damian melangkah menuju pintu dengan langkah lebar. Belum sempat keluar dari ruangan, dia berhenti sejenak dan menoleh kepada Vandes.

“Siapkan pasukan cadangan. Aku ingin semua jalan menuju wilayah timur dijaga ketat. Jangan biarkan satu pun musuh melarikan diri sebelum aku tiba di sana,” titahnya dengan suara rendah dan penuh ancaman.

“Dimengerti, Tuan. Akan segera saya laksanakan!” jawab Vandes mantap.

“Dan satu lagi,” tambah Damian, membuat Vandes yang hendak beranjak pergi kembali menoleh.

“Cari tahu di mana Orzan berada. Jika dia memang dalang di balik semua ini, aku sendiri yang akan menghadapinya.”

Senyum tipis terukir di bibir Damian, tetapi sama sekali tidak mencerminkan keramahan.

“Dia sudah membuat kesalahan besar dengan mengusik wilayah kekuasaanku.”

Damian kembali melangkah pergi, diikuti Vandes yang segera menyusulnya.

Malam itu, wilayah timur akan menjadi saksi kemarahan seorang penguasa vampir yang tidak pernah membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirinya.

Dan Orzan baru saja membuat kesalahan yang mungkin akan disesalinya seumur hidup Damian langsung menuju bandara pribadinya. Sebuah jet hitam sudah terparkir di landasan, siap membawanya menuju wilayah timur.

Vandes berjalan mengikuti Damian sambil sesekali memeriksa ponselnya.

"Tuan, jet sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang," ucap Vandes.

Damian mengangguk singkat, lalu menaiki tangga jet tersebut. Namun, sebelum masuk, dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Vandes.

"Jangan beri tahu Emma tentang masalah ini," ucap Damian tegas.

"Baik, Tuan. Lalu, apa yang harus saya sampaikan kepada Nyonya?" tanya Vandes.

"Bilang pada Sonia kalau aku ada meeting mendadak. Suruh dia menyampaikan itu kepada Emma," jawab Damian sambil merapikan lengan kemejanya.

"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan."

"Pastikan Emma tidak curiga. Aku tidak mau dia ikut campur dalam masalah ini," lanjut Damian dengan nada serius.

Vandes mengangguk paham.

"Kalau begitu, saya akan segera menghubungi Sonia."

Damian tak menjawab. Dia langsung masuk ke dalam jet dan duduk di kursinya.

Pikirannya kembali tertuju pada serangan di wilayah timur. Terlebih lagi, Orzan terlibat dalam pencurian persediaan senjatanya.

"Sialan, Orzan. Kau benar-benar mencari masalah denganku," gumam Damian sambil menatap layar ponselnya.

Tak lama kemudian, Vandes menyusul masuk dan duduk di hadapannya.

"Tuan, semuanya sudah siap. Kita tinggal menunggu izin untuk lepas landas," lapornya.

"Kalau begitu, berangkat sekarang," perintah Damian singkat.

"Baik, Tuan."

Jet pribadi itu mulai bergerak meninggalkan landasan sebelum akhirnya terbang menembus langit malam.

Sementara itu, Damian menyandarkan tubuhnya di kursi, memejamkan mata sejenak, dan berusaha menyusun rencana untuk menghadapi Orzan.

Dia harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum Emma mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

...----------------...

Sementara itu, di mansion, Emma tampak mondar-mandir di ruang tengah. Sesekali, dia duduk di sofa, tetapi tak sampai satu menit kemudian sudah kembali berdiri dan berjalan ke sana kemari.

Entah kenapa, sejak tadi hatinya merasa gelisah. Berkali-kali dia mencoba menghubungi nomor Damian, tetapi panggilannya tak kunjung dijawab.

Emma mendengus kesal sambil menatap layar ponselnya.

“Di mana sih dia? Katanya mau pulang cepat!” gerutunya sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Giliran dia yang bilang mau pulang cepat, malah orangnya nggak pulang-pulang!”

Dia kembali menekan nomor Damian, berharap kali ini suaminya itu mau mengangkat teleponnya.

Namun, hasilnya tetap sama.

“Ck! Diangkat kek sekali saja!” omelnya sambil meletakkan ponsel di pangkuannya.

Emma menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu menatap langit-langit dengan wajah murung.

“Ini hukuman buat aku, ya?” gumamnya lirih. “Apa karena kemarin aku sempat bikin dia kesal? Tapi, masa iya sampai begini?”

Dia mengerucutkan bibirnya, kemudian melirik ponselnya lagi.

“Dasar suami aneh! Kalau memang nggak mau diganggu, bilang saja. Jangan bikin istrimu ini menunggu seperti orang hilang arah!”

“Ehem, Nyonya.”

Emma langsung menoleh ketika mendengar suara Sonia yang berdiri tak jauh darinya.

“Apa, Sonia?” tanyanya sambil mengangkat wajah.

“Nyonya sebaiknya beristirahat saja. Tadi Tuan Vandes menghubungi saya. Beliau mengatakan bahwa Tuan Damian sedang ada meeting mendadak di luar kota,” jelas Sonia dengan sopan.

Emma mengerutkan keningnya.

“Meeting di luar kota?” ulangnya memastikan.

Sonia mengangguk. “Benar, Nyonya.”

Emma terdiam sejenak, lalu kembali melirik ponselnya.

“Terus, kenapa dia nggak bilang sendiri sama aku?” tanyanya dengan nada kesal. “Apa susahnya mengirim pesan? Tangannya kan nggak cuma dipakai buat tanda tangan kontrak!”

Sonia menahan senyum mendengar gerutuan majikannya.

“Mungkin Tuan Damian sedang sibuk, Nyonya.”

“Sesibuk apa, sih? Memangnya dia meeting sama seluruh penduduk bumi?” omel Emma spontan.

Sonia buru-buru menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan tawanya Emma mengembuskan napas panjang, lalu merebahkan tubuhnya di sofa sambil memeluk bantal.

“Ya sudah, biarkan saja. Nanti kalau dia pulang, aku juga nggak mau menyapanya!”

Namun, baru beberapa detik berlalu, Emma kembali mengangkat ponselnya dan menatap layar dengan penuh harap.

“...Tapi, kalau dia menelepon, aku angkat, deh.”

Sonia yang mendengarnya hanya bisa tersenyum tipis Sepertinya, Nyonya Emma memang sudah mulai merindukan suaminya.

Emma masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai. Sesampainya di sana, dia langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya sambil memeluk bantal kesayangannya.

Dia mencoba memejamkan mata, berharap bisa segera tertidur. Namun, baru beberapa detik, Emma kembali membuka matanya.

Dia membalikkan tubuh ke kanan, lalu ke kiri. Setelah itu, dia memeluk bantalnya semakin erat, tetapi tetap saja rasa kantuk tak kunjung datang.

“Hiks, hiks ... aku nggak bisa tidur!” rengeknya sambil membenamkan wajah ke bantal. “Semua ini gara-gara si vampir galak itu!”

Emma mengangkat kepalanya, kemudian melirik sisi ranjang yang kosong.

Biasanya, meskipun Damian terkenal dingin dan menyebalkan, setidaknya pria itu ada di rumah. Namun, malam ini kamar mereka terasa begitu sepi tanpa kehadirannya.

“Awas saja kalau dia pulang nanti!” gerutunya sambil menunjuk udara seolah-olah Damian sedang berdiri di hadapannya. “Aku bakal marahin dia habis-habisan!”

Emma kembali merebahkan tubuhnya. Dia menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, lalu mencoba memejamkan mata sekali lagi.

Satu menit berlalu.

Dua menit berlalu.

Lima menit berlalu.

Emma kembali membuka matanya.

“AAAAH! KENAPA AKU MASIH BELUM BISA TIDUR?!”

Dia berguling ke sisi ranjang yang lain sambil memeluk bantalnya erat-erat.

“ Suami macam apa yang tega meninggalkan istrinya sendirian begini?” omelnya dengan bibir mengerucut.

Tiba-tiba, Emma terdiam. Dia menatap ponselnya yang tergeletak di atas nakas, lalu meraihnya dengan cepat.

Barangkali Damian sudah mengirim pesan?

Namun, begitu layar ponselnya menyala, tak ada satu pun pesan dari pria itu itu membuat Wajah Emma langsung berubah murung.

“Ck! Benar-benar nggak punya hati!” gumamnya kesal.

Dia meletakkan ponselnya kembali, lalu memeluk bantalnya sambil meringkuk di bawah selimut.

“Damian, kamu di mana, sih?” bisiknya pelan.

Kali ini, tak ada lagi omelan yang keluar dari mulutnya. Hanya ada perasaan rindu yang diam-diam mulai mengganggu hatinya.

Emma menghela napas panjang, kemudian memejamkan mata sambil membayangkan wajah suaminya.

“Besok kalau kamu pulang, jangan harap aku mau menyapamu duluan,” gumamnya mengancam, meskipun tak ada siapa pun di sana yang mendengarnya.

Beberapa detik kemudian, dia kembali membuka mata.

“...Tapi, kalau dia kangen dan mau peluk aku duluan, ya, nggak apa-apa juga, sih.”

Emma tersenyum kecil mendengar perkataannya sendiri, lalu buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik bantal.

“ASTAGA, EMMA! MALU BANGET!”

Malam itu, Emma terus menggerutu tentang suaminya yang menyebalkan, tanpa menyadari bahwa pria yang sedang dia rindukan justru berada jauh dari mansion dan tengah menghadapi masalah besar.

 

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!